Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Tragedi mengerikan."


"Aaa...."jerit Lia bercampur amarah dan tangisan yang menyayat hati, setelah melihat pemandangan yang di dapatinya.



Sifa, ternyata dibunuh oleh Semmy. dengan menggantung leher Sifa menggunakan rantai yang ditarik keatas. bahkan, kini seluruh tubuhnya sudah mengeluarkan bau busuk yang tak sedap. apa yang terjadi sebenarnya? Lia menggeleng tak percaya, sambil menangis sejadi-jadinya setelah melihat sahabat dekatnya kini sudah tiada, dengan berakhir sangat begitu mengenaskan. bahkan, ia sudah berpikir buruk pada Sifa selama ini. lalu rasa sesal itu, tak berguna sama sekali.


mendapati Lia yang semakin menjerit dengan keras, kedua psikopat itu langsung tertawa penuh kemenangan dan bersorak heboh bagai manusia tak bernurani. memang benar 'kan hati nurani mereka sudah tertutup dengan hawa *****? bak iblis yang haus akan kekuasaan untuk di takuti.


"Li, Tenangkan dirimu, Li." ucap Andres yang berada disampingnya dengan nada panik, seketika langsung menarik tubuh Lia kepelukannya.


"A-aku tak percaya, Sifa..Sifa..."Lia semakin menjerit histeris bercampur dengan isak tangis yang semakin deras.


"Lia..Lia, tenanglah."panggil Andres berkali-kali, dengan semakin menguatkan pelukannya.


Akhirnya, Lia berhenti menjerit namun tubuhnya serasa melemah dan isakan masih menguasainya. bukan hal yang berlebihan, jika melihat bagaimana Lia saat ini, ketika berekspresi dengan begitu histeris, Andres pun merasakan bahwa ia hampir saja terkena serangan jantung melihat ruangan ini yang begitu mengerikan, dan tentu saja melihat Sifa yang sudah di eksekusi mati teragis seperti itu.


Falashback on:


Malam itu, Sifa terlihat berada di depan rumah Semmy. Sifa, sangat begitu gugup dan menghawatirkan dirinya. sedari tadi, ia hanya bisa memilin jemari-jemarinya yang sudah dipenuhi keringat dingin. menggigit kuku, dan sedikit mondar-mandir. mendapati sosok Semmy membukakan pintu, membuat Sifa langsung terkesiap dan jantungnya seperti akan meoncat, namun untung, ia bisa mengendalikan diri dan menyembunyikan rasa ke khawatirannya dibalik senyuman.


"Hai, Kak Semmy? mengapa kau menyuruhku kesini?"tanya Sifa lembut.


"Ah, maaf jika aku mengganggumu."


"Oh, tidak masalah. lagi pula aku santai kok,"Sifa menggembangkan senyuman.


"Oke, thanks sudah mau menemui aku kalau begitu, rasanya tak sopan jika seorang tamu berada diluar. kita masuk saja, yuk!"Semmy mengangkat satu alisnya seraya tersenyum tipis, membuat Sifa sedikit gerogi.


"Aku disini saja, magsudku aku duduk diluar saja. lagi pula, aku merasa sungkan dengan Pak Jerremy."tolak Sifa lembut.


"Ah, begitu rupanya ya."Semmy mengangguk paham.


"Mau bicara apa, Kak?"Sifa langsung masuk ke inti pembicaraan, sementara Semmy terdiam sesaat kemudian mulai berbicara.


"Aku menyukai Lia, apa kau tahu alamat rumahnya dan nomor ponselnya?"tanya Semmy yang membuat senyuman Sifa langsung tenggelam, mengekspresikan bahwa rasa patah hati itu muncul.


Semmy berdehem, yang membuat Sifa membuyarkan lamunannya dan kemudian langsung tersenyum kikuk.


"Ah, tentu saja ada."Sifa mengangguk. "Mengapa tidak meminta langsung saja lewat whatsapp ku tadi? mengapa aku harus kesini dulu?"tanya Sifa sembari tersenyum tipis. berusaha menguatkan perasaannya yang merapuh.


"Ya, karena aku juga ingin membicarakan sesuatu padamu, karena yang aku tahu kau sahabatnya Lia."jawabnya."Jika kau punya, apakah kau akan memberikannya padaku?"antusias Semmy spontan menggenggam tangan Sifa, yang membuat Sifa melongo dan canggung.


"Tentu,"sahut Sifa berusaha menunjukan senyuman terbaiknya, meskipun rasanya sulit untuk diterima. karena, ia menyukai Semmy. namun, rupanya Semmy menyukai Lia bukan dirinya.


"Silahkan kau ketik di ponselku, aku ingin masuk ke dalam dulu sebentar, untuk mengambil sesuatu. dan kau duduk disana? apa kau yakin tidak mau masuk kedalam saja?"ucap Semmy seraya menyerahkan ponsel miliknya pada Sifa.


"Ah, aku duduk disini saja."kata Sifa sembari menerima ponsel milik Semmy.


Semmy tersenyum dan kemudian masuk ke dalam, sementara Sifa langsung terduduk di kursi luar.


Sifa, mulai menyalin nomor ponsel milik Lia dan mengetikannya di ponsel milik Semmy. baru saja selesai, tiba-tiba notipikasi pop up whatsapp langsung muncul di layar ponsel milik Semmy dan tentu saja chat itu langsung terbaca.


085xxxxxxxxx


membaca chat itu dalam batin, seketika Sifa langsung terkesiap, bahkan jantungnya berdebar sangat begitu cepat, jauh dari keadaan normal.


satu detik kemudian, muncul kembali notipikasi chat itu.


085xxxxxxxxx


Lia? giliran dia 'kan?


Menyebut nama Lia, Sifa semakin ketakutan bercampur dengan rasa cemas yang membara. Lia, sahabatnya dalam bahaya. apa yang harus ia lakukan?


Sifa melirik pada pintu yang masih terbuka, sementara Semmy masih berada di dalam rumah. dan, rasa penasaran pun muncul seketika, seiring dengan fakta yang ia ketahui. ia harus mendapatkan bukti, sebelum ia memvonis bahwa Semmy adalah dalang dari segala terror disekolahnya.


Sifa, langsung membuka aplikasi galeri. betapa terkejutnya ketika ia mendapati korban pembunuhan yang dipotret oleh Semmy. dalam galeri terdapat photo Ratna, Cyra, Larasati dan bahkan Andra dengan bersimbah darah yang teramat mengerikan dan sadis. napas Sifa mendadak tersenggal, bahkan jemarinya bergemetar hebat. dengan susah payah Sifa menelan pelan air liurnya untuk menenangkan jiwanya yang ikut terguncang.


"Sifa?"panggil Semmy seketika.


Mendengar Semmy memanggil, Sifa langsung terkesiap, dan tanpa sengaja ia menjatuhkan ponsel milik Semmy, dengan cepat ia langsung mengambil ponsel itu yang terjatuh ke ubin, kemudian bangkit dari tempat duduk.


"Ya ampun, Kak Semmy maaf aku tak sengaja menjatuhkan ponselnya."panik Sifa sembari menyeka cepat peluh keringat dinginnya, di kening.


"Kenapa kau terlihat begitu panik? apakah, sebegitu menakutkannya aku sehingga aku mengejutkanmu?"Semmy tertawa kecik, sembari menerima ponselnya yang diserahkan oleh Sifa, kemudian memasukannya kedalam saku celana jeansnya. sebelum menyerahkan ponsel itu, Sifa langsung meng-back aplikasi galeri agar Semmy tak curiga padanya.


"Maaf, aku memang gampang terkejut."kata Sifa berbohong, berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini.


"Oh, kalau begitu aku minta maaf."ucapnya berlaga manis, membuat Sifa merinding.


"Ah, seharusnya aku yang meminta maaf telah menjatuhkan ponselmu. tapi, aku rasa ponselmu masih stabil, tak ada yang rusak."Sifa berusaha basa-basi.


"Oh, iya tidak masalah. jika, rusak pun aku bisa membelinya lagi. tenang saja."Semmy tersenyum misterius kearah Sifa, lagi-lagi membuat Sifa berigidig ngeri.


"Rasanya aku harus segera pulang, kak."Sifa mengalihkan pandangan menuju langit malam. karena semakin melihat Semmy ia merasa bahwa bulu kuduknya semakin berdiri, dan hawanya terasa sangat sesak.


"Wah, kenapa buru-buru sekali? padahal, aku masih ingin berbincang-bincang denganmu, mengenai Lia."ucapnya dengan mata menyipit, sementara perasaan ketertarikan yang Sifa rasakan pada Semmy mendadak lenyap, setelah mengetahu fakta mengejutkan bahwa seorang Semmy adalah pembunuh.


"A-aku mendadak tak enak badan. aku pulang saja ya,"pamitnya berusaha menghindar.


"Wah, ini pasti gara-gara angin malam."Semmy meringis lalu tersenyum aneh.


"Ah, mungkin. kalau begitu aku pamit ya. selamat malam, kak."tukas Sifa yang diizinkan Semmy dengan anggukan kepala, setelah itu Sifa langsung bergegas pergi dengan terburu-buru. atau lebih tepat nya pergi dengan ketakutan. bahkan, tanpa menoleh ke arah Semmy sedikitpun.


Semmy, merogoh ponsel di saku celana jeansnya dan menekan tombol kotak di touch screen, untuk mendapati history aplikasi yang baru saja di gunakan. Semmy langsung tersenyum miring, setelah melihat history galeri yang baru saja dijelajahi oleh Sifa.


"Kau gadis yang tak tahu aturan. baiklah, sepertinya sebelum aku membunuh Lia, mungkin aku harus membunuhmu terlebih dahulu, Sifa!"Semmy langsung tertawa mengerikan sambil melihat punggung Sifa yang perlahan mulai menghilang.