
Setelah acara makan malam selesai, Nabila membereskan piring-piring kotor yang ada di meja. Sementara Lia membereskan masakan yang tersisa lalu memasukkanya kedalam kulkas.
"Kak, biar aku yang cuci piring, ya?"kata Lia setelah menutup pintu kulkas.
"Biar aku saja, Li. Tenang saja, aku bisa mencuci piring, kok. Lagi pula, aku sudah terbiasa, jika aku sedang santai aku selalu ikut membantu ART ku beres-beres. Jadi, ini bukan masalah besar."tolak Nabila halus sembari memulai mencuci piring di wastafell.
"Wah, aku tak menyangka kak Nabila ternyata tidak gengsi melakukannya."Lia berdecak kagum sembari duduk di kursi pantry.
"Kau berlebihan, memangnya kenapa kalau aku ikut beres-beres?"kekeh Nabila sambil geleng-geleng.
"Tidak sih, tapi biasannya perempuan karier itu kalau ada waktu luang pasti malas ke dapur. Pasti mereka lebih memilih untuk melakukan aktivitas yang lain sebagai ganti saat mereka libur. Ya, seperti main ponsel, atau gadged yang lain."ujar Lia sembari menopang dagu dengan satu tangannya.
"Mungkin ada beberapa yang seperti itu, tapi kalau aku lebih senang bersih-bersih dan beres-beres kalau lagi santai."ucap Nabila sambil membereskan piring yang sudah di cucu bersih itu pada rak dengan tertata rapih.
Lia berdecak kagum lagi karena Nabila benar-benar berpikiran dewasa dan entah mengapa Lia merasa nyaman mengenal sosok Nabila, di bandingkan dengan mantan-mantan sang kakak yang dulu.
"Jika kak Nabila menikah, kakak pasti akan menjadi sosok istri yang bertanggung jawab."puji Lia lalu berdiri menghampiri Nabila yang telah selesai mencuci piring.
Nabila langsung membalikan badan lalu menatap Lia sambil tersenyum kecik. "Aku belum siap menikah, Li."ucapnya yang membuat Lia terperangah.
"Tapi, kenapa?"tanya Lia penasaran.
Nabila berjalan lalu duduk di kursi pentry dengan tubuh menghadap kearah Lia yang masih berdiri di depannya. "Ya, karena aku belum menemukan pasangan yang cocok. Dan, aku sendiri merasa bahwa aku belum bisa apa-apa, aku belum siap. Aku takut suatu saat aku mengecewakan suamiku. Klise memang, tapi itulah yang aku pikirkan setiap kali kedua orang tuaku menyuruhku menikah,"jawabnya dengan jujur, yang membuat Lia mengangguk paham setelah mendengar jawaban Nabila barusan.
"Kak Nabila benar, jika belum siap menikah jangan di paksakan untuk menikah. Menikahlah jika memang siap."kata Lia yang mengerti bagaimana pemikiran Nabila yang ternyata sepemikiran dengannya.
"Yup, aku juga tidak ingin memaksakan diri. Tapi, aku juga tidak akan menampik jika suatu saat ada pria yang cocok denganku lalu bisa merubah keraguanku, kemudian mengajak aku menikah dan mungkin aku bisa saja berubah siap, kalau si pria itu telah berhasil membuatku merasa sangat yakin."ujar Nabila panjang lebar, lalu tertawa kecil.
"Ya, kak Nabila berarti harus menemukan pria yang cocok itu."sambung Lia.
"Aku tidak akan mencari si pria itu, Li. Aku percaya si pria itu pasti akan datang dengan sendirinya."ucap Nabila tenang.
"Aku yakin secepatnya kak Nabila akan bertemu dengannya,"Lia melebarkan senyuman sementara Nabila tertawa.
"Semoga,"sahutnya. "Eh, omong-omong dirimu rupanya jago masak, tadi rasa makanannya benar-benar sangat lezat. Aku tidak bisa move on."puji Nabila sambil mengacungkan dua jempolnya, dan Lia langsung tersipu dengan pujian itu.
"Terimakasih, kak. Aku masih belajar,"ucap Lia malu-malu.
"Itu namanya bukan belajar, tapi sudah pro,"komentar Nabila seraya tertawa renyah, sementara Lia tertawa ringan.
Saat Lia mengedarkan pandangan ia melihat sosok Bayu yang tengah berjalan menuju area dapur. Maka seolah mengerti situasi, Lia berniat untuk pergi dari sana dan membiarkan Bayu dan Nabila memiliki kesempatan untuk mengobrol berdua. Mendadak hati Lia tergerak ingin menjodohkan sang kakak dengan Nabila, mengingat bagaimana sosok Nabila yang telah masuk daftar pencarian kakak ipar yang ia impikan selama ini. Cantik, berkeperibadian baik, serta dewasa.
"Kak Nabila, aku pergi ke kamar sebentar ya, nanti aku kembali lagi kesini."pamit Lia membuat Nabila sedikit berpikir.
"Ah, kalau begitu aku mau tunggu di ruang tamu saja."sahut Nabila, sebelum akhirnya sosok Bayu berada ditengah-tengah mereka.
"Nah, ada kak Bayu tuh. Kak tolong temani kak Nabila ya, aku mau ke kamar dulu sebentar."ujar Lia mencari alasan, sementara Bayu hanya tercenung.
Lia pun langsung bergegas pergi dari dapur, sementara Nabila terlihat begitu canggung begitupula dengan Bayu yang terlihat sangat kikuk.
"Nabila,"panggil Bayu lembut.
"Aku minta maaf,"ucap Bayu lirih, membuat satu alis Nabila terangkat.
"Maaf? untuk?"tanya Nabila tak mengerti.
"Maaf karena aku tadi tidak sengaja menyentuhnya,"sesalnya lalu menghela napas panjang.
"Aku harap kau bisa melupakannya, anggap saja kau tak pernah menyentuhnya."ujar Nabila seraya menggigit bibir bawahnya dalam.
"Tapi, masalahnya--"cicitnya sambil menunduk, membuat Nabila menatap wajah Bayu lekat. Seolah tersirat pertanyaan dalam benak Nabila kini.
"Apa magsudmu?"tanya Nabila curiga, dengan sepasang mata yang ikut menyipit.
Sebelum mengucapkan sesuatu, Bayu terlebih dahulu mengerang kesal. Betapa bodohnya ia malah berkata terus terang seperti itu pada Nabila. "T-tidak, magsudku ya, aku setuju bahwa aku akan melupakannya."ucapnya dalam tekanannya sendiri, sementara dalam batin ia merutuki diri. "Ah, bagaimana bisa aku melupakannya? sementara dengan begitu kuat aku mencengkram bongkahan daging itu dalam kepalan yang pas di tanganku. Bodoh, bodoh, bodoh!"
"Jangan bilang kau tak bisa melupakannya?!"terka Nabila tegas seolah paham dengan isi kepala Bayu saat ini, membuat Bayu lagi-lagi mengacak rambutnya resah.
"Ah, tidak. Tentu saja aku akan melupakannya."kilah Bayu berbohong yang pada nyata-nya ia benar-,benar sangat terpengaruh oleh apa yang ia sentuh tadi yang telah terjadi di area buah dada ranum milik Nabila.
"Jangan bohong padaku!"seru Nabila serupa biisikan karena takut Lia dan Andres akan mendengar perbincangan ini.
Bayu menggeleng ragu. "E.. Aku tidak bohong, aku benar-benar sudah melupakannya. Tenang saja,"ucapnya terbata-bata seraya menelan ludah untuk mengusir rasa gundah.
"Kau tahu, kau adalah orang pertama yang menyentuh apa yang aku miliki!"kata Nabila yang membuat sepasang mata Bayu langsung terbelalak.
"Apa?"Bayu terperangah seperti belum meyakini apa yang Nabila katakan barusan padanya. Jadi, sentuhan itu kali pertama untuk Nabila? apakah Nabila juga ikut terpengaruh? sama dengan apa yang Bayu lakukan padanya?
"Kenapa kau terkejut? memangnya aku se-liar apa jika berpacaran, hah?"tiba-tiba saja Nabila berkata dengan kalimat penekanan dan sinis, seraya ia bangkit dari posisi duduknya. Menatap mata Bayu tajam serta kedua tangan yang bersidekap di dada.
"Nabila, tenang dulu. Aku sama sekali tidak bermagsud apapun,"ucap Bayu berusaha menenangkan Nabila dengan kedua tangannya menyentuh kedua bahu milik Nabila dan menatapnya serius.
Nabila menepis cepat tangan Bayu yang bertengger di pundaknya, membuat Bayu tersentak kaget di buatnya ."Tapi aku tidak suka dengan cara raut wajahmu berekspresi!"sungut Nabila mendadak memaki, membuat Bayu merasa tak enak hati pada Nabila, karena tampaknya ia salah paham padanya.
"Apa yang salah dari ekspresiku?"tanya Bayu beralasan.
"Ekspresimu menunjukan bahwa kau tengah meledek ku 'kan?"tuduh Nabila tajam.
"Meledek?"ulang Bayu tak mengerti dan tak merasa.
"Ya, kau terkejut karena aku tak pernah disentuh siapapun, dan aku bilang bahwa kau orang pertama yang melakukannya. Apa kau merasa jumawa?"tuduh Nabila lagi dengan sinis.
"Aku tidak memiliki pikiran seperti itu,"sambung Bayu cepat, berusaha untuk menjelaskan kesalah pahaman yang Nabila tuduhkan padanya.
"Jangan mencari alasan! aku tahu apa yang kau pikirkan, dan sekali lagi tolong lupakan kejadian tadi!"serunya yang langsung pergi begitu saja dengan menyenggol tubuh Bayu pelan.
"Nabila, tunggu! Kau salah paham!"ucap Bayu sedikit teriak, tapi tak di gubris Nabila dan perlahan punggung Nabila pun sudah menghilang dari pandangannya. Membuat Bayu menghela napas panjang dan berteriak kesal. "Ah, Sial!"umpatnya pendek.