
Paginya, buku itu telah naik cetak dan diedarkan ke seluruh dunia melalui jaringan buku internasional. Buku itu kemudian diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa di dunia. Buku itu hampir-hampir menyaingi kitab suci dalam distribusi.
Begitulah ceritanya, akhirnya Bill Gate membayangkan perubahan tatanan dunia. Segala informasi tidak lagi disimpan dalam kertas kumal, yang akan segera hancur bila terkenal air hujan. Sistem otak manusia tidak lagi dibutuhkan untuk menyimpan data-data, hanya memenuhi memori-memori tempurung kepala manusia saja.
Sambil bersantai-santai, dia kemudian berteriak kepada anaknya, “Lihatlah, Jenny sayang, manusia telah menggantungkan dirinya kepada buatan Ayah. DI seluruh pelosok dunia, tidak adakan ada tanda-tanda peradaban bila mereka tidak menggunakan teknologi digital yang telah Ayah kembangkan.”
“Bagaimana Ayah bisa tahu?” Jennifer mencium wajah ayahnya. Sang istri baru saja spa di ruang belakang.
“Begini, sayang. Ayah membayuangkan bahwa sistem digital tak ubahnya heroin atau ganja atau sejenisnya. Bila orang tidak menggunakannya, maka dengan begtiu mereka tidak lagi bisa hidup. Perangkat digital bukan lagi perangkat mewah, tetapi telah menjadi kebutuhan makan dan minum. Kalau Abraham Maslow bangkit dari kubur dan melihat apa yang ada di depan matanya, dia akan bilang bahwa perangkat digital adalah kebutuhan paling dasar. Sebab, orang yang tidakbisa hidup tanpa teknologi digital, Sayang.”
“Ayah jahat!”
“Tidak, Sayang. Mereka justru harus berterima kasih kepada Ayah.”
“Mereka tidak tahu bahasa di balik itu semua, Ayah.”
“Hahaha… kami ini gadis pintar. Tidak ada bahaya apa pun di dunia ini, Sayang, Lihatlah, otak telah diganti dengan sistem binerm data-data telah dikiri, dengan kecepatan tinggi dan dalam ukuran bandwith, ada flashdisc yang menyimpan jutaan giga data. Itu berarti, data seluruh kota bisa disimpan dalam satu jempol besi. Sungguh sangat sederhana, Sayang. Sangat sederhana. Semua siudah Ayah rancang untuk menggantikan tugas manusia yang begitu berat, Sayang…”
“Pokoknya Ayah jahat. Mestinya, sistem digital kan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dengan kerja Ayah, manusia menjadi bagian dari sistem digital.”
“Kamu salah paham Sayang.”
Kemudian bibir Jennifer manyun.
“Jangan begitu, dong. Ayah hanya malu untuk mengatakan diri ayah sebagai Nabi baru. Bukankah sudah diputuskan tidak ada lagi Nabi baru di dunia ini, Sebab, katanya, keajaiban telah selesai, dam wahyu sudah tidak diturunkanlagi oleh Tuhan. Tuhan telah kehabisan tinta untuk mengirimkan wahyu dalam bentuk tulisan. Kini saatnya aku mengirmkan kitab suci berubah perangkat berubah jadi pernamgkat digital, Sayang.”
“Kalaulah boleh ada Nabi baru di dunia ini, apa kitab suci yang Ayah punya?”
Bill Gates tergelak, Kursi malasnya terguncang-guncang. “Kitab suci itu namanya sistem digital, sayang.”
“Tepatnya bersama makhluk digital, Sayang…”
***
1
Riwayat Mesin Digital dan Sang Pelukis
“Ayah, ceritakanlah kepadaku tentang manusia modem,” pinta Jennifer. Suaranya kali ini kepada ayahnya. “Karena kata Ayah, manusia modem mirip dengan manusia digital.”
Maka, setelah mencium kening putrinya itu, mata Bill Gates menerawang jauh. Cerita belum dimulai ketika dia sudah berkata-kata. Dia menyebut dirinya bukan dengan kata “ayah”, tetapi cukup dengan menyebut namanya sendiri. Dia ingin kata-katanya nanti tidak ubahnya sebagai wahyu, dan setiap pembicaraannya adalah kalam Tuhan. Apa yang disebut dengan manusia digital mulanya hanyalah dimaksudkan sebagai “Sistem digital yang menjadi dekat dengan segala kegiatan manusia”. Tetapi sejak Bill Gates menciptakan istilah itu, lamat laun pengertian itu bergeser. Ada yang diam-diam mengikutinya. Tetapi ada yang terang-terangkan melecehkan, dan pada saat yang sama menggunakan teknologi yang disuguhkan. Ada yang sungguh-sungguh ingin melihat alat bantu itu menjadi manusia yang sesungguhnya.
Karena itu, di akhir cerita ini akan dikisahkan, manusia digital itu bukan lagi kegiatan digital yang membantu akhluk cerdas di bumi ini. Bukanlah lagi “personal”, yang lebih sebagai sebuah kata sifat untuk manusia, melainkan telah berubah menjadi “person”, yang berarti manusia itu sendiri. Sistem digital telah mengubah dirinyasendiri menjadi sepotong manusia, lengkap dengan kognisi perasaan, dan tindakannya. Secara psikologis, dia menyimpan aneka perilaku-perilaku untuk menampakkan kediriannya. Ketika “manusia digital” ini mau menampakkan dirinya, secara eksistensial dia harus dikenali oleh manusia sebagai sosok yang memang benar-benar ada. Karena itu, jika Jean-Paul Sartre sebaga manusia hidup bisa mengatakan bahwa manusia digital ini benar-benar eksis. Riil. Teraba.
Syahdan, sebagai sosok mansuia yang eksis, tiba-tiba perangkat digital menjadi sosol yang dibenci oleh manusia. Salah satunya yang kini menjadi sasaran adalah handphone. Manusia membenci dengan beragam cara, bahkan dengan olok-olok yang sangat memedihkan sekalipun.
Maka, ini bukanlah kebetulan, tetapi telah melampaui berbagai prosea yang panjang, Ini peristiwa terjadi di Savolina, Skandinavia, hari Sabtu, 26 Agustus 2006, suatu siang yang panas.
Hari Sabtu lalu, di Savolina, kota kecil di negara Skandinavia, kembali digelar kejuaraan dunia tahunan lempar ponsel (telepon seluler). Meski belum masuk nomor atletik yang dilombakan di arena olimpiade, kejuaraan dunia lempar ponsel ke-7 itu mampu menarik partisipasi tak kurang dari 100 atlet berbagai negara, termasuk Kanda, Rusia, dan Belgia. Medali emas tahun ini disabet oleh Lassi Etelatalo, atlet Finlandia yang berhasil melempar ponsel Nokia-nya sejauh 89.00 meter (Harian Kompas, 28/8/06)
Lemparan itu jelas didasari oleh kebencian yang mendalam terhadap hadirnya handphone. Bila sedikit mau menilik biografi sang atlet, maka terlihat betapa Lassi adalah pembenci teknologi digital, Maka, kebencian itulah yang membuat dirinya menang. Jencian membuat handphone Nokia terlempar hampir seratus meter.
Bayangkan saja, siapa yang mampu melemparkan sejauh mungkin barang rongsokan yang berfungsi sebagai sarana telekomunikasi itu, maka merekalah yang akan menjadi pemegang medali. Itu berarti, semakin jauh semakin baik. Semakin hilang dari muka bumi, itu semaiin baik. Mungkin suatu kali nanti ponsel tidak hanya dilemparkan, tetapi dimusnahkan dengan cara-cara yang paling menari. Karena lemparan ponsel sudah mendapatkan hadiah emas, maka lomba pemusnahan ponsel akan dilakukan sebentar lagi. Siapa yang memiliki cara yang paling menarik, dialah pemenangnya. SIapa pun yang mampu memusnahkan dengan cepat dan tanpa bekas, dialah pemegang medali emas.
Di seluiruh bumi, kebencian terhadap sistem digital tiba-tiba muncul hampir bersaman. Mereak membencinya, tetapi sampai sejauh ini tidak bisalepas darinya.
Alkisah, di berlahan bumi yang berbeda, di Semarang Indonesia, seorang pelukis telah menggambarkan betapa kejam akibat-akibat yang diberikan teknologi. Dia menggambarkan dalam sebuahlukisan bertajuk “Lukisan Motherboard”. Pameran diselenggarakan dalam seak 27 November sampai 2 Desember Liputan di Kompas (28/11/0) bertajuk “Menorehkan Terror Teknologi di Kanvas” telah menggegerkan warga Semarang dan sekitarnya.