Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Dimana Andres?"


Setelah membunuh Semmy, dengan tangan tak berdaya, pistol itu terlepas dari genggamannya kemudian jatuh. Jesllyn menatap nanar tubuh Semmy yang sudah terbujur kaku, sementara napasnya terengah dan di penuhi peluh keringat yang bercucuran.


Sementara disatu sisi, Lia mencoba beringsut dari posisinya yang semula berbaring berubah terduduk, sembari meraih kepala Andres dan meletakan kepalanya itu di pangkuannya. Andres terlihat sangat pucat, membuat Lia menangis khawatir. Sementara itu Jesllyn yang mendengar suara isak tangis Lia langsung membalikan badan. Membuat Lia menyadari, bahwa situasinya masih dalam bahaya dan ancaman. Lia menatap Jesllyn takut-takut.


Namun, melihat Semmy yang di bunuh Jesllyn membuat Lia bertanya-tanya. Tapi, ia mencoba untuk tak peduli yang terpenting sekarang adalah ia dan Andres harus selamat dulu. Entah bagaimana caranya ia tak tahu.


"Lebih baik kau keluar dari sini!!"sentak Jesllyn seketika dengan nada pengusiran yang membuat Lia mengerenyit kebingungan.


"A-apa magsudmu?"tanya Lia terbata-bata.


Jesllyn tak menjawab, namun ia berjalan menuju pintu yang masih tertutup. Menekan kode pada smart lock, lalu pintu itupun terbuka lebar.


"Pergi, atau kau akan aku bunuh! Pergi!"lantangnya melotot sembari menunjuk kearah pintu keluar.


"K-kau membebaskan kami?"Lia menatap Jesllyn tak percaya.


"Ya!"sahutnya pendek dengan nada bedas.


"T-tapi k-kenapa?"


"Pergi atau aku bunuh!"sungutnya cepat, yang membuat Lia terkesiap lalu mencoba bangkit sembari merangkul Andres yang terlihat semakin lemah.


Maka dengan tergesa-gesa Lia memapah Andres dengan kaki terpincang-pincang menahan sakit, akibat ikatan kuat pada kakinya saat berada di atas belankar.


"Andres bertahanlah,"ucap Lia panik sembari tiada henti menangis.


Suara pintu terdengar menutup setelah Lia keluar dari ruangan mengerikan itu, membuat Lia seketika menoleh lalu tersenyum lega campur haru. Meskipun Lia tak mengerti jalan pikiran Jesllyn tapi sungguh ia merasa sangat terbantu, meski begitu Lia sudah bertekad untuk melaporkan kasus ini ke polisi setelah mengantongi bukti yang Andres abadikan lewat ponselnya yang berhasil ia ambil dan langsung menyembunyikannya di balik bra secara sembunyi-sembunyi saat itu.


Andres meringis sembari memegang dadanya, membuat Lia tersadar dari segala pikirannya.


"Bertahanlah,"ucap Lia yang langsung memapah Andres dan melanjutkan perjalanannya di lorong yang lembab.


Hari menjelang subuh, dengan terpincang-pincang Lia terus memapah Andres yang kini mereka berdua tengah berjalan di kolidor. Tiba-tiba Andres terjatuh ke lantai dengan sangat lemas membuat Lia semakin cemas.


"Andres, apa kau baik-baik saja? bertahanlah."panik Lia.


"Aku sudah tak kuat, Li. dadaku terasa sangat sesak."keluh Andres dengan lemah.


"Aku mohon bertahan, aku harus melakukan apa tolong katakan? aku bingung sekali, aku tak bisa berpikir disituasi terdesak seperti ini, apa? apa yang harus aku lakukan? katakan Andres!"Lia malah sesegukan sementara Andres terbatuk-batuk sembari memegang dadanya, rupanya akibat terjangan sekaligus injakan kaki Semmy mengenai dadanya sangat begitu terpengaruh sehingga menimbulkan sesak yang tak tertahankan.


"T-telephone kakakmu,"ucap Andres terbata-bata.


Lia mengangguk, kemudian mengambil ponsel miliknya di saku celana jeans. Lalu mencoba menghubungi sang kakak, namun panggilan darinya masih belum dijawab Bayu. Lia menghela napas berat, kemudian mengulangi aktivitasnya untuk menelephone sang kakak. Terdengar bunyi sambungan telephone 'Tuttttt.'


"Hallo?"sapa Bayu disebrang sana.


Lia bernapas lega, akhirnya panggilan telephone itu diangkat juga.


"Kak, tolong."Lia berusaha menjelaskan dengan setenang mungkin, sementara Bayu menyimak apa yang Lia katakan.


*****


Dengan wajah-wajah panik dari kedua orang tua Lia, serta Bayu yang berjalan khawatir mengikuti belankar yang di dorong suster menuju ruangan. Mereka berdua telah sampai di rumah sakit atas bantuan Bayu yang datang menjemput ke gedung sekolah dengan tepat waktu, saat itu Andres sudah tak sadarkan diri.


Bahkan tenaga Lia sudah terkuras habis, dan tubuhnya lemah. Namun, ia masih sadar bahkan matanya masih terbuka untuk melihat sosok Andres yang tak sadarkan diri di belankar tepat di sampingnya. namun detik itu ia terpisah dengan Andres ketika mendapati kolidor rumah sakit yang bercabang. Andres di bawa ke ruangan IGD sementara Lia di bawa keruangan ICU. Lia hanya bisa pasrah diiringi air mata yang menetes dan berusaha untuk tidak terisak.


Setelah Lia masuk kedalam ruangan, keluarga Lia hanya bisa menunggu diluar dengan rasa cemas yang tak terkendali.


"Kita harus tenang,"kata Ayah Lia merangkul bahu istrinya itu, yang tenggelam dalam pelukannya.


"Sungguh aku sangat cemas,"isaknya sesegukan.


"Lia pasti baik-baik saja,"sambung Bayu mengangguk yakin untuk mencairkan suasana.


"Ayah harap begitu,"sahut sang Ayah mencoba tenang.


Pemandangan rerumputan hijau yang luas terlihat tenang sejauh mata memandang. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat mata Lia terpejam untuk sesaat.


"Lia..."


"Lia..."


Lia membuka matanya perlahan, seseorang memanggilnya bersahutan dengan berulang-ulang. Menengok kanan-kiri mencari sumber suara, angin seolah menuntunnya untuk melangkah dan mengikuti sumber suara itu.


Langkah Lia terhenti di danau dengan air mengalir jernih, sesosok perempuan dengan dress putih serta rambut tergerai sedang memunggunginya. Seketika perempuan itu membalikan badan, Lia terkesiap dan perempuan itu tersenyum lebar.


"Apa kau tak merindukan aku?"perempuan itu membuka suara sontak Lia langsung berlari kearahnya dengan sangat bahagia bercampur dengan rasa rindu yang menjalar.


"Sifa,"sambut Lia yang langsung berhambur memeluk Sifa dengan penuh kerinduan.


"Aku pikir kau sudah tak mengenali aku lagi,"gurau Sifa yang seketika membuat tangis Lia pecah juga.


"Sifa aku minta maaf, sungguh aku menyesali apa yang telah aku lakukan padamu. aku tidak pernah percaya padamu, bahkan aku menuduhmu. aku tak percaya kau telah pergi secepat ini."Lia mengutarakan seluruh perasaannya dengan tersedu-sedu setelah pelukan itu terlepas.


Lia menggeleng lemah."Aku tidak tahu bahwa kau telah di bunuh oleh Semmy. Aku menyesal, aku menyesal maafkan aku."sesal Lia memeluk Sifa lagi dengan teramat kuat.


"Tak ada yang perlu di maafkan, Li. Kau tidak bersalah. Tapi, kau tahu aku sangat bahagia karena persahabatan kita takan pernah berakhir meskipun aku sudah tiada."tutur Sifa berlapang dada.


Lia melepaskan pelukannya, menatap wajah Sifa dengan sendu. Dan Sifa tersenyum sembari menghapus air mata Lia yang telah membasahi pipi.


"Sifa, apa kau tak bisa kembali?"Lia terisak.


Sifa menggeleng lemah."Aku sudah abadi disini, Li. kau tahu aku tidak pergi darimu. Aku ada disini."Sifa meletakan telapak tangannya di dada Lia seraya tertawa sendu.


Lia mengangguk lemah."Aku percaya, dan aku akan selalu mengingatmu. kau sahabatku, aku takan melupakanmu."ikrar Lia bersungguh-sungguh seraya tersenyum pilu.


"Aku percaya padamu, Li."Sifa menghapus lagi air mata Lia yang tak berhenti berlinang sedari tadi."Li, bangunlah kau harus menikmati hari dan kau harus menikmati cinta dari seseorang."ucap Sifa yang membuat kening alis Lia mengerenyit.


"Cinta dari seseorang?"ulang Lia tak mengerti.


"Iya, cinta dari seseorang yang tulus padamu."ucap Sifa sembari menyelipkan helaian rambut Lia ke balik telinga yang terhembus oleh angin.


"Andra?"


"Dia sudah pergi, Li. sama sepertiku, tapi aku juga percaya dia akan selalu ada di hatimu seperti aku yang berada di hatimu. kita sama-sama korban, dan kita takan kembali ke dunia."


"Tapi aku tidak rela jika Andra juga pergi dan tak pernah bisa menemui aku lagi."sedih Lia dengan bibir berucap gemetar.


"Itu sudah takdir, Li."


"Aku benci takdir."


"Kau tak bisa menentang takdir tuhan, Li."


"Ya, aku mengerti."Lia mengangguk lemah disela isakannya.


"Kau tahu nanti ada seseorang yang bisa membuat hari-harimu menjadi lebih indah. Kau akan tersenyum sepanjang hari, dan kau akan bahagia."Sifa memberikan semangat yang menggebu untuk Lia yang bersedih.


"Siapa orang itu?"tanya Lia penasaran.


"Kau akan tahu nanti."jawab Sifa berbisik di telinga Lia sambil tertawa ringan.



"Lia.."


"Lia.."


"Ya tuhan, sukurlah Lia sudah sadar."


Suara antusias terdengar dari indra pendengarannya, setelah ia membuka matanya.


"Sayang ini ibu,"


"Li, ini ayah apa kau bisa mendengar suara ayah?"


"Dok, Adik saya sudah bangun dok."


Lia masih tak bergeming, ia masih kesulitan untuk berbicara dan masih agak terkejut dengan suara-suara yang menyerbu telinganya.


suara derap langkah terdengar, tidak berselang lama Lia merasa ada seseorang yang mendekatinya untuk memeriksa tubuhnya, menyorotkan sinar senter pada kedua matanya.


"Hai, Li. apa kau bisa mendengar suara saya?"tanya Pak Dokter yang dijawab Lia dengan anggukan kepala pelan.


"Baik kalau begitu. Li, saya harap anda jangan memaksakan diri untuk berbicara dan bergerak terlalu berlebihan, anda masih perlu istirahat yang cukup agar tubuh anda bisa pulih dengan cepat."kata dokter dengan terperinci, sementara Lia meng-iya kan dengan anggukan kepala lagi.


"Syukurlah,"sang Ibu bernapas lega setelah beberapa jam Lia tak sadar, kini sudah bisa membuka matanya kembali.


"Anak ibu dan bapak masih membutuhkan waktu untuk cukup beristirahat, Lia jangan terlalu banyak di ajak bicara dulu, mengingat pita suaranya masih belum pulih dan juga jangan terlalu banyak bergerak berlebihan."jelas dokter itu yang disetujui dengan anggukan kepala kedua orang tua Lia.


"Baik dok,"sahut sang ayah.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, pak, bu, dek."pamit dokter itu.


"Iya dok,"sahut keluarga Lia.


Setelah dokter itu pergi, Lia masih tak banyak bicara namun setetes air mata membasahi pipinya. Lia tersenyum mengingat wajah sahabatnya Sifa. setidaknya mimpi tadi bisa mengobati kerinduannya pada Sifa.


Sesaat Lia mencoba memejamkan mata, tiba-tiba ia teringat Andres. Bagaimana keadaan Andres? ia ingat bagaimana keadaan Andres terakhir kali, Andres yang berlumuran darah karena siksaan psikopat gila itu, dan kemudian setelah pergi dari gudang sekolah Andres tak sadarkan diri.


"Andres, dimana Andres?"panggil Lia membuka matanya kembali, menyebut nama Andres dengan suaranya yang masih begitu serak."Andres,"panggilnya lagi yang membuat keluarga Lia saling melirik satu sama lain.