
Setelah Nabila memutar balik arah dan kini telah sampai ditempat tadi yang sebelumnya ia kunjungi, ia mendapati Bayu yang masih terduduk dengan tenang di kursi taman persegi. Nabila menggigit bibir bawahnya ragu, bahkan matanya pasti masih terlihat sembab akibat menangis terus-terusan saat di mobil. Berkali-kali Nabila merutuki diri dalam batin, mengapa ia menjadi tak karuan seperti ini sih. Kini kepala Bayu terangakat dengan seulas senyuman tersungging lalu ia pun langsung menghampiri Nabila yang terlihat masih enggan berjalan kearahnya.
"Hei,"sapa Bayu seraya mengangkat dagu Nabila dengan lembut ketika Nabila hendak menunduk, Nabila terlihat berusaha menyembunyikan wajah layu dari sosok Bayu yang kini berada di hadapannya.
Nabila berusaha tersenyum kecil, meskipun ia sama sekali tak bersua.
Tiba-tiba tangan Bayu terbuka kearah Nabila, sementara Nabila masih terpaku ditempat dan ia bingung entah harus melakukan apa tanpa mengatakan apapun. Bayu menarik tangan Nabila sehingga tubuhnya terlempar pada pelukan Bayu. Sementara Nabila hanya bisa mematung dan sebelah tangan Bayu membelai rambutnya dengan lembut penuh perasaan, disertai dengan hembusan napas seperti rasa lega.
"Bay,"panggil Nabila lirih.
"Bil, aku merasa lega ternyata kau mau kembali lagi."ucapnya sambil mengeratkan pelukan. "Janji ya, jangan pergi begitu saja seperti tadi"bisiknya tepat disebelah telinga Nabila. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu, Bil."lanjutnya tulus.
"Bayu aku sama sekali tak mengerti apa yang kau katakan,"ucap Nabila dengan nada rendah, namun Bayu hanya diam.
Nabila merasa heran dengan setiap ucapan yang Bayu lontarkan barusan, sehingga Nabila berusaha untuk mendongak supaya bisa melihat wajahnya. Sementara Bayu hanya menyunggingkan senyuman membuat Nabila merasakan getaran asmara yang begitu hebat saat itu juga.
Tangan Bayu kembali melingkupi tubuh Nabila lagi. Sementara Nabila belum juga bisa menenangkan degup dadanya yang sedari tadi sudah tak karuan.
"Katanya mau bicara sesuatu,"tagih Nabila membuat pelukan itu terlepas karena Bayu menyadari tujuannya.
Bayu mengangguk pelan."Sebaiknya kita duduk, agar pembicaraannya lebih santai."saran Bayu, sementara Nabila mengangguk setuju. Kemudian mereka berduapun terduduk di kursi taman persegi itu.
Alih-alih membahas apa yang ingin dibicarakan, Bayu malah diam saja. Membuat Nabila merasa heran. Namun, setelah Bayu menoleh kerah Nabila kemudian ia pun menggenggam satu tangan Nabila yang berada dipangkuan dengan begitu erat, seolah ia tak ingin melepasakannya begitu saja.
"Ada apa, Bay?"tanya Nabila penasaran.
Bayu tak menjawab pertanyaan Nabila, namun ia hanya menyodorkan ponsel miliknya pada Nabila, membuat kening alis Nabila menyatu ditengah. Namun, Nabila lebih memilih untuk tak bertanya lagi lalu memutuskan untuk meraih ponsel itu kemudian netranya teralih pada layar ponsel yang menyala, membaca dan melihat hal yang membuatnya tersentak kaget tak kepalang.
Kotak masuk dari email itu terbaca oleh Nabila, dengan subject Nabila adalah gadis *****. Membuat ulu ati Nabila berdenyut nyeri bagai tombak yang tak kasat mata yang menancap setelah membaca pesan email itu, terlebih lagi kotak masuk itu berisikan gertakan disertai photo dan video.
-Well, setelah mengetahui fakta ini kau pasti akan terkejut. Dan lebih baik kau meninggalkan Nabila, dia bukan wanita baik-baik. Setelah melihat beberapa bukti ini kau akan semakin percaya padaku. Lihat photo dan play video. Enjoy.-
Tulisnya di pesan email itu membuat air mata Nabila jatuh seketika, apalagi setelah melihat photo dan video yang ditampilkan. Denyut jantung Nabila melambat, apalagi ketika ia kembali membaca pesan email itu dan melihat nama si pengirim Jordan Aditya. Kenapa Jordan mengetahui Bayu? dari mana ia mengetahui pria yang sedang dekat dengannya dan mengapa Jordan selalu mengusiknya? Jordan adalah mantan Nabila semasa SMA dan sudah lama mereka tak bertemu semenjak putus, namun ancaman selalu saja dilakukan Jordan padanya.
Nama Jordan sudah Nabila kubur dalam-dalam bahkan ia sama sekali tak pernah memikirkannya dan sudah melupakannya. Tapi masalalu itu benar-benar sangat menghantuinya. Membuat nama Jordan selalu berkaitan dengan momen kelam itu sehingga sulit untuk ditepis bayang-bayang yang sering menghantui, sehingga ia sering kali ketakutan untuk memulai hubungan dan memilih fokus pada karier.
Nabila melirik sekilas kerah Bayu dan entah mengapa Nabila merasa begitu malu padanya. Bahkan tatapan Bayu padanya sama sekali tak terbaca. Dada Nabila naik-turun tak terkendali namun ia berusaha keras untuk tetap tenang dan sesekali ia menghapus air mata yang masih terus mengalir, sementara pikirannya masih saling berkejaran tapi ia memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini setelah bertahun-tahun ia tak pernah mengambil tindakan. Ia juga berhak bahagia dan memiliki pasangan tanpa harus dihantui ingatan kelam itu. Jemarinya meng-klik alamat link yang tertera.
Napasnya tercekat ketika video itu terputar, suara dentuman musik terdengar nyaring, dengan warna lampu merah yang mendominasi. Membuat ingatannya terlempar ke masa lalu bahwa sosok perempuan yang berada di pangkuan lelaki itu adalah dirinya. Dengan segelas bir di tangannya, dengan tertawa semaunya sementara tangan si lelaki menjamah tubuhnya. Lelaki itu adalah Jordan si mantan pacar. Di video itu Jordan mengecup lehernya dengan rakus sementara dirinya tertawa lalu meneguk bir digelas, kemudian mereka berdua berciuman dengan begitu liar. Tangan si lelaki menyelinap masuk kedalam rok mini yang tersingkap sementara tangan dirinya meremas rambut si lelaki, ketika ciuman itu terlepas Nabila melenguh dan sesekali mendesah seraya menggigit bibir bawahnya dengan penuh sensual.
Setelah video itu selesai dalam beberapa menit, Nabila juga melihat photo yang tertera. Potret dirinya dan Jordan tengah mabuk dengan ekspresi antusias dalam kesenangan di club. Serta potret dirinya yang tengah dugem dengan Jordan.
Emosi Nabila meletup-letup dan kedua bola matanya merasakan panas yang luar biasa. Lagi-lagi ia harus menangis karena meratapi kisah kelam itu yang diselimuti rasa penyesalan yang tak berujung. Isak tangis Nabila merebak, dan tiba-tiba ia merasakannya. Satu tangan Bayu melingkar dipundaknya dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Nabila erat. Nabila menoleh kerah Bayu sementara Bayu malah mengembangkan senyuman, senyuman yang begitu menenangkan disertai dengan tatapan matanya yang seteduh awan. Kenapa Bayu masih bersikap manis padanya? kenapa ia tak marah ataupun merasa risih. Alih-alih menjauhi dirinya tapi Bayu malah mendekatinya seperti ini, seolah semuanya tak pernah terjadi apa-apa. Nabila benar-benar tak habis pikir, apalagi saat tangan Bayu terulur menghapus air matanya dengan begitu lembut dan perhatian. Bahkan, Bayu malah menarik tangannya agar Nabila mendekat sehingga dengan refleks Nabila bersandar di bahunya.
Begitu kepalanya bersandar di bahu Bayu, Nabila langsung menangis kencang seperti anak kecil. Dadanya terasa begitu sesak sehingga ia kesulitan untuk mengatur isak tangisnya yang berubah sesegukan. Setelah melihat video tadi dan beberapa photo membuatnya semakin merasa jijik pada dirinya sendiri, dan ia merasa bahwa ia bukanlah gadis baik-baik.
"Kenapa tidak bilang kalau ternyata dirimu sudah menonton video dan melihat photo itu, Bay?"tanya Nabila lirih disela isakan.
"Hari ini aku kan sudah kasih tahu,"jawabnya lembut.
"Tapi kenapa dirimu tidak menjauhiku? seharusnya kau jijik padaku, Bay."suara Nabila terdengar begitu serak akibat ia sering menangis, disertai kepalanya yang ikut mendongak menatap wajah Bayu dengan tatapan sedihnya. Sementara Bayu langsung merapihkan helaian rambut Nabila yang terhembus angin lalu menyelipkannya kesisi telinga.
"Tapi tentang video itu, itu semua sama sekali bukan kemauan ku, Bay. Jordan mantanku itu hanya bilang bahwa dia ingin mengajakku jalan-jalan di mall. Tapi, kenyataannya aku malah dibawa ke club. Dan bodohnya aku, aku malah menuruti kemauan Jordan untuk memakai pakaian sexy, tapi sekali lagi aku tak berpikiran bahwa Jordan akan membawaku kesana. Aku hanya berpikir bahwa aku hanya menghargai pemberian Jordan yang membelikan baju itu sebagai hadiah ulang tahun. Dan bodohnya aku lagi, aku sama sekali tak melarikan diri dari sana. Dan malah menuruti permintaan Jordan untuk menemaninya sebentar di club."papar Nabila memberi penjelasan yang sebenarnya, setidaknya Bayu tidak berpikiran terlalu jauh mengenai masalalu nya yang termasuk dijebak. Setelah berkata demikian air mata Nabila kembali berlinang, lagi-lagi Bayu menghapusnya dengan jempolnya dengan lembut.
"Sudah jangan nangis lagi, Bil."Bayu menenangkan Nabila seraya menangkup kedua pipinya, sementara Nabila menggeleng seolah ia belum merasa puas bahwa ia harus benar-benar menceritakan kejadian yang sebenaranya pada Bayu. Apalagi Bayu sama sekali tak mencelanya dan ini adalah kesempatan untuknya bercerita.
"Saat itu memang aku masih terlalu polos, aku anak rumahan, Bay. Sangat tak mengerti apa-apa, ternyata diluaran sana sangat begitu berbahaya. Sampai akhirnya aku dipaksa minum sesuatu yang membuat kepalaku pusing, dan bahkan aku tak sadar dengan semua yang terjadi padaku. Jika aku tidak melihat video itu mungkin aku juga tidak akan pernah tahu kejadian di club malam itu,"isak tangis Nabila semakin menjadi-jadi betapa pilu dan hancurnya ia saat ini.
"Aku percaya dirimu, Bil."Bayu tersenyum, dengan suaranya yang berhasil menghangatkan jiwa.
"Bay,"rintih Nabila disela isakan.
"Omong-omong saat masih SMA memangnya bisa masuk club?"kali ini Bayu mengajukan pertanyaan.
"Aku sudah punya KTP saat itu, Bay."isak Nabila.
Bayu mengangguk."Kalau begitu jangan nangis lagi, ya."Bayu mengacak puncak rambut Nabila dengan pelan seraya mengembangkan senyuman, tentu hal seperti itu membuat Nabila meleleh. Wanita manapun pasti akan luluh jika diperlakukan seperti itu.
"Tapi aku ketakutan, Bay. Takut ancamannya untuk menyebarkan video itu ternyata di lakukan."cicit Nabila seraya menunduk.
Bayu tertawa ringan menanggapi, membuat kepala Nabila terangkat dan menatap heran Bayu kenapa ia tertawa, padahal semuanya sama sekali tak ada yang lucu. "Kenapa tertawa?"
"Bil, sekarang usiamu sudah 25 tahun dan video itu waktu dirimu SMA kenapa harus takut, sih? lagi pula video itu bukan adegan ranjang yang super erotis dan tentu saja takan terjerat pasal undang-undang,"ucapnya setelah tawanya terhenti.
Nabila larut dalam pikirannya sendiri, dan langsung tersadar setelah Bayu mengatakan hal itu kemudian merutuki diri. Mengumpat dalam batin mengapa ia setolol itu. Dan kenapa ia tak berpikir sejauh itu sih? ini pasti karena ia terlalu ketakutan, sehingga efek yang ditimbulkanpun terlalu berlebihan.
"Bay, kau benar."Nabila menghela napas panjang lalu memijat pelipisnya yang mendadak pening, ini pasti karena ia terlalu lama menangis.
"Sudahlah tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, lebih baik diambil pelajarannya untuk terus menjaga diri. Wanita sebaik dirimu sama sekali tak pantas untuk disakiti,"kata Bayu begitu manis membuat sensasi yang di timbulkan terasa sangat romantis.
Nabila mengangguk dan setelah air matanya mengering, ia bisa mengukir senyumannya lagi. Ternyata berkat Bayu semuanya terasa jauh lebih mudah, semua permasalahan terselesaikan dengan sangat baik, dan Bayu berhasil melakukan itu.
"Tapi, aku masih penasaran Jordan mengetahui alamat email mu dari mana?"tanya Nabila serius.
"Mungkin kau tidak ingat Lia memposting photo di instagram saat kita memulai untuk menonton film horror lalu menandai kita semua. Termasuk menandai aku dan kau, dan di bio instagram ku tersemat alamat email untuk keperluan bisnis,",
Nabila menghela napas kasar."Jordan gila, aku pikir setelah bertahun-tahun putus dia takan pernah menggangguku lagi,"umpatnya membuat Bayu tertawa.
"Blokir saja email Jordan biar kau tenang, dan mungkin Jordan adalah seorang psikopat,"ledek Bayu yang langsung disambut pukulan kecil oleh Nabila di lengannya.
"Jangan membuatku takut,"cicit Nabila sementara Bayu terkekeh.
Tiba-tiba ponsel Bayu berdering, tanda ada sebuah panggilan masuk. Segera Nabila menyodorkan ponsel itu pada Bayu. Setelah beralih di genggaman tangannya, Bayu menggeser keatas simbol hijau lalu menempelkan ponsel ditelinganya setelah mengangkat telephone.
"Hallo?"
"Hallo, kak. Kak tolong...Andres kecelakaan, kakak segera kesini! Aku di Jakarta sekarang,"suara disebrang sana yang ternyata Lia dengan suara sesegukan membuat Bayu terkejut tak kepalang, apalagi setelah mendapati kabar bahwa Andres kecelakaan membuat matanya terbelalak.
"Apa?!"kejut Bayu yang langsung berdiri. "Baiklah, kakak segera kesana."pungkas Bayu dengan begitu panik, kemudian sambungan telephone itupun diputus.