
Waktu dini hari yang terasa mencekam berselimut sunyi dalam pekatnya malam, rembulan tak menampakan wujudnya sedikitpun. Namun, di langit tanpa awan terhiasi oleh bintang yang bertaburan. Menyemai hawa dingin yang kian menusuk tulang.
Lia membuka mata dengan cara melotot, mencoba menggerakan kedua tangan yang seperti terikat, dan merasakan tubuhnya yang terbaring di blankar. Lia menyadari sesuatu, apakah malam ini target eksekusi? debaran jantung Lia semakin tak terkendali, matanya melirik kesamping yang di dapati sosok Andres yang masih belum sadarkan diri. Terbaring di blankar, sama seperti dirinya yang terikat kuat. Perlahan keringat dingin semakin membanjiri di kening milik Lia, berusaha menelan pelan air liur yang mulai surut.
Ruangan terlihat sepi tak ada tanda-tanda dua psikopat hadir di tengah-tengah mereka berdua. Lia menatap nanar kearah pintu yang masih saja terkunci, menghela napas dan berusaha menenangkan diri, serta mencoba yakin bahwa ia dan Andres akan selamat.
"Andres? Andres?"panggil Lia sepelan mungkin, namun sungguh malang nasibnya saat ini. Andres masih saja belum menunjukan tanda-tanda kesadarannya.
Lia berusaha berpikir keras, ia harus bisa mengambil kesempatan emas ini. Mana kala mengetahui bahwa dua psikopat itu pergi entah kemana. Namun, ia cukup yakin mungkin mereka sedang mempersiapkan sesuatu untuk mengeksekusi mereka dengan cara paling sadis. Menyadari, bahwa ia dan Andres terlalu ikut campur maka besar pula dendam mereka terhadap mereka berdua. Minta ampun padanya jelas bukan solusi.
Lia berusaha menggerakan tangannya agar tali itu melonggar, namun sayang tali itu terikat begitu kuat sehingga apa yang dilakukannya sama sekali tak membuahkan hasil sedikitpun.
Pergelangan tangan milik Lia meninggalkan bekas lecet, karena ia terlalu kasar untuk memberontak. Hingga pada akhirnya ia tersentak setelah mendengar derap langkah yang entah dari mana sumbernya. Terdengar samar dan semakin dekat semakin nyaring derap langkah itu terdengar.
Buru-buru Lia menutup matanya kembali, meskipun rasanya ketakutan ini semakin berlipat-lipat. Pendar lampu yang redup membuat Lia tak bisa mengintip apa yang akan dilakukan Semmy setelah ia mulai mendekat kearah blankarnya. Sontak Lia langsung menjerit dengan keras, ketika merasakan sepuhan cairan lilin panas yang di siram oleh Semmy pada lengan serta kaki miliknya.
"Aw, sakit!!"pekik Lia setelah matanya terbuka lebar.
"Bersiaplah, kau akan mati malam ini!"kata Semmy dengan smirknya.
"Aw, shhshhh.. jangan aku mohon!"pinta Lia disela rintihannya.
"Wah, begitu ya?"
"Lepaskan aku dan Andres!"napas Lia mulai terengah, apalagi ia harus menahan sakit karena kulitnya melepuh akibat cairan lilin panas itu.
"Enak saja,"Semmy meninggikan suaranya. Kemudian menampar Lia.
Plak..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Lia, jika penerang ruangan cukup baik, mungkin akan terlihat jelas bagaimana tamparan itu langsung meninggalkan bekas kemerah-merahan yang terasa sangat perih di pipi.
"Hentikan!"Lia memohon dengan bercucuran air mata.
Semmy menatap Lia dengan penuh kemarahan, mungkin ia tak menyukai kalimat permintaan Lia yang baru saja meluncur dari bibirnya.
"KAU INI DUNGU, YA?!"Semmy berseru keras lalu menoyor kepala Lia secara kasar.
"Cuih..."
Lia murka, dan tak bisa mengendalikan diri betapa ia sangat kesal pada Semmy. ia berani meludahi wajah Semmy, Lia sangat ingin memukul Semmy namun tangannya terikat. Bahkan ia sama sekali tak merasa takut dengan pengancaman Semmy yang pasti akan lebih arogan, bahkan kini ia terlalu berani meludahi.
Semmy langsung tersenyum sinis, menyeka air ludah diwajahnya dengan sapu tangan putih dari saku jaket miliknya. Semmy menatap Lia misterius, lalu ia pergi.
Tidak, Semmy tidak pergi. ia berbalik kemudian menggampar pipi Lia kanan-kiri dengan sangat keras, mungkin dengan seluruh tenaganya yang ia keluarkan semaksimal mungkin, untuk mendapatkan kepuasan dalam penyiksaan ini.
Plak..Plak..Plak..
Ctazz.. ctazz..
Beberapa kali cambukan yang dilayangkan itu berhasil membuat seluruh tubuh Lia kepedihan. Lia hanya bisa tertunduk layu dan pasrah dengan terus menangis tiada henti.
"Aaaa....sakit!"jerit Lia sembari brontak, menggerak-gerakan tubuhnya sekuat tenaga.
"Ini belum seberapa, sayang."tawanya bak iblis yang menggelegar.
Suara cahaya pelan mencuat, disertai dengan kabut tipis yang muncul. Itu Andra, yang kini tengah menatap punggung Semmy dengan tajam. Kemudian rohnya masuk kedalam jiwa Andres yang masih tak sadarkan diri.
Setelah berhasil melakukan perpindahan roh pada raga, seketika jemari milik Andres bergerak sendiri secara pelan. Secara ajaib ia bisa melonggarkan ikatan di seluruh tubuhnya hingga terlepas dengan begitu mudah.
Dengan perlahan, ia beringsut. Melihat Lia yang tersiksa ia tak tinggal diam, dengan cepat Andres langsung menerjang Semmy dari belakang hingga Semmy tersungkur pada ubin..
Brakkk...
Mata Lia terkesiap sekaligus haru, akhirnya Andres sadar. Dengan gerak cepat Andres langsung mengangkat tubuh Semmy dengan kedua tanggannya. Kemudian Andres membalikan tubuh Semmy lalu memukuli wajah Semmy berulang-ulang sampai babak belur, menendang perutnya dengan lututnya, tanpa ampun. Sehingga Semmy sama sekali tak punya kesempatan untuk melawan, karena pergerakan Andres yang begitu cepat bak kilat. Kemudian Andres mendesakkan tubuh Semmy pada dingding tembok, mengangkat kerah bajunya dengan pelototan tajam serta gigi yang bergemeletuk.
"Jika kau pikir kau akan membunuh kami, maka dengan sangat siap kami akan lebih dulu membunuhmu!!"ancam Andres sementara Semmy menatap Andres dengan nanar.
Seolah muak, maka dengan cepat pula Andres memberikan satu pukulan yang kuat, mendarat dengan tepat di pangkal hidung milik Semmy sehingga mengeluarkan darah mimisan. Dan tanpa pengampunan, Andres mendaratkan satu kepalan tangan yang mengeras dan meluncur di dada Semmy sampai terbatuk-batuk. Rupanya Semmy tak sekuat itu.
"Lepaskan Semmy atau aku akan membunuh Lia!"suara pengancaman terdengar, rupanya itu Jesllyn.
Andres menoleh tanpa melepaskan Semmy sedikitpun, dengan kini tangannya melingkar di leher Semmy dengan sebilah pisau di genggamannya yang berhasil ia curi dari tangan Semmy. Kemudian ia mengalihkan tubuh Semmy kedepan. Andres tidak merasa khawatir jika Semmy akan melakukan perlawanan, karena kini Semmy tampaknya sudah kehilangan energi karena Andres telah melakukan serangan yang brutal.
Melihat Jesllyn berada di samping blankar Lia, dengan tangannya memegang pistol beramunisi yang siap diluncurkan tepat di kepala Lia, tentu membuat Andres merasa was-was. Terlebih, kini ia bisa melihat wajah Lia yang semakin pucat.
Bahkan Andra yang meminjam raga Andres merasa sangat terkejut, mendapati fakta yang ia lihat di depannya bahwa sosok Jesllyn sang mantan rupanya terlibat.
"Jesllyn, K-kau?"Andra mencoba berucap dengan terbata-bata.
"Ada apa denganmu, ha?"Jesllyn mengedikan dagu angkuh.
"Kenapa kau melakukan ini? Apakah kau sudah tak waras? lebih baik, kau menyerahkan diri sekarang, sebelum semuanya terlambat dan nanti pada akhirnya kau akan mendapatkan balasan setimpal. Dengan vonis hukuman mati dari pengadilan."
"Apa pedulimu? bahkan, aku dan Semmy takan tertangkap karena kalian berdua akan aku habisi!"Jesllyn langsung tertawa iblis tak menghiraukan apa yang dikatakan Andres, padahal jika ia mengetahui fakta yang sebenarnya kini yang menguasai tubuh Andres adalah Andra.
"Kau tahu, yang berbicara denganmu sekarang ini adalah aku, Andra!"
Deg!
Mendengar kalimat itu, Jesllyn langsung terpaku dan seketika ia menurunkan pistol itu secara perlahan.
"K-kau?"