Digi The Killer

Digi The Killer
31 HP #2 MSDP: Aku Cukup Teryakinkan


31


HP #2 MSDP: Aku Cukup Teryakinkan


Ketia taksi bergeak, Program Update pun bergerak. Ini semua berawal dari proses yang sederhana. Berawal dari gerakan kesadaran user, yakni Ergo, yang melaun kosong. Ketika kesadaran kosong, ibarat mesin sepeda motor yang dihidupkan tetapi masih diam di tempat. Perputaran kesadaran yang lamba itu dimanfaatkam oleh Program update dengan bantuan dari satelit. Satelit menyiram kesadaran dengan anek gelombang elektromagnetik yang merembes muldari dari rambut, kulit rambut, oto kepala, tulang sampai tempat bersembunyi otak manusia. Dengan bantuan transportasi menuju ke dalam jejaring otak, maka Program Update dalam kecepatan yang setara dengan suara sudah bis amenguasaio jaring-jaring syaraf otak ke seluruh tubuh. Penguasaan itu dijadikan dasar untuk segera masuk ke dalam pusat jaringan syaraf otak yang menggerakkan semuanya. Pusat ini kalau dalam ilmu komputer biasa disebut dengan microchip.


Kini aku memang menyaksikan Program Update mampu menguasai “microchip” di kepala Ergo.


Begitu benar-benar bisa dikuasai, akhirnya Program Update membuat susunan program di dalam jejaring otak. Target semua yang terpancang di dalam layar pipkiran Ergo adalah Kota Giza. Dengan kemampuan Program akhirnya target itu di-delete, kemudian dialihkan menjadi gurun Rihad, beberapa kiloemeter ke arah timur Sungai Nil.


AKu masih geli ketika target telah diubah dan Ergo berkata kepada sopir agar berbelok ke kiri.


“Katanya mau oergi ke Giza, Tuan?”


“Apakah Tuan tahu di sana hanay terhampar guru dan bebatuan? Apa yang Tuan cari di sana?”


“Ergo menarik napas dengan nada sangat tak sabar. “Apakah aku harus memberitahu orang yang mengangantarku aku mau apa?”


Sopir itu hanya menggeleng kecil. “Tidak, Tuan.”


“Kalau begitu, di depan ada pertigaa, kamu belok kiri.”


“Baiklah, Tuan.”


“Nanti akan saya bayar argo taksi berikut dengan kekesalanmu. Semua bisa dikukur dengan satuan jinaih atau dolar.”


“Ya, Tuan.”


“Berucap begitu lebih baik.”


Begitu sampai di pertigaan yang di atasnya terdapat papan penunjuk arah, akhirnya taksi berbelok ke kiri. Melaju dengan kecepatan sampai 120 km/jam, sopir taksi hanya ingin tahu bahwa dia cukup menginjak pedal gas. Entah kemana. Sang sopir kembali melirik penunjuk bensin di dasbor, masih cukup untuk dua kali pulang-pergi ke Kairo Tak masalah. Sebab, sepanjang pengetahuannya, di gurun tidak ada poin bensir. Dan hanya satu pelanggan iniah yang hendak pergi ke sana.


Aku merasakan saat itu Ergo seperti orang kesurupan. Tatapan matanya kosong. Gerakannya hanya beberapam seperti robot yang baru di-setting pleh pembuatannya. Tangannya yang memegang tubuhku tiba-tiba kaku dan dingin, Degup jantungnya tidak menunjukakn percepatan, tetapi memiliki degupan yang aneh, seperti beriringan, seperti memiliki dua jantung.


Di dlam hatiku bertanya, apakah ini memang pekerjaan program Updated? Kalau memang iya, aku bisa mengacungi jempol.


Beberapa saat kemudian, aku mendengar Ergo beresuara. “Berhenti di sini, Sopir.”


“Stop! Stop!”


Sopir yang setengah percaya ytadi, mengendorkan pedal gas. Kemudian menginjak rem sambil menengok ke belakang. “Stop dio mana, Tuan?”


“Di sini.”


“Di sini di mana?”


“Di pinggir jalan ini.”


“Di pinggir jalan ini?”


“Aku tadi bilang apa?”


“Tetapi, untuk apa Tuan di sini? Tak ada apa pun. Hanya arwah-arwah yang gentayangan duduk-duduk di gurun yang sepi ini.”


“Saya bilang berhenti.”


“Tapi, Tuan …”


“Kamu butuh uang,” Ergo seger amengeluarkan dompet, mengambil jinaih dan beberapa tips. “Ini aku beri kamu uang lebih, turunkan aku di sini, dan kamu bisa balik ke mana pun.”


Melirik dari kaca spion, dan melihat lembaran uang, akhirnya sopir taksi benar-benar menghentikan mobilnya, Sang sopir masih tidak percaya kalau ada orang yang ingin mencari kesulitan, tetapi inilah yang dihadapi. Dia tahu, banyak perilaku pelanggan yang aneh-aneh, tetapi yang ini?


Begitu turun dari lambung takso, ternyata taksi tidak langsung pergi. Dalam malam, sang sopir melihat Ergo yang selepas keluar dari taksi hanya berdiri sambil memegang tubuhku, handphone yang sangat dia sukai. Baru kemduian beranjak ketika Ergo memelototi mobilnya sambil menantang keras-keras. “Pergi sana!” Dan taksi pun hanya meninggalkan asap knalpot.


Hahahahaha, bagus, bagus. Prpogram Update memang bisa diandalkan, “Sesuai dengan namamu sebagai program pembaru.


“Kamu tahu sendiri pekerkaanku, kan. Cepat, tepat, dan memuaskan.”


“Kinini aku baru percaya. Tak sia-sia satelit mengirimkan untukku.”


Program Update membusungkan dada.


***