Digi The Killer

Digi The Killer
Perpindahan Ramses


Di sisi utara, sudah tampak truk tronton. Panjangnya sekitar limabelas meter. Dengan kepala truk yang mendongak kecil, tak sebanding dengan buntutnya yang panjang. Di sisi-sisi bak tronton itu sudah terpasang tiang yang dipatri sejak seminggu yang lalu. Di atas tronton itu masih saja ada beberapa pekerja yang mondar-mandir membenahi tali yang menurutku sudah benar. Dengar-dengar dari percakapan warga setempat, Presiden Husni Mubarak akan hadir dalam prosesi pemindahan itu. Dia akan didampingi Zahi Hawass, tentunya.


Sejak kemarin beberapa petugas sudah mengukur volume patung itu. Dan makam itu masih saja diukur. Lampu berkekuatan ribuan watt terpasang di pojok-pojok alun-alun. Badan patung itu ditandai dengan kapur putih. Membujur. Menyilang Garis-garis kapur itu seperti disusun dengan alasan tertentu sehingga simetris satu sama lain. Hanya saja, tali yang bergelantungan di kepala, pundak, dan dada Ramses II disusun secara berbeda. Aku tidak tahu maksudnya apa, tetapi yang pasti mereak akan mengamankan dengan seksama batu yang beratnya seratus ton lebih. Memang hanya sepotong batu, tetapi batu itu hadir dari ribuan tahun yang lalu pada masa sekarang ini.


Aku kemudian membayangkan ketika Ramses II yang aku tatap dari kejauhan itu bisa melihat orang-orang yang mengerumuninya. Aku bayangkan dada patugn itu tiba-tiba berdetak dari dalam, tanda jantungnya mulai tumbuh dan bibirnya bergerak-gerak tanpa sepengetahuan para pembawa patung itu malam itu. Ketika matanya mulai meklihat sekeliling, dan mendapati dirinya dikelilingi oleh ribuan orang dengan pakaian yang berbeda, dan mendapati dirinya dikelilingi oleh ribuan orang dengan pakaian yang berbeda, dengan suasana yang sudah dikelilingi penerangan listrik, yang di waktu itu hanya ada matahari, bulan, dan bintang, dengan bentuk-bentuk gundukan yang terbuat dari batu, tetapi bukan gua, bukan oase, tetapi segundukan gedung-gedung tinggi, barangkali pertama-tama dia akan bertanya di manakah dia berada. Dan ketika dia bertanya, tentu saja tidak banyak yang tahu, apakah itu sebuah pertanyaan karena bahasanya bukanlah bahasa kita. Selebihnya, kebingungan demi kebingungan itu tidak akan dijawab oleh orang-orang sekitar, tetapi hanya dirinya sendiri.


Aku masih terduduk di taman yang kian ramai Setelah tersedak berkali-kali makan roti ish yang tak enak ini, aku mau cari Kuka Kula dulu sebelum melanjutkan:


Message Sent


Back o Inbox


Check e-mail


***


6


HP #2 MSDP:


Siapa yang Tak Senang bila Dimanja Seperti Ini


Sebetulnya aku tidak begitu setuju ketika dia melafalkan Coca Cola dengan Kuka Kula. Yang pertama memang ejaan Inggris sementara yang kedua memang ejaan Arab. Aku juga tahu huruf Arab tidak ada abad C dan vokal o sehingga mau tak mau huruf C menjadi K dan vokal o menjadi u. Akan tetapi, bukankah dia menulis dengan huruf Roman dan itu berarti bisa menuliskan dengan benar: Coca Cola.


Sejak dulu aku sudah tahu kalau saja budaya Arab memang tidak mau mengakui budaya yang lain, kendati dia tahu memiliki lafal yang kurang, teyapi bukankah dia orang Jakarta tulen” Lahir di Pondon Bambu, Jakarta TImur, tigapuluh empat tahun yang lalu, dengan orang tua berinisial EF dan GH. Pernah menikah sekali dan tidak menikah tiga kali, Dia melarikan diri dari seorang gadis Pontianak sebanyak dua kali, tetapi hamil sejkali. Dia lepas tanggungjawab, dan gadis itu akhirnya gantung diri.


Aku tahu semua rahasia, karena dia sering menuliskan folder Diary, kemudian subfolder Aku, kemudian File tertulis namanya sendiri Begitulah, aku bis atahu semua hal tentang dirinya. Kendati begitu, aku masi tetap sebuah handphone yang baik, jadi aku tidak mau membocorkan semua rahasianya.


Begitu dia menekan tombol SEND, sebetulnya aku erasa bahagia. Dia lelaki kasar. Hentakan pada ikon tersebut begitu cepat, diayunkan dari ketinggian. Tak! Dia sama seklai tidak mengerti arti kelembutan. Bahkan di kepalanya mungkin tidak pernah terbayang bagaimana memperlakukan diriku dengan perasaan kasih sayang.


Lihatlah, sebelum dia memencet timbol SEND, dia menggunakan tubuhku dengan hentakan yang membuatku ingin menjerit-jerit. Jari-jarinya seperti lelaki pemerkosa yang sudah tidak tahan lagi karena alatnya sudah mengejang seperti paku. Jemarinya begitu terampil, seperti sudah memiliki mata sendiri. Jemari itu sudah tahu di mana terletak abjad a, b, c, d dan seterusnya. Memangm, abajad di tubuhu sudah terpasang keyboard model qwerty yang berarti sama dengan peralatan mesin ketik manual maupun komputer. Tombolnya memang masih seperti dulu, esc di kiri atas dan enter di kanan bawah Wake di kanan atas dan Ctrl di kiri bawah. Memang kelemahan keyboard di tubuhku ukurannya lebih kecil dari biasanya. Sekitar setengah dari telapak tangan yang dibelah membujur.


Bagitulah, huruf-huruf yang tertera di tubuhku kebih kecil sepuluh kalim tetapi terasa empuk di ujung jari pemilik. Tombolnya seperti dilapisi spon yang akan kembali pada posisi semula ketika ujung jari melepaskan tekanannya.


Kendati lebih kecil, tingkat ketelitianku ribuan kali dibandingkan dengan komputer tradisional atau laptop mana pun. Misalnya saja, aku selalu menggunakan tanda merah ketika dia mengetik tulisan Kairo. Lihatlah, ketika dia mengetik Coca Cola, dia menggunakan huruf gaya Arab, tetapi menggunakan gaya Inggris. Inggrisnya memang Cairo, sehinga ditulis Kairo. Kalau dia mau konsisten, mestinya dia menulis Kahira, karena huruf Arab yang digunakan adalah ka, ha, ra. Ini lebih fair dan aku pikir lebih dail dia pounya pikiran. Tidak semrawut seperti sekarang ini. Dan lihat lagi, dia tidak menuliskan ejip seperti ejaan Inggris Egypt, tetapi menuliskan dengan Mesir. Dari asal kata apakah itu?


Aku hanya handphone, hanya bisa menduga-duga. Kalau tidak salah memang berasal dari huruf Arab, mim, shad, dan ra. Tetapi cara mengejarnya bukan “mesir”, tetapi “masr”. Kalau dia mau jujur, maka dia menuliskan sebagai berikut: Kuka Kula, Kahira, dan Masr. Bukannya aku memberitahu pada pemilik tubuhku, tetapi aku tidak tahu harus berkata kepada siapa. Aku selalu memberikan garis merah di bawah tulisannya, tetapi tidak pernah dihiraukan. Bahkan dia memasang setting agar garis merah di bawah tidak keluar dengan model ejaan Indoensia. Tetapi, karena lebih sering aku dibuat jengkel, akhirnya aku mengeluarkan tanda mereka juga. Biarkan saja.


Kendati dia lelaki kasar, tetapi dia sangat hati-hati meletakkan tubuhku. Dalam pemeriksaan check in di Bandara Jakarta, pintu 2D, dekat pintu masuk para TKW, dia meletakkan di dalam kotak pemeriksanaan handphone dengan sangat hati-hati. Beberapa orang melihatkaku, aku tahu karena aku barang mahal. Setara dengan harga motor grand prix. Begitu keluar dari mesin pemeriksaaan, dia langsung mengabil dengan dua tangannya sebelum kemudian dia berlari ke loket yang bertuliskan Cairo. Demikian pula ketika tiba di Mathor Kahira, dia tidak lupa mengawasi dengan sangat ketat barang kesayangannya yang baru dibeli di Glodok bersama kekasih barunya.