
Ramses dan Waktu tampak sudah keletihan. Tapi semangat Sang Raja tampak membaca sampai-sampai dia masih merupakan dirinya sebagai cahaya dan masih tetap berlari
“Sang Raja, aku letih. Baiknya kita beristirahay di sebuah gua-gua file yang aman.”
Ramses yang ngos-ngosan akhirnya berjalan pelan. “Kita berlari sebentar lagi sambi melihat-lihat tempat yang aman.”
Sang Waktu terpaksa mengikuti Ramses melesat, kendati dengan sisa-sia tenaga. “Aku tahu targetmu hanya ingin mengingakan Ergo tentang sejarahmu, tapi kenapa kini kau terlibat terlalu jauh.”
“Tadi aku sudah ceritakan, meski tidak lengkap, Aku hanya kebetulan terlibat dengan masalahmu.”
“Sang Raja, ini bukan masalahku, Ini masalah manusia seluruhnya. Bayangkan saja, kalau aku dibunuh dan tidak ada lagi lembaran waktu yang mencatatnya, bukankah mereka akan hilang ingatan, Manusia akan hidup hanya berada pada masa kini. Dan kehidupan masa kini akan menjadikan dirinya seperti abadi. Adalah sebuah kehancuran bagi manusia sendiri bila dirinya merasa diri abadi, karena cepat atau lambat akan memporakporandakan alam semesta.”
“Sudahlah, aku tidak mau mendengar kuliahmu. Baiknya kita segera menentukan tempat yang bisa untuk istirahat,” Ramses sambil mengamati tempat sekitar.
Dalam lorong labirin yang panjang dan pengap, dia menemukan track yang terlindungi oleh sistem folder yang kukuh, Ibaratnya adalah gang sempit, di sisi yang terdapat lakukan seperti gua yang dilindungi oleh dinding yang menyerupai pagar. Sehingga bila ada orang lewat, yang tampak adalah dinding, bukan gua.
Dalam track itulah Ramses dan Waktu kemudian memutuskan untuk istirahat setelah segala energinya terkuras untuk mempertahankan diri menjadi cahaya dan terus bergerak dalam labirin memory yang panjang dan berkelok-kelok. Tiba-tiba Sang Raja berubah menjadi partikel ketika cahayanya sekonyong-konyong redup dan seketika menjadi gelkap. “Aku sebetulnya tidak lagi punya energi untuk menjelma menjadi cahaya lagi,” kemudian Ramses terjatuh, pingsan.
Waktu segera menangkap partikel yang rontok dari tangkai udara. Ramses ditaruh di pangkuannya. Kini Waktu benar-benar tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Keringat dingin mengucur. Dadanya berdegup kencang ketika di jalanan sudah banyak biner penyergap mondr-mandir mencari mereka. Tiap langkah yang mendekat seperti hendak menggorok lehernya. Mati rasa. Dia tidak ingin mati dalam ketakutan.
Tapi benar seperti yang dikatakan Sang Raja, tempat itu sangat terlindungi dari hiner penyergap yang sejak tadi mondar-mandor mencari dirinya. Dia sedikit agak lega.
Kelegaan yang sementara. Pada saat yang lain, dia merasa seperti sudah ditemukan oleh para kacung handphone.
“Tuan Raja, bangunlah. Temani aku dalam ketakutan. Jangan biarkan diriku mati dalam kondisi seperti ini.”
Tapi tubuh partikel Sang Raja terpaku seperti patung. Partikelnya seperti membeku. Bahkan ketika Waktu menggoyang-goyang tubuhnya. Digoyang-goyang lagi. Waktu tidak tidak bosan melakukan apa aja agar SangRaja siuman.
“Aku tidak takut mati, Tuan Raja. AKu hanya takut bila aku berakhir, maka seluruh sejarah dunia akan berakhir.”
Wajah sang raja masih tampak pucat.
“Engkau yang kuharapkan daat membantuku, tetapi justru kau diam.”
Belum juga mulut Waktu terkatup ketika dari kejauhan terdengar suara gemuruh memekakkan telinga. Seperti derap kuda yang dengan cepat mendekat. Mulanya terdengar dari lorong yang sangat jauh dari tempatnya berdembunyi. Deru itu terdengar makin kuat, rerasa kian dekat dan dia tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Sang Raja Ramses sampai sejauh ini pingsan.
Waktu menarik napas berat, Dilihat sekeliling, kalau-kalau ada celah untuk meloloskan diri. Dia harus berpikir cepat sebelum deru itu main dekat dan mencincang dirinya. Sebelum semuanya berakhir.
“Hei, Waktu! Kami tahu kau ada dalam track folder!”
Itu! Itu! Suara itu terdengar persis di depan gua. Oh, my God!
“Sudah tidak bisa lolos lagi. Lebih bagimenyerha, dan kami akan membawa kalian hidup-hidup ke hadapan atasan kami!”
Keringat dingin mengucur dari Waktu. Dia menepuk-nepuk keras tubuh partikel Ramses.
“Jika dalam hutiungan tiga kalian tidak keluar, kami akan memberondong dengan peluru elektromagnetik yang setara dengan kekuatan bom biologis. Ini akan merusak sel-sel tubuh dan mengurai menjadi serpihan tanpa makna. Cepat!!!”
“Satu!”
Jadi, Waktu memilih simpulan sendiri, dia akan meloloskan diri. Dengan jalan atau cara apa pun. Tetapi bagaimana caranya? Tiba-tiba, dalam sedihnya dia berpikir bahwa apa yang selama ini dimiliki hanya tentang catatan lembaran mas lalu, masa kini, dan masa depan harapan-harapan. Sekonyong-konyong waktu merasa sangat lemah, bahwasanya lembaran di depan ada haraan untuk perubahan.
Ya. Perubahan. Yang baru jadi bau. Yang indah menjadi buruk. Yang hebat menjadi lemah. Yang kuat menjadj rontok. Tapi, adakah keterkepungan seperti ini sebagai titik untuk mengharapkan sesuatu bisa lolos dari kepungan ini?
“Dua!”
Sebelum hitungan ketiga, dia harus meloloskan diri dari track folder yang terkepung. Dia akan melakukan apa saja sekuat tenaga dengan membawa Ramses yang terkapar. Waktulah yang akan menghitung sendiri untuk meloloskan diri. Dengan keberanian yang luar biasa, Waktu akhirnya menjebol dinding samping, menerobos melewati tepian lorong sambil menggendong Ramses.
“Serang!”
Melihat dinding samping jebol akhirnya barikade Program pembunuh menghujani bom-bom elektromagnetik dengan tingkat kerapatan 1/10.000.000.000 milimeter dan tingkat kecepatan melebihi cahaya. Tubuh Ramses yang sejak semua telah berubah menjadi partikel karena keletihan terpaksa diubah menjadi bungkusan cahaya agar dapat meloloskan diri dari hantaman Biner Pembunuh.
Dalam berondongan dengan tikat ketepatan dan kecepatan yang tinggi. Waktu beberapa kali tertembak, dan dalam sempoyongan dia terus berlari menerobos pagar-pagar lorong. Pagar ini biasanya dipergunakan untuk membatasi aliran listrik supara tidak merembes pada bagian-bagian lain. Tetapi pagar telah lumer, diterobos cahaya yang bergulung-gulung cepat menghasilkan panas. Ketika batasan itu lumer, maka aliran listrik seketika memercikkan api. Api dalam tingkat micrometer bagi mata manusia memang tidak begitu kelihatan dan tidak berguna, tetapi dalam program microchip seperti handphone, jelas ini malapetaka.
Krek!
Krek! Krek! Krek!
Krek! Krek! Krek! Krek!
Sistem microchop tampaknya mulai terganggu.
Dan Waktu maupun Ramses terus berlari. Berlari, Tak pernah menengok lagi. Dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya dan gulungan telah menciptakan panas di antara labirin yang memanjang,. Sang Raja siuman.
“Syukurlah Tuan siuman!”
Sang Raja seketika kaget karena melihat tubuhnya tak berbeda dengan cahaya, sementara energinya habis sejak tadi. “Aku di mana? Ada apa ini?”
“Santai saja, Sang Raja. Kita sedang berada dalam kejar-kejaran kecil. Program pembunuh sedang membantai kita tiada ampun.”
“Di mana mereka?!”
“Mungkin di belakang, Mungkin.”
“Bagaimana kita bisa meloloskan diri?!”
“Itu pertanyaan yang ada dalam kepalaku, Tuan Raja.”
“Kita harus meloloskan diri, Waktu! Aku tidak mau sejarahku mati di dalam microchip jelak buatan manusia tolol! Aku tidak mau mati!”
“Alu juga tidak mau, Tuan Raja. Ayo kita berlari dan berpikir lagi!”
***