Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Terimakasih, Andres."


"Ih, apa sih, minggir!"Lia langsung mendorong pelan tubuh Andres, sepertinya dalam jarak seperti ini tidak bagus untuk kondisi jantungnya.


"Wah, kau kasar sekali,"Andres tertawa renyah lalu sedikit memberi jarak dengan Lia, agar Lia bisa nyaman.


"Masa bodoh,"judes Lia memutar bola mata.


"Katanya tadi menyesal, sekarang kok malah makin judes,"sindir Andres sambil terkekeh.


"Habisnya, kau menyebalkan."sahut Lia mencabik.


"Ya, ya, ya.."Andres hanya manggut-manggut menanggapinya.


"Tapi, serius. Aku sungguh menyesal, pasti itu tidak adil bagimu 'kan?"kali ini suara Lia lebih lembut dari sebelumnya, dengan sepasang matanya menatap Andres lekat.


Andres memperbaiki duduk dengan posisi menyamping lalu menatap wajah Lia yang terlihat anggun baginya."Li, seharusnya aku yang minta maaf padamu. Aku terlalu memaksakan kehendak. Tapi, kau harus tahu, Li. Aku melakukannya refleks, magsudku mungkin aku terbawa suasana."ujar Andres seraya menyelipkan beberapa helaian rambut Lia kesisi telinga.


"No,"bantah Lia seketika dengan menggenggam tangan Andres cepat."Mungkin kita sama-sama salah, baiklah seharusnya kita melupakan apa yang pernah terjadi malam itu. Anggap saja kita tak pernah berciuman. Setidaknya itu, lebih baik,"saran Lia dengan binar mata cemerlang, seketika Andres langsung tersenyum kecil.


"Hm, begitu ya?"


Lia mengangguk."Iya, Andres. Supaya kau dan aku sama-sama merasa nyaman lagi. Merasa nyaman dengan pertemanan kita tanpa harus memikirkan bahwa sebelumnya kita pernah berciuman."ucap Lia yang membuat Andres mengangguk paham.


"Ya, aku setuju."sahut Andres lalu melebarkan senyuman.


"Oh, ya. Kenapa kau mengirimkan dress? memangnya ada pesta?"tanya Lia setelah tersadar dari pertanyaannya saat itu yang keheranan kenapa Andres membelikannya dress.


"Nanti, aku beritahu ya."jawab Andres yang membuat Lia meringis karena penasaran.


"Kenapa senang sekali membuatku penasaran?"Lia langsung memukul pelan dada Andres dengan bibir mengerucut.


Andres langsung tertawa."Sungguhan, nanti aku kasih tahu secepatnya,"


Lia langsung cemberut lagi."Ya, terserah deh,"Lia menghela napas malas.


"Li, aku pulang ya?"


"Apa? pulang? kenapa buru-buru sekali?"kejut Lia membuat Andres terkekeh geli melihat ekspresi Lia yang berubah seperti itu, sangat lucu.


"Kenapa? masih kangen?"goda Andres dengan binar mata menggoda."Tadi aku di marahin, di cuekin, sekarang aku mau pulang kau langsung terkejut,"Andres langsung mencubit pelan pipi Lia dengan gemas.


Lia langsung menepis tangan Andres yang sedang mencubitnya."Jangan ge-er!"


"Aku melihatnya begitu, Li. Kau masih kangen padaku 'kan?"tanya Andres dengan penuh percaya diri.


"Aku hanya kasihan padamu, memangnya kau tidak lelah? tidak ingin istirahat dulu? baru setengah jam kau disini, terus kau mau kembali lagi ke Jakarta? wah, kalau aku jadi dirimu, mungkin aku malas kesana-kemari."kata Lia menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.


"Namanya juga pengorbanan,"sahut Andres setelah ia meluruskan kembali tubuhnya, lalu bersandar di sofa dengan sepasang matanya menatap langit-langit.


Lia langsung menoleh sambil terperangah."Hah? pengorbanan?"ulang Lia seakan belum meyakini apa yang baru saja ia dengar dari sahutan Andres barusan.


"Hm, pengorbanan."Andres melirik sambil mengangguk pelan.


"Wah, teman yang sangat baik."puji Lia sambil tertawa ringan.


"Memangnya kita akan selamanya menjadi teman, ya?"pancing Andres yang membuat Lia seketika menghentikan tawanya.


"Memangnya kau berharap apa? menjadi musuh?"Lia menanggapi dengan begitu polos, membuat bibir Andres berkedut membentuk sebuah senyuman.


"Ah, bicara dengan mu, aku merasa sedang bicara dengan bocah,"komentar Andres sambil terkekeh, yang seketika langsung disambut pelototan dari Lia.


"Apa katamu? bocah?"protes Lia tak terima.


"Wah, sorry sepertinya kau salah dengar,"Andres langsung tertawa ngakak setelah melihat perubahan ekspresi Lia yang tampak terpancing oleh godaan jahilnya.


"Ya, kau benar. Lebih baik kau segera pulang, dari pada aku kehilangan kesabaranku, dan jangan sampai aku mencekik lehermu Andres."Lia memutar bola mata setelah melihat ekspresi tak tahu malu dari wajah Andres yang hanya cengengesan sedari tadi, saat ia sedang mengoceh.


"Lagi-lagi marah, kau memang galak mutlak, ya."lagi-lagi Andres seperti kecanduan menggoda Lia.


"Huh, kau ini minta di pukul?!"


Plak..


Plak..


Plak..


Lia memukuli tubuh Andes pelan secara berulang-ulang. Alih-alih kesakitan Andres malah tertawa terpingkal-pingkal, membuat Lia semakin bersemangat memukuli Andres karena tampaknya ia semakin kesal.


"Berhenti tertawa Andres, memangnya ada yang lucu?"


"Ampun, ampun,"sahut Andres disela tawanya karena Lia terus-terusan memukulinya. Entah kenapa Lia malah ikutan tertawa juga saat memukuli Andres, rasanya sangat menyenangkan.


"Aku tidak akan menghentikannya, Andres."Lia tertawa ngakak sembari terus memukuli lengan Andres.


"Jangan macam-macam padaku, Li."Andres seketika membalas perlakuan Lia padanya dengan cara mengkelikitik perut Lia, sehingga Lia tak bisa menahan rasa geli karenanya.


"Andres, hentikan."pinta Lia sambil tertawa, Andres tak menghiraukan malah ia semakin mengkelikitiki perut Lia dengan puas.


"Aw, Andres perut ku sakit, aku tak bisa jika harus tertawa kegelian seperti ini."Lia balas memukul dada Andres berkali-kali. Namun, Andres sama sekali tak menghentikannya.


"Aku akan membuatmu mengompol di celana, Li."Andres tergelak, membuat Lia terus memohon ampun.


"Ah,"


Tawa mereka terhenti cepat, mata mereka saling terkunci dengan saling berpandangan lama satu sama lain, dan hanya napas ngos-ngosan yang terdengar akibat kelelahan tertawa, memacah keheningan ruangan.


Seketika Andres teringat akan momen ciuman bersama Lia, yang terputar bagai cuplikan di memory.


"Li?"panggil Andres dengan lirih.


"Hm.."sahut Lia tanpa menatap Andres.


"Apakah terasa salah, jika seorang lelaki berada di kamar seorang gadis malam-malam seperti ini?"tanya Andres dalam kalimat serius.


"Jika teman baik seperti dirimu mungkin tidak salah, jadi tidak akan ada pikiran kearah sana 'kan?"


Lia menatap Andres minta dukungan, entah mengapa Andres terlihat salah tingkah, apa mungkin ini hanya perasaannya saja? Di antara pertemanan yang mereka jalin, Lia merasa bahwa tidak pernah sama sekali ada hal-hal romantis yang di lalui. Apalagi pikiran erotis, tidak pernah terpikirkan sedikitpun.


"Menurutmu?"Andres malah balik bertanya dengan suara seraknya dan binar mata yang sukit di baca.


"Kita akan baik-baik saja meskipun dalam kamar. Mana mungkin kau tega melakukannya denganku, aku sangat mempercayaimu Andres,"ucap Lia dengan yakin sembari kepala mendongak menatap Andres.


Tiba-tiba saja Lia merasakan tangan Andres turun dari lingkaran lehernya, dan bertengker di pinggangnya. Andres menunduk hingga wajah mereka berdua tak berjarak, bahkan Lia bisa merasakan deru napas Andres yang hangat menerpa wajahnya.


Binar tak terbaca itu menghilang sekejap, dan sudah berganti oleh tatapan kelam yang membuat Lia berusaha mengantisipasi.


"Andres?"panggil Lia mencoba tenang.


Pikiran-pikiran liar sudah memenuhi isi kepala Lia. Lia terlihat menggeleng samar, berusaha meyakinkan diri bahwa Andres tidak mungkin melakukan sesuatu yang sempat ia pikirkan.


"Semua orang pernah melakukan ciuman 'kan, Li?"bisiknya membuat Lia berigidig.


"T-tapi, tidak dengan seorang teman."sahut Lia terbata-bata.


"Ciuman bukan akhir dari segalanya, Li."ucap Andres lirih.


Lia merasakan Andres meraih dagunya, menatap wajah Lia lamat-lamat dengan mata kelamnya.


"Li, apa aku pantas mendapatkan ciuman darimu?"mata Lia membola dan langsung menggeleng panik.


Cup!


Sesuatu yang kenyal dan lembut tiba-tiba terasa menempel di bibir Lia. Lia terpaku, berusaha mencerna apa yang terjadi dan katakanlah bahwa ini hanya mimpi, mimpi bahwa Andres tak benar-benar mencium bibirnya.


Andres mengerejapkan matanya berkali-kali, berusaha untuk sadar dari lamunan yang seharusnya ia lupakan.


"Mungkin kita sama-sama salah, baiklah seharusnya kita melupakan apa yang pernah terjadi malam itu. Anggap saja kita tak pernah berciuman. Setidaknya, itu lebih baik,"


Kalimat Lia beberapa menit yang lalu tiba-tiba saja terngiang-ngiang di telinga Andres. Namun, melihat manik mata Lia yang begitu menggemaskan membuat Andres tak tahan, apalagi saat ia melihat bibir mungil Lia yang begitu menggoda. Berusaha menepis pikiran kotor tapi pikirannya malah semakin liar.


"Oh, sial. Adegan macam itu?!"


Tiba-tiba saja terdengar suara Bayu mengucap lantang, seperti terkejut akan sesuatu. Membuat Andres dan Lia langsung terkesiap dan segera bagun dari posisinya. Wajah mereka berdua terlihat panas bercampur malu, dan gerakan mereka berdua terlihat salah tingkah, karena Bayu kini tengah berdiri di hadapan mereka berdua sambil menggeleng-gelangkan kepala.


"Ct..ct..ct, kalian sedang melakukan adegan shooting?"tanya Bayu dengan kedua tanga berkacak pinggang, refleks Lia dan Andres langsung menggelengkan kepala kuat secara berbarengan.


"Jangan salah paham, kak."lagi-lagi Lia dan Andres berkata serempak.


"Jangan bilang kalian akan bercinta di sofa? ayolah, come on masih ada kamar."sindir Bayu membuat Lia seketika menepis pikiran buruk sang kakak.


"Kak, sungguh tadi itu---"


Seketika Bayu langsung memotong pembicaraan Lia."Ya, aku mengerti. Rupanya caraku meninggalkan kalian berduaan seperti ini, tampaknya salah,"Bayu terlihat bersikap dingin sementara Andres terlihat merasa tak enak hati dengan kakak nya Lia.


"Kak, sungguh apa yang kau lihat tak seperti apa yang kau pikirkan,"panik Andres berusaha menjelaskan.


"Memangnya kau pikir aku tidak lihat,"sambung Bayu cepat.


"Aku berani bersumpah bahwa aku tidak melakukannya, kak."jujur Andres benar-benar tak nyaman dalam situasi seperti ini.


"Ya, aku tahu. Aku melihatmu sedang tertawa bersama Lia yang memukulmu, sementara kau mengkelikitik Lia. Lalu, Lia kehilangan keseimbangan kemudian terjadilah adegan seperti tadi right?"Bayu seketika langsung tertawa ngakak, melihat wajah tegang Lia dan Andres yang sangat begitu lucu.


"Oh, bodoh. Aku pikir kau marah sungguhan."Lia langsung bernapas lega seketika, rupanya Bayu mengerjainya.


"Jadi kau mengintip kami, kak?"Andres geleng-geleng kepala tak habis pikir seraya tertawa.


"Satu kosong,"cengir Bayu sombong, karena berhasil membuat Lia dan Andres spot jantung.


"Dasar, kau sudah tidak waras."Lia langsung melempari Bayu dengan bantal sofa, sementara Bayu masih saja puas tertawa.


"Memang,"sahut Bayu menyebalkan, lalu mereka berdua pun tertawa bersama, setidaknya itulah cara mereka agar melupakan segala kesedihan yang ada.


Lia tersenyum bahagia sambil diam-diam memperhatikan Andres yang masih tertawa dengan Bayu.


"Terimakasih Andres, kehadiranmu saat ini setidaknya membuatku lupa dengan kesedihan yang sedang kami alami."batin Lia berkata seraya tersenyum tulus pada Andres.