Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Misi ke dua"


"Kau tahu, yang berbicara denganmu sekarang ini adalah aku, Andra!"


Deg!


Mendengar kalimat itu, Jesllyn langsung terpaku dan seketika ia menurunkan pistol itu secara perlahan.


"K-kau?"


Dengan tertatih-tatih dan berusaha mengumpulkan tenaga, seketika Semmy langsung menendang bagian paha Andres sehingga tangan Andres yang melingkar di leher Semmy terlepas. Karena gerakannya yang terlalu cepat dan kuat, tubuh Andres langsung tersentak ke dingding tembok, maka tanpa mengulur waktu untuk mengambil kesempatan Semmy langsung menerjang dada Andres dengan satu kaki panjangnya, sehingga darah segarpun tersembur dari mulut Andres dengan sekali hentakan. Disertai dengan roh Andra yang seperti tak sanggup bertahan di tubuh Andres sehingga rohnya pun keluar, kemudian menghilang dengan kabut tipis yang tak kasat mata.


Andres terbatuk-batuk dengan satu tangannya menyentuh dada, untuk menahan denyut nyeri yang tertahankan sehingga dadanya terasa sesak.


Sementara Semmy yang telah mendapatkan energinya kembali akibat dari amarah yang menggebu, seketika langsung mendaratkan pukulan tepat di pangkal hidung Andres hingga mimisan. Tak sampai disitu, dengan iblis yang sudah menguasainya Semmy langsung menonjok berkali-kali di perut Andres tanpa ampun.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Andres tertunduk, wajahnya berubah pucat ketika tangannya yang lunglai memegang pisau ternyata di ambil alih oleh Semmy, kepala Andres terangkat, dan memandang Semmy yang tersenyum miring kearahnya.


"Kau akan mati,"bisik Semmy kemudian terkikik dengan mata melotot.


Andres menggeleng-gelengkan kepala, berharap suatu keajaiban datang untuk menyelamatkannya dalam situasi menegangkan seperti ini. Andres hanya bisa menatap tajam Semmy, seolah menangtang maka Semmy terlihat murka. Dengan gerak cepat Semmy langsung menyabet pipi Andres menggunakan pisau, sehingga pipinya sobek lalu bercucuran darah.


Srak!!


"Ah....."Andres berteriak kesakitan dengan tangan bergemetar menyentuh pipinya sehingga berlumuran darah, sementara Semmy tertawa keras dan puas.


Andres merasakan sakit yang tak tertahankan, darah segar menetes ke lantai. Andres terus memegang lukanya, sambil menekannya, dan berusaha meringankan pendarahan sambil menahan rasa sakit. Lalu, Semmy mencekik leher Andres dengan teramat kuat dan Andres berusaha melepaskan cekikan itu meskipun ia semakin kehilangan napas.


Sementara Jesllyn yang menyaksikan hal itu membuat hatinya serasa bimbang, perasaan bimbang yang belum pernah ia rasakan saat akan memulai eksekusi. Apa karena ia terpengaruh dengan perkataan yang terlontar dari raga Andres karena ia mengatakan bahwa yang barusan berbicara dengannya adalah roh Andra yang berada di tubuh saudara kembarnya?


Maka Jesllyn memutuskan untuk menyembunyikan pistol yang berisi peluru itu dibalik punggungnya yang diselipkan dibagian dalam pakaiannya. Hanya untuk berjaga-jaga jikalau terjadi sesuatu secara mendadak ia bisa mengambil pistol itu dengan mudah. Jesllyn mencoba mengendalikan diri dengan cara menghela napas panjang.


Ketika semuanya lengah, Lia memanfaatkan situasi. Dengan keringat dingin yang bercucuran serta air liur yang hampir kering, Lia tetap berusaha menggerakan tangannya berulang kali agar tali itu terlepas. Dan pada akhirnya kini ia mujur, tali itu terlepas maka tanpa berpikir panjang ia langsung membuka ikatan tali di satu tangannya lagi, lalu turun membuka tali di kedua kakinya. Secara hati-hati ia beringsut dari blankar kemudian mengendap-endap, bergerak kebelakang tubuh Jesllyn lalu menyekal kedua tangan Jesllyn dan mengambil pistol dibelakang punggungnya. Ketika Jesllyn menyadarinya ia sampai tersentak kaget, dan ia kalah cepat dari Lia sehingga ia tak bisa berkutik.


"Lepaskan Andres! atau Jesllyn akan aku bunuh! Pacarmu akan aku bunuh Semmy! apa kau dengar?!"seru Lia lantang dengan menodongkan pistol di kepala Jesllyn dengan satu tangannya.


Semmy langsung menoleh dan melepaskan cekikan tangannya di leher Andres, sampai Andres terbatuk-batuk dan akhirnya ia bisa bernapas lega meskipun tenaganya serasa terkuras habis sampai kakinya tak mampu menahan kekokohannya, ia terduduk dengan lemas di ubin yang dingin.


"Sem, tolong aku Sem. aku takut mati."rengek Jesllyn hampir menangis dan dengan bodohnya membuka kelemahannya, yang nyatanya tak seberani yang Lia pikirkan.


Napas Lia terengah, keringat deras bercucuran bak air hujan dan jantungnya berpacu lebih cepat seolah mengerti situasi dalam keadaan genting. Hal itu adalah pertama kalinya ia bisa melakukan hal semenakjubkan ini bak pahlawan yang ingin menolong manusia tak berdaya.


Meskipun, sebenarnya ia juga tak seberani itu untuk menembak kepala Jesllyn. ia melakukan itu hanyalah sebagai gertakan semata agar Semmy mau melepaskan Andres.


"Hai, Li? kau pikir kau sedang menghadapi bocah ingusan? dasar gadis bodoh!"sungut Semmy tajam kemudian tertawa semaunya.


Disela itu Semmy langsung berbalik badan berniat untuk menyerang Andres lagi, namun tampaknya Semmy terlalu lalai dan mendapati sosok Andres sudah tak ada di belakangnya lagi. Semmy tersentak saat membalikan badannya lagi dan mendapati sosok Andres berada di depannya dengan seringai menunjukan kemenangan, tangannya yang memegang tongkat besi langsung menghantam kepala Semmy detik itu juga.


Bugh!


Sementara Jesllyn terlihat benar-benar ketakutan, ia takut ia akan mati apalagi setelah melihat Semmy seperti sudah tak berdaya. tak bisa di pungkiri degup dadanya sudah tak terkendali, dan Lia sendiri terlihat bergetar ketika tangannya itu memegang pistol.


Andres seketika langsung mengangkat kerah baju Semmy dengan sangat kuat sampai-sampai kakinya tak berpijak dan melayang di udara, detik itu juga Andres langsung membanting tubuh Semmy dengan sangat keras, sampai tubuh Semmy terpental kasar mengenai mejab kayu yang langsung porak poranda.


Brakk!


Tidak tinggal diam, Jesllyn mencoba berpikir keras, sampai ia menemukan ide cemerlang dengan satu hentakan ia menginjak kaki Lia dengan kasar sampai Lia menjerit kesakitan.


"Aww!!"


Secara otomatis belenggu itu terlepas dan Jesllyn bebas, Jesllyn tertawa tebahak-bahak lalu dengan sekuat tenaga mendaratkan pukulan di kedua pipi milik Lia secara bertubi-tubi.


Bugh!


Bugh!


Kedua pipi milik Lia langsung memar, dan lebam. Dengan cepat pula Jesllyn menendang dada Lia menggunakan kaki jenjangnya dengan satu hentakan yang kasar. Lia terdorong sampai kepalanya terbentur ke tembok lalu tersungkur.


"Ahh, Aw.."Lia mengaduh kesakitan dengan luar biasa bahkan ia hampir menangis, namun berusaha keras ia menahannya.


Belum puas, Jesllyn langsung menghampiri Lia dengan gerak cepat. Jesllyn menarik rambut panjang Lia yang sudah basah oleh keringat, sampai Lia terduduk di lantai yang sebelumnya tersungkur. Jesllyn hendak memukul rahang milik Lia, namun niat itu tak terlaksana karena Andres bergerak bak kilat mencoba menghentikannya dengan cara menarik tubuh Jesllyn dengan kuat.


"LEPAS!"Jesllyn berseru keras, mencoba berontak namun pertahanan Andres jauh lebih kuat.


"Kau benar-benar jahat, Jes!"ucap Andres murka dengan rahang yang mengeras serta menatap tajam Jesllyn.


Suara itu tepat mengenai telinga Jesllyn, dadanya tak karuan. ia seperti mendengar suara Andra lagi setelah sekian lama. Netranya tak lepas dari wajah Andres saat ini yang masih menarik tubuhnya dari belakang. Jesllyn sama sekali tak berkedip, melihat wajah Andres yang begitu sangat mirip dan sulit di bedakan membuat bayang-bayang Andra menghantuinya.


Bayang-bayang wajah Andra ketika dulu saat masih bersamanya, wajah manis saat tersenyum, mata yang berbinar cemerlang, serta bibir yang menggemaskan ketika merajuk.


Pikiran Jesllyn seperti melayang kearah nostalgia yang membuatnya sedikit merindu. Semenjak kejadian putus waktu itu, Jesllyn sama sekali tak pernah melihat ataupun bertemu dengan Andra lagi, karena ia sudah tak pernah menginjakan kaki lagi untuk datang ke sekolah Bumi Pertiwi dengan dalih pindah sekolah.


Saat kejadian Andra meninggal karena di bunuh Semmy, Jesllyn tak pernah melihat bagaimana wajah Andra dengan kepala yang retak akibat jatuh dari atas gedung sekolah karena di dorong Semmy. bahkan ia tak tahu kapan Andra di eksekusi karena saat itu Semmy sama sekali tak memberitahunya.


Saat itu memang Jesllyn merasakan kecemasan yang berlebihan setelah mengetahui berita yang beredar mengenai kematian Andra. Jesllyn sempat menunjukan aksi protesnya pada Semmy karena membunuh Andra tanpa sempengetahuannya, sehingga mereka berdua berdebat dan Jesllyn mendapatkan hukuman. Seharusnya Jesllyn senang karena dendamnya terbalaskan, namun nyatanya perasaan ketidak relaan atas kematian Andra masih saja memenuhi ruang dadanya yang serasa terhimpit dan sesak.


Setelah perdebatan itu terjadi dengan sadisnya Semmy menuangkan kopi panas pada kulit lengannya, sehingga melepuh. Sejak saat itu Jesllyn tak berani protes lagi tentang segala tindakan Semmy, bahkan Semmy pernah mengancam akan membunuhnya jika ia tak menuruti kemauannya. Tentu saja hal itu membuat Jesllyn ketakutan setengah mati.


"A-Andra apa ini kau?"lirih Jesllyn menatap wajah Andres lamat-lamat dengan tatapan mata meremang oleh buliran air mata.





*Hua... sulit juga menulis adegan seperti di atas, otakku sampai berpikir keras. Untuk menghargai Author jangan lupa like ya. Thank You.