Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Mahasiswa Praktek


Hari-hari mereka lalui dengan penuh kebahagiaan, Mike kembali menemukan hidupnya setelah bertahun-tahun larut dalam kesendirian. Gaby pun kini sudah semakin mandiri dan menjadi pribadi yang jauh berbeda. Kehadiran Ananda sebagai nyonya selama kurang lebih enam bulan belakangan ini memang berdampak sangat positif. Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi Maya dan George yang selalu dibuat pusing oleh Mike dan Gaby.


"Bagaimana kuliahmu sayang?" Mike mempererat pelukannya sesaat setelah mereka menyelesaikan pertempurannya.


"Senin besok aku akan mulai mengambil nilai praktek lapangan di kantor pusat!" jawab Ananda sambil mengelus-elus dada bidang suaminya.


"Apa kau yakin ingin ditempatkan di bagian bawah? aku bisa meminta George agar kau ditempatkan menjadi sekertaris pribadiku!" Mike mengecup kening istrinya.


"Tidak, aku tidak mau masuk karena membawa nama besarmu, biarkan aku masuk melalui jalur umum, aku ingin mendapatkan nilai murni dari hasil usahaku sendiri!" Ananda bersikeras dengan perjuangannya.


"Baiklah terserah kau saja!" kemudian Mike menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan mendekap istrinya hingga mereka terlelap.


..........


"Terima kasih Sita!" Ananda keluar dari mobil.


"Selamat menikmati hari Anda nyonya!" Sita menunduk hormat.


"Sampai jumpa nanti sore ya!" kemudian Ananda melangkah masuk ke dalam kantor pusat milik suaminya.


"Iya nonya!" Sita mengantar kepergian majikannya dengan senyum.


"Permisi, saya Ananda, mahasiswa yang akan praktek di bagian HRD selama dua minggu!" Ananda memperkenalkan diri.


"Oh iya, sebentar ya, saya kabari dulu kepala bagiannya!" kata sang resepsionis dengan ramah.


"Terima kasih!" Ananda mengangguk.


Saat sedang menunggu resepsionis menghubungi bagian HRD, Ananda menangkap sosok yang sangat dikenalinya, ya itu adalah suaminya yang baru saja turun dari mobil dan berjalan melewatinya bersama dengan George. Mereka saling melempar senyum samar dalam diam. Sesuai keinginan sang istri, Mike berusaha bersikap profesional dan seolah tidak terusik dengan kehadiran sang istri di kantornya, meskipun pada kenyataannya ia ingin sekali menghampiri Ananda dan melahapnya sampai habis.


"Mari nona ikut dengan saya!" sang resepsionis mengantarkan Ananda melalui lift karyawan.


"Baik!" Ananda mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam lift.


TOK TOK TOK...


"Permisi pak, saya mengantarkan Mahasiswa yang akan magang!" kata sang resepsionis.


"Oh baik, suruh masuk!" kata sang kepala bagian.


"Baik pak, silahkan nona, saya tinggal ya!" kata sang resepsionis yang kemudian meninggalkan Ananda.


"Terima kasih Bu!" Ananda mengangguk sopan.


"Permisi pak, saya Ananda, mahasiswa yang akan mengambil nilai praktek di perusahaan ini selama dua Minggu ke depan!" kata Ananda.


"Wahhh cantiknya!" gumam sang kepala HRD dalam hati saat melihat Ananda untuk pertama kalinya.


"Silahkan duduk!" kata kepala HRD itu.


"Perkenalkan saya Bimo!" ia mengulurkan tangannya untuk menjabat Ananda.


"Saya Ananda pak!" kata Ananda dengan sopan.


"Boleh saya lihat surat pengantar dari kampus dan biodata diri Anda?" kata Bimo.


"Ini pak!" Ananda mengulurkan amplop berwarna coklat.


Beberapa saat Bimo membaca detail biodata Ananda. Senyum Bimo sulit diartikan membuat Ananda agak sedikit mengernyitkan dahi.


"Baiklah, kau bisa mulai praktek menjadi asisten pribadiku sampai dua minggu kedepan!" kata Bimo sambil menaruh berkas milik Ananda.


"Siap pak!" Ananda mengangguk, ada sedikit ragu di hati Ananda dengan posisinya sebagai asisten kepala HRD, namun segera ia tepis demi menjaga profesionalitasnya.


"Kau bisa mulai praktek bekerja hari ini, aku akan memberikanmu beberapa rincian tugas yang harus kau kerjakan!" Bimo membuka file di laptopnya dan mengeprint beberapa lembar kertas yang kemudian disodorkan kepada Ananda.


"Terima kasih pak!" Ananda menerimanya dan membaca detail tugasnya.


"Mejamu di situ ya!" Bimo menunjuk meja kosong di ruangannya yang dekat dengan pintu masuk.


"Gusti, Fani, ini Ananda, dia akan bergabung di tim kita selama dua Minggu sebagai asistenku, tolong bantu ya!" Bimo memperkenalkan Ananda pada anak buahnya.


"Baik pak!" Jawab Gusti dan Fani serempak.


"Salam kenal Pak Gusti, Bu Fani, saya Ananda, mahasiswa praktek yang akan belajar di sini selama dua Minggu kedepan, mohon bimbingannya!" Ananda memperkenalkan diri.


"Halo Ananda, salam kenal!" kata Fani sambil tersenyum.


"Selamat bergabung!" Gusti melambaikan tangan dengan ramah.


Ada lima meja staf HRD yang berada di ruangan tersebut, namun yang terisi hanya tiga termasuk Bimo, sementara dua yang lain kosong, sehingga Ananda bisa menempati salah satunya.


..........


"Ayo kita makan siang dulu!" Bimo mengajak Ananda yang sedang mengerjakan file kinerja karyawan untuk pergi bersama.


"Tapi ini sedang tanggung pak!" kata Ananda.


"Nanti saja di lanjutkan setelah jam makan siang!" kata Bimo lagi.


"Emmm baik pak!" Ananda tidak enak jika harus menolak ajakan Bimo.


Mereka pun berjalan menuju kantin karyawan berdua. Sementara Gusti dan Fani hanya menatap penuh arti kepada Bimo.


"Kasihan Ananda!" Fani menghela nafasnya.


.........


"Kau tinggal dimana?" Bimo membuka percakapan saat mereka menunggu di depan lift.


"Saya tinggal di The Masion City pak!" jawab Ananda apa adanya.


"Wahhhh itukan perumahan elit, jadi kau ini anak orang kaya ya?" Bimo menatap kagum ke arah Ananda.


"Ah tidak pak!" Ananda bingung harus menjawab apa, karena ia tidak mungkin bilang bahwa dirinya tinggal bersama suaminya yang adalah CEO perusahaan ini.


"Kau ini merendah sekali!" Bimo tersenyum menggoda.


Setelah memesan menu makan siangnya mereka pun duduk di bangku kosong dekat stand soto mie. Sambil makan siang Bimo berusaha mengorek informasi pribadi dari Ananda, namun hanya dijawab sekedarnya saja oleh gadis itu, karena ia tau kalau arah pembicaraan Bimo sudah bukan di ranah profesional lagi.


TRING...


Pesan masuk dari Mike muncul di layar ponsel Ananda.


"Sayang, kau sedang apa?" tanya Mike.


"Aku sedang makan siang di kantin karyawan!" jawab Ananda.


"Sama siapa?" Mike penasaran.


"Sama kepala HRD" kata Ananda lagi.


"Hanya berdua? dia kan laki-laki!" Mike memberi emoticon kesal.


"Dia kan sementara ini menjadi bosku yah, aku harus bersikap profesional!" Ananda tau kalau suaminya mulai cemburu.


"Kalau sudah selesai makan langsung kerja lagi, jangan lama-lama berdua!" Mike sudah mulai naik pitam.


"Iya sayang, baiklah!" Ananda membalas dengan emoticon kecupan dan hati, namun tidak dibalas oleh Mike yang sudah terbakar api cemburu.


"Siapa?" tanya Bimo.


"Ah ini Ayah!" kata Ananda tanpa menjelaskan bahwa ayah yang dimaksud adalah suaminya.


"Ayahmu perhatian sekali ya!?" Bimo antusias.


"Eheheheheh!" Ananda hanya bisa tertawa kikuk.


Ananda sengaja mempercepat makan siangnya agar tidak terlalu lama berduaan dengan Bimo. Selain ia tidak mau membuat suaminya cemburu, Ia pun begitu risih dengan pria ini yang sepertinya sangat agresif.


"Pak maaf saya duluan ya, saya ingin ke toilet dulu!" Ananda mencari alasan.


"Oh ya sudah, baiklah!" Bimo yang masih setengah menghabiskan makanannya terpaksa memperbolehkan Ananda pergi.


"Sampai bertemu di ruangan ya pak!" Ananda sedikit membungkukkan kepalanya dengan sopan.


"Oke Ananda!" Bimo tersenyum dengan terpaksa.


"Huffffffffff akhirnya!" Ananda menghela nafas lega setelah lepas dari Bimo. Ia pun langsung menuju ke ruangan tempat ia bekerja.


"Kau sudah kembali?" tanya Fani kepada Ananda.


"Eh iya bu!" Ananda canggung.


"Mana si Bimo?" tanya Gusti dengan tidak menaruh rasa hormat kepada Bimo.


"Masih di bawah pak, makanannya belum habis!" Ananda tersenyum sungkan.


"Kamu ninggalin dia?" Fani terlihat berbinar-binar, seperti menang lotre.


"Iya Bu, hehehehe!" Ananda menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagus!!!" Gusti memberi jempol kepada Ananda.


"Kamu gak diapa-apain kan sama Bimo?" Fani bertanya lagi menyelidik.


"Emmm enggak kok Bu, tadi pak Bimo cuma nanya-nanya saja!" Ananda bercerita apa adanya.


"Kebiasaan tuh orang, kamu hati-hati ya, dia itu playboy!" Fani mengingatkan Ananda.


"Oh gitu ya Bu?" Ananda mengangguk.


"Pantas saja dari tadi dia terus bertanya-tanya sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan!" batin Ananda.


.........


"Ananda, kamu pulang naik apa? bareng yuk, saya kebetulan searah sama rumah kamu!" kata Bimo.


"Saya dijemput pak, sudah ditunggu di bawah!" kata Ananda untuk menolak halus.


"Ohhhhh ya sudah, kalau begitu kita turun bareng saja yuk!" Bimo tetap mencari celah.


"Baik pak!" dengan terpaksa Ananda turun satu lift dengan Bimo meskipun sangat merasa risih.


Setelah peringatan yang diberikan oleh Gusti dan Fani, Ananda pun kini memilih untuk lebih berhati-hati terhadap Bimo. Ia lebih banyak bertanya kepada kedua orang itu bila mengalami kendala dalam bekerja. Sebisa mungkin Ananda menjaga interaksinya dengan Bimo seminimal mungkin.