
Waktu menunjukan pukul 22.00, Lia menghempaskan tubuhnya ke kasur. menatap langit-langit disertai helaan napas.
tiba-tiba saja Lia tersentak mendengar alunan nada dering ponsel, tanda panggilan masuk.
Lia langsung saja menggeser tombol berwarna hijau di lcd ponselnya, tanpa memedulikan nomor yang tak dikenali itu.
"Hallo?"
"Hai?"
"Siapa?"
"Tebak saja,"
"Aku sedang tidak ingin bermain tebak-tebakan, maaf."
"Aku akan membunuhmu..hahaha..mati kau! mati saja!!!hahahaha.."
Tut...
tanpa berpikir panjang Lia langsung menutup panggilan, dan panggilan berakhir. Lia membanting ponsel ke kasur, kemudian beringsut cepat dari posisi sebelumnya. Lia terkejut tak kepalang mendapati terror mengerikan itu, apalagi malam-malam seperti ini. bahkan, ia semakin gelisah saat seseorang di sebrang sana mengancam sambil terkikik menakutkan, dan serasa terngiang-ngiang di telinganya. debaran jantung Lia tak terkendali, belum sempat pulih dari rasa socknya tiba-tiba saja jendela kamarnya dilempari sesuatu semacam benda keras, entah apa namun berhasil memantulkan bunyi nyaring disituasi hening seperti ini, untung saja kacanya tidak langsung pecah. sontak saja, jantung Lia serasa akan loncat dari tempatnya saking terkejutnya.
napas Lia berubah tersenggal, namun rasa penasaran membuatnya harus rela menekan rasa takut. menelan pelan air liur, dan berusaha keras agar ia tetap tenang. secara perlahan kaki telanjangnya menyentuh ubin yang dingin, setelah beranjak dari ranjang dengan gerakan sepelan mungkin. Lia berusaha untuk berani sebisa yang ia bisa. meskipun tidak sepenuhnya ia berani. bahkan, peluh keringat miliknya bercucuran begitu deras bak air hujan, menghiasi wajah dan tubuhnya. dan kini ia telah berdiri tepat di jendela kaca, namun ia masih ragu dan menimbang-nimbang. apakah ia harus membuka gordengnya? perlahan namun pasti, tangannya terulur meskipun terlihat sangat begitu gemetar, kemudian membuka gordeng sedikit demi sedikit dan mulai mengintip. sial, hasilnya nihil ia tak bisa melihat sekitar secara terperinci, karena ia hanya mengintip dari celah sempit yang tentu saja tak bisa mengintip dengan leluasa. semuanya tampak salah, karena jika ia membuka gordeng terlalu lebar akan banyak hal yang akan ia takuti, apalagi malam mulai menjelang larut.
Lia membuyarkan halusinasi buruk itu, sesekali ia menghembuskan napas gelisahnya hanya sekedar untuk menentramkan hatinya yang dilanda resah dan juga takut.
Lia mengangguk mantap, membuka cepat gordeng dengan lebar. sampai akhirnya ia menemukan. sosok itu, tinggi menggunakan jaket serta kupluk dengan punggung tegap yang sedang memunggunginya. Lia menelan pelan air liurnya, jantungnya berpacu lebih cepat dua kali lipat di bandingkan debaran saat jatuh cinta.
tubuhnya bergemetar hebat, bahkan rasanya ia beku dan tak bisa bergerak untuk mengendalikan diri.
sosok itu seperti menyadari bahwa Lia sedang memperhatikannya. perlahan tubuhnya bergerak untuk membalikan badan.
"Hai, Li? apa kau sudah tidur?"tanyanya denan suara lantang sembari tersenyum lebar.
Lia langsung memekik, menjerit dan matanya hampir tercongkel setelah melihat pemandangan itu."Aaaaa.. dasar kutukupret!"
shitt, Andres bodoh.
Andres masuk kedalam kamar Lia melalui jendela, setelah masuk Andres di sambut pukulan hangat yang bertubi-tubi dari Lia karena tampaknya ia sangat kesal pada Andres, datang di malam hari dengan mengejutkan sekaligus menakutkan. padahal Lia sempat berpikir bahwa itu Semmy si manusia psikopat, nyatanya itu Andres si kutukupret. hampir saja tadi ia akan mengompol, untung pertahanannya masih dapat di kendalikan meskipun rasanya sudah di ujung.
Andres hanya meringis terkena pukulan dari Lia dengan disertai gelak tawa. Lia berlari mengejar Andres tiada henti, karena Andres sama sekali tak bisa diam dan tak menyerahkan diri.
"Awas kau Andres, aku akan membunuhmu!"kesal Lia terus mengejar Andres yang berlarian kesana-kemari, bahkan ia sampai naik ke atas kasur, lalu naik ke kursi. namun, Andres sama sekali tak menyerah.
"Kau tidak kelelahan mengejarku, Li?"tanya Andres disela tawanya.
"Aku masih punya banyak tenaga untuk menangkapmu lalu membunuhmu, dasar cecunguk liar!"sahut Lia menggerutu, dengan tiada henti mengejar.
tiba-tiba badan Lia meluruh ke lantai, Andres yang berjarak di ujung meja hias, sementara Lia berada di ujung dekat lemari. seketika Andres langsung menoleh mendapati Lia yang terduduk di lantai yang seperti baru saja tersandung, disertai ia seperti meringis kesakitan. Andres menghentikan tawanya dan ia berubah panik.
"Aw, sakit. aku rasa tulang kaki ku patah.. huukk..huk.."Lia merengek dengan tangannya yang memijat tumit kaki sambil sesegukan.
"Li, kau jatuh?"Andres langsung menghampiri Lia dengan tatapan khawatir.
setelah Andres mendekat, tiba-tiba Lia langsung tertawa ngakak sambil mencengkaram lengan Andres kuat-kuat agar tidak kabur lagi. jadi, apakah ini jebakan?
"Oh, jadi apa-apaan ini? kau curang sekali,"protes Andres sementara Lia masih saja tertawa ngakak.
"Aku? curang? itu bukan curang Andres, tapi itu strategi. kau bodoh sekali,"Lia membela diri kemudian bangkit berdiri begitu pula dengan Andres, dan Lia sama sekali tak melepaskan cengkramannya.
Andres sama sekali tak membrontak, ia malah menyusuri Lia dari atas sampai bawah dengan begitu teliti.
"Kau tidak jatuh sungguhan 'kan?"tanyanya yang seperti tak mempercayai bahwa itu hanyalah jebakan Lia semata, agar Andres bisa menyerahkan diri. dan bahkan Andres sampai berjongkok untuk memeriksa kaki milik Lia.
"Kau payah sekali, itu hanya pura-pura Andres."jawab Lia sambil memutar bola mata, dengan tangan berkacak pinggang. sementara, Andres menatap Lia sambil geleng-geleng kepala setelah ia bangkit berdiri.
Andres berdecak."Sandiwaramu membuatku hampir jantungan."
"Ah, rupanya aku nyaris membunuhmu, haha.."komentar Lia sambil tertawa, lalu berlalu dari pandangan Andres.
Lia merebahkan tubuh sambil terlentang di atas kasur, karena kelelahan mengejar Andres yang seperti anak kecil yang susah di pakaikan baju setelah mandi, jika dikejar maka anak itu berprasangka bahwa yang mengejarnya sedang mengajaknya bermain, itulah Andres. malam larut begini sudah di ajak maraton disertai spot jantung, bahkan sampai berkeringat pula.
dan kini Lia merasakan Andres ikut berbaring disebelahnya, mereka berdua sama-sama diam. menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
"Andres,"
tiba-tiba secara bersamaan mereka saling memanggil, kemudian saling melirik dengan perasaan canggung.
Andres berdehem sebelum ia berbicara."Kau duluan saja,"
"Kau saja Andres, aku bisa bicara setelah kau."kata Lia kemudian mengalihkan pandangannya dari wajah Andres.
"Kau tahu, entah mengapa aku ingin selalu menjaga dan melindungi mu. I'm serious, you know?"ucapnya terang-terangan yang membuat Lia tercenung sesaat.
"Thank you, tapi aku bisa menjaga dan melindungi diriku sendiri. bahkan, Andra bilang dia juga akan menjaga dan melindungiku."kata Lia lalu menoleh kearah Andres sambil tersenyum tipis.
"Jika dua orang lelaki itu sama pedulinya padamu, tentu saja tidak akan menjadi masalah 'kan, Li? justru itu bagus,"
"Tapi, kau__"
"Aku memang bukan pacarmu, tapi aku temanmu 'kan?"timpal Andres, sementara Lia hanya manggut-manggut sambil tersenyum.
"Kau calon kakak iparku, Andres."sahut Lia sekeika sambil tertawa renyah, dan Andres mengulum senyum.
"Oke, calon kakak iparmu rupanya ya? haha.. bahkan aku sampai melupakan fakta itu, baiklah. well, apa kau mengizinkan aku untuk menjaga dan melindungimu?"tanya Andres yang seperti membutuhkan kepastian.
"Tentu,"jawab Lia akhirnya dengan anggukan kepala setuju.
seketika Lia merasakan tangan Andres terulur mengusap cepat puncak rambut Lia, hati Lia seperti berdesir jadi apakah ini yang namanya friend sejati? ataukah seorang calon kakak ipar yang begitu perhatian?
"Aku sudah punya rencana,"kini giliran Lia yang berbicara.
"Rencana apa?"tanya Andres menoleh seketika.
"Malam besok kita ke sekolah, besok adalah malam minggu. kita harus masuk kedalam gudang itu secepat mungkin."Lia mengangguk mantap kemudian ia tidur menyamping menghadap kearah Andres, berhubung saat ini ia sedang membicarakan masalah yang serius untuk di bahas.
"Kau yakin?"tanya Andres sekedar memastikan.
"Aku sudah mempersipkan mentalku, dan bahkan aku sudah tak sabar untuk kesana. sekarang kan ada kau yang membantuku, aku sedikit tenang dan merasa aman."ujar Lia yakin.
"Baiklah, besok kita kesana."Andres mengangguk setuju.
"Omong-omong kenapa kau tahu rumahku?"tanya Lia penasaran.
"Aku tahu dari Andra,"jawab Andres tersenyum tipis.
"Ah, Andra bertemu denganmu ya? seharian ini Andra sama sekali tidak menemui aku, padahal kami sudah baikan. apa dia tidak rindu padaku?"tiba-tiba saja Lia berubah bad mood, sementara Andres hanya terkekeh.
"Mungkin tidak,"sahut Andres asal-asalan, Lia langsung merengut seketika.
"Ini pasti gara-gara kau, karena kau menelaktirku. pasti Andra cemburu, dan dia marah padaku, sampai sekarang dia tak menemui aku. ini salahmu!"tuduh Lia dengan sepasang mata menyipit.
"Jangan menuduh, Andra katanya rindu Papi, jadi dia memutuskan untuk menemani Papi untuk malam ini. sekarang dia sedang dirumah, sedang bersantai sambil menikmati cemilan, bahkan tadi kami sempat bercanda. jika dia marah padamu pasti dia juga akan marah padaku, Li."seloroh Andres kemudian beringsut duduk.
"Benarkah?"Lia ikut beringsut duduk, menatap Andres tak percaya.
"Kenapa kau tak percaya padaku?".
"Bukannya tidak percaya!"
"Apa kau sangat begitu mencintai Andra? sampai-sampai kau takut Andra marah?"
Lia mengangguk."Aku sangat mencintainya, jadi aku tak ingin menyakitinya."
Andres langsung mengembangkan senyuman kagum, sembari menatap Lia yang berada disampingnya.
"Andra beruntung mendapatkan perempuan seperti dirimu,"komentar Andres memuji.
"Ah, benarkah?"pipi Lia pasti sudah merah bak tomat busuk, setelah mendapati pujian itu yang membuatnya salah tingkah.
"Cuma sayangnya kau terlalu galak, hahahah..."ledeknya diiringi gelak tawa, yang membuat senyuman merekah Lia spontan tenggelam dan berubah merengut.
"Aku berjanji akan membunuhmu, Andres!"
Plak...