Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Obat Penyembuh Luka


"Kak kau keren sekali, tendanganmu tadi luar biasa, aku baru sekali melihat yang seperti itu!" Ayu menatap kagum ke arah Tian yang baru saja turun dari podium membawa piala kemenangannya di tangan.


"Ah kau itu terlalu berlebihan, kau juga sama hebatnya!" Tian mengacak-acak rambut Ayu lagi, sudah seperti sebuah kebiasaan bila ia sedang berada di dekat gadis itu.


"Kakkkkkkk!" Ayu protes yang kembali mengundang gelak tawa Tian.


"Bagaimana kalau kita makan bersama untuk merayakan kemenangan?" Tian memberi usul.


"Tidak bisa, kami harus pulang karena orang tua Gaby menunggu di rumah!" Ron menyela percakapan mereka sebelum Ayu menjawabnya.


"Ah iya kak, maaf ya, kami harus segera pulang" Ayu merasa tidak enak hati.


"Its okay, kalau begitu besok saja ya pas jam istirahat, kita makan bakso di tempat biasa?" Tian akhirnya memberi usul.


"Boleh, kalau begitu kami pamit duluan ya kak Tian" Ayu melambaikan tangannya.


"Dahhh kak Tian" kata Gaby.


"Dahhh Gaby" Tian membalasnya.


Sementara Ron sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan Gaby dan Ayu yang tertinggal cukup jauh di belakang.


"Uncle, tunggu!" Gaby berlari mengejar, mau tak mau Ayu pun mengikuti langkah Gaby.


.........


"Loh kenapa berhenti?" Ayu terkejut ketika Ron menghentikan mobilnya di sebuah deretan pertokoan.


"Tunggu di sini sebentar, jangan kemana-mana!" kemudian Ron turun dari mobil, menuju ke sebuah lorong dan menghilang begitu saja.


Sementara Ayu yang masih bingung hanya bisa duduk diam di kursi bagian depan dan sesekali memandang kursi belakang untuk memastikan Gaby tidur dengan posisi yang nyaman.


"Ehhhhh mau apa?" Ayu menghindar ketika Ron menyentuh wajahnya dengan jari yang sudah dilumuri oleh krim bening.


"Diam, jangan bergerak!" tangan Ron yang satunya kini memegang kepala bagian belakang Ayu agar gadis itu tidak banyak bergerak.


"Itu apa?" Ayu berusaha menjauh namun gagal karena tenaga Ron cukup kuat memegang kepalanya.


Ruang gerak yang sangat terbatas karena badannya masih terkait oleh sabuk pengaman mobil juga membuat Ayu hanya bisa pasrah. Jarak mereka begitu dekat, membuat gadis itu dapat membaui aroma tubuh Ron yang maskulin dan hembusan nafasnya yang sangat segar. Seketika Ayu merasakan desiran yang hebat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Ini simpan, besok pagi jangan lupa kau olesi lagi, jangan berhenti di oles sampai lebamnya hilang!" Ron mengulurkan botol krim obat kepada Ayu.


Sesungguhnya Ron pun merasakan debaran yang sangat aneh, namun dia masih belum memahami apa artinya, dia hanya beranggapan bahwa itu terjadi karena rasa khawatirnya melihat kondisi Ayu yang terluka karena pertandingan tadi.


"Terima kasih kak" Ayu menerima pemberian Ron dan mulai mengamati botolnya saat Ron kembali menyalakan mobil dan berlalu dari lapangan parkir pertokoan.


..........


"Kalian sudah pulang?" Ananda menyambut mereka dengan senyum penuh kelegaan. Sepanjang hari ia terus saja merasa cemas karena putrinya yang keasikan menonton pertandingan tidak memberi kabar sama skali.


"Maaf ya kak kelamaan" Ayu merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, yang penting kalian sudah sampai rumah dengan selamat" Ananda mengambil tas Gaby di kursi mobil bagian belakang.


"Aku bawa langsung ke kamarnya ya kak" Ron menggendong Gaby yang masih terlelap dan dijawab anggukan oleh Ananda.


"Sana mandi dulu biar segar, nanti habis itu baru kalian makan malam" kata Ananda kepada Ayu dan Ron.


"Iya kak, kalau begitu Ayu mandi dulu ya" gadis itu kemudian berjalan ke dalam rumah mengikuti langkah Ron yang sudah berjalan duluan menuju kamar Gaby.