
Aku melihat dia menyesal. Sebagai butiran waktu yang selalu menyusun kerangka-kerangka peristiwa menjadi urutan-urutan, peristiwa yang dialami secara beruntun tadi jelas membuat Ergo terpaku, bengong di taman, tertinggal arak-arakan Ramses II, berjalan menuju tempat taksi mangkal, terlewat, kemudian tawar-menawar taksi, kemudian duduk di lambung taksi, membalas watsap pacarnya, dan kini dalam kondisi yang sangat mengkal.
Kenapa sebal, Ergo? Bukankah itu semau pilihan yang telah kamu tentukan? Adakah pilihan-pilihan itu justru membuat kamu menyesal dan bukan bergembira? Kenapa manusia selalu menentukan pilihan-pilihan yang sesunggguhnya dia tahu sangat buruk baginya, tetapi pada saat yang sama tetap memilihnya? Apakah pada hakikatnya manusia memang begitu, memilih sesuatu yang dia tahu akan membuat dia sengsara?
Dia sedih. Aku tahu, ketika kesedihan itu muncul maka larutan kimiawi dalam pikirannya membuat butiran-butiran yang mengadnung magnet itu menarik-narik diriku, sang waktu, ke dalam kesedihannya. Aku selalu dibebani tugas mengurai kesedihan-kesedihannya menjadi sebingkai kenangan yang harus dilampaui dengan rela atau tidak. Segalanya, keyika kesedihan melanda, seperti hadir di hadapanku, mengemis-ngemis seperti paria tua yang kehilangan wisma, agar segalanya dikembalikan seperti sedia kala.
Larutan kimia kesedihan telah membuatku dibetot dari jaring-jaring tempat aku bertengger, Kin aku bertekad untuk tidak masuk ke dalam larutan kesedihannya. Aku tidak mau biola ditugasi mengurai aneka duka yang bersemayam di pojok-pojok kesadarannya. Bayangkan saja, untuk apa aku membantu orang seperti Ergo yang telah mencampakkan aku. Bahkan, lebih dari tiu, Ergo telah membuat sedemikian rupa cara untuk memusnahkan aku.
Ini jelas tidak mungkin ketika butiran-butiran kimiawi itu terus diproduksi dan dengan serta-merta ingin menarikku ke dalam kubangan duka miliknya. Tidak. Tidak. Benar-benar larutan kimiasi itu telah memnbuat jaring-jaring yang dilapisi dengan magnet, dan siapa pun yang lewat di depannya akan tersedit sebelum ditangkap dengan erat, Maka, aku pun tidak bisa menghindari jaring-jaring iru, kemudian, aduh! Aku tertangkap jaringan kimiawi duka yang ditebarkannya, AKu tidak bisa berontak. Aku mati kutu. Aku seperti budak belian yang lemah tanpa daya di depan si orang kaya yang telah membeliku.
Aku melawan keras, mengibas-ngibaskan tanganku sekuat tenaga, tetapi pusaran kesedihan ergo seperti kubangan lumpur yang berpusing-pusing membuat ****** beliung yang kuat. Semakin aku berontak keras, kimiawi kedukaan itu semakin kuat pada pula menyedotku. Hah! Aku ternyata tidak bisa melawannya. Sepertinya, aku merasa tersedot melalui labirin panjang, melalui lorong yang berkelok-kelok dengan kecepatan mendekati kecepagan cahaya. Sirkuinya hanyalah labirin yang tak tepernamai. Panjang dan melelahkan,. Oh, Tuhan, bagaimana ini terjadi?!
Kesadaran belum terbnagun dengan sempurna keika aku terjatuh pada sebuah bidang datar yang mirip dengan hamparan kapas yang begitu lapang. Tanpa batasan. Semuanya putih. Tidak ada langit. Hanya putih. Tidak cakrawala. Hanya putih. Tidak ada angin. Hanya putih. Aku merasakan seperti di dalam sebuah dimensi ruang Aku sendiri, sang waktu, telah dijelmakan sebagai manusia. Sialan, individuasi waktu telah membuatku terjatuh dalam ruang. Bagaimana waktu terjebak dalam ruang? Aku menggeleng cepat. Tidak mungkin akulah sang waktu, yang menguasai ruang demi ruang, karena perubahan ruang adalah penambahan waktu.
Tetapi, lihat saja, dalam setting putih-putih semuanya, adakah ruang di sini? Tiada sekat, tiada bangunan tiga dimensi, tiada dinding, tiada alas lantai. Tiada. Bagaimana ku bisa terjebak di sini? Inikah yang dimaksud tanpa ruang? Apakah ini yang dimaksud dengan keadaan tanpa ruang tanpa waktu. Tidak mungkin. Tidak mungkin.
Kemudian tiba-tiba kurasakan segala yang putih itu beringsut, bergerak dengan cepat mengubah dirinya menjadi warna-warna yang tertata dengan baik seperti membentuk jaring-jaring baru. Pembentukan jaring-jaring baru itu demikian cepat, bahkan aku sendiri sebagai waktu sulit menghitungnya, dan kini tiba-tiba telah menjadi ruang yang bergaris-garis, penuh dengan jebakan ikon-ikon yang bisa berubah dengan sangat cepat.
Sementara aku takjub, aku membalikkan badan karena merasa ada yang memandang i aku dari belakang. Sekejap saja aku berbalik dan aku menatap sepanag mata besar di depanku, Itu mata Erfo, tetapi kenapa jadi besar? Dia menatapku dengan tajam. Aku tidak tahu kenapa dia berubah jadi berikut. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa ditatap dengan tajamnya. Matanya hanya berhjarak sekitar 30 cm dari tempatku berdiri. Ketika aku bertanya, di manakah aku, pada saat yang sama aku berusaha berlari dari tatapan Ergo. Tetapi, ketika aku berlari, aku terbentur pada batasan-batasan kotak persegi panjang yang bisa berubah warna-warni. Aku terjebak dalam kurungan konyol yang beraliran listrik, memiliki cahaya dari serat-serat yang bermuatan elektromagnetik, dan aku tidak bisa keluar dari sana.
Mulanya aku merangkul kesadaran Ergio, kemudian diseret masuk ke dalanya. Masuk labirin panjang dengan kecepaan chaya, dan kini aku terpuruk pada sebuah ruang elektromagnetik yang sungguh menyebalkan. Huh!
“Hahahahaha! Akhirnya …”
“Hahahahaha! Sang Waktu yang gagah perkasa, yang selalu bisa merangkum apa saja menjadi lembaran-lembaran pipih penuh cerita, kini berada dalam aliran-aliran listrik yang berkekuatan tinggi.”
Aku mulai menebak-nebak. Inikah ruang handphone HP #2 MSDP? Aku terhebak di dalamnya, begitukah?
“Begitulah, Waktu. Kamu mesti mengakui keunggulan diriku yang selalu kamu katakan sebagai besi rongsok tidak berguna. Kalaupun memang tidak berguna, tetapi berkat bantuan kesadaran Ergo, aku bisa menyedotmu ke sini. Manusia pun tidak sanggup menghentikan kecanggihan ini.”
“Heh! Ternyata kau, HP #2 MSDP. Jangan sombong!”
Kembali HP #2 MSDP terkekeh-kekeh. “Bagaimana ku tidak boleh sombong di hadapannya. Kamu tahu, berapa prosesor yang aku miliki?”
“Secanggih apa pun, kau pasti akan ketinggalan. Akulah yang menciptakan mode!”
“Hahahaha… ketinggalan. Aku ingin katakan sekali lagi, prosesorku Intergamma PX 1000x 200 GH. Dengan kedepatan melebihi kedepatan pikiran, hal itu didukung dengan memory internal 200 HB, flash ROM. Dengan ukuran itu, aku bisa menceritakan hal-ikhwal manusa sejak masih berbentuk protozoa, seperti yang dikatakan oleh Theilard de Chardin, sampai menadi manusia yang memiliki Tuhan. Puluhan ribu tahun aku bisa menceritakan tentang nasib dunia ini.”
“Kau tetaplah mesin, bukan alam. Karena aku alam, maka aku akan menang.”
“Ketahuilah alam telah ditundukkan oleh akal manusia Kini, teknologi akan mengurus semuanya. Termasuk kamu yang tolol. Didukung dengan SPO Winwin Mobile 7.0 degan MSFP, aku bahkan bisa meramalkan kapan galaksi Bimasaksi sekarang ini bertabrakan dengan galaksi andromeda. Kamu, waktu, sudah tidak aku perlukan lagi
“Aku akan melawanmu!”
“Kamu seperti televisi tanpa pemancar yang berharap bisa menampilkan gambar-gambar. Tidak mungkin kau bisa melawanku. Tuhan pun menyerah di depanku.”