Digi The Killer

Digi The Killer
19 HP #2 MSDP Bukan Besi Rongsokan


Waktu, waktu, usiamu yang panjang itu ternyata tidak memberikan banyak pelajarna kepadamu. Ketika seseorang sudah lama mencampkakkan dirimu, maka mestinya kamu mulai sadar dengan keadaan bahwa kamu memang sudah tidak diperlukan lagi. Aku bahkan masih memberikan kesempatan kamu hidup dalam beberapa sudut kesadaran. Bukan apa-apa, hanya kasihan kepada kehidupanmu yang mulai sunyi. Aku sebetulnya turut merasa sedih ketika kehidupan Waktu yang semua riuh dan sangat dibutuhkan untuk perpindahan dari satu ruang ke ruang lain; yang sangat dihitung untuk kecepatan, jarak, energi, semua itu tiba-tiba dikerucutkan pada sebatang kata: esensi. Sebetulnya bukan aku yang kamu katakan besi rongsokan yang membuat tubuku seperti kocar-kacir, tetapi esensi.


Bertanyaklah kepada esensi, kenapa segala sesuatu ditarik kepada intinya saja. Gertaklah dia, kenapa ruang hanya dilihat sebagai sistem koordinat dua dimensi, yang artinya tidak lebih sebagai bidang datar. Sekurang-kurangnya itu bisa dilihat ketika orang-orang menyusun mapping sebuah kota, Ketika seseorang bingung, di ahanya meklihat ruang sebagai bidang datar, di mana dia berada dan kemana dia akan pergi. Koordinat-koordinat itu sudah cukup memberitahukan apa saja yang mesti dilakukan. Demikian pula waktu yang dipersiongkap dengan hadirnya teknologi jet, ruang angkasa, perjalan menuju bintang, hadirnya manusia di planet-planet yang asing. Mereak sama sekali tidak membutuhkan bentuk waktu yang konvensional sepertimu. Kasihan kamu.


Sudahlah, aku bosan mengatakan kalau kamu tidak berguna. Mestinya aku tidak mengatakan kepadamu karena sesunggguhnya kamu memang tidak berguna sudah sejak lama.


Kini tubuhku dan Ergo sudah berada di atas jok taksi. Jarak Kairo dan Giza yang hampir sekitar 50 km itu jelas membuat sopir taksi mematok harga setinggi mungkin. Seribu pound. Sialan, Itu hampir setara dengan uang makan di Kairo satu bulan lamanya. Tapi apa boleh buat. Bersedia atau tidak, sebetulnya dia juga akan sampai ke sana karena proses perpindahan itu mengharuskan dia sampai di Giza.


Di dalam lambung taksi yang menyemburkan AC 20 derajat Celcius itu Ergo kemudian membuka tubuhku lagi, Dan sejak dia mulai membuka kunci penutup tubuhku, aku merasa kian segar saja, Begitulah, Waktu, kamu lihat sendiri betapa diriku tak ubahnya seorang pacar yang sedang dimanja, Ada belaian dan sentuhan yang selalu dilaukan. Serasa sebagi senyuhan yang kekal, Apakah kamu pernah merasakanya? Hahahaha…


Aku merasa dia memencet tombol Ctrl + Home. Itu tandanya dia mau meihat pesan yang mau dikirim tadi, Ketika dia berjalan di atas trotoar, dia memang sempat mengetik balasan untuk kekasihnya, Kana, tetapi tidak sampai selesai karena dia berjalan terlalu jauh. Seperti biasa, ketika dia mengetik, dia melupakan waktu. Dan ketika dia melupakan waktu, aku makin menyukainya, karena itu bertanda bahwa dia mulai bergantung dengan diriku, sosok yang selalu kamu sebagai besi rongsokan buruk rupa (Kendati aku tahu diriku tidaklah seburuk yang kau duga).


Sebelum melanjutkan balasan, dia membaca kembali pesan Kana:


Sender:


Kitakana


+6281234


25/08/2020, 11:20:25


Text


Aduh sayang, kenapa kamu melakukan hal bodoh itu? Kenapa? Aku tak habis pikir, beberapa saat sebelumnya aku sudah mengingatkan dirimu. Bibirku belum kering ketikaku berucap kepadamu. Mulutku juga belum benar-benar terkatup setelah mengingatkan dirimua agar selalu awas denagn setiap perkembangan yang ada. Ingat ketika aku membuatmu jengkel karena tidak membela dirimu saat kau mengadulan penjual Coca Cola Ingatkah keyika aku lebih mempersalahkan dirimu karena kau abai dengan mereka? Kau lebih banyak mengutak-atik HP-mu yang baru sehingga penjual merasa diabaikan, dan karena diabaikan, dia meninggalkanmu. Sudah berkali-kali hal itu kamu lakukan, dan kesalahan yang sama selalu muncul.


Dan kini. Ya, kini. Apa yang telah kamu perbuat, Sayang? Aku di sini, ketika aku mengetik tulisan ini, menahan tangis yang mendesak-desak keluar. Kami pergi jauh-jauh dari Jakarta menuju Kairo tentu memiliki tujuan utama. Aku ingin jelaskan sekali lagi, tujuan utama kamu adalah mengabadikan tiap deial perjalanan Ramses II dari Kairo menuju dataran tinggi Giza. Soal waktu pembongkaran, itu juga sudah kamu cari tahu dari pejabat pemerintah, intelijen, sampai masyarakat luas. Begitu tahu, kamu juga sudah sampai di kawasan alun-alun pembongkaran. Kamu sampai beberapa jam sebelum pembongkaran.


Tetapi, setelah segalanya kamu atur dan dengan landasan tekad yang membara, tiba-tiba semua itu lenyap tanpa sisa. Seperti debu yang disapu angin atau diguyur hujan dalam satu sapuan. Kini kamu tidak bisa memutar waktu, kendati hanya beberapa jam di belakangmu. Tidak harus beberapa jam, tetapi beberapa detik di belakang kamu. Karena kita tidak ubahnya makhluk yang menggunakan kaca mata kuda untuk menatap waktu. Kita hanya bisa menikmati sesatu di depan kita, dan kita tidak bisa menoleh, dan bahkan berbalik ke belakang.


Jujur, Sayang, aku ikut sedih. Teramat sedih, Bagaimana kau bisa mengobat kesedihan itu? Bagaimana duka ini tidak berlarut-larut?


….


Kemudian aku melihat Ergo langsung mengetik balasannya


Kitakana


+6281234


24/08/2020, 02:15:25


Kana, kekasih, semua sudah terlanjut Benar katamu, bahkan aku tidak bisa memundurkan waktu barang sedetik pun apalagi beberapa jam yang lalu. Kini aku berencana memburunya ke Giza. Kendati terlambat, mungkin saja aku bisa melihat hasil perpindahan itu. Landasan tempat patung itu pasti masih belum berlumut. Bekas-bekas tali yang dikaitkan ke seluruh tubuh dan kepala Ramses tentu masih berserakan di sekitarnya.


Aku membayangkan masih tesisa beberapa warga Giza yang mengagumi rajanya ratusan abad yang lalu itu. Nah, bila masih ada, tentu aku bisa menggali informasi dari situ. Sekurang-kurangnya, informasi yang belum aku ketahui tentang Giza. Apalagi kalau dia mengikuti prosesi dari Kairo ke Giza. Aku akan mendapatkan informasi yang sangat kaya.



Tulisan Ergo baru sampai sini ketika menyadari baha dia berhalan terlalu jauh dari lokasi mangkal taksi. Akhirnya dia mematikan tubuhku, kemudian balik sambil berungut-sungut. Di dalam taksi dia kemudian melanjutkan balasan dia kembali mengetik dan mengetik.



Itulah rencana dan harapanku, sayang, Semoga Tuhan menolongku, Semogha juga dirimu tidak ikut memarahiku. Aku sudah dituntut dengan pekerjaan. Makin aku migrain dengan semua ketololan ini. Karierku seperti berhenti karenanya. Di saat-saat seperti itu, lagi-lagi kamu tidak mengucapkan kata, “Bersabarlah, Sayang Kamu hanya terlewat kecil dan bisa mengembalikan seperti sedia kala. Kamu bisa mendapatan data-data yang kamu inginkan dan karena iru, kamu pun bisa pulang sambil ceriat arak-arakan Raja Ramses II dari Kairo. Kamu bisa menceritakan dengan detail bahwa seakan-akan kamu memang menyaksikan.” Justru sebaliknya kamu menghardikku, “Kamu hadir di sana, tetapi tidak ada. Kehadiranmu di Kairo tidak berarti apa-apa dan hanya semakin mempertegas kegoblokanmu.” Itulah sebetulnya yang kamu ingin ungkapkan? Aku tahu, tetapi tidak apa. Dari dulu aku merasa memang idak ada yang mendukungku.


Aku merasa bahw aini memang tugasku dan ini semau merupakan tanggungjawab yang harus kugotong sendiri. Tidak perlu bantuan orang lain. Termasuk bantuanmu.


Terima kasih.


Message Sent.


----


Dia menekan tombol enter dengan hentakan yang sekuat tenaga seperti seorang pembunuh yang hendak mencongkel mata musuh-musuhnya. Napas dihembuskan kuat-kuat. Tangannya menggenggam, kuat seperti *******-***** bara. Aku lihat matanya melotot kepada diriku, tetapi aku yakin dia tidak sedang kesal kepadaku.


Kembali dia merenung. Aku mulai bisa memaca apa yang direnungkan karena di dalam pikirannya tidak ada yang lain keculai layar demi layar monitorku. Setiap pola pikirnya hanyalah deretan kalimat yang memiliki struktur gramatikal dan semantik tertentu. Alur pikirnya hanyalah tombol-tombol ikan, yang dalam sekali pencet, akan keluar menu-menu yang sudah diduga sebelumnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa hidup tanpa diriku.


***