
"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Ron sambil mendudukan dirinya di dekat Ayu saat baru saja tiba di ibukota.
Ia sengaja tidak pulang ke rumah utama dan lebih memilih tinggal sementara di rumah Mike. Selain untuk menghindari intimidasi dari momnya yang selalu memaksanya untuk menikah, juga agar ia bisa dekat dengan sang pujaan hati setiap saat.
"Ehemmmmm!" Mike yang menyaksikan adegan romantis antara Ron dan Ayu di ruang keluarga langsung berdeham.
"Ada apa?" Ron menatap kakak sepupunya dengan kesal.
"Ingat ya, kalian itu belum menikah, jadi jangan berani-berani kau menyentuh Ayu sebelum waktunya!" Mike memberi peringatan.
"Ck, bawel sekali sih kau?" Ron berdecak kesal.
"Aku bukan bawel, hanya mengingatkan bahwa pria sejati itu akan selalu menjaga kehormatan dirinya dan juga pasangannya!" Mike berkata dengan lugas.
"Kau tidak perlu repot-repot mengingatkanku, aku sudah tau batasannya!" Ron menatap dengan tajam.
"Cih, dasar bocah tengik!" Mike mencibir.
"Sudah-sudah, kenapa sih kalian ini kalau bertemu selalu saja seperti anjing dan kucing?" Ananda dibuat pusing.
"Kakak ipar, kau kenapa bisa tahan sih punya suami menyebalkan seperti dia?" Ron menunjuk Mike dengan menggunakan bibirnya.
"Seharusnya itu pertanyaanku untuk Ayu, kenapa dia bisa jatuh cinta kepada bocah tengik sepertimu!" Mike membalas.
"Sudah, kenapa malah mulai lagi sih? ayo yah kita ke kamar sudah malam, kalian juga istriahat ya, jangan terlalu larut tidurnya!" Ananda mengajak semua orang untuk tidur, karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Gaby dan Raf bahkan sudah tidur sejak dua jam lalu.
"Selamat malam kak" kata Ayu.
"Selamat malam dek" balas Ananda sambil berjalan bergandengan tangan dengan Mike menuju kamar mereka di lantai dua. Sementara Ron dan Ayu masih bertahan di ruang keluarga untuk sejenak melepas rindu karena sudah hampir satu Minggu mereka tidak bertemu.
..........
"Mom, come on!" Ron merajuk saat mendengar nyonya Ruth hendak menjodohkannya kembali dengan gadis pilihannya.
"Ayolah Ron, mau sampai kapan kau melajang? usiamu sudah lebih dari cukup, cepat kembali ke ibukota!" nyonya Ruth membujuk melalui sambungan telpon. Ia belum tau kalau ternyata Ron sudah memutuskan untuk pindah ke ibukota dan bekerja di kantor pusat bersama Mike.
"No, aku tidak mau, sudah ku bilang berapa kali kalau aku hanya akan menikah dengan gadis yang aku cintai!" Ron memberi penegasan.
"Tapi Ron!?" nyonya Ruth mulai kecewa.
"Sudah ya Mom, aku tutup dulu telponnya, bye Mom, i love you so much!" Ron kemudian mematikan sambungan telponnya.
"Hey, tunggu, hallo, hallo!?" nyonya Ruth berteriak frustasi.
"Bagaimana?" tanya nyonya besar saat nyonya Ruth menaruh ponselnya di atas meja dengan kasar.
"Seperti yang kakak lihat, dia begitu keras kepala" jawabnya lesu.
"Halo Mike, apa kau sedang repot?" nyonya besar menghubungi putranya.
"Tidak, ada apa?" Mike bertanya dengan datar.
"Apa kau bisa membantu Mama?" tanya nyonya besar.
"Membantu apa?" Mike penasaran.
"Tolong pertemukan kembali auntymu dengan Ron, ada yang ingin aunty bicarakan dengannya!" jelas nyonya besar.
"Ada apa lagi?" tanya Mike pura-pura tidak tau apa-apa.
"Auntymu ingin kembali menjodohkan Ron dengan gadis pilihannya" jawab nyonya besar.
"Apa belum jera?" Mike sebenarnya sudah tau kalau yang hendak di jodohkan dengan Ron adalah Ayu, namun sesuai prinsipnya ia tidak mau ikut campur terlalu dalam.
"Sudahlah, intinya tugasmu hanya perlu mempertemukan mereka berdua saja!" kata nyonya besar.
"Kalau begitu, datanglah hari Minggu besok ma, aku pastikan Ron akan menemui Aunty dan berbicara padanya!" kata Mike dengan santai.
..........
"Anak kurang ajar, kenapa kau tidak bilang sejak awal?" nyonya Ruth terus saja memukuli putranya saat sudah mengetahui bahwa gadis pilihan Ron adalah Ayu.
"Mom kan tidak pernah tanya siapa gadis yang aku cintai, Mom hanya terus memaksaku untuk menikah dengan gadis pilihan Mom!" Ron terus menghindar dari pukulan momnya.
"Lalu kenapa kau juga tidak bilang kalau sudah pindah ke ibukota? kenapa malah tinggal di sini dan tidak pulang ke rumah utama?" nyonya Ruth terus saja memukul punggung Ron tanpa ampun.
"Mom sakit!" Ron meringis karena pukulannya sangat perih.
"Aunty, sudah jangan dipukuli terus, bukankah seharusnya aunty bahagia karena ternyata pilihan kalian sama?" Ananda menengahi.
"Aku memang merasa bahagia, tapi rasa kesal dan marah ku saat ini lebih besar" kata nyonya Ruth menggebu-gebu.
"Mom kalau kau terus memukulku, aku bisa mati" Ron tidak melawan sama sekali.
"Jangan berhenti aunty, aku mendukungmu!" Mike malah memprovokasi dengan mengulum senyumnya.
"Hey kau kakak macam apa? dasar brengsek!" Ron kini menatap kesal kepada Mike sambil terus menghindari pukulan momnya.
"Sudah Ruth, sudah, bukankah sekarang lebih baik kita pikirkan rencana kedepannya? apakah ingin bertunangan dulu atau langsung menikah?" Akhirnya nyonya besar berhasil menghentikan nyonya Ruth.
Sementara Ayu yang menjadi topik pembicaraan hanya bisa melihat kejadian itu dalam diam dan bingung.