
Di hadapan sosok setinggi itu dan sebesar itu, Tian Yan yang sangat angkuh dan sombong selama ini merasa nyalinya sedikit menciut, namun dia tidak sepenuhnya takut.
“Kau adalah ...” Tian Yan memandang mata sosok raksasa itu— Ia melihat lagi ke sisi kiri dan kana sosok itu yang rupanya terdapat dua sayap bercahaya yang menjadi sumber cahaya di tempat gelap ini.
“Malaikat!” seru Tian Yan sembari kembali memandang mata malaikat itu yang juga memandangnya dengan tatapan tenang.
“Ughh!” Tian Yan merasa kesakitan di mata kirinya, dan terpaksa menutupnya— hanya menyisakan Mata Dewa yang sepertinya kebal terhadap intimidasi dari Sang Malaikat.
“Dewa.”
Malaikat itu hanya mengucapkan satu kata dan terdiam kembali— seketika semuanya berubah kembali menjadi seperti semula, tanpa Tian Yan sadari kini seluruh energi spiritual di laut pengetahuannya sudah terkuras habis hanya gara-gara jiwanya dihadapkan dengan sosok menakutkan itu.
“!!!” Tian Yan menoleh ke samping, ke arah Utara dan bergumam rendah, “Dia di sana.”
“Apa kau sudah bertemu dia?” Qing Jia bertanya sekaligus menjelaskan, “Normalnya para Half Saint yang sudah tinggal di tempat ini selama 1 tahun akan mendapatkan pengakuan dari Kehendak Dunia dan menjadikan mereka sebagai Penguasa Alam Inti Langit. Membunuh mereka hanya akan membuatmu mati, karena ketika kau membunuh mereka, Sang Malaikat akan menjadi lawanmu yang selanjutnya!”
“Apa?!” Tubuh Tian Yan bergetar ngeri.
“Ya, makanya itu kubilang jangan. Kecuali kau juga sudah diakui sebagai Penguasa Alam Inti Langit.”
“...” Tian Yan benar-benar tidak habis pikir. “Tapi tetap saja, aku tidak akan melepaskan mereka. Senior tunggulah di sini!” kata Tian Yan, lalu bergegas pergi mengejar keempatnya.
“Hmm, apa dia ingin memperbudak mereka?” Qing Jia yakin dengan sifat Tian Yan, dia akan melakukan itu. “Tapi ... bagaimana dia masih baik-baik saja setelah bertemu Malaikat? Kudengar orang-orang yang bertemu dengannya akan menjadi ketakutan, bisa saja menjadi gila.” Apa itu hanya rumor? Pikir Qing Jia.
Lima belas menit kemudian— Tian Yan membawa kembali keempat Half Saint itu ke Gerbang Cahaya Suci dan menyerahkan menyerahkan mereka kepada Qing Jia yang saat ini sedang duduk di atas salah satu puncak, sepertinya sedang memulihkan sedikit tenaganya.
“Ada apa?” Qing Jia bertanya tanpa berbalik ke belakang.
“Senior, jiwaku belum begitu kuat sampai-sampai bisa memperbudak mereka, jadi ...”
“Hmmm ...” Qing Jia tidak menjawab, melainkan bangkit berdiri dan berbalik badan menghadap keempat Half Saint yang saat ini sedang ditumpuk Tian Yan dalam kondisi sakit-sakitan. “Apa kau ingin melihat kekuatan jiwaku?” Qing Jia memandang Tian Yan dengan ekspresi datar, membuat Tian Yan malu karena sudah ketahuan.
“Ya!” Tian Yan hanya bisa mengaku— karena sejujurnya dia sangat tertarik dengan seberapa kuat jiwa Qing Jia itu.
Qing Jia mengangguk tipis, ia mengangkat tangannya dan mengalirkan kekuatan jiwanya yang sangat murni, berwarna merah tua. Ketika kekuatan jiwanya mengalir, Tian Yan menatapnya dengan teliti dan dia terkejut setelah mengetahui bahwa jiwa Qing Jia berada pada tingkatnya sendiri.
‘Jiwaku tidak layak disandingkan dengan wanita ini ...’ batin Tian Yan. Ia terus mengamati aliran jiwa Qing Jia yang masuk ke dalam tubuh keempat Half Saint itu dan membuat mereka menjerit kesakitan.
“Grahhhhh ...”
“Arghhhhh ...”
Mereka berempat yang telah dibuat pingsan langsung terbangun dan merintih kesakitan di atas tanah seperti cacing kepanasan.
“Arghhh! Berhenti ... tolong berhenti!” Jerit Long Jian bersama mereka yang lain. “Aku minta maaf! Aku minta maaf!”
“Sudah terlambat!” Qing Jia menatap mereka dengan ekspresi dingin, “Kalian akan menjadi budakku seumur hidup kalian!”
“Arghhhhhhhhh ...!!”
***
Istana Naga Giok adalah tempat Tian Yan sebelumnya bekerja. Setelah kepergiannya, tempat itu menjadi sedikit sepi, namun meski begitu masih terlihat bahwa tempat tersebut sangat terawat dengan baik.
Di sebelah kanan halaman, terdapat sebuah patung yang terbuat dari emas, tingginya kira-kira 30 meter, sangat tinggi sehingga setara dengan Istana Naga Giok.
Tap ...
Dengan pijakan yang tenang, seorang pemuda mendarat tepat di bawah patung emas itu dan memandanginya. “Hmm, sangat tampan.” Dia memuji rupa patung tersebut sambil memijat-mijat dagunya.
“Anak muda, apa yang kau lakukan di sini?” Seorang wanita cantik berjalan dengan anggun dan menegurnya karena berpikir pemuda itu adalah salah satu murid sekte.
“Ah ...” Pemuda itu tersenyum tipis di sudut bibirnya. “Aku hanya memuji diriku, apa yang salah?” Pertanyaan pemuda itu seperti angin musim dingin yang menusuk benak wanita itu dan membuatnya terdiam di tempat— mematung, tidak tahu apa yang terjadi sampai pemuda di hadapannya itu membalikkan wajahnya ke arahnya.
“K-Kau ...”
“Bing Hua.” Pemuda itu menyapanya dengan senyum hangat dan membuka lebar-lebar lengannya, membiarkan wanita itu untuk bergegas masuk ke dalam pelukan hangatnya.
“Tuan, kau akhirnya kembali!” Bing Hua tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meneteskan air matanya. “Aku dan saudari Jiao sangat khawatir bahwa kau kenapa-kenapa.”
“Maafkan aku ...” Tian Yan memegang kepalanya dan membenamkan wajah Bing Hua di dadanya.
Tap Tap Tap!
Beberapa sosok yang dikenali muncul di hadapannya, masing-masing sudah berada pada puncak kultivasi di Benua Heng Xi dan menjadi pembangkit listrik papan atas di bintang ini.
“Memberi hormat pada Master Sekte!” sambut mereka sembari menangkupkan tinju mereka sebagai salah ciri khas para ahli bela diri.
Tap!
Kali ini yang turun adalah seorang wanita elf berambut kuning mengenakan Qipao kuning muda yang panjangnya sampai di atas mata kaki.
Tian Yan terkesiap sejenak, “Kau semakin cantik saja, Yue.”
“Tuan ...” Jiao Yue ikut masuk ke dalam pelukannya, membuat mereka yang menonton tersenyum malu.
“Shut ...” Tian Yan bermain kode mata dengan mereka untuk mengusir mereka dengan halus.
“Kami pamit undur diri, Master Sekte!” ucap Sheng Yi, wanita yang dahulu Tian Yan selamatkan ketika terdampar di Benua Heng Xi— sekarang posisinya adalah wakil manajer dan meski tidak di puncak kultivasi Heng Xi, dia masihlah seorang Origin King Tahap 1.
Setelah semua orang yang ada telah pergi dan hanya menyisakan mereka bertiga, Tian Yan pun melepaskan mereka dari pelukannya dan tersenyum penuh makna.
“Yue’er ... Hua’er ...” Tian Yan sedikit membuang beberapa kata ke dalam telinga mereka yang membuat wajah keduanya berubah merah seperti tomat pada waktu panen.
“Ayo!”
Entah ke mana Tian Yan membawa mereka pergi— ini sesuatu yang rahasia.
...Jangan lupa like, reader YTH :)...