
Andra mendongak menatap mami nya yang masih saja tersenyum, air matanya kering dan rasa bersalah pada Andres terus merayap dalam hatinya. Pada akhirnya Andra hanya bisa menyesal, dengan rasa sedih yang tak berkesudahan mengingat pertengakarannya dengan Andres barusan.
Andra menurunkan pandangannya kemudian melirik kearah Andres yang tengah menatapnya dengan rasa ikut bersalah juga. "Andres maafkan adikmu ini, aku menyesal,"ucap Andra tulus. "Tapi, berjanjilah padaku tetaplah hidup, tuhan masih memberimu kesempatan kedua. Aku mohon jangan lakukan hal bodoh lagi,"lanjutnya dengan penuh pengharapan sementara Andres hanya mengangguk pelan seraya tersenyum kecil kearah adiknya itu.
"Aku juga minta maaf padamu,"kata Andres seraya menyeka air matanya yang jatuh dengan punggung tangannya.
Andra mengangguk."Aku memaafkanmu,"
Andres mengembangkan senyuman dibibir. Sementara sang mami yang melihat kedamaian itu langsung merasa tenang seraya menciumi puncak kepala anaknya itu satu persatu dengan rasa sayang yang sama.
"Andres kembalilah, jagalah orang-orang yang menyayangimu. Jangan membuat mereka sakit karena kehilangamu,"kata sang mami tersenyum sambil melepas pelukan Andres secara lembut.
"Kalian akan pergi lagi?"tanya Andres sedih.
Sang mami mengangguk."Dan kau pulanglah sayang,"
"Tapi aku masih merindukan mami dan Andra,"kata Andres seraya menghela napas.
Andra tersenyum."Segeralah pulang Andres, jika kau merindukan kami do'akan kami dan datanglah kepemakaman, aku yakin rindu kau akan terobati."ujar Andra lalu melambaikan tangan kearah kakaknya itu dan bersiap-siap untuk pergi.
Andres mengangguk."Baiklah,"sahutnya yang rela melepaskan kepergian dua orang yang sangat ia cintai itu. Meskipu masih terasa sangat sulit.
"Jaga dirimu baik-baik sayang, bilang pada papimu bahwa mami begitu mencintainya. Dan salam untuk calon menantuku, Lia."
Mendengar hal itu Andres langsung tertawa pelan lalu mengangguk."Akan aku sampaikan,"ucap Andres tersenyum lebar, lalu membalas lambaian tangan keduanya.
"Selamat tinggal sayang,"pungkas sang mami sebelum akhirnya hilang bersama Andra dalam sekejap dari pandangannya.
Andres menghela napas ikhlas, kemudian ia pun memejamkan matanya.
Suara tangisan masih terdengar di kolidor rumah sakit, Lia meremas ujung bajunya dengan kuat berharap ada keajaiban yang terjadi saat ini.
"Kumohon, tuhan tolong apapun itu selamatkan Andres. Andres, aku datang. Bangunlah sayang, katanya kau ingin menikah denganku."batin Lia menangis sembari terus berdo'a sambil memeluk papi Andres yang masih begitu sangat terpukul.
Ceklek...
Terdengar suara pintu ruangan dibuka, semua pandangan terarah kepada satu suster yang keluar dari ruangan. Harap-harap cemas menyelimuti, jantung Lia bertalu-talu menyakitkan menantikan do'a yang dipanjatkan semoga terkabul.
"Dok, pasien kini sadar kembali dok, tolong diperiksa kembali."suara antusias suster terdengar, membuat semuanya terperangah bercampur dengan rasa haru yang menyelimuti. Apa mereka tidak salah dengar?
"Apa sus? baik saya periksa,"sahut pak dokter yang sama-sama tak menyangka dengan kabar menggembirakan itu. Maka, dengan cepat dokter pun langsung kembali masuk kedalam ruangan dengan tergesa-gesa.
Ketiga orang yang sedari tadi saling berpelukan dilantai, akhirnya bangkit berdiri. Diselimuti rasa lega yang tiada terperi. Wajah-wajah menanti kabar gembira kini terpatri. Begitupula dengan Bayu yang kini menatap langit-langit rumah sakit dengan tiada hentinya memanjatkan do'a-do'a.
"Saya harap Andres bisa hidup kembali,"suara papi Andres terdengar gemetar dengan penuh harap.
"Semoga ada keajaiban,"sahut Nabila disela isakan.
"Lebih baik kita berdo'a untuk keadaan Andres."timpal Bayu seraya menghampiri ketiga orang itu yang masih tampak cemas. Papi Andres pun mengangguk setuju.
Pintu ruangan kembali dibuka, dokter dan dua suster keluar ruangan dengan ekspresi begitu terharu. Dengan perjuangan keras akhirnya membuahkan hasil, rupanya Andres hidup kembali.
"Ini sungguh ajaib, pasien yang sudah di vonis meninggal kini sudah sadarkan diri kembali. Kuasa tuhan memang begitu nyata, dan pasien ingin bertemu dengan papi nya serta seorang gadis bernama Lia."ujar sang dokter, membuat hati Lia menclos seketika, diiringi dengan rasa lega bercampur tangisan haru
yang meluncur. Diikuti dengan senyuman Bayu dan Nabila yang terukir.
"Jadi kami boleh masuk?"tanya papi Andres dengan antusias.
Dokter pun mengangguk seraya tersenyum haru,"Tentu saja, silahkan masuk dan saya permisi, ya."semuanya mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada sang dokter.
"Terimakasih, dok."ucap papi Andres. Dokter pun mengangguk seraya tersenyum.
Setelah berpamitan dan memberikan ruang, sang dokter serta dua suster pun undur diri. Papi Andres langsung buru-buru masuk dan tak sabar untuk melihat kondisi anaknya itu.
Sementara Bayu dan Nabila terlihat saling berpelukan dengan ekspresi sangat begitu bahagia.
Setelah memasuki ruangan yang terlihat steril dengan alat medis yang sebelumnya melekat pada tubuh Andres kini sudah dicopot, tanda bahwa Andres sudah benar-benar membaik. Kemudian mereka berduapun melangkah menghampiri brankar dengan sosok Andres yang masih terbaring, tapi kali ini matanya terbuka dan senyumannya terukir di bibirnya. Kembali, Lia menjadi sosok gadis yang cengeng seperti bayi. Apalagi setelah melihat momen haru yang jelas ia saksikan ketika papi Andres langsung berhambur memeluk anaknya itu sambil sesegukan, membuat air mata Lia kembali berlinang. Tanpa sadar isakan lolos dari mulutnya, kejadian ini benar-benar menguras air mata.
"Nak, papi pikir papi akan kehilangan dirimu. Papi tidak tahu bagaimana papi jika kau benar-benar pergi. Papi tidak punya siapa-siapa lagi,"isak tangis papi Andres terdengar setelah pelukan itu terlepas. Andres berusaha mengulurkan tangan lalu menghapus air mata papi nya itu, disertai dengan senyuman yang mengembang.
"Maaf, karena telah membuat papi bersedih seperti ini."Andres berkata dengan lirih dan suara parau.
Papi Andres menggeleng."Yang penting kau kini sadar, nak."papi Andres mengusap rambut anaknya itu dengan rasa sayang yang membuncah tiada bertepi.
Andres mengangguk."Aku sudah lebih baik sekarang, pih."
"Syukurlah."papi Andres tersenyum lega.
Kemudian kepalanya bergerak kearah kiri yang terdapat Lia yang berdiri disampingnya. Bibir pucatnya mengulas senyuman setelah melihat Lia, tangannya menyetuh tangan Lia yang berada disisi brankar nya. Kemudian ia menggenggamnya dengan begitu erat.
"Kenapa kau selalu membuatku cegeng seperti ini."protes Lia berkata sambil menangis dengan punggung tangan yang menutupi seluruh wajahnya.
Lia terlihat begitu menggemaskan, seperti anak kecil yang sedang merajuk. Melihat hal itu Andres langsung tertawa dibalik wajah pucatnya, Andres berusaha meraih tangan Lia sehingga tangan Lia diturunkan dan masih terlihat jelas bagaimana wajah Lia saat ini yang terlihat sembab dan kusut. Namun, sialnya ia masih tetap begitu cantik.
Perlahan Andres menghapus air mata Lia dengan begitu lembut.
"Maaf,"lirihnya.
Lia menggeleng sambil merajuk."Jangan hanya sekedar minta maaf, cepat sembuhlah!"
Andres hanya bisa tersenyum kecik seraya mengangguk lemah, ia juga merasa sakit melihat gadis yang dicintainya menangis seperti itu dihadapannya. Membuat rasa bersalah merayap didadanya, seharusnya ia tak perlu melakukan drama seolah ia ingin menyerah. Setelah melihat dengan begitu nyata ternyata masih banyak orang yang begitu menyayanginya dengan tulus. Dan itu adalah sumber kekuatan agar ia harus segera pulih.
Kemudian Lia langsung memeluk Andres, dan menangis di dadanya dengan isakan menyayat hati. Andres membalas pelukan itu dengan erat, sementara papi Andres juga merasakan kesedihan yang dirasakan Lia, sehingga tangannya terulur dengan spontan seraya mengusap rambut Lia dengan sayang, seolah ia sudah menganggap Lia sebagai anak kandungnya sendiri.
Wajah Lia memanas saat ia mendengar detakan jatung Andres dengan jelas. Setidaknya ini bukan mimpi bahwa Andres benar-benar masih hidup. Andres mengecup puncak kepala Lia dengan begitu tulus, betapa ia sangat beruntung mendapatkan tambatan hati seperti Lia.
"Terimakasih sudah mencintaiku,"bisik Andres disebelah telinga Lia. Dan Andres merasakan Lia mengangguk sambil tersedu-sedu.
Tiba-tiba terdengar suara papi Andres berdehem membuat Lia terkejut."Ekhm... diruangan ini bukan hanya kalian berdua loh, ada papi juga."Lia langsung bangkit dan tersipu mendengar papi Andres berbicara demikian. Dengan cepat Lia menghapus air matanya, lalu tersenyum kearah papi Andres, berusaha menenangkan diri dibalik senyumannya.
"Wah, maaf pih. Kami lupa, ternyata disini ada obat nyamuk."canda Andres yang membuat suasana mencair dengan tawa papi Andres yang terdengar.
"Sungguh kau tega,"sahut papi Andres seraya terkekeh, sementara Lia mengulum senyum mendengar candaan yang terlontar dari bibir Andres. "Jadi bagaimana, kapan kalian akan menikah?"lanjut papi Andres dengan meluncurkan pertanyaan menohok semacam itu, yang membuat Lia mengerejap. Hah, menikah? apa ia tak salah dengar?
"Sebaiknya papi panggil Bayu dan Nabila sebagai saksi, papi ingin menunjukan calon menantu papi."kata papi Andres yang langsung disambut dengan tawa ngakak dari Andres.
"Masih sakit tapi sudah bisa tertawa seperti itu, dasar Andres si kutukupret."batin Lia berkata seraya melirik Andres malu-malu.
Bagus, sekarang wajah Lia terasa sangat begitu panas. Mungkin wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Kemudian papi Andres pun langsung berjalan membuka pintu ruangan untuk memanggil Bayu dan Nabila masuk.
"Sebentar lagi kau akan menjadi istriku, Li."goda Andres yang langsung disambut lirikan judes oleh Lia, atau lebih tepatnya bukan lirikan judes melainkan lirikan salah tingkah.
"Andres jangan menatapku seperti itu. Aku malu tahu,"Lia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya akibat malu, karena Andres terus menatapnya dengan binar mata jahil. Bahkan jika semua orang bisa mendengar jantung Lia, kini jantungnya berdetak dengan begitu hebat sekarang. Melihat Lia yang menggemaskan Andres hanya bisa tertawa geli karenanya.
"Sungguh kau lucu,"komentar Andres disela tawanya.