Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Kerinduan"


Andres duduk melamun di kafe outdoors area, rasanya hampa dan menyedihkan. Ia hanya memandangi jus orange yang dipesannya sedari tadi, tanpa niatan untuk diminum, apa yang ia lalui adalah suatu hal yang tak diinginkan. Jadi untuk apa ia harus hidup di bumi ini, jika orang yang disayang pergi satu persatu. Masih terhanyut dalam lamunan, tiba-tiba saja suatu hal mengejutkannya secara mendadak.


"Hei, aku tak menyangka kau datang kesini!"seseorang menyapanya dengan antusias.


Andres langsung mengangkat kepalanya melihat seseorang yang berdiri dihadapannya dengan binar mata berkilat senang, namun Andres tak mengenali gadis itu. Gadis asing yang berpura-pura sok akrab?


Andres sempat ingin menanyakan prihal siapa gadis itu, mungkinkah salah orang? namun, belum sempat melontarkan pertanyaan gadis itu langsung berhambur memeluk dirinya dengan sangat erat, membuat Andres semakin kebingungan.


"Maafkan aku, aku sungguh menyesal. Aku tak ingin putus darimu. maka ayolah bersamaku lagi, baru kemarin kita tak bertemu sehari mengapa rambutmu cepat sekali gondrong,"tutur gadis itu setelah melepaskan pelukannya, berkata dengan panjang lebar, yang membuat Andres menggeleng samar dan ia tak mengerti apa yang diucapkan gadis itu.


"Kau siapa?"Andres bertanya agak sungkan, sementara gadis itu terlihat mengerenyitkan dahi.


"Apa?"


"Maaf, tapi kau siapa?"ulang Andres lagi seraya berdiri.


"Astaga, rupanya kau disini Li. Aku sudah mengatakan tunggu disana, mengapa kau sekarang disini. kau ini, membuatku cemas."serobot sesorang pria dewasa yang ternyata Bayu dengan nada panik, melihat hal itu semakin membuat Andres semakin kebingungan, karena ia sama sekali tak mengenali sosok mereka berdua. sementara Lia hanya tercenung, mencoba mencerna situasi.


"Hai,"sapa Bayu pada Andres, sok akrab.


"Hai juga, tapi apa sebelumnya kita pernah bertemu?"tanya Andres mencoba memastikan, dan mencoba mengingat-ingat kembali apa dia punya teman masa kecil di Jakarta?


"Hei, Li. kau mengenalnya? mengapa dia terlihat kebingungan?"bisik Bayu pada Lia, sementara Lia hanya menggeleng samar, dan Bayu pun tersenyum sopan pada sosok lelaki itu. Bayu pikir mungkinkah Lia terlalu banyak pikiran, sehingga ia salah mengenali sesorang. mengingat kini kondisi sang adik yang masih belum pulih, mungkin hal itu bisa berpengaruh juga.


"Oh.. Maaf, mungkin adik ku ini salah orang. maaf sekali lagi, ya."Bayu meminta maaf dengan sopan, sementara Andres hanya mengembangkan senyuman maklum.


"Ayo pergi dari sini,"bisik Bayu pada Lia sembari menarik pergelangan tangan adiknya itu yang masih saja tercenung."Maaf sepertinya kami harus bergegas, permisi."pamit Bayu yang disertai anggukan Andres, lalu Bayu dan Lia pun pergi meninggalkan lokasi.


"Ada-ada saja,"komentar Andres menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum tipis, kemudian ia pun duduk kembali.


Bayu menarik pergelangan tangan Lia untuk segera pulang, berhubung kafe sangat dekat dengan rumah maka mereka berdua pun hanya berjalan kaki. sebenarnya Bayu sudah bersikukuh agar Lia dibonceng saja menggunakan sepeda motor, namun Lia menolak. saat diperjalanan seperti ini, tiba-tiba saja Lia langsung menepis pelan tangan Bayu, dan ia pun langsung berhenti di tepi jalan.


"Ada apa?"tanya Bayu setelah ikut menghentikan langkahnya juga.


"Kakak bisa melihat dia?"Lia balik bertanya setelah ia sadar dari segala lamunannya.


"Dia siapa?"Bayu mengerenyitkan dahinya tak mengerti.


Lia berdecak."Lelaki tadi,"sahut Lia sembari berkacak pinggang.


"Tentu Li, aku bisa melihatnya. dia kan manusia. jika dia hantu, mungkin aku tak bisa melihatnya. kau aneh sekali,"jawab Bayu apa adanya.


"Apa?"


"Kau ini kenapa? kenapa begitu aneh,"tanya Bayu terheran-heran setelah mendapati ekspresi Lia yang berubah syok.


"Kenapa begitu mirip,"gumam Lia sebelum akhirnya ia termenung kembali.


"Kau bicara apa? aku tak mendengarnya,"Bayu berdecak gemas.


"Ah, tidak. lebih baik, kita segera pulang. aku mendadak tak enak badan,"Lia mengalihkan perhatian lalu meneruskan langkahnya lembali, mendahului Bayu.


"Dia aneh sekali,"desis Bayu curgia sebelum akhirnya ia menyusul Lia."Tunggu, Li."



Lia terduduk di kursi belajarnya, entah mengapa sosok lelaki di kafe itu semakin tercetak jelas di pikirannya. Lia, membuka laci meja belajar. dan mendapati photo Andra yang sengaja ia cetak sebagai kenang-kenangan, photo yang ia ambil dari akun media sosial facebook miliknya.



"Benar-benar mirip,"desis Lia tak habis pikir, bahkan kini buliran air mata yang meremang, seketika menetes membasahi pipinya.


"Aku rindu padamu, Andra. maafkan aku,"sesal Lia yang akhirnya sesegukan meratapi dukanya yang tak kunjung berakhir, karena Andra tak kunjung kembali. bahkan, entah ia pergi kemana.


"Bahkan aku tak tahu bagaimana caranya agar aku bisa kerumahmu. Sementara Mami mu yang mengenaliku kini sudah tiada, hubunganku belum sedekat itu. aku bingung sekali, apa yang harus aku lakukan."Lia menangis sembari meratapi photo Andra dengan jemari yang menelusuri photretnya.


Kenyataan, penyesalan memang selalu datang terlambat. berharap waktu bisa di putar kembali, dan mereka berdua bisa bersikap sedikit lebih baik. tapi, semuanya telah terjadi.


*****



"Andra, aku harap kau tenang di alam sana, kau tahu aku sangat merindukanmu. bahkan, aku selalu merindukan saat-saat kita bersama. Papi, Mami, Aku dan Kau. rasanya sangat aneh, sekejap kebahagiaan itu terenggut begitu saja. bahakan sebelum kita berjumpa dengan ragamu yang masih utuh. Andra, bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?"Andres menatap photo di dingding lalu menelusuri potret Andra dengan jemarinya. senyuman getir terulas, seketika Andres bersandar di dingding lalu terduduk dengan lemas, meratapi pilu yang kian berlarut-larut.


...Dan mengakhiri semua cinta yang telah ada...


...Tanpa ada rasa sesal di antara kita berdua...


...Kasih, sudahlah hapus air matamu...


...Kuingin kau merelakan semua yang terjadi...


...Karena mungkin semua itu sudah jadi takdir kita berdua...


...Meski hati ini sesungguhnya tak mampu...


...'Tuk melupakan dirimu yang telah kucintai...


...Namun mereka tak pernah mau mengerti...


...Akan cinta kita berdua...


...Perih, begitu pahit kisah yang kualami...


...Dan aku tak tahu lagi harus bagaimana...


...Mungkin perpisahan ini suatu jalan yang terbaik...


...Untuk kita berdua...


...Meski hati ini sesungguhnya tak mampu...


...'Tuk melupakan dirimu yang telah kucintai...


...Namun mereka tak pernah mau mengerti...


...Akan cinta kita berdua...


...Jika memang dirimu tercipta untuk diriku...


...Kuyakin suatu saat nanti...


...Kita bertemu kembali...


...Sumber: Musixmatch...


...Penulis lagu: Teguh Permana...


...Lirik Pahit © Pt. Sony Music Entertainment Indonesia...


"Andres, ini aku."suara berat itu tiba-tiba terdengar, membuat kepala Andres terangkat.


sepasang mata milik Andres terbelalak, mana kala ia menyaksikan sesuatu. sesuatu yang tak masuk akal, apa ini mimpi. Andres, menampar pipinya. rupanya berdenyut nyeri. ini nyata, ia bisa melihat arwah?


"Kau?"Andres berdiri dengan tatapan mata tak percaya.


"Kau melihatku?"tanya Andra dengan rasa bahagia.


"Apa? apa ini mimpi?"Andres tertawa seraya menghampiri Andra yang berada di hadapannya.


"Sungguh kau melihatku?"antusias Andra berkata berulang kali, seolah ia belum meyakini tentang Andres yang bisa melihatnya.


"Tentu,"sahut Andres dengan binar mata berkilat senang.


"Aku merindukanmu,"Andra langsung berhambur memeluk kakak kandungnya yang sangat ia rindukan.


"Aku juga,"Andres membalas pelukan itu lebih erat lagi, seiring dengan kerinduan yang sudah menumpuk dan memenuhi seisi ruangan kalbunya yang terasa sangat sesak. dan akhirnya terobati juga.


"Andra,"


"Andres,"


Mereka berdua hanyut dalam kerinduan, serta isak tangis haru yang menyayat hati. bagaimana bisa semua terasa sangat nyata sementara alam mereka berdua kini sudah berbeda. Apakah ini suatu hal yang ajaib? mengapa baru sekarang Andres bisa melihat Andra?