Digi The Killer

Digi The Killer
Laksana Jantung yang Terus Berdetak


Dan seperti dugaanku, aku tidak sulit untuk menembus ke sana. Sistem syaraf pusat hanya berisi sebuah benda yang mirip jantung yang terus berdetak, dan di dalannya hanya gumpalan daging, Ooo, gumpalan daging itu kemudian dihubungkan dengan syaraf serabut yang jumlahnya ribuan, menjalan di seluruh kepala. Seperti halnya gumpalan dagin itu, serabut yang menyebar kemana-mana ini kemudian membesar dengan sendirinya di setiap terminal. Dan serabut syaraf yang sebesar rambut itu telah bercabang lagi menjadi ribuan, kemudian di ujungnya bercabang lagi, bercabang lagi, sampai cabang-caban itu berujung di sekujur tubuh. Gila! Sistem syara manusia inilah yang mungkin disusun oleh komputer. Sebab, sistem kerjanya pun sama, Gumpalan daging kecil di dalam kepala manusia hanya satu microchip. Sebab masih ada microchip-microchip lain yang menggerakkan setiap perintah yang masuk.


Kini aku melihat sistem syara manusia tidak lebih rumit dari mesin kalkulator. Tampak begitu sederhana. Ciptaan manusia elah melampaui dirinya sendiri, dan dengan begitu, manusia diakhiri oleh ciptaannya sendiri Barang ciptaannya bahkan lebih maju dari yang diciptakan.


Kini aku sudah berada di tenag-tengah gumpalan sistem syaraf pusat Ergo. Sistem syaraf yang aku duduki ini adalah kesadaran. Aku tinggal memotong sistem syaraf yang keluar menuju seluruh tubuh. Pemotongan itu cukup dengan sengatan listrik superkecil, dan sistem kesadaran akan goncang. Begitu goncang, sistem ingatan akan bertabrakan. Ergo tak ubahnya sebuah patung raksasa yang gerumpung, Sebuah patung yang di dalannya tidak ada isinya. Lapisan luar hanya kulit tipis terbut dari kaca tipis yang mudah pecah. Sekali sentuh, ibaratnya tumpukan gelas yang tingginya dua meter, akan segera runtuh.


Tugasku hampir selesai. Sebelum dia mati, dan matinya tidak sia-sia, aku ingin mengantarkan pesan untuknya.


“Halo, Ergo!”


Ergo yang semula masih memegang handphone seketika terhenyak kaget. Ada yang memanggilnya dengan keras, mirip sebuah teriakan. Diputar kepalanya ke tempat yang disangkanya menjadi asla suara. Tapi kosong. Kemudian dia menghirup napas, mengisi paru-paru dengan oksigen, memberikan kekuatan untuk mendengarkan sekali lagi. Dia masih mencari-cari ketika terdengar kembali, “Ergo, aku di sini!”


Ergo berbalik. Suara itu seperti berasal dari balik tubuhnya, tetapi ketika dia sudah berbalik ternyata tak menemui ap apun di sana.


“Ergo!”


Akhirnya, setelah kesekian kali dia merasa seperti dipermainkan. Tak urung, dia berteriak, “Siapa kau?!”


“Aku bukan siapa-siapa?” sahunya dengan keras dan lantang.


Ergo terhenyak. “Kenapa kau panggil aku?”


“Karena aku membutuhkanmu, Ergo.”


“Sialan! Bagaimana kau tahu namaku?”


“Bahkan aku tahu banyak tentang dirimu.”


“Tahu banyak apaan? Kau hanyalah seorang pengecut yang tak berani menampakkan diri.”


“Hahaha…ketika aku bercakap denhanmu, ini saatnya aku menampakkan diri.”


Ergo berputar-putar, melihat sekeliling, dan hampa.


“Kau tidak akan menemukan diriku di sekitarmu, karena aku bukan di luar, tetapi di dalam.”


“Busyet! Kamu ngomong apaan?”


“Hahahaha, kamu masih tidak mengerti juga. Aku di dalam dirimu.”


“Di dalam diriku. Anda semakin ngawur Aku tidak ingin bercakap dengan Anda lagi.”


“Sejauh apa pun kau meghindar, aku akan tetap berada di dalam dirimu.”


“Kau siapa?!”


“Aku ada di dalam dirimu, Jadi bagaimana mungjin mau menghindari dirimu sendiri.”


Ergo diam. Mencoba mengerti apa yang sedang terjadi.


“Hahahaha, kau ampak semakin bingung, Ergo. AKu harap kau tidak telalu terkejut dengan kedatanganku. AKu hanya ingin memperkenalkan diri …”


“Kau bohong! Apa yang kau inginkan dariku?!”


“Terkadang kamu cerdas, Ergo. Begini, akulah sejenis virus komputer yang diutus untuk menemuimu….”


“Jadi kau ….”


“Iya, benar, aku malaikat pencabut nyawa. Nyawamu untukku malam ni, hahahaha…”


“Tidak ada yang bisa mencabut nyawaku kecuali Tuhan.”


“Kau mengoceh apalagi ini. Biukankah hidupmu telah kauserahkan kepadaku, Dalam tiap detik dan napas yang keluar-masuk dari hidup telah dihitung berdasarkan sistem syaraf digital yang sederhana. Kamu tidak lagi sebagai manuia bebas yang mampu melakukan apa saja dan mengendalikan lingkungan maupun alam semesta. Kini kau hanyalah bagian dari sistem digital yang sekarang sedang menggurita. Bailah, aku capek menjelaskan teori ini kepadamu. Toh sebenar lagi kau akan mati. Terima ini sebagai kodrat yang telah ditulis Tuhan bagimu, dan bai manuia-manusia lain di masa lalu dan yang akan datang.”


Ergo mendengar ancaman yang kelihatan begitu serius itu kemudian ingin berlari. Tapi dia bingung, mau berlari kemaa? Bukankah suara itu berada di dalam kepalanya? Apakah hidupku akan berakhir sampai di sini? Pertanyaan itu kemudian berdebam-debam dalam kepalanya.


“Hei, detak jatungmu berdenyut kencang sekali. Juga urat syarafmu mengirimkan ribuan pertanyaan. Sebenar, jangan begitu khawatir. Tidak terlalu sakit. Lihatlah, aku hanya mencopot beberapa isyalasi syaraf yang terpasang dengan serat-serat daging di pusat kepadamu…”


Tepat pada saat program hendak merusak salah satu urat syaraf di dalam kepala Ergo, dia mendengar handphone berdering!


Deringan itu mengagetkan!


Siapa pun yang menelepon, dia akan meminta tolong.


Begitu tersambung, Ergo seketika berteriak: “Tolong aku, siapa pun di sana! Aku akan menjadi korban kekerasan sistem digital. Tolong!”


“Tenang, Ergo tenang! Aku Kana, kekasihmu, aku tidak menolongmu, tetapi sesuatu yang mengalir melewati gelombang elektromagnetik ini akan menolongmu.”


“Aduh! Cepatlah, Kana. Aku sudah idak tahan lagi. Rasanya sakit sekali di kepalaku…”


“Ya, Sayang, aku juga tidak akan lama. Aku juga dalam posisi tidak menguntungkan, Sudah ya, I love you…”


Kemudian sambungan telepon berhenti.


Pada saat yang hampir bersamaan, Ramses dan Waktu sudah sampai di urat syaraf di kepala Ergo!


Begitu berada di jalur urat Syaraf, secepat kilat, Waktu telah mendorong posisi Program yang berada di pusat sistem syaraf. Dengan sekali sentak, Program telah terjengkang ke belakang, “Inilah saatnya kau mati, jahanam!”


Program tak sempat terkejut. Dia memandang sosok di depannya. “AKu tidak pernah mencampuri urusanmu, tetapi kali ini, aku benar-benar marah!Hhhh!” Kemudian Program maju ke depan dan langsung menerjang dengan kekuatan biner yang mengejugkan, Biner itu berubah menjadi gumpalan-gumpan awan beracun yang siap membunuh. Waktu yang sudah mengangtisipasi serangan itu, kemudian langsung menghidar, dan pada saat itulah:


“Liha, aku akan mengentikan dirimu, sang waktu yang sombong.”


Serat-serat itu terus membesa, kemudian menelan apa saja yang berada di dalam ruangan kepala, “Inilah langkah pengosongan memory yang terkenal itu …”


Pengosongan memori!


Waktu terhenyak. Lihatlah, program itu telah memakan satu persatu gumpalan memory di ruangan itu. Memakannya sangat epat seperti tongkat Musa yang memakan ular-ular yang diciptakan oleh tukang sihir.


Ini jelas tidak bisa dibiarkan. “Ramses, aku butuh batuanmu.”


“Cepat katakan. Waktunya sudah tidak ada.”


“Cobalah isi memori Ergo dengan sejarahmu, tentang apa saja, supaya dia masih tetap waras untuk sementara ini.”


“Bagaimana caranya?”


“Buatlah gambaran dengan tubuh abstrakmu. Bayangkan, bayangkan dengan kuat. Kuat sekalim bayangan itu akan mengisi setiap ceruk kepala Ergo. Cepat!”