Digi The Killer

Digi The Killer
5. Dari Sepotong Pesan


Send to: Cha@yahoo.com, kaakanCha@yahoo.com, qww@gmail.com, vadanCha@yahoo.com, adadaCha@yahoo.com, adadsaCha@yahoo.com, qdqeqwrCha@yahoo.com, adadakh@gmail.com, adadaou@gmail.com, sfasfskCha@yahoo.com, adadada@yahoo.com,uudu@yahoo.com, kouyhk@yahoo.com, yokhbmb@yahoo.com, ohlhmbmb@yahoo.com, ohooyj@yahoo.com, oulh@yahoo.com, 86iygjd@yahoo.com, rwuwiw@gmail.com, hglknbb@gmail.com, jadpiuada@gmail.com, uoaduada@gmail.com, oaudadad@gmail.com, pi8976h@gmail.com, puhadada@gmail.com, uoulhmh@gmail.com, 70808ojkj@gmail.com, uophhl@gmail.com, oouukljl@gmail.com, ljkjkl@gmail.com, adadakhada@gmail.com, 9779y9iy@gmail.com, haeouerw@gmail.com,


CC: -


Subject: Menanti Pembongkaran Patung Ramses II


From: ergo@nial.ism.com


Attachment: -


TEXT


Makin malam jalanan kian hiruk-pikuk saja. Padahal Jalan Abu sana, Kairo, Mesir pastilah akan senyap ketika jam sudah menunjukkan puul 10 malam. Wajah-wajah penaul yanglelah dengan tangan yang lesu akan menarik rolling door dengan sekali hentakan. Dan bila gagal, wajah mereka akan semakin kelam, dan menghentakkan sekali lagi sambil memaki-maki.


Tapi malam ini tak kulihat wajah sayu seperti malam-malam sebelumnya di jalanan protokol Kairo ini. Begitu mereak mengemasi barnag-barang yang hendak mencium trotoar dan menutup dengan hentakan yang kuat, maka mereka akan nongkrong di sisi jalanan. Mereka penuh senyum dan saling sapa. Pemili toko pun malam ini hampir saja tidak kebagian tepat di trotoar.


Seperti halanya mereka, saya pun sudah duduk di dekat taman el-syih. Tujuan saya sama dengan mereka, menantikan pembongkaran patung Firaun di jantung ota Kairo. Sebulan lalu, sekitar pertengahan Juli kalau tidak salah, Pemerintah telah mengumumkan akan membongkar patung setinggi 11 meter itu pada hari Jumat. Pegumuman itu seelah melalui pembahasan yang berjalan marathon di tingkat legislatif dan eksekutif.


Ketika itu wartawan sempat mencegat Kepala Urusan Benda Kuno Mesir Zahi Hawass untuk menanyakan jam pembongkaran. Tetapi lelaki bresok yang miskin senyum itu tidak menjawab sepatah kata pun. Akhirnya wartawan melewati jalan belakang, dan ditemukan jam 01:00 dini hari Firauan akan digotong beramai-ramai menuju ke Giza, sebuah dataran tinggi sepuluh kilometer di sebelah selatan Kairo. Berita itu pun tersebar ke antero warga Kairo, sampai-sampai Kamis malam itu semua warga tidak tidur.


Mereka ingin menjadi saksi seJarah tentang perpindahan raja yang berkuasa pada abad ke-13 SM di kota kelahiran mereka. Bila anak-cucu mereka bertanya, bagaimana patung Firauan yang beratnya sekitar 100 ton itu bisa berada di dekat piramida, dia bisa menjawab dengan menepuk dada. Mereka akan bercerita dengan mimik muka yang dibuat sangat serius dan kata-kata yang terpilih. Pastilah anak-cucu mereka akan ternganga dan selalu menanyakan bagaimana langkah demi langkah perpindahan itu dilakukan.


------------------------------------------------------------


TIME.SPOT.MESSAGE.SENDER.RAMSES.1500 BC



Kita bertemu kembali, Sepanjang kau membayangkan dirikua sebagai bagain dari sejarah kekejaman, aku akan mengirimkan pesan ini. Lihatlah generasi penerus dari rakyatku. Mereka bersuka cita dengan diriku, karena aku bukanlah seornag penguasa yang lalim. Aku akan menyandera apa pun untuk mengembalikan citra diriku sebagai sosok raja yang dikagumi. Buatlah sejarahku dengan detail, aku tidak mau ada satu peristiwa yang terlewatkan.


------------------------------------------------------------


TIME.SPOT.MESSAGE.SENDER.RAMSES.1500 BC


Baiklah, aku teruskan saja ceritaku dengan kebaikan Ramses saja. Mereka, warga Mesir, tampak dengan senang hati menunggiui bekas rajanya di 33 Abad yang lalu itu pergi meninggalkan Kairo. Menurut merekam Ramses II adalah raja yang mengajarkan tentang bagaimana membangun peradaban sendiri tanpa menyadarkan pada sesuatu yang berada un jauh di sana.


“Dia bukan anti-Tuhan, tetapi dia anti kemalasan. Doa tidak membuat peradaban berubah, tetapi dengan kerja keras semua akan terwujud,” salah seorang seperti menyeringai pada teman di sampingnya. Aku mendengarkan sambil makan roti khas Mesir.


“Dan Itulah yang diucapkan raja kami berulang-ulang.”


“Beliau tidak mengajarkan kekerasan terhadap sesama.”


“Itu benar, Tetapi dari kedamaian tu datanglah pemberontaj, menghancurkan tatanan pada masa itu, dan menolak segala ajaran yang pernah dianut oleh buyut-buyut kami.”


“Mereka si pemberontak bahkan menenggelamkan seluruh bala tentara Ramses ke Laut Merah.” Berkali-kali salah seorang menandaskan dengan muka yng merah. Dia seperti ingin menyakinkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.


Mungkin saja termasuk saya.


Tetapi, siapakah pemberontak itu?


Aku selalu bertanya dalam hati, karena di dalam diriku, Firaun adalah raja yang mengakui banyak dewa. Firaun bahkan berani memberontak Tuhan. Firaun berani mengutuk Tuhan dengan segala nabi-nabi dan kitab suci. Sebagaimana terbaca di dalam kitab orang-orang beragama, sesungguhnya Firauan adalah seorang raja kafir yang tidak mengakui adanya satu tuhan sehingga dia pantas diberi hukuman.


Tetapi bagi warga asli Kairo, baru aku tahu dari mereka berbincang malam, Firaun nyatalah tampil sebagai tokoh yang benar-benar berbeda. Sang Raja benar-benar berdiri di atas kursi kebesaran sebagai raja yang dialu-alukan rakyat. Raja yang selalu dikenang bahkan sampai 23 abad kemudian. Mereka sepertinya masih mendengar setiap perintah dan melihat gerak langkahnya menuruni singgasana.


Aku selalu menggoda mereka dengan menyatakan bahwa Firaun tetaplah seorang raja yang kejam karena membunuhi bayi-bayi yang lahir, Mendengar pernyataan itu, wajah mereka berubah, matanya melotot, dan hampir-hampir menamparku kalau saja aku tidak mengulurkan senyum.


Mereka selalu saja tidak terima Firauan dikatakan sebagai pemberontak. “Justru mereka yang menggulingkan Firauan adalah pemberontak senjati,” lelaki yang di sampingku dengan jubah putih itu berdiri berkacak pinggang.


Kemudian dia meneruskan, “Musa adalah tetua pemberontak yang meluluhlantakkan semua imperium Firauan. Dialah keturunan Heksos. Kepada pundak Musa adalah seluruh tanggungjawab itu harus diserahkan. Ngerti kamu!”


Aku hanya tertawa kecil mendengar cerita-cerita mereka. Malam ini aku sengaja berada di jalana, menghirup baru knalpot dan berdesak-desakan dengan mereka. Kulirik arlojiku, masih pukul 11 malam. Sekitar dua jam lagi mereka sudah akan membongkar patung itu. Biarkanlah, sementara menunggu, aku akan menuliskan untuk kalian gambaran di sini.


Aku masih terduduk di taman. Tatapanku menuju pada lokasi di alun-alun tempat Ramses II berdiri. Di sisi-sisinya sudah terpasang alat-alat berat. Lima traktor mengelilingi patung. Sekitar lumapuluhan pekerja sudah mondar-mandir mempersiapkan segala sesuatunya. Seorang yang bersurban gelap tampak sibuk dengan buku catatan. Sesekali memanggil salah seorang pekerja. Dia seperti menyuruh untuk mengambil sesuatu. Saat yang lain dia menunjul pada bagian-bagian dari patung Ramses II dan petugas segera melakukand engan sangat cekatan.