
Ramses memahami satu kata kunci: Membayangkan. Yap! Dia pun segera membayangkan dirinya ketika berkuasa pada masa 1304 sampai 1237 Sebelum Masehi. Ramses selalu teringat pertama kali naik tahta . Sungai Nil yang subut, yang membelah Mesir menjadi Barat dan Timur, gunung Sinai yang menjadi tanah suci abadi, yang selalu dikunjungi umat manusia dari berbagai suku di dunia.
Resinem, seorang pendahulunya yang pernah memerintah Mesir Kuni pernah berkata yang hdiup pada 1406, Mesir adalah pusat peradaban dunia. Sebab, pembangunan dunia berasal dari peradaban Mesir.
“Di mana lagi, kalau bukan di Mesir, segala ilmu dan teknologi telah berkembang sedemikian rupa,” ucap Resinem kepad para pekerja yang berkumpul di sebuah kota batu, tempat cikal bakal piramida. “Ilmu arsitektur yang menjadi tanda keinggian peradaban kita. Pada setiap sudut akan menunjuk setiap rasi bintang yang ada di atas langit, seakan-akan ingin mengatakan kepada anak cucu kita bahwa ilmu perbintangan sudah ada di genggaman tangan.”
Salah seorang kemudian bertanya: “Bagaimana sebuah bangunan bisa berkata kepada anak cucu kita.”
“Bangunan itu berkata tidak seperti manusia berkata. Lihatlah tangan-tangan seniman kita yang penuh dengan ide. Mereka akan kita beri tugas untuk membuat karya yang mengagumkan bagi anak cucu kita. Karya itu tidak akan disamai oleh mereka.”
“Seperti apa karya yang mengagumkan itu, Tuan?” salah seorang Patih kemudian bertanya kepadanya.
“Mereka akan membuat karya seni yang tidak hanya meniru alam semesta, tidak juga meniru manusia. Para seniman dan menciptakan percampuran manusia dengan alam. Kalau di Yunani ada Centaurus, kuda berkepala manusia, maka di Mesir ada singa berkepala manusia.”
“Apa nama karya itu, Tuan?” Para pekerja yang mengangkati batu itu terpesan dan melemparkan sepotong pertanyaan
“Aku tidak tahu apa itu namanya nanti, tapi gagasan itu akan segera diwujudkan dan masalah nama hanya bagian terkecil dari gagasan terbesar kita!”
Kemudian para pekerja, punggawa, dan patih bersorak-sorak, meneriakkan yel-yel yang menyanggung resinem. Hidup, Sang Raja! Hidup Sang Raja! Hidup Sang Raja!”
Ramses mengingatnya sambil tersenyum. Itulah kisah yang turun-temuurn dan slealu diingat oleh Ramses dan anak cucunya. Kini apa yang diceritakan oleh pendahulunya Resinemb, telah terwujud Arsitektur yang menunjuk bintang dilangit telah dinamai dengan piramida. Dan singa berkepala manusia kini telah dinamai dengan Spinx. Semua telah mewujud, hampir seperti yang diangankan oleh Resinemb.
Pada masa Ramses berkuasa, patung bangunan itu hanya digunakan sebagai penyimpan jasa para pendhaulunya yang sudah wafat. Mereka disimpan disebut kotak batu yang telah diberi ramuan-ramuan yang diambil dari ujung laut. Para dokter pada masa itu menyebutnya sebagai ramuan untuk hidup abadi. Dengan ramuan itu, maka jasad seseorang akan kekal. Jasad yang kekal akan membuat jiwanya kekal. Karena itu, ramuan yang telah diracik itu akan dioleskan ke sekujur tubuh, sebelum kemudian jasad itu dibawa ke sebuah bangunan diiringi oleh upacara.
Di sana, jasad itu akan tentram selama-lamanya, karena tidak akan ada apa pun yang mengganggu. Kententraman sebagai manusia abadi lebih indah daripada dewa-dewa yang selalu beremayam di lamgit. Dewa tidak mengenal kesedihan, dan karena itu mereka para dewa tidak mengenal kesenangan. Manusia abadi akan mengekalkan dirinya sebagai sebuah titik kesenangan yang tidak pernah berakhir, seperti keidupan yang abadi, tidak juga cuaca, angin, hujan, panas, atau apa pun yang terjait dengan gejolak alam raya. Tidak juga manusia, karena mereka tidak cukup cerdas untuk menemukan tempat-tempat manusia-manusia abadi itu terawetkan.
Tuan Ramses, kepala Ergo tidak bisa menangkap apa yang kamu bayangkan, Waktu yang kamu abil terlalu jauh, LIhatlah, memori-memori yang dulu sudah makin rontok. Makin punah, Cepatlah. Kalau tidak segera, Ergo akan kehilangan ingatan. Ergo akan gila.”
Ramses mundur seketika. Tebersit di dalam kepanya sepotong pertanyaan: Kenapa aku harus membela Ergo? Apa kepentinganku? Bukankah aku cukup keluar dari tempat sialan itu dan aku akan hidup abadi di piramida bersama selir-selirku?
“Menuliskan tentang diri saya?”
“Apalagi yang Tuan tunggu. Cepatlah! Kita sudah terlibat jauh!”
BUkankah kita sudah trlibat jauh?! Mungkin ini alasan yang tepat. Mungkin. Dan dia tergerak bukan karena ingin memberikan gambaran yang baik kepada Ergo tentang dirinya, tetapi memang sudah sangat terlibat.
Ramses akhirnya maju selangkah, Dia kembali berkonsentrasi, Dia menciptakan kurungan-kurungan yang bisa naik dan turun sesuai dengan keinginannya. Kurungan itu brgerak pada lorong vertikal, jauh ke atas tak terbatas dan jauh ke bawah tak terbatas. Lorong itu mirip lubang tanpa dasar sehingga mirip sebuah sumur yang begitu dalam dan panjang. Dan dia berkata di dalam kurungan degan dinding kacam pada setiap dinding lubang itu tertulis angka-angka tahun. Angka-angka itu akan menunjukkan di mana dia akan berhenti. Kurungan dengan dinding kaca itu tak ubahnya sebuah lift yang akan berhenti pada sebuah lantai telah bertuliskan.
Kini saatnya dia mulai bergerak. Dilihatnya sebuah tombol di depannya, dia tengan berada di tahun nol Masehi, Kalausaja dia memencet tombol keluar, dan berjalna-jalan menuju tahun nol Masehi, tentu saja dia akan melihat Yesus kahir, memangm begitu dia memencet tombol keluar maka pintu kurungan itu akan segera terbuka, dan terhampar sebuah tahun no. Dia bisa keluar di mana, sebuah tempat yang tidak dia pahami, tetapi dia akan bisa mendapatkan sesuiatu yang baru dari sana.
Tetapi untuk apa? Bukankah itu tidak relevan dengan pertolongan sekarang ini. Maka Ramses pun segera memencet tahun 1882. Tahun itulah pertama kali, patung Ramses ditemukan oleh para petinggi Mesir, Begitu dipencet, maka kurunga itu langsung berlari ke atas, melesat ke atas, dan berhenti pada sebuah papan bertuliskan “Tahiun 1882”. Dipencet tombol keluar dan terbukalah sebuah pintu.
Kemudian dia melihat sekeliling. Sebuah keramaian di padang pasir, tempat patung dirinya terbenam, dan hampir tak terlihat. Orang-orang sekitar hanyalah mengenali mahkota yang aku bawa, batin Ramses. Maka mereka kemudian menggali lebih dalam, lebih dalam. Tetapi ketika beberapa orang sudah menggali lebih dalam lagi, ternyata mereka kaget bukan kepalang.
“Kamu sudah menggali hampir sepukuh meter, tetapi belum tanpa tanda-tanda patung ini akan berakhir,” ujar salah seorang penggali.
Disisinya ada mandor yang selalu mondar-mandir dan mengawasinya.
“Gali lebih dalam lagi!” Mandor yang melihat patung Ramses itu sudah sampai di pundaknya.
“Apakah patung ini utuh sampai kaki, Tuan?”
“Kalau aku sudah tahu, tentu aku sudah buatkan perencanaan dari awal tentang penggalian yang lebih dalam lagi,” Mandir merasa sebal dengan pertanyaan itu.
“Seberapa besar patung ini kalau begitu?”
“Hei, budak! Kamu tidak usah banyak tanya, Pokoknya gali saja. Aku membayar kamu bukan untuk bertanya, tetapi untuk menggali.”