Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Kedatangan Dimas


"Di mana ini?" Gaby yang sudah siuman dari biusan obat mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan gelap tempatnya disekap.


"Nona manis, sudah bangun rupanya?" suara serak seorang pria tua membuat Gaby tersentak.


"Siapa kau?" tanya Gaby ketakutan.


"Nona tidak perlu tau siapa saya" Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Gaby, hembusan nafasnya menyemburkan bau alkohol yang sangat kuat, membuat Gaby semakin takut.


"Jangan ganggu aku!" Gaby bergetar hebat.


"Aku tidak akan menyakitimu nona Gaby, justru aku akan membuatmu bahagia" pria dengan wajah lusuh dan tubuh tambun itu terkekeh.


"Bundaaaa tolong aku!" Gaby memanggil Ananda.


"Tidak akan ada yang bisa menolongmu nona cantik, kita hanya berdua saja di sini" seringai jahat di wajahnya menunjukkan betapa ia bisa melakukan tindakan jahat yang diluar nalar.


"Lepaskan aku!" Gaby berusaha melepaskan diri dari ikatan yang menjerat di tubuhnya.


"Kalau kau bersikap manis dan menuruti semua kemauan ku, aku akan melepaskanmu" kekehnya lagi.


"Kenapa kau membawaku kesini?" Gaby menyalak, sifat galaknya yang dulu pernah ada kini muncul kembali.


"Kenapa? kau tanya kenapa? Ini semua karena ayahmu!" pria itu mulai menunjukkan wajah marahnya.


"Dia membuatku miskin dan menjadi gelandangan!" sorot matanya seolah siap membunuh.


"Aku ingin membalas semua perbuatan yang sudah dilakukan oleh ayahmu padaku melalui dirimu nona manis!" tangan kotornya membelai wajah Gaby, membuat gadis itu meringis ketakutan.


"Jangan dekat-dekat, jangan pernah menyentuhku!" Gaby menghindari wajah pria itu yang hendak mendekat ke wajahnya.


"Ayolah nona, aku akan membuatmu bahagia!" pria itu mencengkram rahang Gaby dengan keras dan berusaha mengecup bibir gadis cilik itu.


"Bundaaaa tolonggg!" jerit Gaby memanggil sang bunda.


BUGGGG, sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajah kotor pria itu.


"Seret dia keluar, jangan biarkan dia lepas!" Dimas memberi instruksi kepada anak buahnya.


"Siap!" kata pasukan yang dibawa oleh Dimas secara serentak.


"Nona, apa kau baik-baik saja?" Dimas membuka ikatan tali yang menjerat Gaby.


"Jangan sentuh aku, aku mohon menjauh dariku!" Gaby menangis histeris.


"Nona tenanglah, ini aku Dimas" Dimas menyadarkan Gaby.


"Aku mohon jangan" Gaby masih ketakutan.


"Nona, buka mata Anda, coba lihat, ini aku Dimas anak buah ayahmu, aku akan menyelamatkannya dari sini" Dimas menangkupkan tangannya ke wajah Gaby membuat gadis itu menatapnya.


"Om Dimas?" Gaby yang sudah mengenal Dimas saat pernikahan Ron, langsung memeluknya dengan erat.


"Apa nona baik-baik saja? apa dia menyakitimu?" Dimas membalas pelukan nona ciliknya untuk menenangkan.


"Aku takut!" Gaby terisak dipelukan pria tampan itu.


"Nona jangan takut, kita sudah aman, sebentar lagi ayah nona akan segera tiba" Dimas mengelus punggung Gaby dengan lembut.


"Ayo nona, kita keluar dari sini, saya akan membawa Anda ke tempat aman sambil menunggu ayah Anda tiba" Dimas membantu Gaby berdiri.


"Ahhhh" Gaby tidak sanggup berdiri saking lemasnya.


"Apa Anda tidak bisa berjalan?" Dimas merasa khawatir.


"Kakiku lemas" jawab Gaby.


"Boleh aku bantu gendong?" tanya Dimas sopan dan dijawab dengan anggukan oleh Gaby.


"Maaf ya nona jika saya tidak sopan" Dimas kemudian mengangkat tubuh mungil gadis yang sedang beranjak remaja itu.


"Terima kasih" Gaby tersenyum.


.........


"Baik bos, hati-hati di jalan!" Dimas menutup telponnya.


"Apa itu ayah?" tanya Gaby.


"Tuan Ron, nona" jawab Dimas.


"Apa kata uncle?" Gaby antusias.


"Tuan Mike dan Tuan Ron terjebak jembatan yang roboh, jadi terpaksa mereka akan mencari jalan lain agar bisa sampai ke sini. Mungkin akan memerlukan waktu dua kali lipat perjalanan normal, jadi sekarang lebih baik nona istirahat saja dulu di sini. Saya akan minta pelayan wanita berjaga, jika Anda membutuhkan sesuatu bisa langsung memintanya" kata Dimas.


"Om, jangan pergi, tolong temani Gaby di sini!" Gaby menggenggam tangan Dimas.


"Saya tidak akan kemana-mana nona, hanya akan berjaga di ruangan sebelah" kata Dimas dengan senyuman.


"Tidak, aku mohon tetap disini!" Gaby berkaca-kaca karena masih merasa takut.


"Baiklah, saya akan disini menemani Anda, sekarang istirahatlah" Dimas tersenyum dan berbalik hendak duduk di sofa di sebrang tempat tidur.


"Duduk disini saja Om" Gaby merengek seperti anak kecil, membuat Dimas tidak kuasa menolaknya.


Mereka duduk berjejer diatas tempat tidur, tangan Gaby sangat erat melingkar di lengan Dimas, ia sangat takut ditinggal sendirian mengingat kejadian baru saja sangat membuatnya trauma.


"Kasihan sekali Anda nona, pasti tadi sangat menakutkan. Andaikan tadi terlambat sedikit saja, entah apa yang terjadi pada anda sekarang, mungkin masa depan Andalah yang akan dipertaruhkan" Dimas berkata dalam hati sambil menatap wajah cantik Gaby yang mulai terlelap karena lelah.


...........


Halo sahabat, terima kasih sudah tetap setia dengan cerita ini. Mohon dukungannya untuk novel ini melalui like, komen, vote dan hadiah ya, karena dengan dukungan dari para sahabat Rosi jadi semakin bersemangat menulis hehehehe...


Oya, Rosi mau tanya nih, kira-kira kalau misalnya nanti Ananda dan Ayu sudah Happy ending, setuju tidak kalau Rosi melanjutkan cerita tentang Gaby? Rosi berencana membuat judul baru dan yang menjadi tokoh utamanya adalah Gaby. Namun tetap dengan kehadiran Ananda, Mike, Ayu dan Ron. Akan tetap ada bumbu-bumbu percintaan keempat orang itu dan perdebatan-perdebatan receh antara Mike dan Ron di dalamnya.


Mohon komen dan sarannya ya.. Rosi akan berusaha menulis sesuai dengan harapan para sahabat, meskipun mungkin tidak bisa semua Rosi kabulkan, mengingat Rosi masih pemula dan butuh banyak belajar hehehe...


Terima kasih semuanya...


Happy Reading all..


Luv Luv...