Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Ayo, kita pulang."


Lia terus berlari dan hampir akan jatuh, jika saja ia tak berpegangan kuat pada ranting pohon maka ia akan jatuh tersungkur kedasar jurang tepat di depannya. Napas Lia semakin tak beraturan serta peluh keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Setidaknya, Lia masih bisa bernapas lega karena ia masih bisa selamat, lalu ia pun berjalan mundur menghindari jurang.


"Bolehkan aku membantu mendorongmu kesana, Li?"bisik jelmaan iblis berupa Andres tiba-tiba saja ada dibelakang Lia, yang membuat Lia terkesiap, karena tangan si iblis yang mencengkram leher Lia begitu kuat.


"L-lepaskan,"Lia hampir kehilangan napas saat itu juga, namun iblis itu sama sekali tak mau melepaskan cekikan itu. Si iblis malah semakin mengeratkan cengkramannya dengan kedua tangannya yang tiba-tiba saja berubah memanjang, kemudian mengangkat tubuh Lia sehingga kaki Lia pun melayang ke udara sementara si iblis terkikik puas.


"KAU HARUS MATI!!!"teriaknya sekuat tenaga sehingga rambut milik Lia yang terurai ikut tertiup kencang.


Badan Lia bergetar, keringat dingin bercucuran teramat deras, bahkan matanya tak bisa melihat celah untuk ia melepaskan diri, bahkan teramat sulit untuk melihat apa yang ada dalam jarak kurang lebih satu meter, dan bahkan kepanikan yang kini tengah melandanya sulit untuk diajak berpikir. Apalagi napas nya kini semakin terasa sangat begitu sesak.


"Lepaskan, Lia!!"tiba-tiba terdengar seruan dari sosok Andra berada tepat di belakang si iblis.


"Terkutuk kau!"iblis itu marah pada Andra, lalu melempar tubuh Lia ke rerumputan dari ketinggian satu meter.


Lia tersungkur, dadanya terasa dihantam benda tumpul membuat ia terbatuk-batuk sekaligus menahan denyutan yang terasa begitu nyeri.


Cahaya menyilaukan keluar dari tubuh Andra seketika. Membuat pandangan si iblis sedikit mengabur.


"Lia ayo lari!!"perintah Andra berteriak, sebelum tubuhnya melebur menjadi partikel-partikel kecil lalu menghilang dengan sekejap.


Dengan cepat Lia berusaha bangkit meskipun terasa sulit, tapi ia harus bekerja keras agar ia selamat.


Lia terus berlari dengan napas serta keringat yang semakin tak karuan, hawa panas semakin menjalar pada tubuhnya.


Bahkan Lia berusaha keras menghindar dari kejaran si iblis yang sama sekali tak menyerah untuk mendapatkan dirinya.


Akar pohon yang menjalar tersembunyi dibalik rerumputan lebat nan hijau, membuat kakinya tersandung dan tubuhnya terpanting kedepan, bahkan bahunya ikut terkilir akibat jatuh terlalu keras dan tangannya mendarat dengan posisi yang salah.


"LIA KAU AKAN MATI DI TANGANKU, AKU MENGINGINKAN MU, AKU MENYUKAI AROMA DARAHMU YANG MENGUCUR DI ASPAL, KEMARILAH!!!"si iblis berteriak lantang dan suaranya semakin mendekat.


Lia ketakutan maka ia memaksakan diri untuk kembali bangkit, tak peduli tubuhnya yang merasa sangat begitu kelelahan.


"Hah...hah...hah."napas Lia terengah-engah setelah berlari bermeter-meter, tubuhnya membungkuk memegang kedua lutut. Bahkan rasa sakit di bahunya semakin berdenyut nyeri.


"LIA!!!"


"Aaaaaaa..."


Sebelum si iblis menyeret kaki Lia, rupanya Lia bergerak lebih cepat dengan melompat ke sembarang arah. Sehingga kakinya terperosok, lalu tubuhnya terguling kedasar jurang, namun tidak terlalu curam.


Tubuh Lia seketika berhenti berguling, setelah kepalanya menyentuh batu besar. Perlahan Lia berusaha beringsut, memijat kening yang sedikit pusing akibat benturan. Kemudian melihat sekeliling yang mulai semakin gelap dan curah hujan pun turun, membasahi seluruh tubuh. Dan tentu membuatnya semakin ketakutan dan bersedih meratapi nasibnya yang nestapa.


"Andra, Andres, kalian dimana?"Lia mulai sesegukan, membiarkan air mata menerobos keluar sederas mungkin.


Kesedihan yang sama sekali tak bisa di bendung lagi, dan hanya bisa meratapi diri dengan memeluk lutut dan mengeratkan pelukan untuk tubuhnya yang semakin melemah kehabisan tenaga.


"Li, aku disini."suara parau itu tiba-tiba terdengar, membuat Lia terkesiap menatap sosok nya yang tengah berdiri dengan basah kuyup.


"K-kau siapa?"Lia tergagap ketakutan dengan menyeret tubuhya untuk bergerak mundur.


"Li, tenangkan dirimu. Aku Andres,"sosok yang disebut Andres itu langsung berjongkok didepan Lia.


Lia menggeleng tak percaya dengan isak tangis yang semakin terdengar, meskipun suara hujan turun tak kalah berisik.


"Kau bukan Andres, kau iblis."ucap Lia lirih nada pasrah.


"Jika kau memang menginginkan aku, silahkan ambillah nyawaku,"tangisan Lia semakin pecah dengan kalimat bernada putus asa dan memasrahkan diri.


"Li,"bisik Andres mencoba menenangkan Lia dengan satu tangan terulur mencoba untuk merengkuh pipi Lia. Namun, seketika Lia langsung menepisnya kasar.


"BUNUH AKU SEKARANG JUGA!"bentak Lia meluap-luap.


"Li, tenangkan dirimu."Andres langsung berhambur memeluk tubuh Lia dengan begitu kuat.


"Kau iblis, kau iblis."Lia memukul punggung Andres berkali-kali sambil menangis tiada henti.


"Pukul aku semaumu, Li. Jika itu bisa membuatmu percaya bahwa aku memang Andres yang sesungguhnya."desis Andres mencoba terus mayakini Lia yang masih saja tak mempercayainya.


"Kau jahat, kau jahat,"racau Lia, kali ini pukulannya mendadak lemah tak sekeras tadi.


"Aku bersusah payah mengejarmu sampai kesini dan semua itu tak lepas dari bantuan Andra. Ayolah Li, kita pulang."bujuk Andres setelah melepaskan pelukan itu.


"Tapi bagaimana dengan Andra? aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, aku rindu padanya, pertemuan kami tadi sangat begitu singkat, aku ingin pulang bersamanya juga, aku---"cerocos Lia dengan binar mata sendu, dengan cepat Andres langsung menghentikan pergerakan bibir Lia dengan telunjuknya.


"Li, dengar. Tolong dengarkan apa kataku, Andra takan pernah kembali, kau bilang kau sudah merelakannya, tapi kenyataannya apa? jika kau masih bersikap seperti ini, Andra takan pernah bahagia. Apa kau tega melihat Andra terus bersedih? meskipun dia masih terlihat tampan dan bersih, apa kau tidak melihat matanya yang begitu hitam, Li? kau tahu itu artinya apa? dia bersedih, sama seperti dirimu, dia meraskan apa yang kau rasakan, jika jantung bumi itu adalah hutan, maka bagi Andra kau adalah hutan itu. Kau mengerti magsudku 'kan, Li?"seloroh Andres panjang lebar dengan menatap sepasang mata Lia yang kelam oleh duka.


"Andres kau tahu ini pasti sulit,"desis Lia terisak-isak.


"Li, aku selalu mengerti apa yang kau rasakan. Kau sulit melupakan Andra aku tahu itu, aku tak pernah menyuruhmu untuk melupakannya. Andra adalah kenangan, dan kau hanya cukup untuk merelakannya pergi, itu saja."Andres menatap wajah Lia dengan kedua tangannya berada di bahu Lia. Dan mencoba berbicara halus dan bersikap tenang untuk menghadapinya dan untuk meyakinkannya. Semua itu tiada lain adalah untuk kebaikannya.


"Andres, aku minta maaf padamu."sesal Lia dengan bibir bergetar dan air mata yang meremang di bola matanya.


"Kau tidak bersalah,"sahut Andres berusaha tersenyum.


Hening.


Hanya suara gemericik air hujan yang terdengar, serta angin malam yang menusuk tulang. Membuat tubuh Lia mengigil kedinginan. Lalu, kedua matanya menatap wajah Andres lamat-lamat, dan seulas senyuman kecil terkembang dari bibirnya.


"Andres,"


"Hm?"


"Kita pulang sama-sama, ya?"ajak Lia dengan tatapan berbinar cemerlang menggantikan tatapan suram sebelumnya, Dan tentu saja langsung di samput Andres dengan senyuman lebar dan wajah berseri.


Andres mengangguk."Tentu,"ucapnya setuju.