Digi The Killer

Digi The Killer
Kenangan-kenangan yang Tak Perlu


Tetapi itu semua bagi Ergo tidak disadari. Dia hanya tahu lembaran waktu hanyalah selembar kertas diary yang harus diisi dengan pindah dari satu ruang ke ruang yang lain. Dalam ruang itu, dia hanya bisa tersenum dan tersenyum lagi kepada orang yang dihadapi. Setelah itu, dia akan bergegas menuju depan monitor, memutar ulang semau pertemuan, kemudian jari-jarinya akan berayun-ayun dengan sangat cepat di atas keyboard.


Sejak itulah dia tidak menghiraukan diriku. Dia anggap kehadiranku hanyalah beban bagi dirinya. Itu sangat dekat ketika suatu malam dia terbangun. Kemudian dia teringat dengan tugas-tugas esok hari, sejumlah pertemuan yang harus diikuti, dan rencana penulisan yang harus kelar. Begitulah dia akhirnya sulit tidur, mengambil sejumah teh, gula dan kreamer, mengaduknya perlahan. Diminum hanya seteguk, kemudian diriku yang biasanya diidentifikasi dengan jam dindin. Pukul satu lewat dua menit dini hari.


Kemudian dia mengaduk tehnya. Gila dan kreamer sudah lama tercampur, tetapi dia ingin mengaduknya. Dindinh terasa baginya hanya ruas-ruas teralis yang membuatnya terkungkung daam ruang, Dini hari dia mendengar tik-tik jam dinding seperti bunyi letusan gunung berapi yang terus-menerus dengan lahar berhamuran. Detiknya seperti bunyi pistol yang ditembakkan beruntun. Maka, dia pun kembali menengok jam dinding. Akhirnya dia mengembuskan tubuhnya di kasur busa, dan setelah beberaa saat, da menyadari bahwa dia tidak bisa tidur lagi, Ketka dia susah memeamkan mata, dan merasakan waktu merambat lama, maka sesungguhnya dia sedang merasakan kehadiranku Kehadiran yang bagi dia sangat mencekam. Tetapi, dia mestinya bisa berbincang denganku. Perihal kenapa aku memberi dia kesempatan untuk menikmati saat-saat lengang sepert itu. Padahal dia bisa kembali mengaduk-aduk tumpukan waktu yang mengendao di bawah tilamku, saat-saat seperti itu sangatlah tepat untuk membali mengaduk-aduk segala hal yang pernah terjadi, sehingga dia bisa melakukan lebih arif dan lebih cerdas esok pagi.


Tetapi, begitulah Ergo, kehadiranku justru dianggap sebagai angin kelam. Membuat waktu lambat berjalan, katanya. Sebab, aku menghalangi tidurnya yang mestinya bisa mengembalikan tenaga yang telah dikuras seharian. Bahkan ketika aku memberikan lembaran waktu kepadanya, dan dia kembali mengingat almarhumah Cinta dan anaknya, dia mengutuk setengah mati. Dia tidak ingin lembaran itu aku hantar kepadanya. Dia ingin menghapus semuanya, karena itu adalah kisah-kisah getir yan tidak pernah pantas diperam di dalam tempurung kepala manusia. Dia ingin menjerit ketka tiba-tiba lembar demi lembar menyusup di sela-sela sel otaknya, kemudian seperti air yang merembes melalui rambutnya, kenangan itu perlahan-lahan membentuk kata-kata dan bisa dibaca dngan sangat jelas dengan mata hatinya. Dia menjerit. Menjerit kesakitan karena di kepalanya terputar lebmaran lalu yang ingin dikuburnya. Aku rasa, biarkan saja dia menjerit sejadi-jadinya Melihat giginya yang gemeretak, aku merasakan dia seperti kesakitan yang amat sangat.


Sejak itu, dia berjanji dalam hati untuk tidak lagi terbangun malam-malam. Kalaupun dia harus terbangun, dia harus mengawali sesuatu yang tidak membiarkan diriku mengetuk tempurung kepalanya. Dia akan langsung membanting tubuhnya, meletakkan bokongnya di kok kursi setelah memencet tombol on untuk personal computernya. Dia akan mengetik tentang apa saja, berceria tentang siapa saja, sampai hari-harinya benar-benar tidak bisa diayunkan atau matanya tidak lagi melihat layar monitor. Dia bertekad sampai dia tertidur dalam mengetik. Sangat takut membayangkan diriku hadir degan segepok lembaran-lembaran itu.


Dari situ, dia kemudian membayangkan strategi untuk menghapus lembaran-lembaran yang pernah aku sodorkan kepoadanya. Kalau bisa, dia ingin membakarnya agar menjadi abu, diterbangkan angin, dan hilang menjadi udara.


Dia ingin menghapuskan segalanya, tetapi aku menolak mentah-mentah. Akulah yang membuat dia berubah, keluar dari kemelut, dan bisa seperti sekarnag ini, dan bukan memusnahkan tanpa sisa. Hanya akulah yang membuat segalanya tidak mandek Aku memang tidak menciptakan kekuatan agar dia bangkit, tetapi akulah yang memberikan kesempaan untuk mengumpulkan kekuatan, bangkit dan dari kemalangan yang tak berujung.


Dan kini tiba-tiba melupakan aku begitu saja. Ada saja yang dilakuan. Dia makan sambil mengutak-atik gadget kesukaannya. Segalanya tiba-tiba diubah menjadi angka-aksara. Kebenciannya. Rasa jengkel, Jemu. Bosan. Muak. Sebel, Semuanya menjadi kalimat. Semua menjadi serat-serat optik. Semua itu dimasukkan ke dalam tubuh HP #2 MSDP. Sungguh menjijikkan. Apakah sesunggguhnya dia tahu bahwa chip dalam handphone maupun dalam komputer sama lemahnya dengan budak belian. Ingatan tidak lebih kuat daripada bayi yang baru dilahirkan. Bayangkan saja, terkena panas tidak lebih dari 50 derajat Celcius, memori hilang, terbentuk dengan kecepatan 20 km per jam, rusak. Kena air, mati. Belum lagi menyoal baterai yang harus selalu di-charge. Ih. Merepotkan.


***