Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 87


"Eh, kok bicaranya gitu sih sayang? Mukul orang itu tidak boleh loh!" ucap Raisa yang berusaha menasehati Mia, sementara Kia sudah duduk di sebelah Raisa.


"Kalau tidak boleh, kenapa Aunty Lala dan Om Bimo boleh? Padahal mereka kan orang dewasa. Harusnya orang dewasa itu mencontohkan yang baik ke anak kecil seperti aku dan Kia."


Seketika Pamela dan Bimo jadi malu sendiri oleh kelakuannya sendiri.


"Tadi, Aunty sama Om Bimo cuma lagi akting kok, nggak beneran Mia. Beneran deh!"


Pamela sampai menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda perdamaian.


"Udah ketahuan basah, masih aja bohong. Aku dan Mia itu tidak bodoh Aunty."


Kini giliran Kia yang berbicara.


"Lebih baik Aunty sama Om Bimo baikan deh. Katanya lebih baik banyak teman daripada musuh. Salaman dulu Aunty," pinta Kia yang ada akhirnya membuat Pamela mau tak mau berdamai dengan Bimo sambil bersalaman dengan Bimo.


"Aww, sakit tahu," gumam Bimo sambil menggertakkan giginya.


"Udah, Aunty sama Om Bimo sudah damai," ucap Pamela.


"Nah, begini kan enak dilihatnya Aunty," ucap Kia dengan diakhiri senyuman.


Tak lama kemudian, Edgar pun datang dan mengajak Bimo untuk masuk ke ruang ke kerjanya.


*


*


Di dalam ruang kerja Edgar, Bimo merebahkan tubuhnya di kursi kerja empuk milik Edgar. Laki-laki itu bertanya tentang cara menaklukan hati mertua. Rupanya itulah tugas negara yang dimaksud oleh Bimo.


"Sepertinya kamu salah tanya orang deh Bim. Kamu tahu sendiri, aku bahkan tak tahu bagaimana wajah mendiang mertuaku. Melihat foto aja belum pernah apalagi sampai bertemu. Harusnya kamu tanyanya itu ke Levi."


Bimo tampak menghela napasnya sejenak.


"Kamu tahu sendiri, Levi itu kalau ditanya beginian, nggak bakalan kasih solusi."


"Lah, tanya ke aku juga sama, kan?"


"Hah, iya juga ya."


"Lagian nih ya, kalau cuma pura-pura jadi sepasang kekasih mah, nggak usah sampai pusing mikirin calon mertua Bim."


"Ya gimana ya, aku ini seolah tertantang loh sama ucapan papanya Tamara."


"Kalau begitu, udah jadiin beneran aja Bim," saran Edgar ke Bimo.


"Menikah itu nggak seperti apa yang kamu bayangkan. Kamu pasti nanti merasakan, betapa indahnya menikah, dan betapa kamu bisa mencintai orang sedalam itu setelah menikah. Daripada kamu terus mencari wanita untuk beradu di ranjang denganmu, lebih baik cari yang pasti yang mau menua bersamamu."


Bimo tampak terdiam sejenak sambil memejamkan matanya. Rasanya ucapan Edgar itu seolah telah meracuni pikirannya.


Menikah? Menua bersama?


Bimo pun sebetulnya ingin merasakan itu, hanya saja selama ini, wanita yang ia temukan tak pernah sesuai dengan apa yang dia inginkan.


"Akan lebih bahagia lagi, kalau kamu sampai punya anak dengan orang yang kamu cintai. Hidup kamu jadi lebih berwarna lagi."


Lagi dan lagi, ucapan Edgar seolah telah menghipnotisnya.


"Arghhh!"


Bimo sedikit berteriak agar pikirannya tak terpengaruh dengan ucapan Edgar.


"Pertanyaanmu sudah selesai, kan? Aku mau main sama-sama gadis-gadis kecilku," ucap Edgar yang langsung membuka pintu padahal Bimo masih belum selesai dengan pembicaraan. Pada akhirnya, Bimo mengekor di belakang Edgar untuk kembali mengobrol bersama di ruang tamu.


"Aunty, kita pergi piknik sambil kemah lagi yuk!" ajak Mia ke Pamela.


"Nggak bisa dong sayang. Aunty nya juga pasti sibuk. Lagipula, kalian juga kan lagi sibuk siapin lomba."


Mia langsung cemberut.


"Aku nggak jadi ikut lomba kok Mi," ucap Kia yang membuat Raisa sedikit terkejut.


"Loh, kenapa?" tanya Raisa.


Raisa tampak menarik napasnya kasar.


"Menang atau kalah dalam sebuah perlombaan itu hal biasa. Kan Mami udah pernah bilang, nggak menang pun nggak papa. Mami suka bagaimana kalian berusaha dalam prosesnya, tapi kalau emang kaliannya sudah memutuskan untuk nggak ikut lomba, ya udah. Mami bisa apa. Kalau dipaksa juga nggak bisa, kan?"


"Thank you Mami. Mami nggak marahin aku atau Mia yang ambil keputusan sendiri."


Raisa menggeleng.


"Buat apa Mami marah? Setidaknya kalian sudah belajar untuk ambil keputusan sendiri. Karena kalau nanti sudah dewasa, apa yang ingin kalian lakukan, memang harus keputusan kalian sendiri bukan karena Mami ataupun Papi."


"Jadi, boleh kan Mi, kalau weekend ini kita piknik?" tanya Mia lagi yang masih menginginkan berkemah sambil piknik.


"Minta izin dulu sama Papi. Kalau Papi bolehin, nanti Mami juga bolehin."


"Apa nih yang bolehin, bolehin? Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Edgar yang tiba-tiba saja datang ke ruang tamu.


"Aku dan Kia mau piknik di hari weekend ini, boleh kan, Pi?" ucap Mia minta izin ke Edgar.


"Boleh, asalkan Papi dan Mami ikut."


Si kembar tampak kegirangan wajahnya.


"Om boleh ikut nggak? Om ga ada kegiatan nih, malas banget kalau cuma rebahan di rumah aja."


"Boleh Om," jawab Mia yang membuat Pamela merasa tidak suka.


"Padahal Om Bimo mah nggak usah diizinin Mia."


"Lebih banyak orang, lebih rame Aunty."


"Tuh, dengerin, anak kecil aja tahu."


Pamela tampak mendengus sebal lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


*


*


Tak terasa hari weekend pun telah tiba, si kembar sudah berpakaian ala-ala orang lagi muncak gunung. Ya karena mereka akan piknik di daerah dataran tinggi yang udaranya agak dingin.


"Udah masukin semua barangnya ke dalam tas?" tanya Raisa ke si kembar.


"Udah Mi, kan aku harus belajar mandiri, biar cepat punya adik. Aku juga udah bawa semua barang-barang yang aku perlukan aja. Kata Mami kita harus safety."


Raisa yang mendengar jawaban dari Mia itu jadi tersenyum. Mia aja berusaha untuk belajar mandiri supaya bisa layak jadi seorang kakak, kenapa dirinya tak bisa melawan ketakutannya?


Ya, aku haru melawan rasa takutku. Aku harus bisa, aku tak mau mengecewakan anakku sendiri. Doakan Mami supaya cepat kasih adik ke kalian.


"Ayok kita masukin barang-barang kita ke dalam bagasi sambil menunggu Aunty Lala dan Om Bimo datang."


"Ayok Mi."


Setelah semua perlengkapan sudah masuk ke dalam bagasi mobil, Pamela dan Bimo pun datang secara bersamaan walaupun berbeda mobil.


"Akhirnya, kalian datang juga, cepat masukin barang kalian ke bagasi. Kita kan mau kesana pake satu mobil aja."


Bimo dan Pamela pun menurut dan memasukan tas mereka ke bagasi mobil Edgar lalu menutupnya.


Edgar muncul dari dalam rumah dan langsung mengajak semuanya untuk berangkat. Posisi duduk mereka adalah, Edgar dan Raisa di depan. Bimo dan Pamela di tengah, dan si kembar duduk di kursi paling belakang. Katanya mereka ingin dekat dengan kaca bagian belakang.


"Let's go Pi!"


*


*


TBC


Mampir ke ceritaku yang ini yuk, sudah tamat, dan seru ceritanya.