
Seketika Lia langsung mendorong tubuh Andra agar menjauh darinya. kemudian ia pun langsung duduk ditepi kasur sementara Andra kini berbalik berhadapan dengan Lia. dengan susah payah Lia mencoba untuk menentramkan hatinya yang bergelimpangan karena momen menegangkan itu.
"Kau mau apa, ha?!"tanya Lia sarkas.
"Ciuman denganmu,"jawabnya santai.
"Tapi, aku tidak mau!"seru Lia.
"Aku mau kok,"sahutnya menampilkan seringai jahilnya.
"Kau tidak bisa berciuman dengan seseorang jika salah satunya tidak mau! apa kau paham?!"Lia langsung bangkit dari posisinya sembari berkacak pinggang dan memelototi Andra tajam.
"Ya, aku minta maaf."katanya lalu membalikan kursi yang semula menghadap jendela kaca, lalu ia pun duduk di kursi itu.
giliran Lia yang berulang kali menghela napas, dan ragu untuk bertanya. mengucapkan berkali-kali dalam batin kalau bertanya tentang Jesllyn sama sekali bukan urusannya.
"Jesllyn itu siapa?"sial sekali rasanya, bibir nya sama sekali tak bisa di ajak kompromi.
namun Andra terlihat menghirup napas sembunyi-sembunyi, dengan sedikit membuang muka.
"Apakah dia mantan pacar?"Lia malah jadi geregetan sendiri, rasanya ia ingin memotong lidahnya yang dengan kurang ajarnya melontarkan pertanyaan semacam itu. mantan pacar atau bukan, itu bukan urusannya. lalu kenapa ia harus ikut campur?
"Ya."jawabnya singkat seperti malas membahas mengenai mantan.
"Dia cantik,"puji Lia akhirnya.
"Biasa saja,"ucapnya acuh.
Lia berdecak."Kenapa kalau sudah jadi mantan pasti akan di cap musuh juga? dulu kau pasti sangat mencintainya, dan bahkan mungkin berulang kali kau selalu memujinya cantik, tapi sekarang. kenapa harus berubah?"cibir Lia.
"Untuk apa memuji mantan? aku pikir itu tidak terlalu penting untuk dibahas."Andra mengedikan bahu tak peduli.
"Tapi__"
belum sempat melanjutkan ucapan, Andra malah langsung memotong pembicaraannya.
"Tapi, kau cemburu? begitukan?"sambung Andra cepat, lalu berdiri. tangan bersidekap didada sementara wajahnya mendekat kearah wajah Lia dengan menampilkan seringai jahilnya lagi.
"Kau?!"seru Lia langsung menatap tajam dan berusaha untuk melanjutkan ucapan yang belum terlontar, namun sial ia memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya. lalu ia pun menghela napas kesal.
"Mengapa aku harus memuji mantan? jika didepanku saja ada seorang gadis yang jauh lebih cantik darinya."Andra menatap wajah Lia lamat-lamat yang membuat napas Lia terasa memburu, bahkan pipinya pasti sudah kembali menjadi merah bak tomat busuk. apakah ini tidak termasuk rasa geer?
"Jangan menggombal ataupun merayu, aku tak membutuhkannya !"judes Lia berusaha menyembunyikan rasa geer itu.
"Apa katamu? geer? oh, tidak. bahkan kau tak bisa menempatkan kalimat yang baik. tadi kau bilang, untuk apa memuji mantan jika di depanmu saja ada gadis yang lebih cantik darinya. lalu yang didepan itu siapa, jika bukan aku? dasar bodoh,"cerocos Lia mengoceh puas tiada henti.
Tiba-tiba Lia merasakan tubuhnya terjatuh keatas kasur, matanya terbelalak mendapati sosok Andra yang menaungi diatas tubuh Lia. sementara satu lengannya bertumpu disisi kepala Lia menahan tubuhnya agar tidak menindih Lia. tangannya yang lain bertengger lembut di lekuk pinggang milik Lia.
mata milik Andra berkilat berbahaya, membuat sekujur tubuh Lia menegang bahkan perutnya serasa menclos dan jantungnya bertalu-talu begitu cepat.
entah mengapa bibirnya tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun, ia masih terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
"Aku suka saat kau mengoceh,"desisnya namun Lia hanya menelan ludah.
Sekujur tubuh Lia meremang, Lia berusaha untuk bergerak untuk segera enyah dari situasi seperti ini. namun, apa daya tangan Andra bergerak cepat menahan pergerakan Lia.
perlahan tangan Andra bergerak merangkum selembut mungkin pipi milik Lia.
sepasang mata resah bertatapan dengan sepasang mata Andra yang kelam.
wajahnya menunduk mendekat, semakin dekat bahkan hembusan napas hangat Andra terasa di wajah Lia. debaran itu semakin menggila dan tak dapat dihentikan, teramat sangat bodoh karena pandangan Lia sama sekali tak bisa teralih dan sudah terkunci.
Lia menelan ludah pelan, dan meremas sprai sekuat mungkin.
kemudian Lia merasakannya, sesuatu yang kenyal, lembut, dan basah menempel dibibirnya.
dan tanpa disadari mata miliknya terpejam, bibirnya terbuka, napasnya tersenggal. ciuman pertama dengan hantu, ciuman yang baru ia rasakan.
sensasinya aneh, Lia merasakan tangannya secara refleks menyentuh rahang milik Andra dengan lembut. entah sejak kapan perasaan itu hadir dan mengapa ia baru menyadarinya setelah ciuman ini terjadi, bahwa sebenarnya Lia menyukai Andra. perasaan sayang yang telah membuncah, bahkan ia merasakan tulusnya Andra padanya. meskipun kata cinta itu belum terucap. tapi, Andra bisa menunjukannya dengan caranya sendiri. jika tidak jatuh cinta dan tidak menyukai untuk apa Andra mencium bibir Lia? deru napas mereka berdua menyatu, Andra mengerang lirih. lalu sedetik kemudian Lia merasakan pagutan lembut itu berubah dalam tempo cepat. dari bibir bawah, menelusuri bibir atas.
setiap pagutannya mengambil napas Lia, sampai ia terengah. dan ciuman itu semakin dalam.
awal mula Lia tak berani membalas, bahkan ia tak tahu caranya ciuman. namun seiring dengan apa yang Andra lakukan dengan cepat pula Lia langsung mencoba, mencoba untuk membalas ciuman itu. meskipun mungkin rasanya kaku.
membalas setiap pagutan, dan mengulum bibir milik Andra. lidah yang saling berpadu menari dengan erotis didalam.
rasanya ia benar-benar melayang, gairah yang memabukan. dan untuk sesaat Lia memandangi wajah Andra dengan mata terpejam dan masih dengan aktivitasnya. betapa Andra sangat begitu tampan, rupawan bagai rembulan malam.
Lia merasa bahwa ia jatuh cinta, jatuh cinta pada hantu? apakah ia sudah tak waras?
gadis mana yang tak akan menyukainya jika Andra setampan itu, pintar, bahkan dia baik. Lia merasakannya, meskipun ia baru mengenalnya. tidak bisa menepis, tidak bisa membantah. cinta itu aneh, bahkan untuk cinta pertama dan ciuman pertama mengapa harus dengan Andra. Andra itu hantu, arwah penasaran yang ingin diselesaikan kasusnya. jika telah usai bisa saja ia akan pergi untuk selama-lamanya dan bahkan takan kembali lagi. apakah takan sia-sia jika Lia harus memilih sesuatu yang tak masuk akal? semua orang tak ingin merasakan kehilangan, kehilangan adalah duka. oh shitt.
Bodoh. mengapa harus menyukai hantu? sedangkan masih banyak manusia tampan yang masih hidup di muka bumi ini. tapi, jika perasaan itu telah tumbuh apakah Lia harus mematahkan hatinya sendiri ? dan membuatnya layu dengan cepat pula? apakah itu akan di klaim menjadi sikap egois, ketika Lia memendam perasaan itu sendirian?
kenapa Lia harus bertemu Andra? kenapa hanya dia yang bisa melihat Andra? dan anehnya kenapa ia tak bisa melihat hantu-hantu yang lain kecuali Andra? apakah Lia itu adalah sosok manusia pilihan yang menjadi petunjuk untuk membantu Andra?