Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Kau flu?"


Mata Nabila dengan perlahan terbuka, setelah tersadar dari obat penenang karena sebelumnya ia brontak karena rasa cemas yang berlebihan, semenjak kedatangan Stefan yang mencekik lehernya beberapa jam yang lalu. Setelah pandangannya yang masih buram kini terlihat jelas orang pertama yang ia lihat. Senyuman yang terkembang dari bibir Bayu yang terlihat begitu tulus, meskipun seluruh wajahnya terlihat lebam. Nabila mengedipkan sepasang matanya perlahan, satu kedipan, dua kedipan. Bukan mimpi rupanya.


"K-kau?"akhirnya Nabila mengeluarkan suaranya yang terdengar masih parau.


Bayu tersenyum lagi."Maaf, aku terlambat menolongmu. Dan maaf, aku baru menjengukmu, akhirnya kau selamat dari Stefan meskipun harus terjadi kecelakaan seperti ini,"kata Bayu dengan nada bersedih.


Nabila membalas senyuman itu dengan perasaan lega, entah karena apa. Namun, yang jelas ia ingin melakukan itu."Tidak perlu minta maaf, bagiku kau adalah pahlawan. Meskipun, kita baru kali pertama bertemu saat di pesta. Tapi, kau berani mempertaruhkan nyawamu dalam keadaan yang berbahaya. Aku ber-terimakasih padamu."ucap Nabila dengan tulus.


"Bukan cuma aku yang menolongmu, tapi ada Andres dan papi nya."Bayu berusaha mengelak, dan tak memungkiri atas bantuan yang dilakukan oleh Andres dan papi nya juga.


"Jelas mereka akan membantukku, aku tidak pernah meragukan mereka. Tapi, kau. Kau sama sekali tak mengenalku sejauh itu, tapi kau berani melakukan serangan, dan tentu saja hal itu membahayakan keselamatanmu. Dan, aku juga tidak buta bagaimana para tamu lainnya yang tidak bisa melakukan apapun karena mereka ketakutan,"ujar Nabila membuat Bayu seketika tertawa kecik.


"Jangan memujiku terlalu berlebihan,"saran Bayu membuat Nabila tertawa pelan.


"Pujian itu pantas untukmu, lalu aku harus membalasnya dengan cara apa?"tanya Nabila, membuat Bayu seketika merasa tersipu.


"Tidak perlu membalas apapun,"jawab Bayu apa adanya.


Nabila mengangkat satu alisnya seolah belum meyakini apa yang dilontarkan oleh Bayu barusan."Serius?"ulang Nabila dengan binar mata yang menggemaskan.


Bayu mengangguk."Ya, aku serius. Menganggapku menjadi temanmu mungkin aku akan merasa lebih senang."


"Baiklah, kau temanku sekarang."Nabila melebarkan senyuman, dan tentu saja membuat Bayu salah tingkah dengan mengulum senyum.


"Bayu,"sosok pria paruh baya menepuk pundak Bayu seketika, membuat Bayu terperanjat. Setelah menoleh, Bayu bernapas lega. Rupanya itu ayahnya Nabila. Melihat hal itu membuat kedua pasangan paruh baya itu langsung tertawa geli, setelah melihat ekspresi Bayu yang terkejut seperti baru saja melihat monster, begitupula dengan Nabila yang langsung ikut tertawa.


"Ya, ampun om. Membuatku terkejut saja,"Bayu ikut tertawa, berusaha menormalkan degup dadanya yang berdetak kencang.


"Kenapa sebegitu terkejutnya melihat om? apa om terlihat menyeramkan?"goda ayah Nabila dengan mata menyipit.


Bayu langsung tertawa canggung."Ah, tidak om. Om tidak semenyeramkan itu,"desis Bayu sembari menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.


"Jangan di godain begitu, yah. Kasihan Bayu,"timpal ibu Nabila sambil tersenyum kecik.


"Cuma tanya, bu."sahut suaminya disela tawa.


"Ayah, Ibu. Bagaimana keadaan kalian?"tanya Nabila kepada kedua orang tuanya dengan perhatian bercampur dengan rasa khawatir.


"Keadaan ayah dan ibu baik, yang ibu khawatirkan adalah keadaanmu sayang. Maafkan ibu dan ayah yang lalai menjagamu sayang, ibu benar-benar tak menyangka Stefan akan senekad itu padamu. Untung saja, polisi bergerak cepat."sang ibu tersenyum sendu.


"Aku baik-baik saja, bu. Ibu dan ayah tidak perlu mengkhwatirkanku dan tak perlu menyalahkan tentang apa yang terjadi padaku karena Stefan. Stefan sudah mendapatkan hukuman setimpal atas segala perbuatannya, dia takan kembali lagi."ujar Nabila menenangkan kedua orangtua nya.


"Tapi, tetap saja kami menyesal sayang."sambung sang ayah sedih, sembari mengusap rambut Nabila dengan sayang.


Nabila mengulas senyum."Jangan dipikirkan, Nabila baik-baik saja."


"Stefan itu pacarmu?"tanya Bayu penasaran.


"Lalu, kenapa dia bisa menculikmu?"


"Stefan adalah teman bisnis ku di Australia. Dia pria yang manis dan baik, kami sangat dekat. Namun, hanya sebatas sebagai teman bisnis. Aku tak tahu, kalau sebenarnya Stefan menyukaiku selama ini. Sampai pada akhirnya, ia mengungkapkan isi hatinya padaku. Aku tak bisa membalas cintanya, karena aku masih pokus pada karier ku, bukan pada percintaan. Sejak saat itu hubungan kami memburuk,"jelas Nabila panjang lebar bercerita.


Bayu manggut-manggut sambil larut dalam pikirannya sendiri."Kau perempuan karier yang hebat, tidakkah kau memikirkan pernikahan?"tanya Bayu tiba-tiba secara menohok, membuat ketiga orang yang berada diruangan itu langsung terpaku.


Merasa ada yang aneh karena suasana mendadak hening, Bayu merasa bahwa dari kata-katanya sepertinya ada yang salah. Dan tentu saja membuatnya merasa gugup dan merasa tak enak hati.


"Ah, magsudku... kau memang perempuan hebat dengan karier yang cemerlang. Jika masa depan cerah, untuk apa memikirkan pernikahan, right? seharusnya menikmati dulu, bersenang-senang dengan segala pencapaian."Bayu berusaha mencairkan suasana sambil memasang wajah prustasi yang tersembunyi dibalik tawa.


Mendengar perkataan Bayu yang terlihat gugup tentu saja membuat ayah Nabila seketika langsung terkekeh."Wah, kau benar. Seharusnya Nabila segera memikirkan pernikahan dan memberikan kami cucu kembar yang lucu, hmm.. tapi sayang, Nabila belum menemukan pria yang tepat."ucap ayah Nabila seolah memberi kode pada Bayu, dan tentu saja kode itu dimengerti oleh Nabila.


"Ayah,"Nabila berusaha menegur pelan, namun sang ayah rupanya pura-pura tak menggubris.


Sementara sang ibu hanya geleng-geleng kepala, disela tawa melihat ekspresi Bayu yang terlihat polos tak mengerti kode yang diberikan suaminya itu.


"Ah, aku paham. Nabila seharusnya memang jangan terlalu terburu-buru untuk menentukan pilihan, Nabila masih muda, dan jalannya juga masih panjang."Bayu berusaha tersenyum meskipun terlihat sangat kikuk.


Ayah Nabila terlihat menghela napas panjang, sambil satu tangannya menepuk-nepuk pundak Bayu pelan."Kau tahu, aku ini sudah tua bangka. Nabila adalah anak tunggal, kami tidak perlu apa-apa lagi. Uang yang berlimpah kami miliki, tapi sekarang kami hanya ingin menantu dan cucu. Hanya dua itu yang belum terwujud,"Bayu terlihat mengerejap-rejapkan matanya, sambil tersenyum kaku disertai tenggorokannya yang mendadak tercekat, setelah mendengar keluh kesah ayah Nabila.


"Ayah, seharusnya ayah bersabar. Nabila, belum siap untuk itu."sambung Nabila menghela napas, sementara sang ibu terlihat bersembunyi menghirup napas. Seolah kedua orangtua nya benar-benar sudah tak sabar lagi, menahan apa yang mereka dambakan selama ini.


"Kau selalu bilang belum siap, kau sudah 25 tahun. Lalu kau menunggu apa lagi?"desak sang ayah tak sabaran.


"Magsud ayah apa? dengan kalimat menunggu apa lagi,"tanya Nabila tak mengerti.


Sang Ayah langsung berdecak gemas."Iya, kau mau menunggu apa lagi? sementara calon menantu ayah sudah ada di hadapanmu!"seru sang Ayah membuat Bayu langsung terbatuk-batuk meskipun ia sama sekali tak tersedak apapun.


"Uhuk..uhuk.."Bayu terbatuk-batuk, setelah mendengar kalimat mengejutkan yang terlontar dari bibir ayah Nabila barusan, dan Bayu berusaha mencerna kalimat itu.


Sementara, Nabila terlihat mengulum senyum melihat ekspresi Bayu yang betul-betul terlihat menggemaskan.


Ayah Nabila langsung menepuk-nepuk pundak Bayu."Kau flu?"pertanyaan konyol sang ayah itu, langsung saja disambut dengan tertawa ngakak oleh Nabila.


"Ayah,"sang ibu juga langsung tertawa karena tingkah konyol suaminya itu.



**Alhamdulillah guys, aku juara pertama dalam salah satu event. Sebenarnya pengumumannya udah dari tanggal 1 Desember, tapi aku baru publikasi sekarang. Mohon krisar-nya teman-teman supaya tulisanku lebih baik lagi. Dan mohon dukungannya juga ya, terimakasih sebelumnya.


Tertanda, Author.


Ina Raina**