Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Gathering Sekolah


"Bun, besok kan ada acara gathering dari sekolah, boleh tidak kalau aku ikut?" Gaby bertanya kepada Ananda.


"Kakak yakin mau pergi? kan bunda belum bisa antar kakak!" Ananda merasa sedikit ragu karena harus melepas putrinya seorang diri.


"Aku kan sudah besar Bun, sudah tiga belas tahun, lagian teman-temanku juga semuanya pergi sendiri, tidak ada yang ditemani orang tuanya!" Gaby merajuk.


"Bagaimana yah?" Ananda menatap suaminya dengan kode tatapan memohon agar sang suami tidak mengijinkan.


Entah mengapa firasatnya sangat tidak enak jika harus melepaskan putrinya melakukan gathering seorang diri tanpa dirinya, meskipun sebenarnya ia tau kalau kegiatan itu hanya dilakukan di taman hiburan dalam kota dan bersama dengan rombongan sekolah Gaby.


"Teman-teman kakak memangnya tidak ada yang mengantar?" tanya Mike tanpa memahami kode tatapan dari sang istri.


"Tidak yah kan kami sudah SMP, lagi pula kan sudah ada ibu dan bapak guru!" jawab Gaby.


"Baiklah, besok biar pak supir yang akan mengantar kakak sampai ke sekolah!" jawab Mike enteng dan membuat Ananda kecewa.


"Terima kasih ayah, bunda" Gaby memeluk Mike dan Ananda bergantian.


"Tapi kakak tidak boleh berpisah dari rombongan ya!" Mike menekankan kepada putrinya.


"Siap yah!" Gaby memberi hormat.


"Besok kalau bunda menelpon kakak setiap jam harus selalu diangkat ya?" meskipun dengan berat hati namun akhirnya Ananda memberi ijin.


"Oke bundaku sayang" Gaby mengecup pipi bundanya.


Gaby tau bahwa sesungguhnya sang bunda keberatan dirinya pergi seorang diri, namun ia pun tidak bisa jika tidak berangkat karena sudah berjanji untuk ikut bersama rombongan teman-teman dekatnya, sehingga mengikuti semua aturan yang dibuat oleh sang bunda seperti mengangkat telpon setiap jam adalah solusi yang tepat agar sang bunda tidak lagi khawatir.


..........


"Ayah kenapa mengijinkan sih?" Ananda menatap suaminya protes saat merek sudah ada di dalam kamar.


"Bun, kakak sudah remaja, sepertinya kita harus belajar untuk pelan-pelan melepasnya mandiri" Mike merangkul pinggang sang istri yang sedang kesal.


"Tapi perasaan bunda tidak enak!" Ananda merasa akan terjadi sesuatu terhadap Putri sulungnya itu.


"Bunda jangan terlalu cemas, toh besok Gaby kan akan didampingi oleh wali kelasnya!" kata Mike yang kemudian mengecup bibir istrinya lembut.


"Ayah kenapa cuek sekali sih sama anak?" Ananda benar-benar tidak habis pikir.


"Ya sudah terserah ayah saja!" Ananda melengos kesal.


"Jangan marah dong sayang" Mike menguyel-uyel wajah istrinya.


"Sudah sana ah, bunda mau sendiri!" Ananda masih tidak enak hati.


Mike yang gagal membujuk istrinya pun terpaksa meninggalkan kamar. Ia tau bahwa istrinya sangat menyayangi Putri pertamanya, sehingga ia merasa wajar kalau sang istri sangat cemas melepas Gaby sendirian.


..........


"Kakak berangkat ya Bun" kata Gaby sambil mencium sang bunda.


"Hati-hati ya kak ditempat asing, jangan lupa makan bekalnya, banyak minum air putih supaya tidak dehidrasi, jangan jajan sembarangan nanti sakit perut, kalau bajunya basah langsung ganti supaya tidak sakit, kalau bunda telpon harus selalu diangkat, jangan berpisah dari rombongan dan kalau ada sesuatu langsung kabari bunda ya!" Ananda memberi nasehat panjang lebar tanpa henti seperti kereta api membuat semua orang melongo.


"Iya bunda, kakak janji mengikuti semua aturan bunda" Gaby mengangkat dua jarinya membentuk simbol huruf v.


"Ayah, kakak berangkat" Gaby kemudian mencium ayahnya juga.


"Grandma, aunty, uncle, aku berangkat ya" Gadis itu berkeliling meja makan untuk berpamitan satu persatu.


"Hati-hati dijalan" mereka semua memberi pesan.


.........


"Gaby, ayo kita naik busnya" seorang gadis seusia Gaby yang bernama Niken menggandeng lengannya.


"Ayo" Gaby mengangguk.


"Kau jadi diijinkan ikut sama bundamu?" tanya Niken penasaran.


"Iya, boleh" kata Gaby senang meskipun ia tau bundanya agak tidak ikhlas melepasnya pergi sendiri.


"Ayo anak-anak, sebelum berangkat kita berdoa dulu ya" pak guru memberi arahan.


"Bapak akan absen satu persatu, nanti yang dipanggil tunjuk tangan" kata pak guru lagi.


Setelah semua prosedur dilakukan, akhirnya bus sekolah pun berangkat menuju tempat acara gathering diadakan. Semua siswa terlihat antusias, termasuk juga Gaby yang baru pertama kali merasakan melakukan sebuah kegiatan tanpa didampingi kedua orang tuanya.