
Lia menguap lebar sambil menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat pegal. Tidur terlentang kemudian perlahan sepasang matanya terbuka, menatap langit-langit kamar dengan cahaya redup dari rembulan malam yang menyelinap masuk lewat celah-celah loster.
Tiba-tiba bagai sayupan angin ia mendengar suara berat memanggil namanya.
"Lia,"panggil seseorang, membuat kening alis Lia bertaut bingung bercampur dengan rasa merinding yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
Namun, rasa penasaran berhasil menekan rasa takutnya. Sehingga Lia menoleh kesamping, dan mendapati sosok yang sudah lama tak muncul kembali ditengah-tengahnya. Sosok cinta pertama yang sangat ia cintai, kini ia hadir kembali. Membuat debaran itu kembali hadir dengan begitu kencang.
"Andra?"sambut Lia pelan dengan wajah antusias, kemudian ia pun merubah posisi dengan tidur menyamping, dan tiada henti menelusuri wajah Andra yang sangat begitu tampan, tidak pernah berubah sedikitpun. "Kau disini?"tanya Lia tak menyangka dengan kehadiran Andra secara tiba-tiba.
"Apa kau sangat begitu merindukan aku?"tanyanya.
Lia mengangguk kuat."Sangat,"jawab Lia seraya menyentuh rahang milik Andra dengan perasaan senang bercampur haru menjadi satu.
"Aku juga,"sambung Andra seraya tersenyum kecil.
"Kenapa baru datang sekarang?"
"Maaf,"lirihnya seraya tersenyum.
Lia meringkuk dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Andra. Lia tersenyum lebar, ia sangat begitu bahagia akhirnya bisa melihat Andra lagi. Rindu yang membuncah dan sering kali berkecamuk dalam dada, akhirnya kesampaian juga agar ia bisa bertemu Andra.
"Apa kabar?"tanya Lia dengan binar mata cemerlang.
"Seperti apa yang kau lihat sekarang, aku baik-baik saja."jawab Andra lalu membelai pipi Lia dengan sentuhan lembut sambil menatap mata Lia lekat dan lama. "Aku begitu merindukanmu, Li. Dan akhirnya aku memutuskan untuk kesini,"kata Andra seraya menyelipkan helaian rambut Lia pada sela telinga.
"Jika rindu datanglah kesini,"
"Tidak bisa setiap waktu, Li."
"Tapi kenapa?"tanya Lia bernada protes.
"Kau tahu jawabannya."
Mendengar ucapan Andra seketika membuat Lia kembali bersedih. Sudah beda alam nyatanya sulit baginya untuk menyatu dengan Andra, meskipun ia begitu sangat mencintainya tapi semesta tak mengizinkan mereka berdua bersama setiap waktu. Lia berusaha mengukir senyum, meskipun senyuman sendu. Menatap wajah Andra yang tak pernah padam dari wajah rupawannya yang begitu melekat.
"Jika kau merindukanku, lihatlah Andres dia sama sepertiku."candanya sambil tertawa ringan. "Kami serupa dan Andres juga baik hati, dia sangat cocok denganmu. Dan aku juga ikut bahagia karena kau bersama Andres sudah menjalin hubungan."ujar Andra bahagia, kemudian meraih satu tangan Lia dan menggenggamnya dengan begitu kuat.
"Tapi tetap saja Andres bukan kau,"cicit Lia lemah.
Andra tertawa."Kita sama, Li."
Lia menggeleng samar."Kalian berdua berbeda,"
"Andres adalah pria yang sangat baik, dia penyayang, dia pekerja keras, dia mandiri dan dia penuh cinta, aku harap kalian bisa menikah."do'anya.
"Apa kau rela jika aku menikah dengan Andres?"tanya Lia beralasan.
"Jika aku masih hidup mungkin aku tidak rela,"kekehnya yang membuat Lia mengulum senyum. "Tentu aku akan jauh lebih tenang jika kau bersama Andres, Li. Aku merasa kau merasa akan aman jika bersamanya, jika kau bersama pria yang lain mungkin aku tidak akan pernah merasa tenang."ujarnya seraya mengusap-ngusap pipi milik Lia dengan jempolnya secara konstan.
"Aku tidak yakin kalau aku mencintai Andres, magsudku aku tak ingin melukai perasaan Andres hanya karena aku menerima cintanya karena melihat sisi lain dari dirimu Andra,"kata Lia yang merasa ragu akan dirinya sendiri, mendengar hal itu Andra langsung tertawa kecik.
"Aku sangat yakin bahwa kau memang mencintai Andres, bukan hanya semata-mata kau melihat wajahku yang serupa dengannya. Tapi, kau memang mencintai Andres. Apa kau tidak sadar, Li?"
"Magsdmu apa? kenapa kau bisa seyakin itu mengatakan bahwa aku memang benar-benar mencintai Andres, sementara aku yang mempunyai hati aku merasa bahwa aku tidak seyakin itu,"Lia menggigit bibir bawahnya ragu.
"Karena aku bisa menilai, Li. Sebagai seorang lelaki yang pernah dicintai seorang perempuan aku bisa mengerti. Bagaimana seorang perempuan ketika jatuh cinta dan mulai merasa nyaman. Jika kau merasa ragu akan hal itu, itu karena kau tidak pernah bisa menelisik hatimu sendiri. Terkadang kau selalu berkilah dan menepis apa yang kau rasakan jika bersama Andres. Bisa saja hari ini kau bilang kau sangat yakin dengan Andres, dan bisa saja kau bisa berkata bahwa kau ragu. Kau hanya perlu menelisik hatimu lebih dalam lagi, dan kau akan menemukan jawabnya sendiri."papar Andra panjang lebar seraya mengembangkan senyuman di bibir.
Lia terdiam sebentar dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Aku hanya takut melukai Andres, karena terkadang aku selalu membawa-bawa namamu."
"Andres adalah kakak ku, dia sangat baik hati. Dia pasti akan memaklumi karena sebelumnya kau memang bersamaku, Andres pasti paham."kata Andra membuat Lia kembali terdiam lagi.
"Jika aku boleh bertanya apa kau masih mencintaiku?"lanjut Lia setelah terdiam sesaat.
Andra mengangguk."Aku akan selalu mencintaimu setiap waktu,"
Lia tersenyum kecil seraya menatap mata kelam milik Andra setelah mendengar jawaban itu.
"Tapi aku juga tak ingin menyakiti hati Andres."sambungnya membuat Lia mengerenyitkan dahi.
"Magsudnya?"
"Ya, aku tak ingin menyakiti hati Andres. Dan aku memutuskan untuk membuatmu melupakan semuanya tentang aku, Li."Andra berkata serius membuat dada Lia seketika serasa di tusuk benda tajam yang tak kasat mata, membuat denyutan nyeri yang sangat begitu sesak memenuhi ruang dada.
"Magsudmu bagaimana?"tanya Lia mulai terpancing emosi, seakan mengerti sesuatu yang tersirat dari apa yang Andra katakan.
"Maafkan aku, Li. Selain karena aku rindu padamu aku menemui juga karena aku ingin melakukan sesuatu."Andra berkata dengan lirih dan terasa tertekan. Namun, ia harus melaksanakan semua rencana yang sudah ia susun dengan rapih sebelum ia menemui Lia saat ini.
"Apa?"Lia terperangah lalu menjauhkan tubuhnya perlahan dari Andra. Karena ia benar-benar takut dengan apa yang Andra lakukan padanya. Cukup Andra hilang dari dunia ini, tapi ia juga tak ingin kehilangan segala kenangannya bersama Andra. Ia sungguh tak ingin.
"Aku ingin membuatmu melupakan aku, Li. Aku ingin benar-benar kau melupakan aku dari segala kenangan pertemuan kita, persaan cinta kita, ciuman kita, dan semuanya. Aku akan melumpuhkan ingatamu hanya tentang aku saja untuk selama-lamanya. Dan kau, hanya akan ingat Andres saja. Hanya Andres pacarmu, cinta pertamamu, ciuman pertamamu."ujar Andres berkata dengan berat hati tapi ia tidak ada pilihan lain lagi, meskipun terasa menyiksa tapi ia harus kuat.
Mendengar hal itu Lia langsung meneteskan air mata dengan deras, bibirnya bergetar, ia menggelang tak habis pikir dengan apa yang Andra katakan. Andra mengapa begitu tega padanya, setidaknya ia bisa mengingat kenangan itu meskipun orangnya sudah tiada. Tapi, mengapa Andra malah menginginkan semua ingatannya tentang dirinya dihilangkan?
Lia terus menangis dengan menyayat hati seiring tubuhnya sudah berjarak dengan Andra, kecewa sudah pasti. Lia sesegukan dan tak bisa berkata apapun selain. "Kau jahat,"lirihnya dengan isak tangis.
"Ini satu-satunya cara agar kau bisa melupakan aku dan tak menyebut-nyebut namaku lagi, terutama saat kau bersama Andres. Andres begitu mencintaimu dan menyayangimu, dia berhak untuk dicintai. Dan kau juga sangat mencintai Andes, aku tahu itu."kata Andres menggebu-gebu seiring dengan isak tangis yang terdengar menyayat hati.
"Kau jahat, kau jahat!"teriak Lia sarkas sambil beringsut berdiri dan menatap nanar Andra bercampur dengan emosi yang tak terkendali.
"Ini jalan keluarnya, Li!"seru Andra yang ikut bangkit berdiri.
Dengan cepat Lia langsung mengangkat kerah baju Andra. Menangis sejadi-jadinya, memukul dada Andra berkali-kali kemudian menampar keras pipinya.
Plak!
"Jangan, jangan lakukan itu aku mohon!"pinta Lia memohon-mohon seraya kembali mengangkat kerah baju Andra.
"Aku harus melakukannya. Maaf,"lirih Andra yang tak bisa mengabulkan apa yang Lia pinta. Sehingga Lia langsung mendorong tubuh Andra dengan kasar.
"Kalau begitu kenapa kau hadir di kehidupanku, kenapa kau memberikan cinta untukku, kenapa kau membuatku merasa berbunga-bunga. Apa kau tak merasa bersalah telah membuatku begini? tersiksa dengan asmara yang kau berikan? kenapa kau tega Andra? kenapa?!"sarkas Lia menggebu-gebus seraya sesekali menunjuk-nunjuk Andra dengan emosi meluap-luap, dan menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Kemudian Lia kembali menangis sambil berteriak prustasi dalam pertengkaran rumit ini.
"Semua itu takdir, Li."sahut Andra lemah.
"Aku benci kau, aku benci!!!"seru Lia emosi.
"Itu yang aku harapkan,"Andra tersenyum sendu, seiring dengan air mata yang menetes membasahi pelupuk pipi.
"Kau jahat,"lirih Lia sesegukan sembari menatap Andra dalam.
Sedetik itu, Lia merasakan pusing yang tak tertahankan, membuat tubuhnya terhuyung serta mata yang mengabur, dan akhirnya tubuhnya lunglai kehilangan keseimbangan. Sebelum tubuhnya meluruh ke lantai dengan cepat Andra bergerak menangkap tubuh Lia. Setelah itu tubuh Lia dipangku dan kemudian kembali di baringkan di sofa bed.
Andra menangis sejadi-jadinya sambil menatap Lia yang tak sadarkan diri. Mengacak rambutnya prustasi dan sesekali berteriak histeris. Membayangkan setiap kenangan, dalam tawa, canda, rayu, rajuk, dan ciuman. Kini semuanya harus berakhir dan ia harus rela untuk itu.
"Li, aku harap mantra ini berhasil melumpuhkan ingatanmu tentang aku. Maafkan aku, aku mencintaimu."tutur kata cinta tulus meluncur dari bibir Andra, sebelum akhirnya Andra kembali bangkit berdiri, masih menatap Lia yang tak sadarkan diri sembari menangis pilu, lalu Andra menghilang bagai partikel-partikel kecil yang bersembunyi di balik kabut asap tipis, kemudian lenyap secara sempurna.
"Aaaaaaaaaa......."jerit Lia histeris.
Bersamaan dengan hilangnya Andra, sontak Lia langsung menjerit dan terbangun dari mimpi buruknya. Membuat Andres terkejut dan langsung loncat dari alas tidurnya. Menyalakan lampu saklar dan langsung menghampiri Lia dengan panik.
"Ada apa, Li?"Andres duduk disebelah Lia yang langsung disambut pelukan Lia dengan begitu erat sambil menangis terisak-isak.
"Ada apa ini?"itu suara Bayu yang datang dengan panik bersamaan dengan Nabila dari area dapur. Belum sempat menjawab pernyataan cinta dari Bayu, tiba-tiba saja keduanya di kagetkan dengan jeritan Lia yang memecah keheningan. Sehingga mereka berdua memutuskan untuk menghampiri Lia karena cemas terjadi sesuatu.
Lia menjawab dengan sesegukan."Tadi aku mimpi buruk, mimpi yang sangat menyedihkan. Tapi, aku lupa aku mimpi apa tadi, yang aku tahu mimpinya sangat begitu sedih,"cerita Lia setelah melepas pelukan dari tubuh Andres.
"Tenanglah,"Andres berusaha menenangkan seraya menghapus air mata Lia yang masih saja jatuh berlinang.
"Mimpi ayah dan ibu?"tanya Bayu.
"Bukan."geleng Lia.
"Aku rasa ini pasti efek nonton film horror, anggap saja mimpi tadi adalah bunga tidur, Li."timpal Nabila seraya merangkul bahu Lia setelah ia duduk disampingnya.
Lia mengangguk."Aku tidak mau nonton film horror lagi, mimpi tadi benar-benar membuatku merasa ikut lelah, mimpi itu serasa seperti nyata."
"Minum dulu, Li. Biar tenang,"Andres menyodorkan segelas air putih yang baru saja ia ambil dari area dapur, kemudian ia duduk kembali didekat Lia.
Lia menerima air itu dan langsung meneguknya sampai tandas."Hari ini aku sepertinya tidak ingin tidur lagi, aku takut mimpi buruk lagi."cicit Lia seraya menghela napas panjang.
"Ya sudah biar kakak temani, ya?"ucap Bayu yang disetujui anggukan Lia.
"Aku juga temanimu ya, Li."sambung Andres seraya tersenyum.
"Iya, terimakasih ya."
"Aku juga tidak akan tidur,"kata Nabila yang langsung disambut pelukan hangat Lia.
"Maaf merepotkan,"kata Lia seraya menghapus air mata yang tersisa disudut matanya.
"It's okey jangan dipikirkan,"ucap Nabila seraya mengeratkan pelukan itu, untuk menenangkan Lia.
Akhirnya mantra Andra berhasil, ingatan Lia benar-benar di lumpuhkan dan Lia takan pernah bisa mengenali bahkan mengingat Andra lagi. Andra akan menjadi sosok yang asing di kehidupannya. Dan itu adalah jalan yang terbaik agar hubungan Lia dan Andres semakin harmonis. Semuanya adalah takdir, cinta yang berbeda alam takan pernah menyatu, meskipun terasa sulit tapi semuanya harus segera diakhiri.
*Andra
*Andres
*
**
**
*Lia*
*
**
**
*
*Bayu
*Nabila