Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Mati lampu 21+"


Bayu membuka mata yang terasa masih sangat berat, setelah suara bel rumah terdengar seolah berada tepat didekat telinganya. Desah kesal meluncur dari bibirnya karena suara bel itu benar-benar mengganggunya yang masih terasa mengantuk berat, ia berusaha mencoba untuk mengabaikan, tapi suara bel itu benar-benar tak pernah berhenti ditekan. Menjelang malam seperti ini siapa tamu yang akan datang? pasti itu bukan Lia, karena Lia memiliki kunci cadangan yang selalu di bawanya ketika hendak pergi bersama Andres jika waktu pulang tidak memungkinkan.


Dengan terpaksa Bayu beringsut menapaki lantai lalu menggunakan sandal. Menuruni anak tangga dengan cepat, karena sepertinya si tamu benar-benar sangat tak sabaran dengan menekan bel tanpa jeda sedikitpun.


"Iya, tunggu sebentar!"teriak Bayu malas dengan sedikit berlari.


Ceklek.


"Hai, sorry aku kebelet, bisa tunjukan dimana toilet?"sambutnya tiba-tiba, membuat Bayu untuk seperkian detik tercenung untuk memastikan apakah ia sedang bermimpi atau tidak.


"Ya?"ulang Bayu.


"Bisa antarkan aku dimana toiletnya?"pintanya tak sabaran, seperti menahan pipis yang sepertinya sudah di ujung.


"Oh, ayo!"Bayu langsung berjalan lebih awal yang diikuti perempuan itu dari belakang.


Bayu terduduk di kursi pantry sambil menunggu si tamu yang masih di dalam toilet. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Nabila akan datang ke rumahnya semendadak ini. Nabila sama sekali tak mengabarinya terlebih dahulu, sehingga bagi Bayu ini adalah suatu kejutan yang berhasil membuat jantungnya terasa akan meledak.


"Bay, sorry aku lancang datang kesini sambil kebelet pipis seperti ini,"cengir Nabila setelah keluar dari dalam toilet.


"Ah, tidak masalah. Maaf tadi aku lama membuka pintu, aku baru saja bangun tidur."kata Bayu seraya berdiri dari kursi.


"Ya ampun, aku pasti sangat mengganggumu, ya?"sesal Nabila tak enak hati pada Bayu.


"Tentu saja tidak, sudah jangan dipikirkan."kata Bayu sambil menggaruk tengkuk salah tingkah.


"Tadi, aku sudah menelephone Andres, dan ia memberikan peta lokasi rumahmu. Aku, Andres dan Lia memang sudah janjian untuk bertemu. Tapi, Andres dan Lia sekarang sedang kencan, dan mereka bilang akan segera pulang lebih cepat jika tidak terjebak macet. Jadi, aku memutuskan kesini lebih dulu. Kata Lia kau ada dirumah,"cerita Nabila panjang lebar, sementara Bayu manggut-manggut paham.


"Oh, begitu ya?"


Nabila mengangguk pelan."Oh, ya dan aku juga minta maaf tidak menelphone mu, batrai ponselku habis,"


"Tidak masalah, lebih baik kau minum dulu. Mau minum apa?"tawar Bayu seraya berjalan menuju kulkas.


"Air putih dingin juga boleh,"ucap Nabila seraya duduk di kursi pantry.


Bayu menuangkan air putih dingin dari kulkas, kemudian menyodorkan segelas air putih itu pada Nabila. Nabila tersenyum lalu meneguk air itu sampai tandas dalam sekali tegukan, membuat Bayu yang melihatnya seketika mengulum senyum. Nabila terlihat begitu menggemaskan, tampaknya ia benar-benar sedang kehausan.


"Sorry, aku haus."cengirnya malu-malu.


"Mau tambah?"tawar Bayu lagi dengan satu alis terangkat.


Nabila menggeleng."Sudah cukup, Bay."


"Mau makan sesuatu?"tawar Bayu lagi seraya duduk di kursi pantry tepat dihadapan Nabila.


Nabila seperti berpikir namun pada akhirnya ia menggelengkan kepala."Tidak perlu, nanti saja kalau Andres dan Lia sudah datang."


"Kenapa menunggu mereka? kalau kau lapar sekarang, makan saja dulu. Nanti kau bisa makan lagi kalau mereka berdua sudah pulang."ujar Bayu seraya tertawa kecil.


"Kalau konsepnya seperti itu nanti aku bisa gendut, Bay."kekeh Nabila membuat Bayu geleng-geleng kepala seraya tersenyum. Perempuan manapun pasti akan ketakutan jika tubuhnya berubah gempal, padahal jika lapar ya, makan saja. Kenapa harus menyiksa diri. Itu lah perempuan.


"Kenapa perempuan takut gendut, sih?"akhirnya pertanyaan penuh penasaran itu meluncur dari bibir Bayu. Membuat kedua kening alis milik Nabila ikut berkerut karenanya.


"Aku yakin semua perempuan pasti ingin memiliki tubuh yang terlihat ramping dan sexy, Bay. Dan aku yakin kau pasti ingin memiliki type perempuan seperti itu 'kan?"


Deg!


Mendengar kalimat seperti itu, mendadak Bayu langsung terdiam. Entah ada angin apa, bayang-bayang mimpi basah itu tiba-tiba saja muncul kembali dari ingatannya bagaikan cuplikan yang terputar begitu saja.


Dan saat itu juga tiba-tiba tangan Nabila memegang tangannya yang bertumpu di atas meja. Sentuhannya begitu halus, sentuhannya memberikan efek detakan jantung yang berpacu tak terkendali.


"Katanya kau mau mengajakku ke bulan, Bay?"tagih Nabila serupa bisikan yang mendayu secara tiba-tiba, mendengar Nabila berucap demikian tentu sepasang mata milik Bayu seketika langsung terbelalak. Bagiamana dia bisa tahu tentang mimpi basahnya semalam? apa Lia mengadu pada Nabila?


"Ke bulan?"ulang Bayu memastikan diri bahwa ia sama sekali tak salah dengar.


Nabila mengangguk penuh semangat dengan binar mata cemerlang yang menggemaskan. "Iya, kau yang bilang 'kan?"tiba-tiba Nabila langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian menghampiri Bayu dan tiba-tiba saja ia duduk di pangkuannya dengan bokong milik Nabila yang benar-benar menempel di pahanya, hal itu membuat jantung Bayu serasa akan meledak saat itu juga.


"K-kau mau apa?"tanya Bayu dengan mata terbelalak kaget.


"Menagih apa katamu, kau mau mengajakku ke bulan 'kan?"Nabila kembali bertanya dengan nada rendah, seraya menggigit bibir bawahnya sensual. Membuat Bayu merasa merinding dibuatnya.


Bayu merasa gugup dan gemetar, apalagi kini Nabila mengalungkan kedua tangannya di lehernya. Bayu menatap Nabila seksama, dengan sepasang mata milik Nabila yang terlihat berbeda dan terlihat begitu menggoda.


"Aku tak pernah menyangka bahwa aku menjadi sosok perempuan dalam hayalan liarmu, Bay."suaranya terdengar semakin parau, membuat debaran jantung Bayu semakin menggila.


Tanpa sadar suara mengerang meluncur dari bibir Bayu, disertai tatapan Nabila yang turun kemudian jemarinya mengelus-elus rahang milik Bayu disertai dengan tatapan intens nya, yang semakin lama membuat suasana terasa sangat begitu panas dan sesak.


"Apa sungguhan kau ingin pergi ke bulan bersama ku?"tanya Bayu lirih serupa dengan bisikan tepat disalah satu telinga Nabila.


Sepasang mata milik Nabila kini kembali terangkat, kembali bertaut dengan sepasang mata milik Bayu yang sayu. Sebuah senyuman miring terbentuk dari bibir milik Nabila kini.


"Menurutmu, apakah aku akan menolak?"satu alis milik Nabila terangkat seolah sedang menantang puncak gairah milik Bayu yang sudah dalam tahap menggebu.


"Dengan tingkahmu yang seperti ini memangnya aku akan mengklaim bahwa kau akan menolak? tentu aku tahu jawabannya, karena kau sama-sama menginginkannya 'kan?"bisik Bayu lalu satu tanggannya terulur mengusap pipi milik Nabila dengan konstan.


Mendengar bisikan sexy itu membuat Nabila merasa terhipnotis dengan tatapan mata Bayu yang terlihat begitu menggoda disertai seringai bandelnya yang terpatri di wajah. Serta jemari-jemari yang menyentuh pipinya membuat napas Nabila mulai tersenggal.


Nabila memutuskan untuk tidak bergerak ataupun mencoba berontak ketika wajah Bayu semakin mendekat, dan perlahan wajah mereka sama-sama menyatu dengan hembusan napas hangat yang saling menerpa ke seluruh wajahnya satu sama lain. Efek yang di timbulkan hingga berhasil membangkitkan otot tegang milik Bayu, serta denyutan nyeri di bahwah sana.


Bayu merangkum pipi milik Nabila, kepalanya di condongan dan perlahan bibir miliknya mulai turun menghapus jarak yang tersisa di antara keduanya.


Sepasang mata milik Nabila terpejam, menyisakan gelap, hingga akhirnya merasakan sesuatu yang kenyal, lembut, dan basah memagut bibir miliknya.


Dan perlahan tangannya yang bertengger di leher Bayu kini mulai meremas kepalanya, seiring dengan kecupan-kecupan seringan bulu yang membuat pikirannya melayang entah kemana perginya.


Mereka berdua tampak menikmati, dan terhanyut dalam situasi. Meresapi setiap rasa ciuman darinya dan bahkan tak ragu lagi untuk bertukar kecupan. Dan saling membalas setiap pagutan dan gigitan, hingga saat perlahan bibir mereka berdua terlepas dalam seperkian detik terdengar racauan tak jelas yang meluncur dari bibir Nabila, serta erangan yang meluncur dari bibir Bayu.


Tangan Bayu mulai merayap di punggung Nabila ketika ciuman itu terjadi lagi, sementara remasan tangan Nabila di rambut Bayu semakin kuat dan tubuhnya bergelinjang, setelah merasakan satu tangan Bayu yang kini berubah mengelus pahanya dengan sentuhan memabukan ketika rok mini miliknya yang tersingkap, memberikan efek gairah yang semakin memanas, sehingga pagutan itu kembali terlepas dan Nabila mulai mendesah, serta bibir Bayu yang berubah mengecup leher Nabila dengan liar, dan meninggalkan bercak merah kecil di leher putih mulus itu.


"Bay, Bayu? are you okay, Hello?"Nabila melambai-lambaikan tangan di udara tepat di sepasang mata milik Bayu. Nabila merasa aneh karena Bayu terlihat melamun sambil menatapnya dengan senyum-senyum yang tak jelas, bahkan ketika Nabila mengajaknya mengobrol Bayu mulai tak nyambung saat menjawab. Dan kadang-kadang tak merespon sama sekali.


"Bayu? please jangan buatku takut,"Nabila bangkit dari posisi semula kemudian berdiri lalu menghampiri Bayu, kemudian mengguncang-guncang tubuh Bayu pelan.


Bayu mengerejap beberapa kali dan tersadar dari segala lamunan, kemudian membalikan tubuh melihat Nabila yang berdiri disampingnya dengan wajah yang berubah pias.


"Nabila, sorry aku tidak bermagsud mengabaikanmu,"Bayu terlihat salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. "Oh Bodoh, rupanya aku malah berhayal liar seperti ini. Kenapa Nabila menjadi objek fantasiku? Ah, sial. Sepertinya aku harus menikah secepatnya,"batin Bayu merutuki dirinya sendiri.


"Kau ini kenapa?"tanya Nabila mulai panik. "Aku benar-benar ketakutan,"lanjutnya seperti ingin menangis.


"Ah, maaf Nabila. Aku telah membuatmu panik, ya?"Bayu langsung bangkit dari kursi pantry sembari memegang kedua bahu Nabila sekedar untuk menenangkannya.


Nabila mengangguk pelan."Ok, jangan begitu lagi, ya."cicitnya.


"Sekali lagi aku minta maaf,"sesalnya kemudian mengacak rambutnya prustasi sambil mendesah, karena bisa-bisanya ia malah berhayal erotis seperti itu barusan. Dan hal itu tentu membuatnya benar-benar resah.


"Aku takut sekali kau kesurupan,"desis Nabila menggigit ujung kukunya gelisah.


Bayu tertawa kecil."Tadi, aku malah terbayang-banyang momen lucu. Jadi, aku bertingkah aneh, maaf ya."ucap Bayu menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.


"Hm, baiklah."


Baru saja berkata demikian, tiba-tiba ruangan berubah gelap gulita akibat mati lampu secara mendadak. Dan tentu saja hal itu membuat Nabila langsung menjerit memanggil Bayu karena ketakutan, Nabila sangat membenci kegelapan sedari kecil akibat trauma, sehingga rekasinya pun kini diluar duagaan.


"Bayuuuu,"teriak Nabila memanggil-manggil Bayu dengan begitu panik.


"Nabila, tenanglah, jangan bergerak kemanapun diam di situ!"Bayu berusaha menenangkan sambil memberi arahan pada Nabila yang terdengar ingin menangis.


"Aku takut, akh..."paniknya.


Serentak Nabila bergerak sembarangan, menyebabkan gelas yang di letakan di meja berderak. Bayu berusaha meraih apapun asalkan ia bisa mendapatkan Nabila yang entah dimana keberadaannya meskipun suaranya terdengar sangat begitu dekat. Mungkin semua itu sebab Nabila begitu ketakutan dalam kegelapan sehingga ia tak bisa mengendalikan diri.


Akhirnya Bayu bisa mendapatkan Nabila yang ternyata jaraknya tidak jauh darinya, mencoba meraih apapun yang bisa ia raih. Dan Bayu merasakannya, sesuatu yang kenyal dan empuk terasa begitu pas di genggaman tangannya, tidak kecil dan tidak besar. Rasanya tidak asing, karena ia pernah menyentuh bongkahan daging yang kenyal seperti itu di masa lampau.


Plak!


"Bayuuuu.. jangan sentuh bagian itu!"pekik Nabila bernada protes, dan langsung menepis tangan Bayu yang ternyata tanpa sengaja menyentuh buah dada miliknya. Seiring dengan pekikan, Nabila refleks mendorong tubuh Bayu namun, sialnya kakinya malah ikut tersandung sehingga tubuh Nabila ikut tersentak dan mereka berdua terjatuh ke lantai dengan posisi Nabila yang menindih tubuh Bayu saat ini.


"Aaaa..."jerit mereka berdua memecah keheningan malam, sebelum akhirnya mereka terjatuh pada lantai, disertai dengan kursi yang ikut terdorong sehingga berdecit.


Note* Author sudah menikah, dan menu****l******is seperti ini adalah pertama kalinya wkwkwk. well, semoga cerita ini tidak menjijikan, ya. haha.. Author, tidak ahli buat cerita beginian soalnya.😄**