
Lia menghela napas lega, akhirnya ia berhasil menyelesaikan ujian terakhir untuk hari ini. Senyuman mengembang di bibirnya, tak terasa dua minggu setelah liburan pengumuman kelulusan akan di umumkan.
Hari-hari yang di lewati berputar dengan sangat cepat, setelah lulus SMA Lia berniat untuk melanjutakan study ke universitas. Namun, ia belum sempat memutuskan pilihan ke universitas apa yang harus ia tempuh.
Setelah merasa puas mengecek semua jawaban-jawaban di lembar ujian, maka Lia memutuskan untuk segera mengumpulkan lembaran ujian itu kepada Bu Ani selaku pengawas. Kaki Lia melangkah kedepan, di ikuti satu persatu para murid yang ikut mengumpulkan lembar jawaban mereka.
Setelah Lia kembali duduk di bangku, tampaknya Bu Ani sudah meninggalkan ruangan karena semua murid kini mulai riuh.
"Li, nomor lima sulit juga, ya?"tanya Sania yang duduk satu baris di depan Lia kini berbalik kearahnya.
Sania adalah teman lama Lia, sebelum Lia pindah ke kota Jakarta. Setelah Lia kembali ke kota Bogor, dan balik ke sekolah ini lagi, secara otomatis Lia takkan kesulitan untuk ber-adaptasi.
Lia mengangguk setuju."Iya, sulit. Tapi, untung saja aku masih ingat rumus nya, Jadi aku bisa mendapatkan jawaban yang tepat."Lia kemudian tersenyum manis, membuat Sania mengerucutkan bibirnya.
"Pasti kau rengking satu,"goda Sania seketika.
"No,"geleng Lia cepat, entah mengapa mendengar kata renging satu Lia mendadak bergidig, mungkin ia masih trauma akan kejadian kasus Semmy.
"Why? kau ini murid berperstasi, dulu saat masih kelas satu kau selalu rengking satu dan aku yakin setelah lulus, kau bisa masuk ke universitas terbaik. Percaya padaku,"kata Sania yakin.
"Sudah ah, pulang yuk!"Lia langsung beranjak menuju loker untuk mengambil tas, begitu pula dengan Sania.
Setelah selesai mandi, Lia langsung melemparkan tubuhnya ke ranjang kasur. Merebahkan diri dengan begitu nyaman sambil bermain ponsel.
Mendadak kening alis Lia bertaut bingung, mendapati potret berduaan yang memberi tag pada akun facebook milik Andres.
Apalagi potret itu di beri capttion yang menohok, membuat sepasang mata Lia langsung terbelalak.
~Miss you so muach, akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama. Pelukkkkk,~
Deg!
Seketika, Lia merasakan dadanya seperti di tusuk benda tajam yang tak kasat mata. Rasanya aneh, tapi entah mengapa hal itu membuat Lia merasa tak nyaman.
Entah atas dasar apa, Lia segera menghubungi Andres dengan menelephone nya via WhatssApp.
Di layar tertera 'Berdering' itu artinya bahwa datanya dalam keadaan aktif saat di hubungi. Tidak biasanya Andres sulit untuk di hubungi, ketika ia menelephone biasanya Andres selalu segera mengangakat. Tapi, kali ini berbeda. Berkali-kali di hubungi tapi tak ada jawaban.
Lia pun memutuskan mengirmkan chat pada Andres, siapa tahu Andres nanti akan membalasnya.
Rasa penasaran itu kembali hadir, maka Lia langsung mengklik Akun facebook yang menandai Andres di facebook dengan nama akun bernama Nabila Saraswati, setelah menstalking rupanya akunnya di private, tidak ada postingan lain selain kapan ia memulai kuliah, dengan tertera negara Australia.
Seketika Lia langsung menyimpan ponselnya di nakas, kemudian berbaring terlentang dengan kedua mata menatap langit-langit kamar, pikiran Lia masih memikirkan siapa perempuan itu. Namun, tampaknya mata Lia kini langsung terlelap.
Tak terasa waktu berubah gelap, Lia membuka mata dan melihat jam dingding sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Lia mengucek matanya dan menggeliat, tidak seperti biasanya ia tidur sepanjang ini. Mungkin karena kelelahan dengan aktivitas dan cuaca panas membuatnya mengantuk berat.
Lia meraih ponsel di nakas, berharap Andres menjawab chat nya. Namun, nyatanya harapannya gugur karena Andres hanya membaca chat tanpa balasan.
Lia langsung bangkit dari posisinya sebelumnya, dan melihat status WhatsApp Andres. Rupanya Andres sedang jalan-jalan dengan perempuan itu dari pagi, dan mungkin sore ini pun mereka masih bersama. Status online di WhatssApp rupanya tak menghiraukan chat bahkan miscall dari Lia.
Entah mengapa mendadak hatinya berubah resah, cemas, dan membuat mood nya berantakan. Lia beringsut, lalu melempar ponselnya ke kasur dengan helaan napas kesal, lalu pergi dari dalam kamar.
Sudah hampir petang terlihat Andres dan seorang perempuan sedang berada di kafe. Perempuan itu masih saja tertawa lebar, seperti begitu menikmati suasana. Sementara Andres hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal itu.
"Jangan bajak ponselku, Nabila."kata Andres disela tawanya.
"Ya, terserah kau."pasrah Andres mengedikan bahu singkat, seraya tersenyum.
"First of all, I'm sorry to hear about the passing of your mother, and your younger brother. sorry, I just said it through chat at the time. I have some businesses that I'm having a hard time leaving. and I didn't expect Andra' death to be so tragic, and your mother's sudden death. I'm sad too."ungkap Nabila dengan senyum sendu.
"Aku mengerti posisimu, Nabila. Mami dan Andra sekarang sudah bahagia di surga dan mereka sudah tenang. Begitupun aku dan papi, kami cukup merasa lebih baik sekarang,"ucap Andres sedikit rapuh. Untuk menguatkan Andres, Nabila pun langsung menggenggam tangan Andres yang berada di atas meja.
"Itu pasti sulit bagimu,"desis Nabila memahami perasaan rapuh Andres saat ini.
"At first I found it difficult to accept fate, but now I have let go of that burden."
"Apa gadis itu berperan penting untukmu?"tanya Nabila dengan mengangkat satu alisnya seraya tersenyum, membuat Andres sedikit malu, lalu Andres mengangguk pelan.
"Sangat berperan penting dalam hidupku,"kata Andres dengan kalimat penekanan dengan rasa bangga.
"When will I meet that special girl of yours? Really, I feel impatient."tanya Nabila dengan binar mata antusias.
"Saat ke pesta mu, aku berjanji akan mengajaknya, kau pasti akan menyukainya. Karena dia begitu baik,"ujar Andres lalu tertawa ringan.
"So that's why you like that girl? I'm sure not only is she nice, she's also very beautiful. Right?"terka Nabila setelah menandaskan jus jeruk di sampingnya, lalu menatap wajah Andres lagi yang terlihat tersipu.
"One hundred percent, your guess is correct."sahut Andres, membuat Nabila tertawa.
"Waw, berarti kau beruntung bisa bertemu dengannya,"komentar Nabila memuji.
"Sangat beruntung,"setuju Andres sambil menganggukan kepala.
"Ya, aku percaya itu."
"Dan kau, kapan akan menikah?"tanya Andres menjebak, membuat Nabila memutar bola mata seketika dan Andres langsung tertawa ngakak, melihat perubahan ekspresi Nabila yang mendadak muram.
"Aku baru saja berusia 25 tahun, aku masih ingin berkarir Andres. Bahkan, pacaran pun aku masih berpikir berulang-ulang."ucap Nabila lalu menghela napas panjang.
"Kenapa kau tidak membuka hati untuk pria lain? kenapa kau memilih untuk singgle, bahkan kau putus semenjak kelas satu SMA dan sekarang kau sudah 25 tahun. Bukannya kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini?"
"Karena aku menyukaimu, maka aku memutuskan untuk tidak menikah!"
"Apa?"tanya Andres sekedar memastikan apakah ia tak salah dengar apa yang Nabila katakan barusan.
"Dan kini aku di buat patah hati olehmu, karena ternyata di hatimu ada gadis yang lain,"
"Apa?"ulang Andres lagi terheran-heran.
"Tapi, apa yang aku ucapkan barusan adalah kalimat bohong,"jahil Nabila yang langsung tertawa terpingkal-pingkal mendapati wajah Andres yang berubah pias.
"Oh, gila. Rupanya kau hanya bercanda?"Andres terperangah lalu ikut tertawa tak habis pikir dengan lawakan yang dilakukan Nabila barusan.
"Jika aku serius memangnya kau ingin menikahiku?"goda Nabila lagi dengan binar jahil.
"Kita kan sahabat dari kecil,"sahut Andres lalu mereka berdua pun tertawa bersama.