
"Bun bangun, ini aku" Gaby menggenggam tangan Ananda dengan erat sambil terus meneteskan air mata tanpa henti.
"Bun, bunda denger aku kan?" Gaby mencium tangan wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Sayang" Nyonya besar mengelus kepala cucunya dengan lembut.
"Grandma, kapan bunda bangun? kenapa bunda gak mau buka mata? apa bunda marah sama Gaby?" gadis cilik itu benar-benar merindukan Ananda.
"Bunda lagi istirahat sayang, kan masih sakit, jadi belum bisa buka mata" nyonya besar mencoba memberi pengertian.
"Tapi sampai kapan?" gadis itu benar-benar cemas.
"Kita berdoa yang terbaik buat bunda ya" nyonya besar tidak bisa menjawab pertanyaan cucunya.
Entah sampai kapan Ananda akan terus menutup mata. Semua dokter dan tim medis yang menangani tidak ada yang bisa memastikan karena trauma yang dialami Ananda di bagian kepala cukup keras dan membuat beberapa sarafnya tidak bisa berfungsi dengan baik. Sudah satu Minggu lebih Ananda masih tidak sadarkan diri. Untungnya kandungannya tidak mengalami masalah yang serius.
"Kalau bunda gak bangun lagi gimana grandma?"
"Gaby gak boleh bicara seperti itu, bunda pasti bangun sayang" Grandma memeluk gaby.
"Dulu grandma bilang kalau ibu akan bangun, tapi ternyata ibu gak bangun lagi" Gaby mengingat luka saat dirinya dulu kehilangan ibu kandungnya.
"kalau bunda seperti ibu bagaimana?" tubuhnya bergetar hebat membayangkan hal buruk tentang kematian ibunya dulu.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kita berdoa ya" Grandma tersenyum getir.
"Kalau nanti bunda seperti ibu, Gaby lebih baik ikut sama mereka saja" gadis itu berada di titik terendah dalam hidupnya.
"Apa Gaby terlalu nakal ya sampai Tuhan marah?" ia sedang mencerna kesalahan apa saja yang telah diperbuatnya selama ini.
"Tidak nak, ini bukan salah Gaby, Gaby anak baik, lagi pula bunda kan hanya sakit" begitu pedih rasanya melihat cucu kesayangannya hancur.
"Ya Tuhan, tolong sembuhkan bunda, Gaby sayang sama bunda, Gaby gak mau bunda pergi, dulu Gaby sudah kehilangan ibu, kalau Gaby kehilangan bunda juga, lalu Gaby harus hidup sama siapa lagi?" air mata Gaby menetes deras di wajah Ananda yang sedang ia kecup secara terus menerus tanpa henti.
Sementara di depan pintu ruang rawat Mike hanya bisa menatap pedih, ia sangat memahami luka hati anaknya yang sedang merindukan sang bunda. Namun ia sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini sedang sama terpuruknya. Air matanya tak terbendung, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis yang hampir meledak.
"Ayo kita keluar, kau bisa luapkan semuanya di luar!" George merangkul Mike dan menuntunnya ke arah lorong rumah sakit menuju taman.
"Apa kau sudah menemukan pelakunya?" Mike bertanya kepada George setibanya di taman rumah sakit.
"Plat nomornya sudah diketahui, namun data pelakunya masih terus dikembangkan" jawab George apa adanya.
"Percepat prosesnya, aku tidak mau sampai pelakunya kabur!" Mike sudah tidak sabar.
"Kami sedang melakukan yang terbaik, tunggulah sebentar lagi" George menepuk bahu Mike.
"Terima kasih George, terima kasih karena kau selalu berada di sampingku saat aku sedang membutuhkan pertolongan!" Mike menatap sahabatnya dalam.
"Aku akan melakukan apapun semampuku untukmu sobat!" George tersenyum tulus.
Mereka pun saling berpelukan, Mike yang sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya pun langsung meluapkan seluruhnya dalam pelukan sang sahabat.
"Menangislah sampai kau puas!" George mempererat pelukannya untuk menyalurkan energi positif kepada sahabatnya.