Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Minta ma'af pada Andres?"


"Pagi, Lia nya ada?"sambut seseorang itu dengan sopan.


Mendengar namanya di sebut, maka kepala Lia pun langsung menyembul dari belakang punggung Bayu. Berusaha mengintip, dan Lia terpaku setelah melihat sosoknya.


"K-kau?"Lia menatap sosok itu dengan ragu-ragu, serta berusaha mengingat-ngingat sosok nya. Apakah ia sungguh mengenalnya atau tidak?


"Anda siapa, ya?"tanya Bayu penasaran.


"Maaf sebelumnya, saya kurir dari Ladshop ingin mengantarkan paket untuk Mbak, Lia."ucap seseorang itu yang ternyata adalah seorang kurir dari online shop, yang membuat Lia dan Bayu menghela napas panjang, pantas saja wajahnya asing. Rupanya dia seorang kurir.


"Iya saya sendiri, Lia. Tapi, saya tidak merasa bahwa saya memasan paket dari online shop,"kata Lia bingung sembari menatap sekilas paket itu di tangan si kurir muda.


"Maaf, tapi alamat yang tertera di sini memang merujuk pada rumah ini. Dan untuk pembayaran sendiri sudah di transfer oleh pemesan, yaitu Mbak Lia."Si kurir langsung menyerahkan paket itu pada Lia, Lia langsung melirik kearah Bayu namun Bayu hanya mengedikan bahu, mengisyaratkan bahwa itu adalah hak Lia untuk menerimanya atau tidak.


"Baiklah, sebelumnya terimakasih ya, mas."akhirnya Lia menerima paket itu, si kurir mengangguk lalu pamit pergi.


Setelah masuk kembali kedalam rumah, Lia dan Bayu menatap bungkusan paket itu di atas meja. Mencoba menimbang-nimbang apakah paket itu harus segera di buka? tapi, mereka berdua benar-benar ketakutan. Takut, si pengirim adalah orang iseng yang mengerikan. Berhubung bukan dirinya yang memesan.


"Li, apa kau tidak curiga bahwa isi paket itu adalah bom?"tanya Bayu dengan tatapan resah.


"Aish, jangan menakut-nakutiku!"Lia menyikut Bayu yang duduk disebelahnya.


"Coba lihat apa deskripsi paket itu,"usul Bayu mengedikan dagu ke arah paket yang masih tergeletak di meja.


"Ayolah, kak. Kau adalah kakak ku, jika kau sama penakutnya denganku, untuk apa kau selalu bilang ingin menjagaku. Bagiamana jika itu bom sungguhan, lalu meledak tepat di depanku, dan wajahku langsung hancur?"tatap Lia tajam.


Bayu hanya bisa menghela napas pasrah, ia tak punya pilihan, maka ia meraih paket itu.


"Deskripsinya dress. Hah? dress?"Bayu membaca lebel yang tertera di paket itu, lalu menatap Lia yang sama bingungnya.


"Cepat buka,"suruh Lia tak sabaran.


"Aku takut ini bom,"bisik Bayu membuat Lia seketika langsung mendelik.


"Baiklah, biar aku saja yang membuka paket ini, jika ini bom akan ku lempar padamu seketika, lalu aku akan kabur,"Lia mencabik dan langsung menyambar paket itu dengan rasa kesal terhadap Bayu. Sementara Bayu hanya nyengir kuda.


Lia membuka bungkus paket itu dengan cepat, dan menghiraukan segala ketakutan sebelumnya tentang pikiran negatif bahwa paket itu berisi bom.


Mata Lia membelelak, setelah membuka isi paket itu. Dress yang sangat cantik, cocok untuk pergi ke pesta yang meriah. Dress berwarna mocca, siapa gerangan sosok yang pandai memilih model dress se-anggun ini. Dan yang membuat Lia heran untuk apa si pemesan mengatas namakan dirinya, dan apa tujuannya.


"Waw.. dress yang cantik,"komentar Bayu seperti terpukau."Pasti harganya mahal,"Bayu terlihat menggeleng-gelengkan kepala, namun Lia tak menghiraukannya karena ia masih fokus pada dress itu.


Tiba-tiba notifikasi WhatsApp nya terdengar. Membuat fokus Lia seketika teralihkan.



Lia langsung melemparkan ponselnya di sofa, menghela napas kesal setelah mengetahui siapa pengirim paket itu sebenarnya. Siapa lagi jika bukan Andres, memang Lia berterimakasih pada Andres karena selalu ada di saat ia terpuruk, dan rela menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengurusinya saat ia berada di rumah sakit saat itu. Tapi, itu semua tidak menjamin bahwa Lia memaafkan Andres setelah apa yang Andres lakukan padanya. Mencium bibirnya, tanpa persetujuannya. Dan itu membuat Lia marah sampai detik ini.


"Siapa, Li?"tanya Bayu penasaran.


"Bukan siapa-siapa."jawab Lia kecut.


"Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?"tanya Bayu heran.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,"jawab Lia acuh, setelah meletakan dress itu begitu saja.


"Kau tidak suka dress nya?"tanya Bayu beralasan.


"Jika kau mau, ambil saja untukmu,"ucap Lia yang langsung di sambut tawa oleh Bayu, dan menurutnya itu konyol.


"Untuk apa aku membutuhkan dress ini, jangan harap aku akan memakainya."kekehnya.


"Untuk kekasihmu mungkin, atau siapapun whatever,"Lia mengedikan bahu acuh, dengan kepala bersandar di sofa sembari memainkan ponsel.


"Aish, aku curiga. Pasti yang mengirim dress ini Andres 'kan?"Bayu menerka sembari menyipitkan kedua matanya.


"Menurutmu siapa lagi jika bukan si kutukupret,"sahut Lia dengan pandangan tak beralih sedikitpun dari LCD ponselnya.


"Ya, menurutmu aku harus membalas budi?"kali ini Lia melirik kearah Bayu untuk sesaat, sebelum akhirnya ia kembali fokus pada ponsel di tangannya.


"Setidaknya kau jangan mengabaikannya terus, Andres itu baik padamu. Kurang apa dia? jika aku jadi perempuan, aku pasti mau jika Andres menjadi pacarku."seloroh Bayu membuat bibir Lia berkedut menahan senyum.


"Kalau begitu kenapa kau tidak pacari saja Andres?"Lia menatap Bayu kali ini, setelah meletakan ponselnya di sofa.


"Kau pikir aku pria macam apa? dasar payah,"protes Bayu yang membuat Lia seketika tertawa.


"Ya, oke sorry."kata Lia setelah tawanya terhenti.


"Jangan mengabaikan Andres, kasihan dia."saran Bayu membuat Lia berpikir sejenak.


"Menurutmu jika seorang lelaki mencium bibir seorang perempuan tanpa setatus yang jelas, apa itu bisa di klaim pelecahan?"tanya Lia tiba-tiba membuat kening alis Bayu mengerenyit.


"Wah, magsudnya apa nih?"Bayu tertawa ringan.


"Please, jawab."pinta Lia sembari menggigit bibir bawahnya resah.


"Jangan bilang kalau kau dan Andres pernah ciuman,"tatap Bayu menyipit curiga.


"Tapi dia duluan,"sambung Lia cepat, aish Lia langsung membungkam mulutnya yang keceplosan, padahal ia tak bermagsud untuk menceritakan hal itu pada Bayu, sungguh memalukan.


"Apa?"kejut Bayu.


"Aku bukan yang pertama melakukannya, aku serius, percaya padaku. Saat itu mungkin kami berdua terbawa suasana, jadi kami ciuman. Aku tak kuasa menahannya, karena kejadiannya begitu cepat, maka aku malah membiarkannya. Tapi, Andres yang memulainya lebih dulu, bukan aku,"bisik Lia bercerita dengan gemetar, sudah terlanjur bercerita tak ada gunanya juga menyangkal. Bayu sudah cukup dewasa pasti ia mengerti itu.


"Andres mengancamu?"tanya Bayu waspada.


Lia menggeleng kuat."Tidak sama sekali. Mungkin kami hanya terbawa suasana dan bodohnya aku tak menghentikannya,"jawab Lia jujur apa adanya.


"Lalu, untuk apa kau marah pada Andres? bahkan kau membalas ciuman itu 'kan?"


"Tapi,"


"Itu bukan pelecehan, Li. Jelas kau sama-sama membalas ciuman itu, lalu mengapa kau harus memusuhi Andres seperti ini. Kau tahu, itu tak adil bagi Andres,"ujar Bayu menggeleng-geleng kepala dengan tingkah sang adik yang tampak konyol.


"Tapi kita teman dan kami berciuman, apa itu tidak aneh?"gundah Lia menghela napas panjang.


"Ya sudah, minta saja pada Andres untuk merubah setatus kalian. Bilang saja itu adalah sebagai bentuk tanggung jawab atas ciuman yang terjadi,"saran Bayu dengan begitu santai.


"Apa? kau sudah gila?"protes Lia tak setuju.


"Aku mencari jalan keluar untukmu, Li. Jika kau tidak setuju ya sudah, abikan saja saranku."Bayu mengedikan bahu santai.


"Kenapa kau sesantai itu?"Lia berdecak gemas.


"Ciuman adalah hal wajar, apalagi jika saling membalas satu sama lain. Kau tidak melakukan lebih dari itu 'kan?"tanya Bayu mengintrogasi.


Lia langsung menggeleng kuat."Kau gila, aku tidak serendah itu,"tepisnya.


"Ya sudah, minta maaf pada Andres karena kau sudah mengabaikannya,"kata Bayu setelah ia bangkit berdiri.


"Apa?"kejut Lia seketika.


"Minta maaf pada Andres, Li."ulang Bayu dengan suara agak jauh karena ia sudah berjalan menuju area dapur.


Lia menghela napas panjang."Aish, aku gengsi sekali melakukannya. Pasti Andres akan tertawa meledekku di sebrang sana."Lia berdecak, lalu mengacak rambutnya bimbang.