
Pasangan makhluk yang renta itu tergopoh-gopoh memasuki koridor seperti yang ditunjukkan oleh suster yang sangat halak itu. Mereka tengok kanan-kiri sembari berjalan dalam gamang Lekaki tua, yang sudah mulai rabun itu, tampak sekali berusaha membaca tulisan yang tertempel di atas pintu. Dia sebetulnya masih seperti 20 tahun yang lalu atau lebih muda daripada itu, tetapi kenapa tulisan menjadi semain tidak terbaca saja.
Di kiri lorong itu tertempel, “Pusat Rehabilitasi Korban Komputer”. Untung tulisannya agak besar sehingga langsung terbaca. Sendi-sendi kakinya yang mulai rapuh masih diupayakan untuk berjalan lebih jauh lagi. Dia masih melihat-lihat tulisan yang tertempel di sekeliling. Di sebelah kiri tertulis, “Rawat Inap Pasien Hilang Memori”.
“Masih jauh, Pak?”
“Kata suster, masih satu blok lagi,” lelaki itu menjawab sambil menggandeng istrinya yang berjalan lebih lamat dan agak di belakang. Setelah tertatih-tatih, akhirnya kepalnya menengok ke sebelah kiri.
Suster berkata benar, karena di atas pintu itu tertulis, “Pusat Rehabilitas Korban Telepon Seluler”, Tanpa ragu-ragu merekamasuk ke dalam. Tetapi baru beberapa langkah, dia dicegat oleh lagi-lagi, seorang suster.
“Apakah Bapak dan Ibu orang tua Saudara Iman?”
“Ya. Di maan anak kami?”
“Dia masih di ruang perawatan sebentar lagi keluar.”
“Kalau memang masih di ruang perawatan, kenapa kami disuruh ke sini?”
“Di sini lebih baik daripada menunggu di luaran sana.”
Dan mereka pun terpaksa duduk di kursi rotan dekat dinding. Tentu saja dengan hembusan napas yang teramat sangat kesal Berkali-kali harus menunggu, Tapi apa boleh buat.”
Sembari menunggu, lelaki tua itu bangkit sambil melihat-lihat poster yang tertempel di dinding, persis di hadapannya.
Apakah Anda korban berikut?
Virus komputer tidak menular
Tetapi bisa menyerang Anda kapan saja
Sampai kini belum ada obat
Yang Mampu mengembalikan
Jadi …
Apakah Anda korban berikutnya?
Lelak tua itu hanya menghembuskan napas pelan. Dirasa sakitnya, tidak ada handphone atau peralatan elektronik lain. Dia meras abersyukur tidak bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi yang kini dirasakan oleh anak-anak dan cucunya. Tulisan itu lebih pas disebut menakut-nakuti daripada tulisan yang menari, Ditulis dengan huru-huruf yang besar dan warna merah darah. Yang lebih menakutkan lagi adalah whiteboard yang terdiri atas kolom-kolom dari beberapa baris yang ditulis dengan spidol hitam. Di atas tabel itu diberi judul, “Daftar Korban Wabah Komputer Kwartal Terakhir”.
Dibacanya perlahan. Meninggal 1.299.290 orang, luka berat 367.489 orang, dan luka ringan 36.458 orang. Yang dirawat di sini, 4.579 pasien. Dalam bentuk grafik, korban meninggal ternyata meniggat secara sangat drastis sehingga garis penunjuk angkanya sepetri tegak dan berdiri mirip pohon kelapa. Peningkatan terjdi tidak dalam hitiungan tahun, tetapi bulan demi bulan. Di sampingnya tertulis bagaimana seseorang melakukan pertolongan pertama kepad amereka yang terserng virus digital. Pertama, mereka harus mematikan barang-barang digital seperti handphone, komputer, walkman, radio, atau peralatan lain yang enggunakan sistem teknologi digita. Kedua, setelah memastikan semua barang elektronik korban dibaringkan dan dituntun untuk mengucapkan kalimat-kalimat suci dalam kitab sudi. Dan ketiga adalah menanyakan nama, alamat, serta osisinya, Jika sudah bisa mengucapkan lafal suci, berarti tidak perlu meakukan langkah ketiga, karena hanya terjadi infeksi ringan. Tetapi ketika korban tidak lagi bisa menyebutkan nama, alamat, serta identitas dirinya yang lain, maka perlu langkah keempat, yakni melarikan korba ke rumah sakit khusus yang menangani korban virus teknologi digial.
Lutut lelaki tua itu kembali bergetar. Kembali dia teringat dengan anaknya yang terbaring lemah. Dan itu berarti sudah melewati langkah keempat.
Anaknya dalam ancaman!
Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa telah terjadi peningkatan tingkat kemajian akibat virus teknologi digital. Seketita lelaki tua itu merasa sesak napas. Dia memegangi dadanya, tetapi tidak lama, karena dia langsung mencari tempat duduk yang berada di belakang tempat dia berdiri. Bola matanya meloncat kesana-kemari. Jelas menunjukkan lelaki yang sudah berubah itu tidak lagi tenang. Setiap beberapa tenaga medis keluar dari ruang perawatan matana terbelalak dan ketika mereka tidak menghampiri, maka lelaki tua oitu kembali melengos. Dan termenung. Dan mematung. Dan matanya berkaca-kaca.
Istrinya yang berada di susunya melihati suaminya dengan sendu. Dia tidak tahan untuk pura-pura tegar. Akhirnya dia benar-benar menangis.
“Orang ua dari Saudar Iman?”
“Lelaki tua itu tergeragap. Matanya membelalak. Tangannya seperti meraih sesuatu saat hendak berdiri. Ditatap seseorang berpakaian putih berdiri dengan sempurna di hadapannya. Tersenyum, kaca matanya sedikit melorot.
Diusahakan dia berkali-kali membalas dengan tersenyum sebelum dia memananyakan kondisi anaknya.
“Bapak ini orang tuanya?”
“Ya, Dokter. Bagaimana dengan anak saya?”
Dokter menarik napas sejenak, kemudain menghembuskan dengan cepat. “Anak Bapak sudah tidak tertologn lagi. Kami minta maaf.”
Dokjer muda yang berpakaian putih itu kembali memasang penutup hidungnya, berbalik, dan meninggalkannya. Kata “meningal” diucapkan sang dokter begitu ringan tanpa beban, seperti dia mengucapkan, “Hai, mau kemaba” atau sedang makan kacang. Mungkin bagi dokter, kematian tidak lebih dari makan kacang di warung emperan.
***