Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Curahan Hati Seorang Suami


"Sayang apa kau belum kenyang juga? ini kan sudah piring ketiga!" tanya Ron saat mereka sedang makan bersama di rumah utama.


Ron selalu heran dengan pola makan sang istri belakangan ini. Sejak hamil Ayu memang menjadi lebih banyak makan, porsinya pun bertambah tiga kali lipat dari biasanya. Kandungannya yang kini beranjak lima bulan pun sudah jauh terlihat lebih besar dibandingkan kandungan Ananda yang sudah delapan bulan.


"Kak, aku ini makan untuk tiga nyawa sekaligus, kalau aku makan hanya satu piring yang ada aku bisa pingsan, apa kau mau anak-anakmu jadi busung lapar?" Ayu selalu kesal dengan suaminya yang selalu protes melihatnya makan lebih dari satu piring.


"Tapi sayang, memangnya tidak begah?" Ron tetap tidak habis pikir.


"Mommmmm" Ayu yang belakangan ini lebih suka tinggal di rumah utama ketimbang di rumahnya sendiri merajuk pada ibu mertuanya untuk mencari pembelaan.


"Ron, kau ini kenapa sih? suami yang lain justru akan memberikan semua yang diinginkan istri mereka saat hamil, kenapa kau ini jadi suami pelit sekali hah?" nyonya Ruth yang sejak dahulu ingin memiliki seorang anak perempuan sangat senang ketika Ayu bermanja-manja padanya dan selalu membela menantunya itu jika sedang berdebat dengan Ron.


"Iya Mom, baiklah, maaf!" akhirnya Ron memilih diam jika sudah diserang oleh kedua wanitanya.


..........


"Ada apa dengan wajahmu?" Mike yang baru saja datang bersama keluarganya langsung duduk di hadapan Ron yang sedang termenung di halaman depan. Sementara Ananda dan Gaby serta Raf masuk ke dalam ruang keluarga menemui nyonya Merlyn, nyonya Ruth dan Ayu.


"Belajarlah menjadi suami yang peka, istri yang sedang hamil itu memang sangat ajaib, kau harus sabar-sabar menghadapi kejutan demi kejutan yang diberikan istrimu. Asal kau tau ya, dulu waktu Ananda mengandung Raf, aku rela membeli semua yang diinginkannya kemana pun itu, meskipun pada akhirnya ketika sudah dibeli ia hanya akan memakannya satu dua sendok saja!" Mike mengenang masa dimana Ananda sedang mengandung Raf dengan senyum geli.


"Apa istrimu juga rakus seperti istriku?" Ron bertanya serius.


"Tidak terlalu, dia hanya ingin makan makanan yang aneh-aneh saja, tapi tidak dihabiskan semua, hanya icip-icip, selebihnya dia bagikan kepada semua orang disekitarnya!" jawab Mike sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tau, baru saja istriku menghabiskan tiga piring nasi dengan segala macam lauknya, apa itu tidak gila coba?" Ron berdecak heran.


"Aku rasa tidak juga, kan istrimu sedang mengandung, bayi kembar pula, ia butuh banyak sekali nutrisi agar bayi kalian bisa tumbuh secara sehat dan sesuai dengan tahapan perkembangannya" kata Mike yang sekarang memang menjadi lebih pintar tentang tahapan perkembangan bayi di dalam kandungan.


"Begitukah?" Ron manggut-manggut.


"Makanya, belajarlah yang benar, isi otak kosongmu itu dengan berbagai informasi seputar kehamilan supaya kau tidak bodoh-bodoh amat saat menjadi seorang suami!" seloroh Mike seraya berdiri dan meninggalkan sang adik di halaman depan menuju ruang keluarga menyusul istri dan anak-anaknya.


"Hey, sialan!! kenapa kau malah ikutan mengata-ngatai aku hah?" Ron yang awalnya sudah cukup tenang karena curahan hatinya didengarkan, kini kembali meradang.