Digi The Killer

Digi The Killer
18. Lembaran Waktu: Kamu Berpikir Maka Tiada


Beginikah akibatnya kalau kamu tidak memperhatikan diriku. Kamu telah mengabaikan tugasmu satu-satunya di ibu kota Mesir ini. Kamu telah ketinggalan moment penting perpindahan Ramses ke tempat muasalnya. Kalau sudah ketinggalan, apa yang bisa kamu lakukan? Aku tidak akan bisa memundurkan diri karena kodratku terus mau. Aku, sang waktu, yang telah hidup ratusan tahun, tidak bisa membuat kembali kejadian yang telah ada menjadi belum terjadi atau tidak terjadi. Aku diberi kekuasaan untuk memotret apa saja, merekam hal-hal yang ada di dunia ini, tetapi aku tidak pernah bisa mundur barang satu detik pun.


Sekarang ini, Ergo, kamu mau apa?


Mestinya kau copot saja gelar wartawan yang selalu kamu perkenalkan kepada setiap orang, karena kamu haruslah malu; tidak bisa menjalankn tugas dengan baik; hanya mau gaji yang besar, tetapi tidak mau kerja; ingin penghasilan tak terbatas, tetapi pekerjaan terbatas pad aapa yang disenangi.


Aku melihat kini dirimu merenung, Tatap matamu kosong. Rahangmu disangga dengan tangan kanan. Tangan kiri masih memutar-mutar, hah, rupanya handphone sialan itu. Ya. Dia memutar-mutar badan handphone yang telah membuat dirinya lupa. Aku ingin bertanya kepadanya, kenapa hanya diputar-putar saja? Kenapa tidak dibanting karena telah membuat dia lalai menjalankan tugas pokoknya.


Selain tatap matanya yang lurus tak berubah, napasnya terdengar masih menahan rasa kesal yang amat sangat. Jantungnya masih berdetak kencang karena emosinya masih turun-naik tak menentu Kenapa jantungnya tidak berhenti sekalian? Bocah goblok. AKu tidak hanya sebal, tetapi ingin meludah kepadanya. Terlebih kepada handphone.


Memang tak lama dia merenung, karena ia harus beranjhak dari taman. Lurus menuju tharik Khalid bin Walid. Di sana biasanya mangkal beberapa taksi. Mungkin mahal, tetapi itulah satu-satunya angkutan yang bisa mengantarnya ke Giza. Di atas trotoar, dia menyaruk-nyaruk kerikil. Matanya menatap ke kejauhan. Memang masih jauh, Sekitar setengah kilo dari taman, Memangtidak ada cara lain kecuali jalan di trotoar. Langkahnya tidak begitu lebar, tetapi tiap jengkal kakinya mengandung tekad untuk sampai di lokasi.


Angin dingin yang bertiup dari laut merah menusuk-nusuk tulang. Bibirnya tampak menahan dingin dengan mengatup ke dalam. Dirapatkan pakaiannya untuk menahan hembusan angin. Seseali dihembuskan napas untukku mengeluarkan semua rasa sebal yang membuncah di dada. Kalau sudah sebal begitu, mestinya dia juga harus membuang handphone yang telah membuat segala rencanaya berantakan.


“Ergoooo!” kelihatannya kau sudah berteriak keras sekali, tetapi kenapa teriakan itu tidak didengarnya sama sekali. “Kalau kamu terus berkutat dengan barang rongsokan busuk itu, kamu akan kehilangan diriku lagi. Da kamu tahu sendiri, ketika kamu sudah kehilangan diriku, kamu akan menyesal di belakang nanti. Kamu jangan terlal terlena dengan besi busuk itu.”


Tapi Ergo tampak bergeming saja dengan teriakanku, Aku sudah sebal sejak dulu, dan kni aku merasa kian sebal saja. Kemudian muncul akalku untuk mengusiknya dengan menyodorkan ingatan saat dia berjalan di trotoar, bundaran HI, Jakarta. Sebuah ingatan yang dulu sangat ia sukai karena Bundaran HI adalah tempat dia berunjuk gigi sebagai mahasiswa yang mampu mengkritik negeri ini tanpa dijebloskan ke penjara. Aku langsug menyahut ingatan yang tergantung di langit-langit kesadarannya.


Aku tembak saja selongsong ingatan ke tempurung kepalanya dan kin aku menyakinkan tepat mengenai jidatnya. Dia tersentak, keningnya mengkerut, matanya menyipit, dan dia menghentikan jari-jarinya yang menari di atas keyboard. Yap! Tampaknya dia mulai menangkap ingatan-ingatan itu. Trotoar. Seberapa jauh ingatan itu akan dinikmati dalam trotoar menuu Tharik Walid? Kalau memang pertanyaan itu muncul, maka aku ingin ingatan itu bisa melupakan apa yang sedang ditulisnya.


Kemudian aku melihat dia tersenyum sendiri, Dia mengedikkan bahu. DIa mengingat bahwa di trotoar itu dia terkadang amer kepada mahasiswa adik kelasnya bahwa dia mampu berorasi dengan panjang dan berapi-api. Mampu membangkitkan gelora mahasiswa untuk meneriakkan yel-yel. Dia bahkan bis amenciptakan seruan-seruan yang selalu diikuti oleh para demonstran. Dia masih ingat betul, pemerintaha Gus Dur yang berjalan tidaklebih dari dua tahun memang membuat gonjang-ganjing dunia mahasiswa. Tetapi baginya, bukan masalah apakah Gus Dur memang telah menjadi penguasa. Dan sebagai penguasa, dialah ujung tombak dari segala kemelencengan yang ada di negeri itu.


Kemudian senyumnya menyurut. Gelengan kepala itu menandai ingatan tentang trotoar di Bundaran HI mulai memudar. Kibasan rambutnya yang dilauakn berkali-kali membuat ingatan itu buya entah kemana. Dan dia kemudian kembali pada HP yang dipegang dengan tangan kirinya. SIalan! Ergo memang sialan.


He! Liat, dia mulai mengetik lagi, Jarinya terus menari dn menari. Seperti tiada henti. Sementara itu kakinya terus berayun, langkah demi langkah. Dini hari yang sunyi, sehingga beturan sol sepatu dengan trotoar begitu nyaring. Tok-tok-toko-tok. Seperti membuat irama Benar bila disebut dengan irama sunyi, Tetapi, bagian irama sunyi yang telah dirangkai dengan gerakan-gerakan tolol itu akan membuahkan tindakan lebih tolol lagi di belakang nanti. Biarkan saja, AKu mulai muak dengan ketololan Ergo. Aku lebih-lebih kini ingin tidak peduli dengannya.