
Setelah menanti beberapa jenak lamanya, kemudian permainan itu usai. Lelaki itu terkapar lemas, tetapi tidak bagi Kana, Bahkan Kana nyatanya tidak terangsang sama sekali. Dia merasa seperti sedang melakukan olahraga otot dalam. Kalau bukan olahraga, dia merasa seperti sedang merentalkan tubuhnya untuk ketololan yang lain. Atau hanya ingin menguji seberap ajauh gesekan kulit bisa membuat orang lain bisa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
Begitu melihat sang lelaki itu mendengkur dengan sangat keras, Kana perlahan-lahan menggeser tubuhnya ke sisi tempat tidur sebelum mengambil hape. Setelah hape berada di genggamannya, dia bersijingkat masuk ke kamar mandi. Di sana dia duduk berlama-lama di sisi bath up.
“LIhatlah, Sang Raja, dia membuka hapenya!” teriak Sang Waktu kegirangan.
Begitu melihat tombol inbox, dia langsung melihat pesan yang terkirim. Dugaannya tidak meleset, dari Ergo, Dia langsung membaca dengan sistem cepat, Seba, waktunya tidak banyak. Sang lelaki itu mungki akan bangun sepuluh menit lagik atau mungkin liam menit lagi. Atau bisa jadi sekarang sudah bangun, Ya, Tuhan, biarkanlah aku membacanya barang sebentar saja untuk mengetahui apa yang ada di dalam hapeku ini, doanya.
Baru membaca beberapa kalimat ketika muncul sebuah pesan, tak ubahnya sebuah virus. Begini bunyinya:
“Kana, Ergo tidak bisa menunggu lama, Dia sebentar lagi sekarat. Dia butuh sekali pertolonganmu, Selamat membaca pesannya!”
Pesan itu berkedip-kedip sebentar kemudian hilang, Kana sepat mengucek-ucek matanya, tetapi kemudian mekihat layar telah kosong, Dia kembali pada pesan Ergo setelah matanya melihat pintu kamar mandi, hanya ingin memastikan bahwa tidak ada gedoran dari luar.
Dibacanya perlahan-lahan, satu paragraf demi paragraf. Kening Kana mulai berkerut. Benarkah dia tersesat? Bagaimana dia bis atersesat sementara dia tidak mengendarai mobil sendiri, tetapi menggunakan taksi Bagaimana rencananya untuk menulis laporan yang panjang dan detail tentang prosesi perpindahan Raja Ramses? Kana membuang napas sekeras-kerasnya, seperti membuka aneka pertanyaan yang menyembul begitu saja di tempurung kepalanya.
Pada saat yang tidak terlalu lama, tiba-tiba pesan muncul dari monitor yang sebelumnya padam. Pesan itu sama, tetapi dengan kalimat yang berbeda.
“Kana, hanya dirimu yang bisa menolong Ergo. Bagaimana mungkin kau membiarkan orang yang mencintai kamu mati, padahal kamu tahu bisa menyelamatkannya?”
Kemudian monitor kembali padam, Setelah hidupm monitor masih memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Ergo. Tetapi Kana kih sudah tidak lagi fokus pada pesan itu. Dia sangat terganggu dengan pesan-pesan yang muncul begitu saja dari balik kegelapan monitor. Akhirnya dengan cekatan, dia membuka layar notepad dan mengetik dengan cepat.
“Siapa kau sampai berani memerintahku agar menolong Ergo?”
Hasilnya ketika itu dibiarkan saja menggantung di tengah-tengah layar yang berwarna putih. Dia berharap ada tangan-tangan yang tak tampak mengetikkan jawaban untuk pertanyaannya. Sambil duduk di tepian bathup, dipandangi monitor itu hampir tak berkedip. “Cepat balaskah kalau memang pesanmu benar?” Gigi Kana gemeretak karenanya. Tapi umpatan itu tidak terdengar keras karena dia berada di dalam kamar mandi, untuk menghhindari segal asesuatu yang tidak diinginkan.
Keytika hampir menutup monitor handphone, tiba-tiba di layar putih itu mengetik dengan sendirinya sebuah kalimat.
“Kami datang dari dunia yang tak kau pahami, tetapi kalimatku ini pasti kaiu pahami. Cepatlah veri pertolongan untuk Ergo sebelum dia kehilangan ingatan, sebelum dia benar-benar gila sampai kemudian dia meninggal dunia.”
Kana terhenyak. Dia hampir tidak yakin kalau saja dia tidak melihatnya sendiri. Keyboard tidak berbunyi, tetapi di layar monitor bisa muncul aksara-aksaran yang tersusun sedemikian rapi dan membentuk kalimat yang bisa dimengerti. Ini sulit dipahami. Dia menggeleng berkali-kali. Kini dia memang tidak percaya, tetapi tetap saja mengetikkan balasan.
Kalimay itu langsung dipotong Ramses dan waktu dari balik monitor. “Tidak perlu kau teruskan. Aku tahu bahwa kamu telah menduakan Ergo atau mungkin mengkhianati lelaki itu, tetapi kau tidak harus keluar dari kamar ini, Kana.”
“Aku tidak bisa. Aku harus cepat-cepat keluar dari kamar mandi sebelum cakon suamiku itu bangun.”
“Kamu bisa menolongnya. Tidak membutuhkan waktu banyak Hanya membutuhkan kesedianmu.”
Kana sudah kehilangan akal. Dia hanya mengetik secepat mungkin agar semua selesai. “Cepat katakan apa yang aku bisa lakukan?”
“Kirimlah kami ke otak Ergo agar kami bisa menyelamatkan hidupnya!”
“AKu tidak mungkin bis amasuk ke dalam otak dia yang mirip bagai otak udang itu!”
“Kamu bisa dengan menggunakan telepati.”
“Telepati?”
“Ya, ini cara untuk menyamakan frekuensi pikrian antara dua orang atau lebih untuk menyampaikan pesan bukan lewat perkataan, tetapi lewat pikiran. Ayo, cepat, kita tidak memiliki waktu banyak.”
Kana melonjak sebal, “Hei, dengar, Aku bukan seorang mentalis atau tukang sulap. Aku juga buka seorang spiritualis yang bisa mempengaruhi pikiran orang. Aku tidak bisa telepati.”
“Cobalah!”
“Aku tidak bisa!”
“Begini, kami akan masuk ke dalam pikiranmu melalui jari-jarimu yang mengetik di keyboard, dan sinar matamu ke layar monitor. Setelah kami masuk ke dalam otakmu, coba pikirkanlah tentang Ergo. Pikir yang dalam, tampak seperti Ergo benar-benar hidup di dalam tempurung kepalamu. Hidupkan terus sampai wajah Ergo dalam pikiranmu itu bisa kamu lihat dengan jelas. Hadapkan wajah Ergo ke mukamu, dan sapalah dengan sapaan yang lembut. Ayo ikuti langkah ini secepatnya. Setelah kamu membaca uraian ini, pejamkanlah mata, dan segera bayangkan Ergo di dalam tempurung kepalamu. Bayangkan dengan sangat jelas, seperti kau memang bisa menyentuhnya. Aku ulangi sekali lagi, kau bisa menyentuhnya seperti kamu bisa memegang kakimu atau tembok di sisimu. Sapalah dia, sapalah dengan sangat keras di dalam pikiranmu.”
Kemudian Kana memejamkan mata, membayangkan Ergo, dalam. Tetapi tidak tampak nyata.