
"Ayah, perut bunda sakit" Ananda membangunkan suaminya tengah malam saat ia merasakan kontraksi yang mulai teratur dan durasi yang cukup sering.
"Bun?" Mike langsung terbangun dengan sigap.
"Sepertinya sudah mau lahiran yah" Ananda menahan sakitnya.
"Ayo kita ke Rumah sakit!" Mike bangkit dari tidurnya dan menggendong sang istri keluar kamar tanpa mengganti pakaiannya karena sudah panik.
"Ron, Ayu!" Mike menendang kamar adiknya dengan tidak sabar.
"Ada apa?" Ron keluar dengan wajah yang masih terpejam.
"Ananda akan melahirkan, tolong kau jaga anak-anakku ya!" Mike to the point.
"Apa?" Ron langsung menatap Ananda yang berada di gendongan sang kakak.
"Kak, apa sudah mulai kontraksi?" Ayu menyambar pembicaraan.
"Iya, sudah mulai sering dan rutin" jawab Ananda.
"Aku pergi dulu, jaga anak-anakku!" kata Mike sambil meninggalkan mereka.
"Aku akan menengok Raf dulu" Ayu berjalan keluar kamarnya menuju kamar Raf yang berada di dekat kamar Ananda dan Mike.
..........
"Ayah, sakitttt" Ananda merintih saat kontraksinya sudah sangat konsisten.
"Tahan Bun, sebentar lagi ya, dokter bilang sudah bukaan enam" Mike mengelus pipi istrinya yang memerah menahan rasa sakit.
Bayangan masa-masa Raf lahir kembali menghampirinya. Ia mengingat bagaimana rasa paniknya ketika melihat sang istri mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendorong bayi mereka keluar. Ia juga mengingat bagaimana brutalnya sang istri saat ia menjadi sasaran empuk untuk dijambak dan dicakar. Namun kali ini Mike menjadi semakin lebih siap, ia berjanji jika hal itu terjadi ia akan bersikap lebih santai. Ia lebih memilih menahan rasa sakit dari pada harus menanggung rasa malu untuk yang kedua kalinya di depan tim medis dan keluarganya.
"Cukup satu kali aku terlihat bodoh!" gumamnya dalam hati sambil bersiap-siap.
"Yah, bunda tidak tahan lagi!" Ananda meneteskan air matanya karena rasa sakitnya sudah tidak dapat ia tahan lagi.
"Sebentar ya bun, tahan sampai bukaan terakhir!" kata Mike sambil mengelus perut sang istri.
"Sudah lengkap, ayo nyonya kita bersiap, tarik nafas yang dalam ya!" kata sang dokter memberi arahan.
"Ayah, eughhhhhh!" Ananda mendorong bayinya sekuat tenaga.
"Ayo Bun, semangat!" Mike memberi dukungan kepada sang istri.
"Eugggggghhhhhhhhhh!" dengan tenaga yang paling kuat Ananda mendorong.
"Oekkkk,, Oekkkkk" suara tangis bayi terdengar nyaring.
"Bun sudah lahir" Mike mengecup bibir istrinya dengan sangat haru.
"Terima kasih sayang" Mike benar-benar bahagia melihat istri dan anaknya selamat.
"Selamat Tuan, Nyonya, bayinya perempuan" kata sang perawat yang sedang menggendong bayi itu dan hendak membersihkannya.
"Kami akan membersihkan bayinya dulu, setelah itu nyonya bisa menyusuinya" kata sang perawat lagi dan dijawab anggukan oleh Mike dan Ananda.
..........
Setelah semuanya beres, Ananda pindah ke kamar rawat bersama bayinya.
"Dia sangat cantik ya" kata Ananda kepada suaminya saat menatap bayi mungil mereka.
"Secantik dirimu sayang" Mike yang duduk dihadapan istrinya menatap anak dan istrinya secara bergantian dengan ekspresi yang sangat bahagia.
"Terima kasih ayah" Ananda menggenggam tangan suaminya dengan satu tangannya yang sedang tidak menggendong bayi.
"Ayah yang seharusnya berterima kasih sama bunda, karena sudah melahirkan malaikat kecil ini ditengah-tengah keluarga kita" Mike mengecup bibir istrinya lembut dan dalam dengan cukup lama. Mereka saling berpagut seperti sedang saling menyalurkan rasa cinta satu sama lain atas kelahiran sang buah hati.
"I love you bunda" Mike meraba bibir merah muda sang istri.
"I love you too ayah" Ananda meraih tangan yang menyentuh bibirnya itu dan mengecup telapak suaminya dengan mesra.