
Bayu berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya yang sempat goyah, karena anak buah yang berambut gondrong itu berhasil menjatuhkan tubunya ke lantai dengan kasar. Setelah sekuat tenaga berusaha bangkit, Bayu menempatkan kaki dengan tepat yang tidak dominan di depan. Memposisikan tangan setinggi leher, dan memiringkan tubuh menjauh dari lawan. Ini bertujuan untuk mengatur jarak antara ia dan lawan, serta melindungi kepala dan organ vital.
Lawan bergerak cepat dengan kakinya yang berusaha menerjang wajah Bayu. Namun, Bayu berhasil melindungi wajahnya dengan tangan. Serta mulut tertutup dengan merendahkan posisi dagu. Alhasil, ia berhasil melindungi tulang rawan diwajahnya termasuk hidung. Kemudian, ia menangkis tangan lawan dan seketika langsung mengambil kesempatan untuk memelintir otot-otot lengan sang lawan sampai berbunyi gesekan antar tulang yang terdengar begitu ngilu. Dan tentu saja karena hal itu sang lawan langsung menjerit kesakitan.
Krek!!
Seolah tak mau kalah pintar, maka lawan pun tak tinggal diam. Pria berambut gondrong itu menyeruduk tubuh Bayu setelah ia berhasil melakukan perlawanan, sehingga tubuh Bayu kehilangan keseimbangan seketika.
Setelah menyeruduk tubuh Bayu dengan kekuatan penuhnya, sang lawan langsung memanggul tubuh Bayu dengan sekali gerakan yang kasar dan ia pun langsung membanting tubuh Bayu dengan keras, sampai tubuhnya melayang ke udara untuk seperkian detik, lalu mendarat dengan kasar tepat pada meja bundar yang berisi hidangan yang terdapat barang-barang pecah, seketika meja serta apa yang ada di atasnya langsung porak-poranda.
Brakk!!
Punggung serta lengan Bayu terkena serpihan kaca yang menancap sehingga lengannya terluka dan meninggalkan robekan di jas nya. Melihat hal itu Lia langsung panik di bawah meja sana, dan tiada hentinya ia menangis penuh dengan kekhawatiran. Dan berusaha tenang dengan napas yang malah semakin terdenggal, dan tiada hentinya ia berdo'a agar semuanya selamat. Dengan apa yang terjadi Bayu berusaha untuk kembali bangkit, meskipun harus menahan nyeri yang berlipat-lipat. Sementara sang lawan hanya tertawa penuh kepuasan dengan memangpangkan ekspresi kemenangan yang congkak, padahal semuanya sama sekali belum berakhir.
Setelah berusaha untuk berdiri dengan cara tertatih-tatih, sepasang mata Bayu berubah kelam dan tajam. Rahangnya mengeras dan sebelum ia melontarkan pukulan menggunakan kepalan tangan yang didahului dengan buku-buku jari telunjuk dan jari tengah. Keduanya merupakan buku jari tangan yang paling kuat. Kepalan tangan tepat sebelum Bayu melepaskan pukulan, ia berusaha menjaga agar pergelangan tangannya tetap kuat, lurus, dan stabil.
"Hiyaaaaatt!!!"
Bugh!
Seketika Bayu melontarkan pukulan secara lebih keras tepat pada rahang milik sang lawan dengan menggunakan kepalan tangan yang dominan, tetapi ia juga berusaha mengelabuhi dengan cara mengunakan tangan yang tidak dominan jika memungkinkan, Ini membuat lawan sulit memprediksi gerakannya.
Ketika sang lawan langsung tersungkur, secepat itu pula Bayu langsung meraih kerah baju lawan dengan genggaman kuat penuh dengan amarah yang sudah tak terkendali.
Saat pukulan kedua akan di layangkan kembali oleh Bayu. Sang lawan berusaha membaca gerakan tangan Bayu kemana akan mendarat, ketika sang lawan menduga bahwa Bayu akan memukul pangkal hidungnya rupanya prediksinya melesat. Bayu malah mendaratkan pukulan dengan begitu kerasanya tepat di ulu atinya yang membuat dada sang lawan langsung sesak dan terbatuk-batuk menyemburkan darah segar dari dalam mulutnya.
Sementara Andres kini masih mencoba untuk mempertahankan diri, meskipun kini ia terbaring di ubin dengan di tindih Stefan di atasnya. Berkali-kali juga Stefan mendaratkan pukulan keras mengenai pipi kanan-kiri serta rahang dan juga pangkal hidung milik Andres sehingga mimisan. Namun, Andres dengan susah payahnya mengumpulkan tenaga dengan membalas serangan itu, meskipun efeknya sama sekali tak memberikan pengaruh yang besar untuk Stefan.
Bugh!!!
Bugh!!!
Bugh!!!
Peluh keringat membasahi rambut keduanya diiringi dengan napas ngos-ngosan, serta seringai jahat terpatri dari wajah Stefan saat ini.
"I do not recognize you and have no personal business with you. My time was wasted just because of this fight, I should have been able to bring my future wife Nabila within an hour and a half, but you and those two stupid ninja turtles got in the way. If you remain silent, you will be saved in return. If it's like this, don't blame me for killing all of you![Aku tidak mengenalimu dan tidak memiliki urusan pribadi denganmu. Waktuku terbuang percuma hanya karena pertarungan ini, seharusnya aku bisa membawa calon istriku Nabila dalam waktu satu setengah jam, tapi kau dan dua kura-kura ninja bodoh itu menghalangi. Jika kau tetap diam, kau akan diselamatkan sebagai balasannya. Jika sudah seperti ini, jangan salahkan aku karena membunuh kalian semua!]"ancam Stefan sambil terkikik, kemudian perlahan kedua tangannya menyentuh leher Andres bersiap-siap untuk mencekik.
Bughhh!!!
Tiba-tiba sang papi datang menyelamatkan setelah memukul punggung Stefan dari belakang menggunakan dua kepalan kuat lengannya, sehingga tubuh Stefan tumbang ke ubin sambil meringis kesakitan di sertai umpatan kesal.
"Papi,"desis Andres sambil terbatuk-batuk, akhirnya ia bisa bernapas lagi.
Sang papi tersenyum disela napasnya yang tersenggal, akibat kelelahan setelah mengalahkan lawan. Kemudian sang papi langsung mengulurkan tangan pada Andres, maka dengan cepat Andres langsung menyambut uluran tangan itu dan mencoba bangkit berdiri.
Disela itu sang lawan yang berhasil di taklukan oleh papi Andres kini tampak sadarkan diri. Setelah matanya terbuka lebar dan sadar dari apa yang telah terjadi, perlahan ia beringsut menampilkan seringai yang mengerikan. Saat Andres dan papi nya lengah, maka bagai kilat sang lawan langsung menusuk perut papi Andres dari posisi menyamping, menusuk menggunakan dengan pisau lipat di tangannya.
Srakkkkk!!!!
Akibat luka tusukan itu mengalirkan darah kental kemerahan yang mengucur pada ubin, luka tusukan itu memberikan sensasi nyeri yang luar biasa yang tak tertahankan, bahkan urat-urat leher papi Andres terlihat begitu tegang. Melihat kejadian mengerikan itu tepat di hadapannya tentu saja membuat mata Andres terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Semua orang yang menyaksikan termasuk orang-orang terdekat papi Andres langsung terkejut, dan mata mereka terlihat mulai meneteskan air mata.
"Ommmmmm,"teriak Lia di bawah meja sana menangis dengan menyayat hati.
"Tidakkk,"jerit Nabila yang masih terikat kuat di sana, ia tak kuasa menahan kemarahan yang bercampur kesedihan menyaksikan situasi yang terjadi yang begitu parah.
Melihat situasi yang semakin menegang, dan tidak tinggal diam kemarahan Bayu dan Andres semakin bertambah karena kemarahan mereka ada pada puncaknya.
"KEPARAT! DASAR KAU IBLIS! MATI KAU!!"Andres langsung menerjang si pelaku dengan kekuatan hebat, sampai si pelaku terdorong dan terpental pada dingding.
Bugh!!
Sementara Lia langsung berlari menekan rasa takutnya sedari tadi, yang terpenting ia bisa menyelamatkan papi Andres. Ia mendekat pada papi Andres yang terduduk lemas sambil memegangi perut yang semakin mengucurkan banyak darah, sambil tiada henti meringis kesakitan.
"Om, bertahanlah."suara Lia terdengar bergetar, setelah ia berada tepat di hadapan papi Andres.
Lia menarik ujung taplak meja bundar itu, dan kemudian menggigitnya agar taplak itu sobek dengan agak memanjang. Lalu, mengikatkan kain taplak itu di perut papi Andres, agar darahnya tidak terus-menerus mengalir. Jika darahnya di biarkan terus mengalir hal itu akan membuat papi Andres kehilangan banyak darah. Lia melakukannya berulang-ulang kali ini ia menarik taplak dan merobeknya lebih panjang lagi, dan mengikatkan di perut papi Andres semakin tebal kain maka darah pun akan semakin berhenti mengalir.
Melihat situasi yang semakin ada pada puncaknya, Stefan langsung bangkit dari posisi terbaring di ubin. Ia langsung berlari menghampiri Nabila, dan Nabila langsung terkejut karenanya. Belum sempat berteriak Stefan langsung menancapkan suntikan yang berisi obat bius pada leher Nabila, sehingga Nabila pun langusung lemas dan tak sadarkan diri.
Orangtua Nabila yang melihatnya, berusaha berbicara dan berontak. Namun karena ikatan tali yang begitu kuat dan lakban yang masih berada di mulutnya membuat mereka tak sanggup melakukan pertolongan pada anaknya. Stefan melepas belenggu yang ada pada Nabila, memanggul tubuhnya dan Stefan bersiap untuk melarikan diri.