
Ketika uang sudah dihabiskan untuk membeli obat, dan ternyata mereka tidak mendapatkan hasil yang membuat mereka lolos dari belitan masalah, maka dia menyadari betul keberadaan diriku.
“Waktu tidak bisa dihentikan, Sayang,” tukasnya suatu ketika kepada Cinta.
“Dan perutku akan membesar.”
“Itu aku tahu, tetapi bagaimana kita menyembunyikan?” Ergo seperti kesetanan, matanya nanar, dan ulutnya berbusa.
“Aku tidak tahu, Kita sudah berusaha keras sekali,”
“Dan selama itu pula tidak mendapatkan apa-apa.”
“Kalau begitu, hentikan waktu, Hentikan waktu, Hentikan saja waktu yang keparat.”
“Waktu terus merangkak!” Cinta berteriak-teriak sebiasanya di dalam kos yang apak, yang tauh dari teman-temannya orang tuanya, bahkan sanak kerabat. “Hentikan saja waktu.”
Sialan, dia mengulangi perkataan semula, Bagaimaan diamampu menghentikan aku, Bahkan Tuhan pun tidak bsia mengerem barang satu helaan napas pun. Kamu tahu, hei Cinta dan Ergo yang goblok, sebelum Tuhan menciptakan kalian, setan, dan dunia seisinya, Tuhan lebih dulu menciptakan aku. Tentu kamu ingat bahwa Tuhan menciptakan dunia seisinya dalam waktu tujuh hari. Bagaimana kita bisa tahu tujuh hari jika konsep hari itu belum diciptakan? Bagaimana kita bisa mengukur tentang lama Tuhan sibuk membuat kita bila Tuhan tidak menciptakan aku, sang waktu, lebih dulu. Aku lebih tua dari siapa pun, maka aku boleh dikatakan sebagai anak sulung dari Tuhan Akulah yang tertua di antara semua ciptaan Tuhan. Maka, wajar bila semua tunduk di bawah kekuasaanku.
Kemudian, tiba-tiba, anak ingusan yang goblok dan kurang pengalaman itu coba-coba menghentikan waktu. Yang benar saja. Memang dia siapa? Hahahaha, aneh-aneh saja mereka. Ups, sebaiknya aku tidak menertawakan dia. Aku justru harus mengasihani. Betapa, dalam kondisi kepepet seperti ini, dia masih tidak menyerah, dan congkak untuk menghentikan laju diriku. Aku mengasihani bukan karena kecongkakan, tetapi lebih sebagai keberanian untuk menembus apa pun.
“Kita bahkan sekarang kurang waras. Menghentikan waktu. Kamus udah gila,” langsung saja Ergo menyergah dengan perasana yang meluap. Dia jengkel. Sedih. Muak. Tapi tidak tahu harus berkata apa.
“Lantas?”
“Lantas apa maksudmu?”
“Kita mengaku kepada orang tua?”
“Itu lebih bodoh lagi.”
“Meminta bantuan kepada teman-teman mahasiswa kita?” usul Cinta tak kalah sengit.
“Itu sama denagn bunuh diri dengan cara perlahan-lahan, Mereka sehari dua hari bisa bungkam mulut. Tapi mereka hidup lebih lama dari yang kita pikirkan. Semua akan tahu tentang kita. Semuanya.”
“Lantas?”
Kemudian Cinta terdiam. Dia hanya bisa menangis setelah dibentak dengan sangat keras. Selain menangis, dia tidak tahu harus melakukan apa kecuali mengelap air matanya yang mirip pancuran. Hanya doia, yangmebiuat Ergo tidak lagu bersuara. Hanya hening yang menjelmakan bentakan menjadi kesenyapan.
Ketika usia kehamilan Cinta sudah menginjak ketiga, Ergo akhirnya mengajak Cinta mengungsi ke daerah yang tidak dikenali oleh teman-teman dan orang tua mereka. Mereka seperti hidup layaknya suami-istri. Menginjak bulan keempat, Ergo menghadapi ujian skripsi, dan dia ditetapkan lulus bulan kelima kehamilan, Ergo wisuda.
Aku, sang lembaran waktu, selalu mencatat hari demi hari, bulan demi bulan, teliti sekali.
Cinta terpaksa tidak bisa menemani kekasihnay berfito pakai toha di dekat danau di Depok. Di hanya melihat foto itu di kontrakan rumah petak yang sempit. Nah, pada bulan keenam itulah mereka duduk terpeku. Ergo sadara baha sebentar lagi jabang bayi akan lahir, dan itu tentu saja memerlukan biaya banyak. Setelah dia lulus sebagai sarajan komunikasi, tentu saja tidak lagi memiliii alasan kepada orang tua untuk meminta uang. Kalaupun diberi, uang itu tentu saja tidak mencukupi untuk biasa persalinan Cinta.
Pelauang tentu saja berada di tangan Cinta meminta uang kepa daorang tuanya. Tetapi, masalahnya, bagaimana dia memnta uang kepada orang tuanya ketika batang hidunya tidak tampak. Sudah lebih dari setegah tahun dia hanay menelepon orangtuanya di Banyten, Selama itu pula dia mengaku masih sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Ketika ditanya kapan pulang, CInta mencarikan seribu alasan Besok agi harus ujian. Lusa, masih menunggu dosen, tulat harus kumpul organisasi kemahasiswaan, sementara itu tubin dia harus mengerjakan tugas kelompok.
Yang benar, sesungguhnya Cinta sudah tidak mengerjakan tugas-tugas kuliah lagi. Tepatnya sejak dia mulai muntah-muntah dan di dalam perutnya mulai dirasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak, Dia tidak tahu apa itu, tetapi dia yakin bahwa apa pun di dalam perut itu tentu akan bikin dia malu. Akan hilang muka. Maka dia memilih untuk tidak masuk kampus. Ketika terdengar kereta api listrik berdenging tak jauhg dari tempatnya tinggal, maka bayangan jam kuliah yangpadat dan penumpang di dalam lambung kereta mulai menyeruak. Bel KRL (Kereta api Listrik) itu melengking panjang seperti mengajaknya menuruni Stasiun UI, kemudian melangkah menyusuri pematang di kebun karet, kemudian memintas jalan menuu kampusnya yang teduh dengan rimbun pohon angsana.
Tiba-tiba air matanya kembali mengalir. Cinta sama sekali tidak merasa malu ketika harus menangis. Bukankah perempuan diperbolehkan menangis?
“Jangan menangis, Sayang. AKu mendampingimu.”
“AKu tahu kamu lelaki bertanggungjawab. Tetapi aku melahirkan tentu berbekal tidak sekadar tanggung jawab, tetapi uang untuk membayar bidan yang membetot bayi kita dari liang peranakanku. Kita butuh uang untuk suster yang kan mencucikan darah yang keluar bersama jabang bayi.”
AKu melihat wajah Ergo sangat pucat. Matanya menerang jauh, entah sudah menemus kangit ke berapa. Dia terduduk di lantai kamaar yang selaligus ruang yamiu. Toha wisuda terayun-ayun ditiup angin petang. Toga itu baru saja ditempelkan di dinding dengan paku di ketinggian dua meter. Ergo memandang toga itu. Baru beberapa hari yang lalu dia lulus dari universitas. Bahkan ijazah pun belum keluar. Transkrip nilai belum juga diambil dari bagian akademi Padahal membuat lamaran butuh proses. Wawancara juga butuh waktu Kalau sudah wawancara, tes kerja perlu waktu lagi Begitu tes kerja dilaksanakan, tidak seketika mendapatkan uang. Kira-kira perlu waktu satu bula lagi untuk mendapatkan beberapa lembar limapuluhan ribu.
“Aku memerlukan waktu banyak untuk mendapatkan uang, tu pun bila semua rencana berjalan lancar.”
“Kenapa tidak memotong waktu,” Cinta menukas.
“Apa makudmu dengan memotong waktu?”
CInta menghela napas perlahan sebelu kemudian meata kalimat-kalimat yang ada di dalam kepalanya. Dia tidak ingin lelaki di depannya tersinggung, “Untuk memotong waktu, kamu bis abekerja apa saja. Meminggul beras di pasar. Mengangkuti sampah. Jadi tukang parkir. Jual koran. Melamar kernet Mengais barang bekas Mencari kertas bekas untuk dijual kiloan. Mengamen …”
Ergo waktu itu tampak terdiam. Benar-benar bibirnya tampak mengatup, sepetri masing-masing daging itu lengkep karena diolesi lem buatan Jepang. Matanya hampir saja berkaca-kaca. Dia tahu, lelaki tidak boleh menangis. M ata yanghampir berair itu seakan-akan melihat sosok dia sendiri yang berteriak lantang di Bundaran HI (Hotel Indonesia). Dia menuntut koruptor mundur. Dia ingin merombak Undang-Undang Dasar. IMF (International Monteray Fund) harus diusir dari negeri ini. Kerja sama dengan World Bank harus diputus sekarang juga, Reformasi belum selesai, belum apa-apa teriaknya waktu itu.