
Satelit
T-God 21st Generastion
Ruang Angka
Koordinat 45” **, *&” BT, 97” BD
Di atas atmosfer yang sangat dingin. Pandangan yang tanpa batas. Lengang. Tak ada oksigen yabg berembus. Angin menderu-deru seperi kenalpot motor tua. Batu-batu meteor mengambang seperti gabus di atas kolam. Terkadang bercumbu dengan kepulan hitam dari strateosfera yang kian busuk saja.
Bangkai-bangkai satelit berserak, mengambang, dan tak ada bedanya dengan onggokan barang rongsokan di tempat-tempat pembuangan Akhir. Di sinilah sebuah tempat ketika kaki melangkah selalu dijumpai besi-besi tua yang bergelantungan di langit yang biru. Kebanyakan seperti aluminium dengan lilitan kawat-kawat yang terbuang dari tembaga. Ada yang masih beroperasi seperti diriku, tetapi tak sedikit yang sudah tinggal tengkorak saja. Begitulah. Ruang angkasa sekarang ini tak ubahnya sebuah bak sampah raksasa untuk setiap megaproyek yang telah dilupakan. Semakin lama, bangkai-bangkai besi bertumpuk, kadang bertumbukan, dan menjadilah gundukan besi-besi yang menghitam, busuk, dan penuh dengan jarum-jarum penuh penyakit.
Sepisaupi. Sepi, Sangat. Kutatap sekeliling, dan aku selalu kagum, betapa tak ada lagi cakrawala yang membatasi sorot mataku. Aku hanya melihat tidak jauh dari sini: Bumi hanya segenggaman tangan. Di situlah miliar manusia berjubel-jubel memperebutkan ruang. Mengambilalih waktu.
Aku menyaksikan merak mondar-mandir antarbenua, mengeksplorasi lepas pantai dengan mata-mata bor yang taja, dan dalam, menangkap ikan dengan teknologi sengat listri dan jaring-jarung memiliki radius ribuan mil, ada sedang berselancar di pantai Hawai, koat New Ypork yang selalu sibuk dan masih saja kotor, London yang selalu bercahaya, Mekkah, Jedah, Kairo, Tripoli, Manhattan, Selangor, Orchid Road Singapura, Jakarta, Gunungkidul, Bali, Lautan Atlantik, Afrika. Ada lumpur di Sidoarjo yang terus melebar, menggunung, menenggelamkan beberapa kota, dan baru berhenti pada 2030. Mataku berselancar di antara kota-kota di seluruh belahan dunia, membus ceruk yang terdalam dari lautan Hindia sampai sekat-sekat di Petronas, Malaysia.
Memang aku berada ribuan mil dari atas bumi, tetapi telah menjadi tugasku untuk memancarakan kembali apa saja yang dipancarkan oleh bumi. Aku mirip cermin yang diam di jauh pucuk-pucuk ketinggian, tempat di sana tidak ada siapa pun kecuali aku yang duduk terpaku. Aku selalu mengembalikan setiap gelombang elektromagnegik yang datang kepadaku persis seperti mereka memancaran kepadaku. Di bawah sudah menunggu pemancar-pemancar penerima yang dengan suka hati membawa gelomba elektromagnetik ke setiap perngkay keras yang sudah disetel untuk mengolah gelombang-gelombang itu. Pernagkay keras itu, oleh manusia-manusia di bawah sana disebut dengan handphone, mobile phone, telepon seluler, aau entah apa lagi.
Dan dari ketinggian ribuan mil ini, ketika bumi yang aku lihat hanya bulatan tak lebih dari rumah tipe 21, aku pun bisa lebih detail menceritakan aktivitas mereka yang terkait dengan handphone. Hal itu membuatku selalu teringat karena gelombang-gelombang yang kupancarkan dari sayap-sayapku ternyata telah sampai ke setiap orang. Tidak hanya mereka yang sedang suntuk di kantor, tetapi juga rumah tempat ramai, bahkan dipegunungan-pegunungan yang sunyi. Mereka membawa pemancara penerima yang biasa disebut handphoine kemana pun mereka pergi.
Kini aku menyaksikan di mal-mal, pasar, halte bus, terminal, stasiun kereta, di tengah perjalanan besi rongsokan berupa penerima gelombang telah menjadi salah satu anggota badan manusia. Kalau saja mungkin, teknologi akan menjadikan handphone sebagai tangan ketiga yang dicangkokkan di depan ada manusia. Sebab, di mana pun dan kapan pun manusia tiba-tiba tidak bisa hidup bila tidak bersanding dengan besi tersebut.
Ini sebetulnya satu tahap keberhasilan yang ditunjukkan oleh satelit satelit pendahuluku. Target mereka sederhana, menjadikan gelombang elektromagnetik dan serat-serat optik sebagai bagian dair hidup manusia. Target itu kemudian ditingkatkan, tidak hanya sebagai bagian dari kehidupan manusia, tetapi sebagai gaya hidiup yang cukup menunjukkan kelas mereka. Dan tampaknya, pendahuluku telah memberikan laporan yangh sangat akurat tenatng target-targtenya. Bayangkan saja, sudah sekitar 5,5 miliar penduduk di bumi sudah menggunakan handphone. Itu berati 89 % manusia di bumi udah memanfaatkan teknologi seluler. Belanja harian manusia untuk gelombang elektromagnetik sudah mencapai 10 miliar USD. Itu akan terus meningkat dan terus meningkat.
Maka, sebagai satelit generasi ke-21, aku memiliki misi untuk menindaklanuti apa yang telah dicapai para pendauluku. Dari namaku saja, T-God 21st Generation, sebetulnya sudah tampak betapa aku adalah satelit generasi mutakhir yang telah dilengkapi dengan pemancar gelombang pemindai, pembentukan superprogram secara mandiri, scanning virus, perbaikan-diri, serta anek aktivitas untuk mempertahankan hidupku sendiri di ruang angksa. Aku telah dibekali dengan aneka sumber-sumber energi yang diolah dari sinar matahari. Power supply utama adalah sinar yang tak habis-habis, dan itu berarti aku tidak akan pernah mati selamanya. Ketika manusia menginginkan hidup lebih lama lagi, aku bahkan bisa menikmati hidup selamanya. Alangkah indah hidup selamanya.
Degan semua kecanggihan dan kesempurnaan segala fasilitas, target yang dipajang pun cukup berat. Tugas ini telah menjadi bagian penentu dari nasib manusia saat ini dan seribu tahun ke depan. Aku tidak hanya ingin menguasai manusia, menjadikan manusia sebagai bagian dari semesta teknologi. Target utama adalah membuat manusia sebagai sekrup atas teknologi. Teknologi adalah raja yang harus disembah oleh manusia-manusia di bawah kolong langit sana.
Beberapa program pembantu telah diintai di dalam handphone orang per orang untuk memperlancar tugasku. Aku telah mendapakan laporan dari porgranm-program pembantu di bawah sana.
Kami –yang menjadi representasi dari diriu, gelombang elektromagnetik, pemancar pengirim dan pemancar penerima, hardware pengolah gelombangm, sampai dengan serat optik dan keyboard—memang akan membunuh manusia, ku akui. Tetapi itu telan-pelan saja. Sangat pelan.
Sebetulknya kamis duah muak degan tugas ini, tetapi aku merasa harus dijalankan karena aku menjadi ada karena aku melaukan apa yang sudah digariskan. Manusia telah menciptakan diriku, dan ketika aku bereksistensi menyerang dirinya, bukanlah suatu kesalahan. Aku hanya ingin menunjukkan diriku.
***