
"Sayang, astaga" Ananda tidak henti-hentinya menciumi pipi sang putri saat mereka baru tiba di rumah.
"Bunda maaf, kakak salah tidak mendengarkan bunda, seharusnya kakak tidak berangkat" Gaby mengakui kesalahannya.
"Sudahlah, yang penting kakak selamat" Ananda memeluk Gaby seperti tidak ingin melepaskannya lagi.
"Sayang" nyonya Merlyn sangat lega melihat cucunya baik-baik saja.
"Grandma" Gaby bahagia bisa kembali melihat keluarga.
"Ayo masuk" kata Mike kepada istri dan anaknya.
"Kakak istirahat dulu ya di kamar, bunda akan siapkan makanan untuk kakak" kata Ananda. Seperti biasa ia tidak pernah membiarkan orang lain memasak untuk suami dan anak-anaknya.
"Biar aunty temani ya" kata Ayu menggandeng lengan Gaby.
"Grandma juga" kata nyonya Ruth menggandeng lengan satunya lagi.
"Kalau begitu Ayah ke ruang kerja dulu ya sama uncle Ron dan Om George!" kata Mike.
..........
"Aku tidak ingin melihatnya bebas, beri dia tuntutan yang sesuai dengan semua perbuatannya!" Mike sangat murka.
"Saya akan pastikan semua hukumannya sesuai dengan apa yang sudah diperbuatnya tuan" George sudah mempersiapkan langkah-langkah yang akan ditempuh olehnya.
"Pria brengsek itu memang patut membusuk di dalam penjara!" Ron sangat geram melihat ulahnya.
Selama ini Mike sudah berbaik hati dengan hanya memecatnya dari perusahaan dan menyita barang berharga miliknya sebagai ganti korupsi yang telah diperbuatnya tanpa melaporkan ke pihak berwajib. Tapi karena perbuatannya yang tidak juga jera, malah berusaha membalas dendam, maka Mike memutuskan untuk menempuh jalur hukum dan menuntut semua yang sudah diperbuatnya terhadap perusahaan dan keluarga Anderson.
..........
"Tidak Bun, waktu penjahatnya mau menciumku, Om Dimas langsung menghajarnya, dia menyelamatkan aku dan membawaku ke rumahnya!" Gaby bercerita dengan sangat antusias tentang pengalamannya itu.
"Syukurlah, untung saja Dimas datang tepat waktu!" kata nyonya Ruth yang sudah cukup mengenal Dimas dengan baik.
"Iya grandma, bahkan saat aku tidak bisa berjalan saking takutnya, Om Dimas membantuku dengan menggendong ku ke dalam mobil dan setelah tiba di rumahnya dia kemudian membantuku masuk ke dalam kamar. Dia juga minta maaf kalau tidak sopan karena sudah menyentuhku!" kata Gaby masih dengan menggebu-gebu. Baginya Dimas sudah seperti seorang pahlawan sejati.
"Wahhhh Dimas keren sekali!" Ayu yang mendengarnya sangat takjub. Ia membayangkan adegan-adegan di film kartun dimana Putri raja yang sedang di culik kemudian diselamatkan oleh pangeran berkuda dari tangan para penjahat.
"Waktu aku takut tidur sendirian, Om Dimas juga menjagaku, dia menemaniku dan tidak tidur sama sekali. Saat aku bermimpi buruk, dia yang membangunkan aku dan menenangkanku sampai akhirnya Ayah datang bersama Uncle Ron dan Om George untuk menjemputku pulang ke rumah!" kata Gaby panjang lebar.
"Andaikan grandma punya seorang anak perempuan yang belum menikah, pasti sudah grandma jodohkan sama Dimas!" kata nyonya Merlyn membayangkan memiliki menantu seperti Dimas.
"Mungkin kalau Dimas mau sabar menunggu, beberapa tahun lagi dia juga bisa menjadi cucu menantu kita kak!" sambil mengerlingkan matanya ke arah Gaby.
"Gaby masih kecil, dia akan menikah kalau sudah jadi orang sukses!" Ananda yang paham arah pembicaraan duo grandma langsung memotongnya.
"Issshhhhh kau ini posesif sekali jadi seorang ibu, apa kau lupa kalau kau juga menikah pada usia muda?" Merlyn menggoda Ananda.
"Aku kan dipaksa sama mama, kalau tidak juga pasti aku masih belum menikah!" Ananda membela diri.
"Tapi kau suka kan dipaksa? enakkan? buktinya tokcer sampai melahirkan dua anak segala!" kata nyonya Merlyn dengan wajah jahilnya.
"Maaaa, kenapa jadi aku yang menjadi objek deritanya?" Ananda jadi salah tingkah sendiri, membuat semua orang yang mendengarnya tergelak.