Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Suami Selalu Salah


"Ayah, aku lapar!" tengah malam Ananda merengek kepada Mike yang sedang tertidur lelap.


"Sayang, ini kan masih malam!" Mike yang sangat mengantuk tidak bisa membuka matanya.


"Aku mau makan, ayo temani ke dapur!" Ananda menggoyangkan tubuh suaminya agar terbangun dari tidur.


"Ayah ngantuk Bun!" Mike tidak menghiraukan permintaan istrinya itu.


"Ya sudah!" Akhirnya Ananda berjalan ke dapur sendirian dengan wajah murung.


Entah apa yang membuat dirinya belakangan ini begitu sangat lemah dan cengeng. Beberapa hari ini Ananda juga terlihat sangat manja kepada suaminya. Setiap kali keinginannya tidak dituruti atau saat suaminya berbuat salah pasti ia akan menangis dan mendiamkan suaminya, membuat Mike kelimpungan sendiri.


Setelah selesai makan Ananda tidak kembali ke kamarnya, ia memilih tidur di kamar Gaby sampai pagi. Toh besok akhir pekan ini, jadi dia bisa sedikit bersantai karena tidak perlu bangun pagi dan mengurus segala keperluan sekolah Gaby serta menyiapkan pakaian kerja suaminya.


"Bunda kok tidur disini?" Gaby yang merasakan ada tangan melingkar di pinggangnya terbangun.


"Bunda mau tidur sama Gaby boleh ya?" Ananda memeluk putrinya dengan erat.


"Boleh dong Bun!" dengan senang hati Gaby membalas pelukan sang bunda. Mereka berdua pun langsung tertidur dengan pulas sambil berpelukan erat.


..........


"Maya, apa kau melihat Ananda?" Mike bertanya kepada manager rumah tangganya.


"Nyonya masih tidur di kamar nona Gaby tuan!" Maya menjawab dengan datar.


"Ahhhh sial, kenapa sih dia sebenarnya!?" Mike menggerutu pada dirinya sendiri.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi tuan?" Maya melihat gelagat majikannya yang aneh.


"Apa kau tau Maya, belakangan ini Ananda sering sekali merajuk dan merengek, setiap kali aku berbuat kesalahan kecil, dia selalu ngambek dan mendiamkan aku!" Mike terlihat putus asa.


"Sejak kapan tuan?" Maya menatap tajam tuannya.


"Hampir dua Minggu, kurang lebih setelah dia selesai praktek di kantorku!" jawab Mike.


"Apakah Anda sudah periksakan ke dokter?" Maya mulai menduga-duga.


"Saya sarankan Anda mengajak nyonya ke dokter untuk lebih bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi padanya!" Maya menahan senyumnya.


.........


"Sayang, kau masih marah padaku?" Mike memeluk istrinya dari belakang saat Ananda sedang mengambil pakaian ganti.


"Sayang jangan diam saja, jawab aku!" Mike kini mengecup pundak istrinya dengan lembut.


"Hiks hiks!" terdengar suara tangis Ananda.


"Kenapa kau menangis?" Mike membalikkan tubuh istrinya menghadap ke arahnya.


"Kau jahat, semalam aku minta ditemani makan, tapi kau malah tidak mau!" Ananda merajuk.


"Maaf, aku semalam sangat mengantuk, jadi tidak sadar kalau kau sangat lapar!" Mike menghapus air mata istrinya.


"Sudah sana pergi, jangan dekati aku!" Ananda mendorong tubuh suaminya dan ia pun berbalik menghadap ke lemari pakaian lagi.


"Ayolah sayang, maafkan aku ya, aku memang salah, kalau kau mau kau bisa menghukumku sekarang, asal maafkan aku!" Mike kembali membujuk istrinya dengan memeluk pinggangnya dari belakang dan mengecup tengkuk lehernya. Namun Ananda tetap diam membuat Mike benar-benar frustasi.


.........


"Maya, sepertinya aku harus mengikuti saranmu, karena penyakit Ananda semakin kronis! bisakah kau memanggilkan dokter yang ahli? aku mulai stress dibuatnya!" Mike mengusap wajahnya dengan kasar.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi, saya akan segera panggilkan dokternya!" Kata Maya sambil berlalu keluar dari ruang kerja, meninggalkan Mike dengan segala keputusasaan yang dialaminya karena ulah sang istri.


"Ini, minumlah dulu!" George yang baru masuk menyodorkan sebotol minuman segar untuk menenangkan sahabatnya.


"Terima kasih!" Mike menerimanya dan langsung menengguknya sampai habis tak bersisa.


"Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja!" George menepuk bahu Mike untuk memberi dukungan.


"Kenapa sih Ananda bisa berubah seperti ini? dimatanya kini seolah-olah apapun yang dilakukan suami itu selalu salah!" Mike menghela nafas dengan berat.