
13
Lembaran Waktu: Aku Hanya Sepah yang Dibuang
Aku benci. Benci sekali dengan Ergo sekarang ini. Dia tak ubahnya Malin Kundang yang sudah tidak mengenali ibunya lagi, kemudian mencampakkan seperti gombal kotor tak terpakai. Sama halnya dengan motor tua, bila tidak dapat lari kencang, maka dengan mudah dibuang entah kemana. Orang zaman dulu akan hlangh, biji kacang yang seakan-akan lahir bukan dari kulitnya.
Sebelum terlambat, aku ingin mengingatkan Ergo agar jangan sampai melewatkan moment perpindahan Ramses II. Bila tidak diingatkan, dia akan kehilanag peristiwa itu, dan dia jelas akan menyesal selama-lamanya.
Tetapi kini, harus kukatakan kendati sangat getir, Ergo telah melupakan semuanya, termasuk diriku. Akulah yang turut membuatnya mapan seperti sekarang ini. AKu yang memberinya banyak kesempatan untuk berpikir, mengevaluasi diri, dan bangkit untuk menjadi sosok yang diperhitungkan. Mestinya dia berterima kasih kepadaku yang telah mematangkan pemikirannya, yang membuat umurnya terus bertambah, yang memberikan kepadanya kesempatan demi kesempatan, peluang demi peluang, menyodorkan istirahat yang panjang memberikan kelengangan sehinga dia bisa melihat dirinya sendiri. Di dalam siapa lagi kalau bukan di dalam dekapanku sehingga membuatnya bisa mengukur lamanya dia bekerja.
Boleh saja aku dianggap sebagai bidang datar yang bundar, yang ditulis angka satu sampai keduabelas, yang di dalamnya roda bisa membuat janji. Pukul satu kita makan siang barenag. Pukul dua kita akan ada meeting. Setengah lima aku pulang, pukul enam aku masih tidur. Pukul sembilan malam kekasihku. Kana datang ke kontrakanku. Pukul sepuluh dia minta bergulir-guling di kasurnya.
Selama ini pula aku hanya dikenali dengan putaran jarum jam. Ketika aku kini telah diubah menjadi tiktok digital pun, sebetulnya fungsiku tak jauh berbeda dnegan jam dinding. Angka-angkanya sama. Yang ditunjuknya juga sama. Hanya saja, digital digerakkan oleh motherboard yang hidup selamanya, didukung oleh angka-angka biner dan serat-serat optik yang menerakan grafologi angka. Tapi hal itu justru menjelaskan hal yang sama persis membagiku sebagai bilang perdua belasan, yang diriku akan berhenti jika sudah berada di ambang batas angka 12 malam tit. Itulah aku, uang selalu didefinisikan dengan 24 jam, 720 menit, 43.200 detik. Itulah yang disebut dengan waktu sehari semalam.
Tetapi, sungguh, mansuia tolol tidak pernah mendefinisikan aku. Aku bisa dirasakan sangat lama kendagi hanya hitungan menit, tetapi aku bisa dirasakan terasa sebentar kendati sudah dalam hitungan jam demi jam. Masalah yang selalu tidak pernah dijawab oleh mereka, oleh Henri Bergson sekalipun, siapa sesungguhnya diriku. Bergson, filsuf Prancis yang mendapatkan hadiah Nobel itu, menyebutku dengan duree, yang berartilamanya.
Waktu-waktu yang dirujuk dengan bilangan itu sebetulnya pengembangan dari bilangan yang oernah digunakan pada masa Ramses I, abad ke-14 Sebelum Masehi, ketika mereka mulai merancang gambar-gambar piramida. Sebelum itu, mereka mencatat perputaran bumi dan matahari berdasarkan sudut-sudut bintang yang berjumlah duabelas. Anehnya, angka itu masih digunakan sampai sekarnag, hampir 3.500 kemudian. Tapi sudahlah, mereak memang tidak mengerti aku.
Terlebih sekarang ini. Ketika Ergo tidak pernah berpikir tentang diriku, kini malah tampaknya kian melupakan aku. Aku benci padahal apa sih artinya dia dibandingkan dengan jasa-jasaku kepadanya? Aku masih mencatat betul apa yang terjadi ebelum dia bisa bergantu disurat kabar nasional dengan tiras mencapai 600.000 eksemplar. Sebelum dia diterima di surat kabar Teratai, Jakarta, sekitar dua tahun lalu. Sebelum dia menjalani hari-hari magang yang melelahkan, kemudia diangkat menjadi wartawan tetap dan disuruh kesana-kemari untuk mengkisi ruang-ruang koran. Sebelum kemduian dia disuruh Pimrwd pergi ke Mesir meliput pemindaha patung Ramses II. Intinya sebelum dia mengabaikan aku sepenuhnay seperti sekarang ini. Terkutuklah kamu, Ergo.
Bayangkan saja, selepas lulus dari kampus Depok, dia praktis lontang-lantung. Waktu itu dia bersama dnegan CInta, kekasihnya yang sudah hamil enam ilan, Ergi termasuk lelaki beruntung karena setelah kumpul kebo setahun di kos yang bau apak, kekasihnya baru hamil bulan keenam.
Kehamila itulah yang membuat langit kehidupannya seperti runtuh. Ergi tidak berani bicara kepada orang tuanya, karena berbicara berarti bunuh diri DIa jelas akan digantung sebelum kalimatnya usai. Tidak ada orang tua yang bernai menanggung malu atas perbuatan anaknya yang tidak bermoral seperti itu. Terlebih cinta. Orang tuanya selama ini sudah berpesan ratusan kali sebelum CInta berangka kuliah di Depok. Dia bagaimana pun harus menyembunyikan. Apa pun yang terjado. Apa pun yang dihadapi. CInta tak ingin mempermalukan dirinya dan keluarga. Baik Cinta maupun Ergo memang sama-sama menginginkan kenikmatan ketika mereka sling mencengkeram kuat-kuat di setiap saat, tetapi mereka juga sama-sama tidak menginginkan hadirnya bayi di perut Cinta.
Aku mencatat dalam diary-ku, yang panjang dan melelahkan, yang setiap orang bisa diceriakan, san sampai sejauh ini kuberi nama Lembaran Waktu. Kucatat semuanya.
Mereak berbincang suatu sore ketika ingin menggugurkan kandungan, DIbaca iklan-iklan telat menstruasi, cari informasi dari kenalan, teman, dan orang-orang yang tidak mencurigai, sampai mencari informasi resmi di rumah sakit maupun dikter. Suatu hari mereka sepakat untuk mendatangi seorang ahli kesehatan tradisional yang didapat dari sebuah iklan yang menyakinkan. Di Iklan tertulis, “Kendati telat empat bulan, tetap bisa keluar!” Sebelum datang ke alamt yang dituju, Ergo kemudian menelepon, dan di ujung telepon sana terdengar daftar harga. Bila menggunakan cara tradisional, seharga tiga juta Rupiah, sedangkan untuk ramuan modern dibutuhkan uang sekitar enam juta. Mereka semaput Bukan apa-apa, Tidak ada duit. Itu saja. Waktu itu baru telat dua bulan. Dan selama itu pula Cinta dan Ergo memburu jamu telat bulan sampai ke mana pun Memang murah. Diminum sampai sepuluh kali dosis Dan itu dilaukan empat kali sehari. Hasilnya? Ternyata tidak membuahkan apa pun selain ketakutan yang terus memuncak. Dia sangat menyadari, aku terus merambat. Tidak ada yang bsia menghentikan diriku.