Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Ciuman di dapur?"


"Serius aku sama sekali tidak tahu kalian pacaran. Kalau tidak di beri tahu Lia mungkin aku seperti orang dungu, yang sama sekali tidak mengetahui kalian pacaran. Tapi, sejak kapan perasaan cinta mulai tumbuh antara teman?"tanya Bayu penasaran sembari menatap Lia dan Andres secara bergantian.


"Ah, maaf aku benar-benar lupa kapan aku mulai jatuh cinta pada Lia. Sungguh perasaan ini tumbuh begitu saja,"jawab Andres sambil garuk-garuk kepala seraya nyengir malu, sementara Bayu mengerang.


"Aku ini kakak nya Lia, seharusnya kau minta restu padaku terlebih dahulu."Bayu berdecak, sementara Lia hanya terkekeh mendengarkan kalimat protes sang kakak.


"Tapi, aku sangat yakin kau pasti merestui hubungan kami."kata Andres penuh percaya diri, sambil tertawa renyah.


"Ya, tentu saja aku akan merestui kalian. Karena aku sangat mempercayakan semuanya padamu. Kau sangat perhatian pada kami dan pada Lia tentunya. Bisa di bilang kami beruntung bertemu dengamu, Andres."ucap Bayu dengan begitu tulus, membuat Andres ikut senang.


"Aku juga merasa beruntung bertemu dengan kalian, aku berjanji padamu kak. Aku akan menjaga Lia selagi aku bisa."ujar Andres berucap tulus, seraya melirik kearah Lia dengan mengembangkan senyuman.


Lia membalas senyuman itu dengan tulus, ia juga merasakan ketulusan Andres yang begitu dalam untuknya. Satu tangan milik Andres terulur dibelakang kursi tempat ia duduk, sementara jempolnya mengusap kulit lengannya dengan begitu lembut dan konstan.


"Aku merasa bahwa kehadiran Lia benar-benar membuatku merasa bahagia, entah karena senyumannya, entah karena galaknya dia padaku, atau karena tingkah konyolnya."Andres tertawa dan Bayu memahaminya.


"Semuanya tampak seimbang, dan untuk pertama seumur hidupku, aku bisa merasakan first love. Dulu aku hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di kota besar Australia, belajar dan bekerja paruh waktu, tapi pandangan itu berubah setelah aku bertemu dengan Lia."Andres kembali melirik Lia dengan tatapan lembutnya dan dalam, disertai binar mata cemerlang.


"Ternyata hidup akan lebih lengkap jika melibatkan cinta. Dan sekarang aku hanya memikirkan bagaimana cara mempertahankan hubungan kita agar terus langgeng, serta bekerja keras agar aku bisa melamarmu, dan kau bisa merasakan hasil kerja kerasku juga."sambungnya setelah beberapa detik terjeda.


"Andres, aku baru saja lulus SMA."Lia tertawa sembari mencubit lembut perut milik Andres spontan. Cubitan itu ternyata membuat Andres meringis. Padahal, rasanya tak sesakit itu.


"Memangnya tidak bisa kalau masa kuliah ternyata kita sudah menikah? takan ada pelanggaran, Li."Andres mengangkat satu alisnya, Lia malah salah tingkah dan langsung mencubit pelan hidung Andres sebagai hukuman, sementara Andres hanya tertawa.


"Ekhm, sopankah kalian begitu di depan pria jomblo sepertiku, hah?"Bayu berdehem, lalu memutar bola mata ketika Andres dan Lia menatapnya sambil menertawakan dirinya yang sedang merengut.


"Maaf, kak. Siapa suruh masih bertahan dalam lebel jomblowers,"ledek Lia sambil terkikik begitupun dengan Andres, sementara Bayu langsung memalingkan wajah dan terlihat sembunyi-sembunyi menghirup napas.


"Bengek,"batin Bayu menggerutu karena memikirkan nasibnya sendiri yang mengenaskan tanpa kekasih.


Sepulangnya dari kantin sekolah, dan setelah berjalan-jalan sebentar sebagai hadiah atas kelulusan dan prestasi Lia, maka Andres menelaktirnya dengan membelikan baju dan sepatu dari mall.


Tidak lupa Bayu juga ditelaktir, dan ternyata tak terasa mereka menghabiskan waktu sampai cukup petang. Akhirnya, mereka sudah menapaki teras depan rumah. Terlihat Andres seperti ingin berpamitan untuk pulang kepada Lia dan Bayu. Menghabiskan waktu seharian dengan momen yang menyenangkan rupanya membuat mereka melupakan waktu yang berputar cepat. Tapi, anehnya rasa lelah itu sama sekali tak terasa, karena momen kebersamaan mereka ternyata seberharga itu.


"Li, kak. Aku pamit pulang ya, sudah petang ternyata."ucap Andres berpamitan dengan senyuman tersungging.


"Wah, apa kau tidak lelah? untuk sampai ke Jakarta juga kan membutuhkan waktu yang tidak sebentar Andres. Lebih baik kau menginap saja disini, hubungi dulu papi mu agar ia tak khawatir. Aku yakin papi mu pasti akan mengizinkanmu menginap disini,"usul Bayu membuat Andres tampak berpikir sejenak.


"Ah, begitu ya?"Andres menggaruk tengkuknya sambil tersenyum bimbang.


"Kau sudah menelaktir kami berbelanja, maka dari itu izinkan kami untuk membalas budi,"kata Bayu setelah mengangkat beberapa paper bag di tangannya untuk seperkian detik.


"Tapi, aku tulus memberikannya pada kalian. Jadi, aku tak mengharapkan imbalan."sahut Andres tersenyum kecil.


"Andres, aku rasa apa yang kakak bilang benar. Sebaiknya kau menginap saja, aku takut kau kelelahan selama diperjalanan dan aku juga takut terjadi sesuatu padamu jika mengemudi dalam keadaan lelah, jika kau mencari penginapan pun itu hanya buang-buang waktu,"timpal Lia yang membuat Andres akhirnya menyetujui usul mereka untuk menginap.


Andres mengangguk."Baiklah, ada benarnya juga. Dan rasanya, aku juga merasa tak sabar ingin mandi, tubuhku rasanya benar-benar sangat lengket."ucap Andres yang membuat Bayu tertawa.


"Ya, sebaiknya begitu. Setelah mandi, kita makan malam, Lia yang masak. Kau belum tahu 'kan kalau Lia pandai memasak?"seketika Bayu langsung merangkul pundak Andres seiring mereka berdua berjalan masuk kedalam setelah membuka kunci pintu.


"Wah, memangnya Lia pandai memasak ya?"tanya Andres antusias.


"Masak air,"jawab Bayu bergurau membuat mereka berdua tertawa, dengan suara yang mulai tersamar.


Lia yang masih di depan teras hanya bisa tertawa geli sambil geleng-geleng kepala, setelah mendengar candaan sang kakak pada Andres. Rupanya, sang kakak terlihat begitu dekat dengan Andres. Dan tentu saja hal itu membuat Lia lega, dan ia tak pernah meragukan lagi bagaimana restu dari sang kakak yang sudah terang-terangan ditunjukan.


Lia pun langsung masuk kedalam, dan melihat punggung mereka berdua yang sudah menghilang naik keatas loteng. Setelah itu, Lia pun langsung masuk kedalam kamarnya untuk membersihakan diri dari peluh keringat yang membasahi tubuh.


Setelah membersihkan diri, Lia keluar dari dalam toilet kamar dengan menggunakan bathrobe, lalu menggantinya dengan tank top putih yang terbalut cardigan rajut dan celana piyama. Sementara, rambutnya di gelung keatas dengan beberapa helaian anak rambut yang berjatuhan secara alami yang membingkai wajahnya tanpa sapuan make up sedikitpun.


Bergegas Lia keluar kamar dan memasuki area dapur, bukan hal yang baru untuknya memasak rutin. Semenjak sepeninggalan kedua orang tuanya, kini ia yang mengambil alih untuk mempersiapkan hidangan untuk kakaknya. Namun, sekarang tambahannya ada Andres. Dan Andres sama sekali belum mengetahui bahwa ia memang pandai memasak. Maka, ini adalah waktu yang tepat untuk memasak dengan hidangan special untuk Andres.


Beberapa jam yang lalu, setelah makan di kantin rupanya tak mampu mengganjal perutnya yang mulai keroncongan. Bergegas Lia untuk segera memasak, dan terlebih dahulu memakai apron. Ia juga yakin bahwa kedua makhluk hidup yang masih berada di kamar atas pasti sudah merasakan kelaparan juga.


Lia membuka kulkas yang isinya benar-benar penuh, setelah belanja bulanan di minimarket bersama sang kakak. Ia mencoba berpikir sambil mengerenyit, kira-kira ia harus masak makanan apa hari ini?


Akhirnya, setelah berkutat dengan peperangan yang menguras tenaga, hidanganpun telah tersedia di meja pantry, dengan menu tumis udang jamur saus tiram, sepiring bakwan jagung, dan buah-buahan sebagai cuci mulut.


Setelah piring-piring tertata rapih dengan sepasang sendok dan garpu, kini Lia tengah menanak nasi untuk dipindahkan pada Nakami rice bowl.


Dan tiba-tiba Lia merasakannya. Merasakan tangan yang melingkari perut dan kepala yang bersandar di pundaknya.


Lia menoleh, lalu berdecak."Andres, lepas! nanti ketahuan kak Bayu!"Lia menggerakan pundak pelan agar Andres menyingkir.


Alih-alih menyingkir Andres malah semakin menguatkan pelukan, membuat Lia menghela napas panjang seraya memutar bola mata.


"Kak Bayu masih mandi sambil bernyanyi, masih lama. Tenang saja."kata Andres serupa dengan bisikan lembut, dengan hembusan napas hangat yang menerpa lehernya hingga terasa meremang.


"Andres,"tegur Lia sekali lagi sembari menggerakan pundak, namun Andres malah bergumam tak jelas dengan kepala semakin tenggelam dilehernya.


"Kau wangi sekali,"bisiknya mendayu tepat ditelinga Lia. Sehingga rasa geli itu malah semakin mengganggunya.


"Jangan meledekku, aku baru saja memasak. Aku yakin yang kau sebut wangi adalah bukan dari parfum tapi karena aku bau bawang, right?"Lia mendelik setelah ia selesai menanak nasi.


"Kau sungguh wangi, aku sama sekali tidak bohong, sayang."tubuh Lia kini malah langsung diputar, sehingga mereka berdua saling berhadapan. Tangannya menumpu kanan dan kiri. Mengunci tubuh Lia dan menatap wajah Lia dengan lekat.


"A-andres, aku mohon lepas! nanti kak Bayu lihat!"wajah Lia berubah pias dan degup di dadanya sungguh tak bisa dikendalikan lagi, Andres benar-benar membuatnya kehilangan akal dan energi.


Sadar bahwa Lia tidak mungkin menyingkirkan tubuh jangkungnya, maka Lia hanya bisa diam. Bahkan, ia sama sekali tak bisa bergerak dan entah mengapa tubuhnya mendadak lemas tak berdaya. Andres benar-benar menghipnotisnya. Apalagi ketampanannya yang sungguh tak diragukan lagi, wangi tubuhnya membuatnya benar-benar di mabuk kepayang. Serta rambut basahnya dengan helaian-helaian poni menutupi sebagian keningnya malah semakin terlihat begitu cool yang tampak sempurna.


Andres tak menjawab apapun, tapi kini tangannya merambat menyentuh pinggang milik Lia, dengan agak menyentak sehingga belakang tubuh Lia menempel pada meja pantry, dan tentu tubuh mereka berduapun saling menempel erat.


"Kau tahu, tadi pagi kau terlihat begitu cantik, Li."pujian jujur itu meluncur dari bibir Andres. Namun, saat melihat matanya, Lia menyadari bahwa tatapan Andres terlihat berbeda. Tatapan mata sayu dan kelam, membuat Lia mencoba untuk antisipasi.


"A-andres, please aku takut ketahuan kakak ku,"Lia tak menggubris pujian itu, ia malah merengek sambil menatap mata Andres dengan tatapan memohon agar ia bisa terlepas dari belenggu Andres, sementara Andres hanya tertawa ringan.


"Memangnya kita akan melakukan adegan porn?"jahil Andres geleng-geleng kepala.


"Andres,"rajuk Lia menggigit pelan bibir bawah miliknya dengan resah.


Melihat gerakan bibir Lia saat menggigit bibir miliknya sendiri, membuat Andres merasakan sesuatu. Padahal bukan bibirnya yang Lia gigit, tapi entah mengapa membuat Andres merasakan denyut yang teramat nyeri, dengan detakan jantung yang bertalu-talu menyakitakan.


"Aku mau, Li."lirihnya dengan suara berat.


Lia mengerejap kaget."Mau apa?"


"Ciuman denganmu,"sahutnya pelan dengan terus terang, spontan membuat Lia menelan pelan air liurnya gelisah.


"T-tapi jangan di dapur,"kata Lia gugup ikut berbisik.


"Di kamar?"goda Andres jahil.


"No!"Lia langsung melotot, sementara Andres tertawa kecil.


"Ya sudah disini saja,"gumamnya, membuat Lia berpikir keras.


"Ekhm....excuse me, sudah selesai adegan syuting drama korea di dapurnya?"tiba-tiba saja, di dapatinya Bayu sedang memperhatikan mereka didepan, dengan tangan berkacak pinggang serta kepala geleng-geleng. Tak habis pikir dengan kelakuan Andres yang tak bisa mengendalikan diri dengan situasi dimana ia berada.


Melihat hal itu tentu saja membuat Lia seketika terkesiap, dan langsung refleks mendorong tubuh Andres mundur.


"Sungguh aku dan Lia tidak melakukan apa-apa, kak."Andres langsung mengangkat tangan dengan panik, seolah sedang terjadi penggerebekan oleh pihak kepolisian, dan wajahnya berubah pias takut sang kakak ipar mengamuk padanya.