
Kemudian sambungan terputus. Aku tidak mempedulikan apakah interpol tersinggung atau tidak. Aku hanya ingin Waktu dan penyusupnya segera sampai di hadpanku, dan aku akan menghajarnya, menyiksanya, sebelum membunuhnya dengan sangat pelan. Perlahan sekali.
Interpol sudah bergerak. Program Swadaya pun sudah memiliki tenaga yang cukup. Aku sebagai manajer mestinya memang tidak duduk. Harus ada yang kukerjakan sendiri. Aku mesti memberdayakan resources yang sudah ada. Itulah salah satu fungsi utama dari manajer seperti aku. Kalau perlu dibuat tabulasi strategi dan keterangan hasil dari strategi tersebut.
Baru saja hendak merancang, alur perburuan Waktu dan Ramses, tiba-tiba gelombang elektromagnetik bergerak-gerak, Dan betapa kagetnya ketika gelombang itu memberikan isyarat siapa pengirimnya: Satelit T-God 21st Generation! Gelombang suda tersambung.
“Aku mendapatkan informasi ada kesulian menyelesaikan target, hah?”
“Bukan begitu, tapi apa yang terjadi di lapangan ternyata sangat berbeda.”
“Semua program manajer yang memiliki umur yang sama denganmu sudah menyelesaikan tugas dengan baik, tetapi kamu masih bertelekan di sana sambil ongkang-ongkang kaki.”
“Saya sudah berusha, Pak, tetapi dalam sistem kami ada masalah yang tidak dialami oleh sistem komputer lain,” ucapku sampai terbata-bata. Kemudian aku menceritakan perihal Waktu yang mampu lolos dari penjara berkat bantuan dari masa lalunya. Bahkan aku ceritakan sampai perburuan ke sistem komputer klasik yang masih membutuhkan waktu lama.
“Bukankah kamu sudah dilengkapi dengan program swadaya yang bisa kami setting untuk membunuh mereka?”
“Semua itu bukannya tidak dilakukan.”
“Lantas?”
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab, “Tampaknya perlu updated program karena apa yang kami lakukan tidak membuahkan hasil maksimal.”
“apakah itu berarti ingin menegaskan kalau kamu memang tidak becus?”
“Bukan begitu, Pak, Kami memang membutuhkan untuk mempercepat target kita.”
“kalkau kamu tidak juga selesai ….”
“….Aku akan memastikan programmu dar sini. Klek. Selesai, dan kau idak lagi punya riwayat. Bagaimana?”
“Jangan, Pak. Jangan. Saya masih ingin hidup.”
“Makanya cepat jalankan program kita.”
“Siap, Pak.”
“Makin cepat makin baik.”
Gelpmbang elektromagnetik kemudian terputus. Kembali sunyi. Kembali sepi. Dan aku seperti orang linglung saat mendapatkan tekanan seperti ini Jujur saja sampai sejauh ini memang aku masih berkutat dengan perburuan waktu. Belum ada pemenuhan target. Aku betul-betul bingung dengan tekanan dari satelit. Aku kalut dengan ancaman mereka, Kalau aku tidak bisa, jelas akau akan terbunuh, dan sejarahku selesai smapai sini saja. Tidak ada lagi eksistensi yan menjadikan diriku tampak nyata di hadapannya. Aku menjadi sesuatu, mungkin lebih dar sekadar besi karatan, yang justru semakin membuat dunia penuh dengan sampah-sampah.
Aku akan memanggil program swadaya yang aku miliki sambil menanti program updated yang akan segera dikirim oleh satelit. Dengan resources yang mendukung, aku memiliki rencana untuk menghabisi semuanya. Pas bisa.
Rencana itu bisa saja gagal, bisa sukses. Aku akan sekuat tenaga untuk keluar dari kemelut ini. apa pun risikonya. Apa pun yang terjadi atau yang akan terjadi. Rencana tidak boleh hanya tinggal rencana. Tidak boleh.
***
29
Program Updated
Dalam hitungan detik, kiriman program update sudah ada di dalam ruanganku yang lega dan indah. Program itu sudah mengeik pintu-piontu rumah binerku, dan dengan sinar-sinar digital telah membuat seiap pintu terbuka.