Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Sama-sama mimpi basah 21+"





"Aku tidak percaya kakak ku bisa bermimpi bersama kak Nabila, dan bahkan sampai mengompol di celana. Huh, rasanya itu benar-benar lucu, sangat lucu. Bahkan perutku rasanya terasa sakit karena terus-terusan tertawa."cerita Lia setelah menyeruput minuman boba di genggaman tangannya dan tiada henti tertawa.


"Wait, memang kau tahu dari mana kak Bayu bermimpi bersama Nabila?"tanya Andres penasaran.


"Kak Bayu sendiri yang mengigau, menyebut-nyebut nama kak Nabila. Dia bilang begini 'Aku akan membawamu ke bulan, Nabila.' haha... jika aku mengingat kembali tentang semalam rasanya benar-benar lucu,"Lia tertawa terpingkal-pingkal lagi, sambil matanya pun ikut menyipit segaris, lalu memukul-mukul pelan pundak Andres.


"Dan, kak Bayu mengompol?"


Lia mengangguk semangat."Iya, kak Bayu benar-benar mengompol di celana,"


Mendengar jawaban Lia tentu saja membuat Andres seketika menahan tawa, lalu pada detik itu pula tawanya langsung pecah seketika.


"Li, kau lucu sekali,"komentar Andres yang membuat tawa Lia berhenti seketika.


Kening alis Lia bertaut bingung."Magsudmu? kenapa aku yang lucu? yang membuat hal konyol kan, kak Bayu, bukan aku."


"Li, apa kau tahu? bahwa kak Bayu itu bukan mengompol!"ucap Andres yang masih saja tertawa.


"Lalu?"


"Itu namanya mimpi basah, dan itu adalah hal normal jika tiba-tiba saja celana basah. Tapi, itu bukan cairan urine."kekehnya lalu mengacak-ngacak puncak rambut Lia dengan gemas, sambil geleng-geleng kepala.


"Astaga, jadi aku salah?"Lia langsung memukul keningnya pelan sambil meringis, merasa malu karena ternyata ia salah mengira. Dan konyolnya ia menceritakan hal itu pada Andres. Double memalukan.


"Menikahlah denganku, maka kau akan tahu semuanya. Kita sama-sama belajar nanti,"gurau Andres sambil menaik-turunkan kedua alisnya, dengan binar mata bertatapan jahil.


"Belajar apa?"tanya Lia ketus disela ia memutar bola mata.


"Bikin anak,"jawabnya terang-terangan yang seketika di sambut cubitan kecil oleh Lia dilengan Andres, sehingga Andes langsung meringis. "Aw, kok galak begini sih?"protes Andres, dan Lia malah menjulurkan lidah meledek.


"Itu balasan karena kau membicarakan hal vulgar denganku,"ucap Lia kecut.


"Itu edukasi, Li. Bukan hal yang vulgar, dan lagi pula aku masih tahu batasan. Jika aku membahas, gaya Misionaris, gaya doggie, gaya posisi kaki di bahu, gaya cowgirl terbalik, gaya membelakangi pasangan, serta gaya wheelbarrow. Dan kemudian memperaktekannya padamu, mungkin kau pantas marah,"seloroh Andres lalu berdecak.


"Stop, jangan bahas lagi."rengek Lia seraya menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Andres.


Dengan cepat Andres langsung menggenggam jemari Lia saat itu juga. "Baiklah, aku takan membicarakannya lagi. Tapi, Li. Aku rasa sebaiknya kita harus segera menikah, supaya aku bebas melakukan apapun padamu, Li. Apalagi disaat gemas seperti ini, rasanya aku benar-benar tak kuat lagi,"ucapnya nada prustasi.


"Ah, sudahlah hentikan."rengek Lia lagi.


"Kau tahu, Li. Saat kita akan berciuman dan ternyata di gagalkan oleh kak Bayu, apa kau tahu, apa yang aku alami? Aku sangat begitu prustasi. Dan akhirnya malah terbawa mimpi,"Andres berkata sambil menatap Lia dengan wajah memelas.


"Jangan bilang kalau kau mimpi basah juga!"sambung Lia cepat.


Alih-alih mengelak, tapi Andres malah membenarkan dengan menganggukan kepala seperti anak kecil yang merajuk."Aku tidak bohong, aku juga mimpi basah."desis Andres nada berbisik, yang membuat bulu kuduk Lia ikut berigidig seketika.


"Dan jangan bilang celana kau juga basah,"lanjut Lia serupa bisikan.


Andres berdecak seraya menghembuskan napas."Ya, setelah terbangun dari mimpi itu celanaku juga basah,"jawabnya terus terang, membuat Lia berubah kikuk seketika.


"Lalu aku harus apa?"tanya Lia mulai antisipasi.


Lia termenung sesaat, tanpa mengalihkan pandangannya dari Andres sedikitpun. Dan tiba-tiba kecupan lembut mendarat di pipinya, membuat Lia tersadar lalu mengerjapkan mata. Sementara Andres hanya tersenyum lebar. Tanpa ragu Lia pun membalas senyuman itu, kemudian bersandar di bahu Andres sambil menikmati hamparan senja di kursi taman kota yang begitu indah, dengan dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran disekelilingnya.


"Andres, semenjak kau menjadi pacarku dan selalu ada untukku setiap waktu, aku merasa sangat begitu bahagia. Apa kau merasakan hal yang sama?"setelah berbicara demikian, sekilas Lia mendongak pada wajah Andres dan mendapati Andres yang masih saja tersenyum.


Andres mengangguk pelan."Aku merasakan hal yang sama denganmu, aku merasa begitu sangat bahagia dan rasanya aku ingin memilikimu seutuhnya, Li."


"Magsudmu?"tanya Lia sembari memainkan jari-jemari Andres dipangkuannya.


"Aku ingin menikahimu,"jawabnya terus terang, membuat posisi Lia berubah seketika. Duduk dengan posisi menyamping, lalu menatap wajah Andres sambil mengerenyitkan dahi.


"Tapi, aku belum siap."cicit Lia yang membuat Andres tertawa kecil.


"Ya, aku mengerti. Abaikan saja apa yang aku katakan barusan, lagi pula aku belum wisuda."kekehnya yang membuat Lia seketika merasa tak enak hati pada Andres.


"Andres apa kau marah?"


Andres menggeleng."Kenapa harus marah?"Andres ikut mengubah posisi dengan duduk menyamping, dan menatap kedua bola mata Lia dengan tatapan seteduh awan.


"Ya, karena aku belum siap menikah."


"Li, dengar! Aku juga mengerti bahwa pernikahan bukan hanya sekedar kita mencintai seseorang. Pernikahan itu adalah momen yang sakral, yaitu sekali seumur hidup. Kita juga butuh waktu untuk benar-benar meyakinkan diri, apakah kita siap atau tidak. Apakah kita yakin atau tidak. Cinta, materi, dan mental benar-benar di perlukan dalam sebuah pernikahan. Dan aku mengerti fase mu sekarang. Kau masih muda, begitupun aku. Masih banyak waktu untuk dipikirkan, kita jalani saja seperti air yang mengalir. Tapi, yang jelas aku tidak akan pernah lari darimu."papar Andres sembari menangkup kedua pipi milik Lia dengan tatapan lembut. Membuat hati Lia merasa lega, bahwa pemikiran Andres ternyata jauh lebih dewasa dari usianya.


Lia mengembangkan senyuman."Andres, apa kau mau berjanji padaku bahwa kau takan pernah meninggalkan aku?"


Andres mengangguk kuat."Aku berjanji padamu, bahwa aku takan pernah meninggalkanmu."ikrarnya dengan kalimat penekanan sungguh-sungguh.


"Mungkin saat itu aku masih meragukan perasaanku padamu, tapi seiring berjalannya waktu ternyata kini aku begitu mencintaimu Andres. Kini kau pelengkap hidupku, saat aku merasa rapuh, dan ragu kau menguatkan aku dan meyakinkan aku."ungkap Lia sembari mengusap-usap lembut rahang milik Andres dengan jempolnya.


"Semuanya memang butuh waktu, Li. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya, entah itu karena intens nya kita bertemu, dan hal yang lainnya."Andres berkata seraya menyelipkan helaian rambut milik Lia pada sela telinganya ketika hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya yang terurai.


"Apa Andra akan bahagia karena kita bersama? ataukan malah sebaliknya?"


"Setelah kita jadian, malam itu aku bermimpi di temui Andra. Dan aku melihat wajahnya terlihat begitu cerah dengan senyuman yang terkembang di bibirnya. Lalu, dia berkata bahwa dia sangat begitu bahagia, dan memberikan kalimat selamat atas hubungan kita. Andra bilang bahwa dia merasa aman karena kau kini bersamaku, dia sangat begitu mempercayai aku, Li. Dia percaya bahwa aku akan menjagamu."cerita Andres sembari menatap manik mata Lia yang indah itu dengan lamat.


"Aku harap aku bisa bertemu dengan Andra di mimipiku malam ini,"


"Semoga,"


"Dan aku harap kau takan cemburu pada Andra,"Lia tertawa kecil setelah mendengar jawaban Andres yang singkat.


Andres menggeleng pelan."Aku akan baik-baik saja, jangan pikirkan aku."ucapnya sambil tertawa kecik.


Cup!


"Aku mencintaimu, Andres."ucap Lia setelah mencium sekilas bibir Andres dengan lembut. Membuat Andres terpaku untuk sesaat, kemudian ia terlihat begitu salah tingkah karenanya.


"Aku juga,"sahutnya sambil tersenyum, lalu Lia pun memeluk Andres dengan rasa sayang yang telah membuncah.


"Setelah ini jangan mimpi basah lagi, ya."goda Lia yang disambut tawa ngakak oleh Andres.