Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Kebusukan Bimo


"Sayang kau lagi apa?" Mike memeluk pinggang istrinya dari belakang saat Ananda sedang mempersiapkan bekal makan siang untuknya dan juga untuk Gaby.


"Aku sedang menyiapkan bekal makan siang, jadi nanti aku bisa makan bersama dengan teman-teman di ruangan dan tidak perlu turun ke kantin untuk makan!" kata Ananda.


Berdasarkan pengalamannya di hari pertama kemarin, Ananda akhirnya memutuskan untuk membawa bekal seperti yang dilakukan oleh Fani dan Gusti.


Perusahaan Mike memang memberikan tunjangan makan siang berupa uang, jadi setiap karyawan bebas memilih caranya makan siang, bisa dengan membeli di kantin karyawan atau membawa bekal dari rumah agar lebih hemat dan tidak perlu repot berdesakan di kantin.


"Kau tidak mau makan siang denganku saja?" Mike menempelkan dagunya dipundak istrinya dengan manja.


"Bagaimana caranya? kan di kantor aku ini hanya seorang mahasiswa praktek, mana mungkin bisa dengan lancang mengajak sang CEO makan siang?" Ananda berseloroh.


"Ya sudah, yang penting aku tidak mau melihatmu makan siang hanya berdua saja dengan kepala bagianmu itu!" Mike memberi penekanan.


"Iya sayang, makanya aku bawa bekal, supaya aku bisa makan bersama dengan staf yang lain di ruangan!" Ananda mengecup pipi suaminya agar tidak cemburu.


.........


Setibanya di kantor Ananda langsung mengerjakan seluruh tugas yang sudah ada di meja kerjanya. Sementara ruangan masih kosong, Bimo, Fani dan Gusti belum ada yang datang sama sekali.


"Rupanya hari ini ada rapat bulanan ya?" Ananda bergumam lirih.


"Selamat pagi Bu Fani!" Ananda menyapa Fani yang terlihat panik.


Fani yang baru datang langsung membuka laptop tanpa menghiraukan Ananda.


"Selamat pagi Pak Gusti!" tidak lama berselang Gusti pun masuk dengan wajah yang sama panik.


"Pagi Nanda!" jawab Gusti sekenanya.


"Gila ya tuh orang, sembarangan banget main perintah, kenapa mendadak sih bilangnya? emang dia gak tau apa jadwal meeting hari ini? kenapa sih kita selalu jadi tumbal kecerobohan dia?" Fani mengoceh tidak karuan.


"Kamu kayak gak tau Bimo aja, dia kan emang begitu, kita yang kerja keras jungkir balik, dia yang dapet nama, boro-boro inget sama kita kalo lagi dapet bonus!" Gusti menimpali Fani dengan kesal.


"Berkasnya mana lagi!" Fani mengacak acak mejanya.


"Bu, lagi cari ini ya? ini sudah selesai saya kerjakan!" Ananda langsung menyerahkan file yang baru ia kerjakan.


"Ananda!!!!!" Fani langsung berhamburan memeluk Ananda.


"Terima kasih ya, astagaaaaaa,, aku hampir mau mati karena ini belum selesai!" Fani berkaca-kaca.


"Iya Bu, sama-sama!" kata Ananda.


"Bimo tuh kebiasaan, dia kan bosnya, harusnya dia yang kerjain ini!" Fani terus saja mengoceh membuat Ananda penasaran.


"Memangnya pak Bimo tuh orangnya bagaimana sih bu?" akhirnya Ananda memberanikan bertanya.


"Duhhhhh Ananda, kamu tuh harus hati-hati sama dia, selain playboy, dia itu bermuka dua, pokoknya culas lah, kita ini kerja rodi banget sama dia, kamu lihat kursi kosong itu? seharusnya kita tuh punya dua personil lagi buat ngerjain semua ini, tapi karena dia gak mau rugi, akhirnya kita kerjain semuanya cuma berdua, nah dia mainin deh tuh bonus lembur kerjanya dengan alasan kekurangan personil, dan pastinya dia yang dapet bonus paling banyak, padahal dia gak pernah lembur, yang lembur kita berdua doang!" Fani bercerita panjang lebar.


"Betullll, ditambah lagi dia seneng banget merekrut mahasiswa yang lagi magang atau praktek kayak kamu, selain gak perlu ngeluarin duit buat gaji, dia juga bisa main-main sama mahasiswa yang daftar, makanya kamu musti hati-hati!" Gusti menceritakan dengan wajah jijik.


"Aku mau lihat, nanti dia mau presentasi apa di depan pak Mike!" Fani mencibir Bimo.


"Apa pak Mike tidak tau tentang tabiatnya ini bu?" Ananda penasaran.


"Dia kan bermuka dua, dia pinter menjilat atasan, selama ini Pak Mike taunya kita ini baik-baik saja dan kompak, padahal mah dalamnya ampunnnnn!!!" Fani menggebu-gebu.


"Kalau gak inget kebutuhan rumah tangga dan punya anak istri, saya sudah lelah kerja di perusahaan ini! eh ralat, kerja jadi bawahan Bimo maksudnya, andaikan bukan Bimo yang jadi atasan kita, mungkin kita gak akan setertekan ini ya Fan!?" Gusti menghela nafasnya berat.


"Iya, padahal Pak Mike dan Pak George yang petinggi aja orangnya baik banget, kalau memang mereka bisa kerjakan sendiri, mereka tidak akan menyuruh kita!" Kata Fani menyanjung Mike dan George.


"Betul, Pak Mike dan Pak George itu panutan banget, pemimpin sejati, tidak heran kalau perusahaan ini jadi perusahaan nomor satu!" Gusti merasa bangga dengan CEOnya.


.........


Rapat bulanan hampir dimulai, Bimo yang datang terlambat tergopoh-gopoh memasuki ruang rapat. Hampir semua karyawan dengan posisi yang tergolong tinggi mengikuti rapat tersebut termasuk Fani dan Gusti. Ananda yang saat itu berposisi sebagai asisten kepala HRD juga ikut rapat untuk mencatat semua agenda penting yang berhubungan dengan HRD.


"Baik mari kita mulai rapat ini!" kata Mike sambil menatap semua karyawannya. Tatapannya berhenti ketika melihat Bimo yang seperti mencuri-curi kesempatan mendekati Ananda. Ia menatap Bimo dengan tatapan tajam seperti ingin membunuhnya.


"Pak Bimo, ditatap sama pak Mike tuh!" Gusti mengingatkan Bimo yang sibuk menatap wajah asistennya yang cantik.


"Sudah siap pak Bimo?" Mike menegur Bimo dengan tegas.


"Eh iya bos, saya siap!" Bimo menahan malu karena ditegur didepan umum.


Setiap kepala divisi menjelaskan progres kerja timnya masing-masing, membuat Mike mengangguk angguk dengan puas. Saat tiba pada divisi HRD, Bimo yang tidak siap dengan materi presentasinya terlihat gelagepan, beberapa kali Gusti dan Fani harus membantu Bimo menjelaskan poin presentasi tim mereka, membuat Mike berdecak dengan kesal.


"Pak Bimo, apakah ini semua Anda yang mengerjakan?" Mike menyelidik.


"Iya bos, ini saya yang mengerjakan!" jawab Bimo dengan gugup.


"Tapi mengapa sepertinya Anda tidak menguasai materinya? kenapa justru anak buah Anda yang lebih paham?" tanya Mike dengan mengintimidasi.


"Eh itu saya,," Bimo tidak bisa menjawab.


"Perbaiki semua kesalahan yang tadi saya koreksi, setelah itu silahkan anda menghadap saya secara pribadi untuk mempertanggung jawabkan nya!" Mike berkata dengan lugas.


"Baik bos" Bimo menunduk menahan malu.


.........


Setelah rapat selesai, Bimo langsung memarahi Fani dan Gusti tanpa ampun.


"Kenapa kalian tidak bilang sama saya sebelumnya?" Bimo murka.


"Pak, kan seharusnya ini tugas Anda, kami hanya membantu, kenapa jadi kami yang salah?" Gusti menjawab dengan berani.


"Apa bapak tidak pelajari materinya terlebih dahulu?" Fani juga menimpali.


"Kalian ini kalau dikasih tau selalu menjawab!" Bimo naik pitam.


"Kami menjawab karena kami benar pak, kami sudah menjalankan tugas kami sesuai prosedur, kalau bapak tidak terima silahkan pecat kami, kami akan naik banding kepada pak George dan memberikan buktinya!" Gusti mengancam dengan penuh intimidasi, membuat Bimo menciut.


"Jangan mentang-mentang kami bawahan lalu Anda bisa semena-mena ya pak, kami sudah muak!" Fani akhirnya berkacak pinggang.


Ananda yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa duduk terperangah menyaksikan kebusukan Bimo. Meskipun Ananda istri CEO, namun saat ini posisinya hanyalah mahasiswa praktek yang tidak punya kuasa apapun, sehingga ia tidak bisa bersikap tegas terhadap Bimo.


..........


Setelah pertengkaran yang terjadi di divisi HRD, Fani dan Gusti kompak mengajukan cuti mendadak beberapa hari, yang akhirnya hanya menyisakan Ananda dan Bimo di ruang kerja berdua saja. Bimo tidak menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Setiap kali ia selalu berusaha merayu Ananda dan melakukan kontak fisik.


"Ananda, bagaimana kalau nanti siang kita makan bersama?" Bimo berdiri di depan meja kerja Ananda.


"Maaf pak, saya sudah bawa bekal dari rumah" Ananda menolak dengan sopan.


"Kamu bawa saja, nanti di restoran kamu tinggal tambah menu lain yang kamu suka!" Bimo terus berusaha mendekat.


"Maaf pak saya makan di kantor saja!" Ananda memundurkan kursinya hingga ke tembok.


"Ayolah sayang, jangan sok jual mahal! aku bisa kasih apapun yang kamu mau!" Bimo mulai bergairah.


"Pak tolong jangan mendekat!" Ananda menepis tangan Bimo yang mau menyentuh wajahnya.


"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu, justru aku akan membuatmu bahagia!" pria itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.


"Pak tolong jangan!" Ananda berteriak ketakutan.


BUGGG....


Seketika Bimo terpelanting ke lantai karena terkena sebuah pukulan keras dari Mike.


"Kurang ajar, kau berani menyentuh istriku!" Mike kembali menyerang Bimo dengan membabi buta.


"Sudah Mike, jangan kotori tanganmu dengan darahnya!" George menahan Mike yang hampir menghabisi Bimo.


"Bawa dia!" Mike memerintah dua security untuk membawa Bimo ke pos.


Mike yang mengetahui bahwa Fani dan Gusti cuti mendadak tanpa sebab menjadi curiga, ia sengaja menyalakan cctv ruang HRD sepanjang hari untuk memantau keadaan istrinya yang hanya berdua saja dengan Bimo di ruang kerjanya. Saat melihat Bimo mendekat, Mike langsung menyuruh George memanggil security dan berjalan menuju ruang HRD.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Mike menatap wajah istrinya yang ketakutan.


"Aku baik-baik saja!" Ananda gemetar hebat.


"Ayo!" Mike menggendong istrinya berjalan menuju ruang kerjanya tanpa mempedulikan tatapan para karyawan yang terkejut karena tidak mengetahui status mereka yang sesungguhnya.


"Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu!" Mike hendak beranjak.


"Tidak usah sayang, aku tidak terluka, hanya kaget saja, temani saja aku disini!" Ananda memegang tangan suaminya dan akhirnya mereka berpelukan untuk saling menenangkan.